Cerita Dewasa Sex | Perawat yang Menggairahkan




Cerita Dewasa Sex | Perawat yang Menggairahkan – Hari ini yaitu hari pertamaku tinggal di kota Bandung. Karena peran kantorku, saya terpaksa tinggal di Bandung selama 5 hari dan weekend di Jakarta. Di kota kembang ini, saya menyewa kamar di rumah temanku. Menurutnya, rumah itu hanya ditinggali oleh Ayahnya yang sudah pikun, seorang perawat, dan seorang pembantu. “Rumah yang asri” gumamku dalam hati. Halaman yang hijau, penuh tanaman dan bunga yang segar dikombinasikan dengan kolam ikan berbentuk oval. Aku mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali hingga pintu dibukakan. Sesosok tubuh semampai berbaju serba putih menyambutku dengan senyum manisnya. “Pak Rafi ya..”. “Ya.., saya temannya Mas Anto yang akan menyewa kamar di sini. Lho, kau kan pernah kerja di tetanggaku?”, jawabku surprise. Perawat ini memang pernah bekerja pada tetanggaku di Bintaro sebagai baby sitter. “Iya…, saya dulu pengasuhnya Aurelia. Saya keluar dari sana alasannya ada rencana untuk kimpoi lagi. Saya kan dulu janda pak.., tapi mungkin belum jodo.., ee dianya pergi sama orang lain.., ya sudah, kesudahannya saya kerja di sini..”, Mataku memandangi sekujur tubuhnya. Tati (nama si perawat itu) secara fisik memang tidak pantas menjadi seorang perawat. Kulitnya putih mulus, wajahnya manis, rambutnya hitam sebahu, buah dadanya sedang menantang, dan kakinya panjang semampai. Kedua matanya yang lingkaran memandang eksklusif mataku, seakan ingin mengatakan sesuatu. Aku tergagap dan berkata, “Ee.., Mbak Tati, Bapak ada?”. “Bapak sedang tidur. Tapi Mas Anto sudah nitip sama saya.

Mari saya antarkan ke kamar..”. Tati menunjukkan kamar yang sudah disediakan untukku. Kamar yang luas, ber-AC, tempat tidur besar, kamar mandi sendiri, dan sebuah meja kerja. Aku meletakkan koporku di lantai sambil melihat berkeliling, sementara Tati merunduk merapikan sprei ranjangku. Tanpa sengaja saya melirik Tati yang sedang menunduk. Dari balik baju putihnya yang kebetulan berdada rendah, terlihat dua buah dadanya yang ranum bergayut di hadapanku. Ujung buah dada yang berwarna putih itu ditutup oleh BH berwarna pink. Darahku terkesiap. Ahh…, perawat cantik, janda, di rumah yang relatif kosong.Sadar melihat saya terkesima akan keelokan buah dadanya, dengan tersipu-sipu Tati menghalangi pemandangan mengagumkan itu dengan tangannya. “Semuanya sudah beres Pak…, silakan beristirahat..”. “Ee…, ya.., terima kasih”, jawabku menyerupai gres saja terlepas dari lamunan panjang. Sore itu saya berkenalan dengan ayah Anto yang sudah pikun itu.

Ia tinggal sendiri di rumah itu setelah ditinggalkan oleh istrinya 5 tahun yang lalu. Selama beramah-tamah dengan sang Bapak, mataku tak lepas memandangi Tati. Sore itu ia menggunakan daster tipis yang dikombinasikan dengan celana kulot yang juga tipis. Buah dadanya nampak semakin menyembul dengan dandanan menyerupai itu. Di rumah itu ada seorang pembantu berumur sekitar 17 tahun. Mukanya manis, walaupun tidak secantik Tati. Badannya bongsor dan motok. Ani namanya. Ia yang sehari-hari menyediakan makan untukku. Hari demi hari berlalu. Karena kepiawaianku dalam bergaul, saya sudah sangat dekat dengan orang-orang di rumah itu. Bahkan Ani sudah biasa mengurutku dan Tati sudah berani untuk ngobrol di kamarku. Bagi janda muda itu, saya sudah merupakan tempat mencurahkan isi hatinya. Begitu mudah keakraban itu terjadi hingga kadang kala Tati merasa tidak perlu mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarku. Sampai suatu malam, ketika itu hujan turun dengan lebatnya. Aku, alasannya sedang suntuk memasang VCD porno kesukaanku di laptopku. Tengah asyik-asyiknya saya menonton tanpa sadar saya menoleh ke arah pintu, astaga…, Tati tengah berdiri di sana sambil juga ikut menonton. Rupanya saya lupa menutup pintu, dan ia tertarik akan suara-suara erotis yang dikeluarkan oleh film produksi Vivid interactive itu. Ketika sadar bahwa saya mengetahui kehadirannya, Tati tersipu dan berlari ke luar kamar.

“Mbak Tati..”, panggilku seraya mengejarnya ke luar. Kuraih tangannya dan kutarik kembali ke kamarku. “Mbak Tati…, mau nonton bareng? Ngga apa-apa kok..”. “Ah, ngga Pak…, malu aku..”, katanya sambil melengos. “Lho.., kok malu.., kayak sama siapa saja.., kau itu.., wong kau sudah dongeng banyak wacana diri kau dan keluarga.., dari yang jelek hingga yang bagus.., masak masih ngomong malu sama aku?”, Kataku seraya menariknya ke arah ranjangku. “Yuk kita nonton bareng yuk..”, Aku mendudukkan Tati di ranjangku dan pintu kamarku kukunci. Dengan kalem saya duduk di samping Tati sambil mengeraskan bunyi laptopku. Adegan-adegan erotis yang diperlihatkan ke 2 bintang porno itu memang menakjubkan. Mereka bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik Tati yang sedari tadi takjub memandangi adegan-adegan panas tersebut. Terlihat ia berkali-kali menelan ludah. Nafasnya mulai memburu, dan buah dadanya terlihat naik turun.

Aku memberanikan diri untuk memegang tangannya yang putih mulus itu. Tati tampak sedikit kaget, namun ia membiarkan tanganku membelai telapak tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Tati berair oleh keringat. Aku membelai-belai tangannya seraya perlahan-lahan mulai mengusap pergelangan tangannya dan terus merayap ke arah ketiaknya. Tati nampak pasrah saja ketika saya memberanikan diri melingkarkan tanganku ke bahunya sambil membelai mesra bahunya. Namun ia belum berani untuk menatap mataku. Sambil memeluk bahunya, tangan kananku kumasukkan ke dalam daster melalui lubang lehernya. Tanganku mulai mencicipi montoknya pangkal buah dada Tati. Kubelai-belai seraya sesekali kutekan daging empuk yang menggunung di dada kepingan kanannya. Ketika kulihat tak ada reaksi dari Tati, secepat kilat kusisipkan tangganku ke dalam BH-nya…, kuangkat cup BH-nya dan kugenggam buah dada ranum si janda muda itu.

“Ohh.., Pak…, jangan..”, Bisiknya dengan serak seraya menoleh ke arahku dan mencoba menolak dengan menahan pergelangan tangan kananku dengan tangannya. “Sshh…, ngga apa-apa Mbak…, ngga apa-apa..”. “Nanti ketauanhh..”. “Nggaa…, jangan takut..”, Kataku seraya dengan sigap memegang ujung puting buah dada Tati dengan ibu jari dan telunjukku, lalu kupelintir-pelintir ke kiri dan kanan. “Ooh.., hh.., Pak.., Ouh.., jj.., jjanganhh.., ouh..”, Tati mulai merintih-rintih sambil memejamkan matanya. Pegangan tangannya mulai mengendor di pergelangan tanganku. Saat itu juga, kusambar bibirnya yang sedari tadi sudah terbuka alasannya merintih-rintih. “Ouhh.., mmff.., cuphh.., mpffhh..”, Dengan nafas tersengal-sengal Tati mulai membalas ciumanku. Kucoba mengulum lidahnya yang mungil, ketika kurasakan ia mulai membalas sedotanku. Bahkan ia kini mencoba menyedot lidahku ke dalam mulutnya seakan ingin menelannya bulat-bulat.

Tangannya kini sudah tidak menahan pergelanganku lagi, namun kedua-duanya sudah melingkari leherku. Malahan tangan kanannya digunakannya untuk menekan belakang kepalaku sehingga ciuman kami berdua semakin lengket dan bergairah. Momentum ini tak kusia-siakan. Sementara Tati melingkarkan kedua tangannya di leherku, akupun melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Aku melepaskan bibirku dari kulumannya, dan saya mulai menciumi leher putih Tati dengan buas. “aahh..Ouhh..” Tati menggelinjang kegelian dan tanganku mulai menyingkap daster di kepingan pinggangnya. Kedua tanganku merayap cepat ke arah tali BH-nya dan, “tasss..” terlepaslah BH-nya dan dengan sigap kualihkan kedua tanganku ke dadanya. Saat itulah lurasakan betapa kencang dan ketatnya kedua buah dada Tati. Kenikmatan meremas-remas dan mempermainkan putingnya itu terasa betul hingga ke ujung sarafku. Penisku yang sedari tadi sudah menegang terasa semakin tegang dan keras.

Rintihan-rintihan Tati mulai menjelma jeritan-jeritan kecil terutama dikala kuremas buah dadanya dengan keras. Tati sekarang lebih mengambil inisiatif. Dengan nafasnya yang sudah sangat terengah-engah, ia mulai menciumi leher dan mukaku. Ia bahkan mulai berani menjilati dan menggigit daun telingaku ketika tangan kananku mulai merayap ke arah selangkangannya. Dengan cepat saya menyelipkan jari-jariku ke dalam kulotnya melalui perut, eksklusif ke dalam celana dalamnya. Walaupun kami berdua masih dalam keadaan duduk berpelukan di atas ranjang, posisi paha Tati dikala itu sudah dalam keadaan mengangkang seakan memberi jalan bagi jari-jemariku untuk secepatnya mempermainkan kemaluannya.

Hujan semakin deras saja mengguyur kota Bandung. Sesekali terdengar bunyi guntur bersahutan. Namun cuaca hambar tersebut sama sekali tidak mengurangi gairah kami berdua di dikala itu. Gairah seorang lajang yang memiliki libido yang sangat tinggi dan seorang janda muda yang sudah lama sekali tidak menikmati sentuhan lelaki. Tati mengeratkan pelukannya di leherku ketika jemariku menyentuh bulu-bulu lebat di ujung vaginanya. Ia menghentikan ciumannya di kupingku dan melongo sambil terus memejamkan matanya. Tubuhnya terasa menegang ketika jari tengahku mulai menyentuh vaginanya yang sudah terasa berair dan berlendir itu. Aku mulai mempermainkan vagina itu dan membelainya ke atas dan ke bawah. “Ouuhh Pak.., ouhh.., aahh.., g..g.ggelliiihh…”. Tati sudah tidak bisa berkata-kata lagi selain merintih penuh nafsu ketika clitorisnya kutemukan dan kupermainkan. Seluruh tubuh Tati bergetar dan bergelinjang. Ia nampak sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi.

Jeritan-jeritannya mulai terdengar keras. Sempat juga saya kawatir dibuatnya. Jangan-jangan seisi rumah mendengar apa yang tengah kami lakukan. Namun kerasnya bunyi hujan dan geledek di luar rumah menenangkanku. Benda kecil sebesar kacang itu terasa nikmat di ujung jari tengahku ketika saya memutar-mutarnya. Sambil mempermainkan clitorisnya, saya mulai menundukkan kepalaku dan menciumi buah dadanya yang masih tertutupi oleh daster. Seolah mengerti, Tati menyingkapkan dasternya ke atas, sehingga dengan terperinci saya bisa melihat buah dadanya yang ranum, kenyal dan berwarna putih mulus itu bergantung di hadapanku. Karena nafsuku sudah memuncak, dengan buas kusedot dan kuhisap buah dada yang berputing merah jambu itu. Putingnya terasa keras di dalam mulutku menandakan nafsu janda muda itupun sudah hingga di puncak. Tati mulai menjerit-jerit tidak karuan sambil menjambak rambutku. Sejenak kuhentikan hisapanku dan bertanya, “Enak Mbak?”.

Sebagai jawabannya, Tati membenamkan kembali kepalaku ke dalam ranumnya buah dadanya. Jari tengahku yang masih mempermainkan clitorisnya kini kuarahkan ke lubang vagina Tati yang sudah menganga alasannya berair dan posisi pahanya yang mengangkang. Dengan pelan tapi pasti kubenamkan jari tengahku itu ke dalamnya dan, “Auuhh.., P.Paak.., hh”. Tati menjerit dan menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang. “Terrusshh.., auhh..”. Kugerakkan jariku keluar masuk di vaginanya dan Tati menggoyangkan pingggulnya mengikuti irama keluar masuknya jemariku itu. Aku menghentikan ciumanku di buah dada Tati dan mulai mengecup bibir ranum janda itu. Matanya tak lagi terpejam, tapi memandang sayu ke mataku seakan berharap kenikmatan yang ia rasakan ini jangan pernah berakhir. Tangan kiriku yang masih bebas, membimbing tangan kanan Tati ke balik celana pendekku. Ketika tangannya menyentuh penisku yang sudah sangat keras dan besar itu, terlihat ia agak terbelalak alasannya belum pernah melihat bentuk yang panjang dan besar menyerupai itu.

Tati meremas penisku dan mulai mengocoknya naik turun naik turun.., kocokan yang nikmat yang membuatku tanpa sadar melenguh, “Ahh.., Mbaak.., enaknya.., terusin..”. Saat itu kami berdua berada pada puncaknya nafsu. Aku yakin bahwa Mbak Tati sudah ingin secepatnya memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Ia tidak mengatakannya secara langsung, namun dari tingkahnya menarik penisku dan mendekatkannya ke vaginanya sudah merupakan pertanda. Namun, di detik-detik yang paling menggairahkan itu terdegar bunyi si Bapak bau tanah berteriak, “Tatiii…, Tatiii..”. Kami berdua tersentak. Kukeluarkan jemariku dari vaginanya, Tati melepaskan kocokannya dan ia membenahi pakaian dan rambutnya yang berantakan. Sambil mengancingkan kembali BH-nya ia keluar dari kamarku menuju kamar Bapak bau tanah itu. Sialan!, kepalaku terasa pening.

Begitulah penyakitku bila libidoku tak tersalurkan. Beberapa dikala lamanya saya menanti siapa tahu janda muda itu akan kembali ke kamarku. Tapi nampaknya ia sibuk mengurus orang bau tanah pikun itu, hingga saya tertidur. Entah berapa lama saya terlelap, tiba-tiba saya merasa napasku sesak. Dadaku serasa tertindih suatu beban yang berat. Aku terbangun dan membuka mataku. Aku terbelalak, alasannya tampak sesosok tubuh putih mulus telanjang bulat menindih tubuhku. “Mbak Tati?”, Tanyaku tergagap alasannya masih mengagumi keindahan tubuh mulus yang berada di atas tubuhku. Lekukan pinggulnya terlihat landai, dan perutnya terasa masih kencang. Buah dadanya yang lancip dan molek itu menindih dadaku yang masih terbalut piyama itu. Seketika, rasa kantukku hilang.

Mbak Tati tersenyum simpul ketika tangannya memegang celanaku dan mencicipi betapa penisku sudah kembali menegang. “Kita tuntaskan ya Mbak?”, Kataku sambil menyambut kuluman lidahnya. Sambil dalam posisi tertindih saya menanggalkan seluruh baju dan celanaku. Kegairahan yang sempat terputus itu, mendadak kembali lagi dan terasa bahkan lebih menggila. Kami berdua yang sudah dalam keadaan bugil saling meraba, meremas, mencium, merintih dengan keganasan yang luar biasa. Mbak Tati sudah tidak malu-malu lagi menggoyangkan pinggulnya di atas penisku sehingga bergesekan dengan vaginanya. Tidak lebih dari 5 menit, saya mencicipi bahwa nafsu syahwat kami sudah kembali berada dipuncak. Aku tak ingin kehilangan momen lagi. Kubalikkan tubuh Tati, dan kutindih sehingga keempukan buah dadanya terasa benar menempel di dadaku. Perutku menggesek nikmat perutnya yang kencang, dan penisku yang sudah sangat menegang itu bergesekan dengan vaginanya.

“Mbak.., buka kakinya.., sekarang kau akan mencicipi sorganya dunia Mbak..”, bisikku sambil mengangkangkan kedua pahanya. Sambil tersengal-sengal Tati membuka pahanya selebar-lebarnya. Ia tersenyum manis dengan mata sayunya yang penuh harap itu. “Ayo Pak.., masukkan sekarang…”, Aku menempelkan kepala penisku yang besar itu di lisan vagina Tati. Perlahan-lahan saya memasukkannya ke dalam, semakin dalam, semakin dalam dan, “aa.., Aooohh.., paakh….., aahh..”, rintihnya sambil membelalakkan matanya ketika hampir seluruh penisku kubenamkan ke dalam vaginanya. Setelah itu, “Blesss…”, dengan sentakan yang berpengaruh kubenamkan habis penisku diiringi jeritan erotisnya, “Ahh.., besarnyah.., ennnakk ppaak..”.

Aku mulai memompakan penisku keluar masuk, keluar masuk. Gerakanku makin cepat dan cepat. Semakin cepat gerakanku, semakin keras jeritan Tati terdengar di kamarku. Pinggul janda muda itu pun berputar-putar dengan cepat mengikuti irama pompaanku. Kadang-kadang pinggulnya hingga terangkat-angkat untuk mengimbangi kecepatan naik turunnya pinggulku. Buah dadanya yang terlihat bulat dalam keadaan berbaring itu bergetar dan bergoyang ke sana ke mari. Sungguh menggairahkan! Tiba-tiba saya mencicipi pelukannya semakin mengeras. Terasa kuku-kukunya menancap di punggungku. Otot-ototnya mulai menegang. Nafas perempuan itu juga semakin cepat. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, mulutnya terbuka, matanya terpejam,dan alisnya merengut “aahh..”. Tati menjerit panjang seraya menjambak rambutku, dan penisku yang masih bergerak masuk keluar itu terasa disiram oleh suatu cairan hangat.

Dari wajahnya yang menyeringai, tampak janda muda itu tengah menghayati orgasmenya yang mungkin sudah lama tidak pernah ia alami itu. Aku tidak mengendurkan goyangan pinggulku, alasannya saya sedang berada di puncak kenikmatanku. “Mbak.., goyang terus Mbak.., saya juga mau keluar..”. Tati kembali menggoyang pinggulnya dengan cepat dan beberapa detik kemudian, seluruh tubuhku menegang. “Keluarkan di dalam saja pak”, bisik Tati, “Aku masih pakai IUD”. Begitu Tati selesai berbisik, saya melenguh. “Mbak.., saya keluar.., saya keluarr…., aahh..”, dan…, “Crat.., crat.., craat”, kubenamkan penisku dalam-dalam di vagina perempuan itu. Seakan mengerti, Tati mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga puncak kenikmatan ini terasa benar hingga ke tulang sumsumku. Kami berdua terkulai lemas sambil memejamkan mata. Pikiran kami melayang-layang entah ke mana. Tubuhku masih menindih tubuh molek Tati.

Kami berdua masih saling berpelukan dan akupun membayangkan hari-hari penuh kenikmatan yang akan kualami sesudah itu di Bandung. Sejak kejadian malam itu, kesibukan di kantorku yang luar biasa membuatku sering pulang larut malam. Kepenatanku selalu membuatku eksklusif tertidur lelap. Kesibukan ini bahkan membuat saya jarang bisa berkomunikasi dengan Tati. Walaupun begitu, sering juga saya mempergunakan waktu makan siangku untuk mampir ke rumah dengan maksud untuk melaksanakan seks during lunch. Sayang, di waktu tersebut ternyata Ayah Anto senantiasa dalam keadaan bangun sehingga niatku tak pernah kesampaian. Namun suatu hari saya cukup beruntung walaupun orang bau tanah itu tidak tidur. Aku mendapat apa yang kuinginkan.

Ceritanya sebagai berikut: Tati diminta oleh Ayah Anto untuk mengambil sesuatu di kamarnya. Melihat peluang itu, saya belakang layar mengikutinya dari belakang. Kamar ayah Anto memang tidak terlihat dari tempat di mana orang bau tanah itu biasa duduk. Sesampainya di kamar kuraih pinggang semampai perawat itu dari belakang. Tati terkejut dan tertawa kecil ketika sadar siapa yang memeluknya dan tanpa basa-basi eksklusif menyambut ciumanku dengan bibirnya yang mungil itu sambil dengan buas mengulum lidahku. Ia memang sudah tidak malu-malu lagi menyerupai awal pertemuan kami. Janda cantik itu sudah menunjukkan karakternya sebagai seorang pecinta sejati yang tanpa malu-malu lagi menunjukkan kebuasan gairahnya. Kadang saya tidak mengerti, kenapa suaminya tega meninggalkannya.

Namun analisaku mengatakan, suaminya tak bisa mengimbangi gejolak gairah Tati di atas ranjang dan untuk menutupi rasa malu yang terus menerus terpaksa ia meninggalkan perempuan muda itu untuk hidup bersama dengan perempuan lain yang lebih ‘low profile’. Aku memang belum sempat menanyakan pada Tati bagaimana ia menyalurkan kebutuhan biologisnya di dikala menjanda. Aku berpikir, bawa masturbasi yaitu jalan satu-satunya. Kami berdua masih saling berciuman dengan ganas ketika dengan sigap saya menyelipkan tanganku ke balik baju perawatnya yang putih itu. Sungguh terkejut ketika saya sadar bahwa ia sama sekali tidak memakai BH sehingga dengan mudahnya kuremas buah dada kanannya yang ranum itu. “Kok ngga pakai BH Mbak..?” Sambil menggelinjang dan mendesah, ia menjawab sambil tersenyum nakal. “Supaya gampang diremas sama kamu..”.
Benar-benar tanggapan yang menggemaskan! Kembali kukulum bibir dan lidahnya yang menggairahkan itu sambil dengan cepat kubuka kancing bajunya yang pertama, kedua, dan ketiga. Lalu tanpa membuang waktu kutundukkan kepalaku, dengan tangan kananku kukeluarkan buah dada kanannya dan kuhisap sedemikian rupa sehingga hampir setengahnya masuk ke dalam mulutku. Tati mulai mengerang kegelian, “Ouhh.., geli Mas.., geliii.., ahh..”. Sejak kejadian malam itu, ia memang membiasakan dirinya untuk memanggilku Mas. Sambil menggelinjang dan merintih, tangan kanan Tati mulai mengelus-elus kepingan depan celana kantorku. Penisku yang terletak sempurna di baliknya terasa semakin menegang dan menegang. Jari-jari lentik perempuan itu berusaha untuk mencari letak kepala penisku untuk kemudian digosok-gosoknya dari luar celana.

Sensasi itu membuat nafasku semakin memburu menyerupai layaknya nafas kuda yang tengah berlari kencang. Seakan tak mau kalah darinya, tangan kiriku berusaha menyingkap rok janda muda itu dan dengan sigap kugosokkan jari-jemariku di celana dalamnya. Tepat diatas vaginanya, celana dalam Tati terasa sudah basah. Sungguh hebat! Hanya dalam beberapa menit saja, ia sudah sedemikian terangsangnya sehingga vaginanya sudah siap untuk dimasuki oleh penisku. Tanpa membuang waktu kuturunkan celana dalam tipis yang kali ini berwarna hitam, kudorong tubuh molek perawat itu ke dinding, lalu kuangkat paha kanannya sehingga dengkulnya menempel di pinggangku. Dengan sigap pula kubuka ritsluiting celanaku dan kukeluarkan penisku yang sudah sangat tegang dan besar itu. Tati sudah nampak pasrah.

Ia hanya bersender di dinding sambil memejamkan matanya dan memeluk bahuku. “Tatiii.., mana minyak tawonnya.., kok lama betuul…”. Suara orang bau tanah itu terdengar dengan keras. Sungguh menjengkelkan. Tati sempat terkejut dan nampak panik ketika kemudian saya berbisik, “Tenang Mbak.., jawab aja.., kita selesaikan dulu ini.., kau mau kan?” Ia mengangguk seraya tersenyum manis. “Sebentar Pak..”, teriaknya. “Minyak tawonnya keselip entah ke mana.., ini lagi dicari kok…”. Ia tertawa cekikikan, geli mendengar tanggapan spontannya sendiri. Namun tawanya itu eksklusif menjelma jerikan erotis kecil ketika kupukul-pukulkan kepala penisku ke selangkangannya. Perlahan-lahan kutempelkan kepala penisku itu di pintu vaginanya. Sambi kuputar-putar kecil kudorong pinggulku perlahan-lahan.

Tati ternganga sambil terengah-engah, “aahh.., aahh.., ouhh.., Mas.., besar sekali.., pelan-pelan Mas..pelan-pelanhh..”, dan, “aa…”. Tati menjerit kecil ketika kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang becek dan terasa sangat sempit dalam posisi berdiri ini. Aku menyodokkan penisku maju mundur dengan gerakan yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tubuh Tati terguncang-guncang, buah dadanya bergayut ke kiri dan kanan dan jeritannya semakin menjadi-jadi. Aku sudah tak peduli bila ayah Anton hingga mendengarkan jeritan perempuan itu. Nafsuku sudah naik ke kepala. Janda muda ini memang memiliki daya pikat seks yang luar biasa. Walaupun ia hanya seorang perawat, namun kemulusan dan kemontokan badannya sungguh setara dengan perempuan kota jaman sekarang. Sangat terawat dan nikmat sekali bila digesek-gesekkankan di kulit kita. Gerakan pinggulku semakin cepat dan semakin cepat.

Mulutku tak puas-puasnya menciumi dan menghisap puting buah dadanya yang meruncing panjang dan keras itu. Buah dadanya yang kenyal itu hampir seluruhnya dibasahi oleh air liurku. Aku memang sedang nafsu berat. Aku mencicipi bahwa sebentar lagi saya akan orgasme dan bersamaan dengan itu juga tubuh Tati menegang. Kupercepat gerakan pinggulku dan tiba-tiba, “aahh.., Mas.., Masss…, saya keluarrr.., aahh”, Jeritnya. Saat itu juga kusodokkan penisku ke dalam vagina janda muda itu sekeras-kerasnya dan, “Craat.., craatt.., craat”. “Ahh…, Mbaak”, erangku sambil meringis menikmati puncak orgasme kami yang waktunya jatuh bersamaan itu. Kami berpelukan sesaat dan Tati berbisik dengan bunyi serak. “Mas.., saya ngga pernah dipuasin laki-laki menyerupai kau muasin saya.., kau hebat..”.

Aku tersenyum simpul. “Mbak., saya masih punya 1001 teknik yang bisa membuat kau melayang ke surga ke-7.., ngga bosan kan kalo lain waktu saya praktekkan sama kamu?”. Perlahan Tati menurunkan paha kanannya dan mencabut penisku dari vaginanya. “Bosan? Aku aneh apa.., yang beginian ngga akan membuatku bosan.., bila bisa tiap hari saya mau Mas..”. Benar-benar luar biasa libido perempuan ini. Beruntung saya mempunyai libido yang juga luar biasa besarnya. Sebagai partner seks, kami benar-benar seimbang. Setelah kejadian siang itu, saya dan Tati menyerupai pengantin gres saja. Tak ada waktu luang yang tak terlewatkan tanpa nafsu dan birahi. Walaupun demikian, saya tekankan pada Tati, bahwa kekerabatan antara saya dan dia, hanyalah sebatas kekerabatan untuk memuaskan nafsu birahi saja. Aku dan ia punya hak untuk berafiliasi dengan orang lain.

Tati si janda muda yang sudah mencicipi kenikmatan seks bebas itu tentu saja menyetujuinya. Suatu hari, Tati masuk ke dalam kamarku dan ia berkata, “Mas, saya akan mengambil cuti selama 1 bulan. Aku harus mengurusi persoalan tanah warisan di kampungku..”. “Lha.., bila Mbak pulang, siapa yang akan mengurusi Bapak?”, tanyaku sambil membayangkan betapa kosongnya hari-hariku selama sebulan ke depan. “Mas Anto bilang, akan ada adik Bapak yang akan menggantikan saya selama 1 bulan.., namanya Mbak Ine.., ia ngga kimpoi.., umurnya sudah hampir 40 tahun.., orangnya baik kok.., cerewet.., tapi ramah..”. Yah apa boleh buat, saya terpaksa kehilangan seorang sahabat berafiliasi seks yang sangat menggairahkan. Hitung-hitung cuti 1 bulan.., atau bila berpikir positif.., its time to look for a new partner!!! Hari ini yaitu hari ke lima setelah kepergian Tati.

Mbak Ine, pengganti sementara Tati, ternyata yaitu adik ipar ayah Anto. Jadi, adik istri si bapak bau tanah itu. Mbak Ine yaitu seorang perempuan Sunda yang ramah. Wajahnya lumayan cantik, kulitnya berwarna hitam manis, badannya agak pendek dan bertubuh montok. Ukuran buah dadanya besar. Jauh lebih besar dari Tati dan senantiasa berdandan agak menor. Wanita yang berumur hampir 40 tahun itu mengaku belum pernah menikah alasannya merasa bahwa tak ada laki-laki yang bisa cocok dengan sifatnya yang avonturir. Saat ini ia bekerja secara freelance di sebuah stasiun televisi sebagai penulis naskah. Kemampuan bergaulku dan keramahannya membuat kami cepat sekali akrab. Lagi-lagi, kamarku itu kini menjadi markas curhatnya Mbak Ine. “Panggil saya teh Ine aja deh..”, katanya suatu kali dengan logat Bandungnya yang kental. “Kalau gitu panggil saya Rafi aja ya teh.., ngga usah pake pak pak-an segala..”, balasku sambil tertawa.

Baru 5 hari kami bergaul, namun sepertinya kami sudah lama saling mengenal. Kami menyerupai dua orang yang kasmaran, saling memperhatikan dan saling bersimpati. Persis menyerupai cinta monyet ketika kita remaja. Saat itu menyerupai biasa, kami sedang ngobrol kalem dari hati ke hati sambil duduk di atas ranjangku. Aku memakai baju kaos dan celana pendek yang ketat sehingga tanpa kusadari tekstur penis dan testisku tercetak dengan jelas. Bila kuperhatikan, beberapa kali tampak teh Ine mencuri-curi melirik selangkanganku yang dengan mudah dilihatnya alasannya saya duduk bersila. Aku sengaja membiarkan keadaan itu berlangsung. Malah kadang kala dengan sengaja saya meluruskan kedua kakiku dengan posisi agak mengangkang sehingga cetakan penisku makin konkret saja di celanaku. Sesekali, ditengah obrolan kalem itu, tampak teh Ine melirik selangkanganku yang diikuti dengan nafasnya yang tertahan.

Kenapa saya melaksanakan hal ini? Karena libidoku yang luar biasa, saya jadi tertantang untuk bisa meniduri teh Ine yang saya yakini sudah tak perawan lagi alasannya sifatnya yang avonturir itu. Dan lagi, dari sifatnya yang ramah, ceria, banyaomong dan petualang itu, saya yakin di balik tubuh molek perempuan setengah baya tersimpan potensi libido yang tak kalah besar dengan Tati. Juga, gayanya dalam bergaul yang mudah bersentuhan dan saling memegang lengan sering membuat darahku berdesir. Apalagi bila saya sedang dalam keadaan libido tinggi. Saat ini, teh Ine mengenakan daster berwarna putih tipis sehingga tampak kontras dengan warna kulitnya yang hitam manis itu. Belahan buah dadanya yang besar itu menyembul di balik lingkaran leher yang berpotongan rendah di kepingan dada. Dasternya sendiri berpola akses hingga sebatas lutut sehingga ketika duduk, pahanya yang molek itu terlihat dengan jelas.

Aku selalu berusaha untuk bisa mengintip sesuatu yang terletak di antara kedua paha teh Ine. Namun alasannya posisi duduknya yang selalu sopan, saya tak dapat melihat apa-apa. Bukan main! Ternyata seorang wanita berusia 40-an masih mempunyai daya tarik sexual yang tinggi. Terus terang, gres kali ini saya berani berfantasi mengenai kekerabatan seks dengan teh Ine. Sementara ia bercerita wacana masa mudanya, pikiranku malah melayang dan membayangkan tubuh teh Ine sedang duduk di hadapanku tanpa selembar benangpun. Alangkah menggairahkannya. Aku menyerupai bisa melihat dengan terperinci seluruh lekuk tubuhnya yang mulus tanpa cacat. Tanpa sadar, penisku menegang dan cairan madzi di ujungnya pun mulai keluar. Celanaku tampak berair di ujung penisku, dan cetakan penis serta testisku semakin terperinci saja tercetak di selangkangan celanaku. Membesarnya penisku ternyata tak lepas dari perhatian teh Ine.

Tampak terperinci terlihat matanya terbelalak melihat ukuran penisku yang membesar dan tercetak terperinci di celana pendekku. Obrolan kami mendadak terhenti alasannya beberapa dikala teh Ine masih terpaku pada selangkanganku. “Kunaon teh..?”, tanyaku memancing. “Eh.., enteu.., kau teh mikirin apa sih…?”, katanya sambil tersenyum simpul. “Mikirin teh Ine teh.., entah kenapa barusan saya membayangkan teh Ine nggak pakai apa-apa.., aduh indahnya teh..”, tiba-tiba saja tanggapan itu meluncur dari mulutku. Aku sendiri terkejut dengan jawabanku yang sangat terus terang itu dan sempat membuatku terpaku memandang wajah teh Ine. Wajah teh Ine tampak memerah mendengar jawabanku itu. Napasnya mendadak memburu. Tiba-tiba teh Ine bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia menutup pintu kamarku dan menguncinya.

Leherku tercekat, dan kurasakan jantungku berdegup semakin kencang. Dengan tersenyum dan sorot mata bandel ia menghampiriku dan duduk sempurna di hadapan selangkanganku. Aku memang sedang dalam posisi selonjor dengan kedua kaki mengangkang. “Fi, kau pingin sama teteh..? Hmm?”, Desahnya seraya meraba penis tegangku dari luar celana. Aku menelan ludah sambil mengangguk perlahan dan tersenyum. Entah mengapa, saya jadi gugup sekali melihat wajah teh Ine yang semakin mendekat ke wajahku. Tanpa sadar saya menyandarkan punggungku ke tembok di ujung ranjang dan teh Ine menggeser duduknya mendekatiku sambil tetap menekan dan membelai selangkanganku. Nafas teh Ine yang semakin cepat terasa benar semakin menerpa hidung dan bibirku. Rasa nikmat dari belaian jemari teh Ine di selangkanganku semakin terasa keujung syaraf-syarafku. Napasku mulai memburu dan tanpa sadar mulutku mulai mengeluarkan bunyi erangan-erangan.

Dengan lembut teh Ine menempelkan bibirnya di atas bibirku. Ia memulainya dengan mengecup ringan, menggigit bibir bawahku, dan tiba-tiba.., lidahnya memasuki mulutku dan berputar-putar di dalamnya dengan cepat. Langit-langit mulutku serasa geli disapu oleh pengecap panjang milik perempuan setengah baya yang sangat menggairahkan itu. Aku mulai membalas ciuman, gigitan, dan kuluman teh Ine. Sambil berciuman, tangan kananku kuletakkan di buah dada kiri teh Ine. Uh.., alangkah besarnya.., walaupun masih ditutupi oleh daster, keempukan dan kekenyalannya sudah sangat terasa di telapak tanganku. Dengan cepat kuremas-remas buah dada teh Ine itu, “Emph.., emph..”, rintihnya sambil terus mengulum lidahku dan menggosok-gosok selangkanganku. Mendadak teh Ine menghentikan ciumannya.

Ia menahan tanganku yang tengah meremas buah dadanya dan berkata, “Fi, sekarang kau membisu dulu yah.., agar teteh yang duluan..”. Tiba-tiba dengan cepat teh Ine menarik celana pendekku sekalian dengan celana dalamku. Saking cepatnya, penisku yang menegang melejit keluar. Sejenak teh Ine tertegun menatap penisku yang berdiri tegak laksana tugu monas itu. “Gusti Rafi.., ageung pisan..”, bisiknya lirih. Dengan cepat teh Ine menundukkan kepalanya, dan seketika tubuhku terasa dialiri oleh fatwa listrik yang mengalir cepat ketika lisan teh Ine hampir menelan seluruh penisku. Terasa ujung penisku itu menyentuh langit-langit belakang lisan teh Ine. Dengan sigap teh Ine memegang penisku sementara lidahnya memelintir kepingan bawahnya. Kepala teh Ine naik turun dengan cepat mengiringi pegangan tangannya dan puntiran lidahnya. Aku benar-benar merasa melayang di udara ketika teh Ine memperkuat hisapannya.

Aku melirik ke arah beling riasku, dan di sana tampak diriku terduduk mengangkang sementara teh Ine dengan dasternya yang masih saja rapi merunduk di selangkanganku dan kepalanya bergerak naik turun. Suara isapan, jilatan dan kecupan bibir perempuan molek itu terdengar dengan jelas. Kenikmatan ini semakin menjadi-jadi ketika kurasakan teh Ine mulai meremas-remas kedua bola testisku secara bergantian. Perutku serasa mulas dan urat-urat di penisku serasa hendak putus alasannya tegangnya. Teh Ine tampak semakin buas menghisapi penisku menyerupai seseorang yang kehausan di padang pasir menemukan air yang segar. Jari-jemarinyapun semakin liar mempermainkan kedua testisku. “Slurrp.., Cuph.., Mphh..”. Suara kecupan-kecupan di penisku semakin keras saja. Nafsuku sudah naik ke kepala. Aku berontak untuk berusaha meremas kedua buah dada molek dan besar milik wanita lajang berusia setengah baya itu, namun tangan teh Ine dengan berpengaruh menghalangi tubuhku dan iapun semakin aneh menghisapi dan menjilati penisku.

Aku mulai bergelinjang-gelinjang tak karuan. “Teh Ine.., teeeh…, gantian dongg.., please.., saya udah ngga kuaat…, aahh.., sss..”, erangku seakan memohon. Namun permintaanku tak digubrisnya. Kedua tangan dan mulutnya semakin cepat saja mengocok penisku. Terasa seluruh syaraf-syarafku semakin menegang dan menegang, degup jantungku berdetak semakin kencang.. napaskupun makin memburu. “Oohh…, Teh Ine.., Teh Ineee…, aahh….”, Aku berteriak sambil mengangkat pinggulku tinggi-tinggi dan, “Crat.., craat.., craat”, saya memuncratkan spermaku di dalam lisan teh Ine. Dengan sigap pula teh Ine menelan dan menjilati spermaku menyerupai seorang yang menjilati es krim dengan nikmatnya.

Setiap jilatan teh Ine terasa menyerupai setruman-setruman kecil di penisku. Aku benar-benar menikmati permainan ini.., luar biasa teh Ine, “Enak Fi..? Hmm?”, teh Ine mengangkat kepalanya dari selangkanganku dan menatapku dengan senyum manisnya, tampak di seputar mulutnya banyak menempel bekas-bekas spermaku. “Fuhh nikmatnya sperma kau Fi..” Bisiknya mesra seraya menjilat sisa-sisa spermaku di bibirnya. “Obat abadi muda ya teh..”, kataku bercanda. “Yaa gitulah…, antosan sekedap nya? Biar teteh ambilkan minum buat kamu”. Oh my God.., benar-benar seorang wanita yang penuh pengabdian, ia belum mengalami orgasme apa-apa tapi perhatiannya pada pasangan lelakinya luar biasa besar, sungguh pasangan seks yang ideal! Kenyataan itu saja membuat rasa simpati dan birahiku pada teh Ine kembali bergejolak.

Teh Ine kembali dari luar membawa segelas air. “Minum deh.., agar kau segeran..”. “Nuhun teh.., tapi akad ya abis ini giliran saya muasin teteh..”. Aku meneguk habis air hambar buatan teh Ine dan dikala itu pula saya mencicipi kejantananku kembali. Birahiku kembali bergejolak melihat tubuh molek teh Ine yang ada di hadapanku. Aku meraih tangan teh Ine dan dengan sekali betot kubaringkan tubuhnya yang molek itu di atas ranjang. “Eeehh.., pelan-pelan Fi..”, teriak teh Ine dengan geli. “Teteh mau diapain sih… “, lanjutnya manja. Tanpa menjawab, saya menindih tubuh molek itu, dan sekejap kurasakan nikmatnya buah dada besar itu tergencet oleh dadaku. Juga, syaraf-syaraf sekitar pinggulku mencicipi nikmatnya penisku yang menempel dengan gundukan vaginanya walaupun masih ditutupi oleh daster dan celana dalamnya.

Kupandangi wajah teh Ine yang lingkaran dan manis itu. Kalau diperhatikan, memang sudah terdapat kerut-kerut kecil di tempat mata dan keningnya. Tapi peduli setan! Teh Ine yaitu seorang wanita setengah baya yang paling menggairahkan yang pernah kulihat. Pancaran aura sexualnya sungguh berpengaruh menerangi sanubari lelaki yang memandangnya. “Teteh mau tau apa yang ingin saya lakukan terhadap teteh?”, Kataku sambil tersenyum. “Saya akan memperkosa teteh hingga teteh ketagihan”. Lalu dengan ganas, saya memulai menciumi bibir dan leher teh Ine. Teh Inepun dengan tak kalah ganasnya membalas ciuman-ciumanku.

Keganasan kami berdua membuat suasana kamarku menjadi riuh oleh suara-suara kecupan dan rintihan-rintihan erotis. Dengan tak tabah saya menarik ritsluiting daster teh Ine, kulucuti dasternya, BH-nya, dan yang terakhir.., celana dalamnya. Wow.., sebuah gundukan daging tanpa bulu sama sekali terlihat sangat menantang terletak di selangkangan teh Ine. My God.., alangkah indahnya vagina teh Ine itu.., tak pernah kubayangkan bahwa ia mencukur habis bulu kemaluannya. “Kamu juga buka semua dong Fi”, rengeknya sambil menarik baju kaosku ke atas. Dalam sekejap, kami berdua berdua berpelukan dan berciuman dengan penuh nafsu dalam keadaan bugil! Sambil menindih tubuhnya yang molek itu, bibirku menyelusuri lekuk tubuh teh Ine mulai dari bibir, kemudian turun ke leher, kemudian turun lagi ke dada, dan terus ke arah puting susu kirinya yang berwarna coklat kemerah-merahan itu.

Alangkah kerasnya puting susunya, alangkah lancipnnya.., dan mmhh.., seketika itu juga kukulum, kuhisap dan kujilat puting kenyal itu.., alasannya gemasnya, sesekali kugigit juga puting itu. “Auuhh.., Fi.., gellii.., sss.., ahh”, rintihnya ketika gigitanku agak kukeraskan. Badan montoknya mulai mengelinjang-gelinjang ke sana k emari.., dan mukanya menggeleng-geleng ke kiri dan ke kanan. Sambil menghisap, tangan kananku merayap turun ke selangkangannya. Dengan mudah kudapati vaginanya yang besar dan sudah sangat becek sekali. Akupun dengan sigap memain-mainkan jari tenganku di pintu vaginanya. “Crks.., crks.., crks”, terdengar bunyi becek vagina teh Ine yang berwarna lebih putih dari kulit sekitarnya.

Ketika jariku mengenai gundukan kecil daging yang menyerupai dengan sebutir kacang, ketika itu pula wanita setengah baya itu menjerit kecil. “Ahh.., geli Fi.., gelli”, Putaran jariku di atas clitoris teh Ine dan hisapanku pada kedua puting buah dadanya makin membuat lajang molek berkulit hitam manis itu semakin bergelinjang dengan liar. “Fi.., masukin sekarang Fi.., sekarang.., please.., teteh udah nggak tahan..ahh..”. Kulihat wajah teh Ine sudah meringis menyerupai orang kesakitan. Ringisan itu untuk menahan gejolak orgasmenya yang sudah hampir mencapai puncaknya. Dengan sigap kuarahkan penisku ke vagina molek milik teh Ine.., kutempelkan kepala penisku yang besar sempurna di bawah clitorisnya, kuputar-putarkan sejenak dan teh Ine meresponnya dengan mengangkangkan pahanya selebar-lebarnya untuk memberi fasilitas bagiku untuk melaksanakan penetrasi.., dikala itu pula kusodokkan pantatku sekuat-kuatnya dan, “Blesss”, masuk semuanya! “Aahh….” Teh Ine menjerit panjang.., “Besar betul Fi.., auhh…., besar betuull…, duh gusti enaknya.., aahh..”.

Dengan penuh keganasan kupompa penisku keluar masuk vagina teh Ine. Dan iapun dengan liarnya memutar-mutar pinggulnya di bawah tindihanku. Astaga.., benar-benar pengalaman yang luar biasa! Bahkan keliaran teh Ine melebihi ganasnya Mbak Tati.., luar biasa! Kedua tubuh kami sudah sangat berair oleh keringat yang bercampur liur. Kasurkupun sudah berair di mana-mana oleh cairan mani maupun lendir yang meleleh dari vagina teh Ine, namun entah kekuatan apa yang ada pada diri kami…, kami masih saling memompa, merintih, melenguh, dan mengerang. Bunyi ranjangkupun sudah tak karuan.., “Kriet.., kriet.., krieeet”, sesuai irama goyangan pinggul kami berdua.

Penisku yang besar itu masih dengan buasnya menggesek-gesek vagina teh Ine yang terasa sempit namun becek itu. Setelah lebih dari 15 menit kami saling memompa, tiba-tiba kurasakan seluruh tubuh teh Ine menegang. “Fi.., Fi.., Teteh mau keluar..”. “Iya teh, saya juga.., kita keluar sama-sama teh…”, Goyanganku semakin kupercepat dan pada dikala yang bersamaan kami berdua saling berciuman sambil berpelukan erat.., saya menancapkan penisku dalam-dalam dan teh Ine mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi…, “Crat.., crat.., crat.., crat”, kami berdua mengerang dengan keras sambil menikmati tercapainya orgasme pada dikala yang bersamaan. Kami sudah tak peduli bila seisi rumah akan mendengarkan jeritan-jeritan kami, alasannya saya yakin teh Inepun tak pernah mencicipi kenikmatan yang luar biasa ini sepanjang hidupnnya. “Ahh.., Fi.., kau hebaat.., kau hebaathh.., hh.., Teteh ngga pernah ngerasain kenikmatan menyerupai ini”. “Saya juga teh.., terima kasih untuk kenikmatan ini..”, Kataku seraya mengecup kening teh Ine dengan mesra. “Mau tau suatu rahasia Fi?”, tanyanya sambil membelai rambutku, “Teteh sudah lima tahun tidak bersentuhan dengan laki-laki.., tapi entah kenapa, dalam 5 hari bergaul dengan kamu.., teteh tidak bisa menahan gejolak birahi teteh.., ngga tau kenapa.., kau itu punya aura seks yang luar biasa..”. Teh Ine bangun dari ranjangku dan mengambil sesuatu dari kantong dasternya.

Sebutir pil KB. “Seperti punya fitasat, teteh sudah minum pil ini semenjak 3 hari yang lalu..”, katanya tersenyum, “Dan akan teteh minum selama teteh ada di sini..”, Teh Ine mengerdipkan matanya padaku dengan manja sambil memakai dasternya. “Selamat tidur sayang…”, Teh Ine melangkah keluar dari kamarku. Teh Ine memang luar biasa. Ia bukan saja dapat menggantikan kedudukan Tati sebagai partner seks yang baik, tetapi juga memberi sentuhan-sentuhan kasih sayang keibuan yang luar biasa. Aku benar-benar dimanja oleh wanita setengah baya itu. Fantasi sexualnya juga luar biasa. Mungkin itu pengaruh dari pekerjaannya sebagai penulis dongeng drama. Coba bayangkan, ia pernah memijatku dalam keadaan bugil, kemudian sambil terus memijat ia bisa memasukkan penisku ke dalam vaginanya, dan saya disetubuhi sambil terus menikmati pijatan-pijatannya yang nikmat. Ia juga pernah meminta saya untuk menyetubuhinya di dikala ia mandi pancuran di kamar mandi dan kami melakukannya dengan tubuh licin penuh sabun. Dan yang paling sensasional adalah.., Sore itu saya sudah berada di rumah. Karena load pekerjaan di kantorku tidak begitu tinggi, saya sengaja pulang cepat.

Selesai mandi saya duduk di meja makan sambil menikmati pisang goreng buatan teh Ine. Perempuan binal itu memang luar biasa. Ia melayaniku menyerupai suaminya saja. Segala keperluan dan kesenanganku benar-benar diperhatikan olehnya. Seperti biasa, saya mengenakan baju kaos buntung dan celana pendek longgar kesukaanku dan (seperti biasa juga) saya tidak menggunakan celana dalam. Kebiasaan ini kumulai semenjak adanya teh Ine di rumah ini, alasannya bisa dipastikan hampir tiap hari saya akan menikmati tubuh sintal adik ipar ayah si Anto itu. Sore itu sambil menikmati pisang goreng di meja makan, saya bercakap-cakap dengan ayah Anto. Orang bau tanah itu duduk di pojok ruangan dekat pintu masuk untuk menikmati semilirnya angin sore kota Bandung. Jarak antara saya dengannya sekitar 6 meter. Sambil bercakap-cakap mataku tak lepas dari teh Ine yang mondar mandir menyediakan hidangan sore bagi kami. Entah ke mana PRT kami dikala itu.

Teh Ine mengenakan celana pendek yang ditutupi oleh kaos bergambar Mickey Mouse berukuran ekstra besar sehingga sering tampak kaos itu menutupi celana pendeknya yang memberi kesan teh Ine tidak mengenakan celana. Aku berani bertaruh perempuan itu tidak menggunakan BH alasannya bila ia berjalan melenggang, tampak buah dadanya bergayut ke atas ke bawah, dan di kepingan dadanya tercetak puting buah dadanya yang besar itu. Tanpa sadar batang penisku mulai membesar. Setelah selesai dengan kesibukannya, teh Ine duduk di sebelah kiriku dan ikut menikmati pisang goreng buatannya. Kulihat ia melirik ke arahku sambil memasukkan pisang goreng perlahan-lahan ke dalam mulutnya. Sambil mengerdipkan matanya, ia memasukkan dan mengeluarkan pisang goreng itu dan sesekali menjilatnya. Sambil terus berbasa bau dengan orang bau tanah Anto, saya menelan ludah dan mencicipi bahwa urat-urat penisku mulai mengeras dan kepala penisku mulai membesar.

Tiba-tiba kurasakan jari-jemari kanan teh Ine menyentuh pahaku. Lalu perlahan-lahan merayap naik hingga di tempat penisku. Dengan gemas teh Ine meremas penis tegangku dari luar celanaku sehingga membuat cairan beningku membuat tanda bercak di celanaku. Setelah beberapa lama meremas-remas, tangan itu bergerak ke tempat perut dan dengan cepat menyelip ke dalam celana pendekku. Aku sudah tidak tahu lagi apa isi percakapan orang bau tanah Anto itu. Beberapa kali ia mengulangi pertanyaannya padaku alasannya jawabanku yang asal-asalan. Degup jantungku mulai meningkat. Jemari lentik itu kini sudah mencapai kedua bolaku. Dengan jari telunjuk dan tengah yang dirapatkan, perempuan lajang itu mengelus-elus dan menelusuri kedua bolaku.., mula-mula berputar bergantian kiri dan kanan kemudian naik ke kepingan batang.., terus bergerak menelusuri urat-urat tegang yang membalut batang kerasku itu, “sss…, teteh..”. Aku berdesis ketika kedua jarinya itu berhenti di urat yang terletak sempurna di bawah kepala penisku.., itu memang tempat kelemahanku.., dan perempuan sintal ini mengetahuinya.., kedua jemarinya menggesek-gesekkan dengan cepat urat penisku itu sambil sesekali mencubitnya. “aahh…”, erangku ketika kesudahannya penisku masuk ke dalam genggamannya. “Kenapa Rafi?”, Orang bau tanah yang duduk agak jauh di depanku itu menduga saya mengucapkan sesuatu. “E.., ee…, ndak apa-apa Pak..”, Jawabku tergagap sambil kembali meringis ketika teh Ine mulai mengocok penisku dengan cepat.

Gila perempuan ini! Dia melakukannya di depan kakaknya sendiri walaupun tidak kelihatan alasannya terhalang meja. “Saya cuma merasa segar dengan udara Bandung yang hambar ini..”, Jawabku sekenanya. “Ooo begitu.., saya pikir kau sakit perut.., habis tampangmu meringis-meringis begitu..”, Orang bau tanah itu terkekeh sambil memalingkan mukanya ke jalan raya. Begitu kakaknya berpaling, teh Ine dengan cepat merebahkan kepalanya ke pangkuanku sehingga dari arah ayah Anto, teh Ine tak tampak lagi. Dengan cepat tangannya memelorotkan celanaku sehingga penisku yang masih digenggamnya dengan erat itu terasa hambar terterpa angin. Sejenak perempuan itu memandang penis besarku itu.., ia selalu memperlihatkan kesempatan pada matanya untuk menikmati ukuran dan kekokohannya. Kemudian teh Ine menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat mengelilingi lubang penisku.., kemudian ia memasukkan ujung lidahnya ke ujung lubang penisku dan mengecap cairan beningku.., lalu lidahnya diturunkan lagi-lagi ke urat di bawah penisku.

Aku mulai menggelinjang-gelinjang tak karuan, walaupun dengan hati-hati takut tertangkap berair oleh kakak teh Ine yang duduk di depanku. Tanganku mulai meraba-raba buah dadanya yang besar itu dan meremasnya dengan gemas, “sss.., teeehh..”, desisku agak keras ketika perempuan itu dengan kedua bibirnya menyedot urat di bawah kepala penisku itu.., sementara tangannya meremas-remas kedua bolaku…, aawwww nikmatnya…, saya begitu terangsang sehingga seluruh pori-pori kulitku meremang dan mukaku berwarna merah. Aku sudah dalam tahap ingin menindih dan sesegera mungkin memasukkan penisku ke dalam vagina perempuan ini tapi semua itu tak mungkin kulakukan di depan kakaknya yang masih duduk di depanku menikmati lalu lalang kendaraan di depan rumahnya. Tiba-tiba bibir teh Ine bergerak dengan cepat ke kepala penisku.., sambil terus kupermainkan putingnya kulihat ia membuka mulutnya dengan lebar dan tenggelamlah seluruh penisku ke dalam mulutnya.

Aku kembali mendesis dan meringis sambil tetap duduk di meja makan mendengarkan ocehan orang bau tanah Anto yang kembali mengajakku berbincang. Mulut teh Ine dengan cepat menghisap dan bergerak maju mundur di penisku. Tanganku menarik dasternya ke atas dari arah punggung sehingga terlihatlah pantatnya yang mulus tidak ditutupi oleh selembar benangpun. Aku ingin menjamah vaginanya, ingin rasanya kumasukkan jari-jariku dengan kasar ke dalamnya dan kukocok-kocok dengan keras tapi saya sudah tak berpengaruh lagi. Jilatan lidah, kecupan, dan sedotan teh Ine di penisku membuat seluruh syarafku menegang. Tiba-tiba kujambak rambut teh Ine dan kutekan sekuat-kuatnya sehingga seluruh penisku karam ke dalam mulutnya. Kurasakan ujung penisku menyentuh langit-langit tenggorokan teh Ine dan, “Creeet…, creeett…, creeettt”, menyemburlah cairan maniku ke lisan teh Ine.

“Ahh…, aahh.., aahh.., tetteeehh…”, Aku meringis dan mendesis keras ketika cairan maniku bersemburan ke dalam lisan teh Ine. Perempuan itu dengan lahap menjilati dan menelan seluruh cairanku sehingga penisku yang hampir layu kembali sedikit menegang alasannya terus-terusan dijilat. Aku memejamkan mataku.., gilaa.., permainan ini benar-benar menakjubkan. Ada rasa was-was alasannya takut ketahuan, tapi rasa was-was itu justru meningkatkan nafsuku. Teh Ine memandang penisku yang sudah agak mengecil namun tetap saja dalam posisi tegak. “Luar biasa…”, Bisiknya, “Siap-siap nanti malam yah?” Katanya sambil bangun dan beranjak ke dapur. Aku cukup kagum dengan prestasi yang kucapai di rumah ini. Baru 2 bulan di Bandung, saya sudah bisa meniduri 2 orang wanita yang sudah lama tidak pernah menikmati sentuhan lelaki. Dan wanita-wanita itu, saya yakin akan selalu termimpi-mimpi akan besar dan nikmatnya goresan penisku di dalam vagina mereka.

Cerita Sex Dewasa | Tante Yunni yang Bahenol

Cerita Sex Dewasa | Tante Yunni yang Bahenol – “Man, nanti kau ambil uang di ruangan saya, bawa saja dulu semuanya, nanti kau nego hutang orang renta Fenny, bila tak cukup nanti hubungi saya lagi…”, Herman menelponku semoga saya mengurus hutang-hutang orang renta Fenny. Herman bilang, ayah Fenny menjual ibunya ke Bang Solihin untuk menebus hutang-hutang mereka. Bang Solihin terkenal sebagai kepala preman di tempat ini, ia juga yang membacking prostitusi yang ada di belakang komplek rumah Fenny. Aku kemudian mengajak Mamat dan Syamsul, alasannya yakni mereka pernah dibawah pimpinan Bang Solihin.Uang di meja Herman ternyata sekitar delapan puluh dua juta Rupiah, tumben sekali Herman menyimpan dana tunai menyerupai ini. “Jam segini beliau pasti ada di tempat prostitusi itu”, kata Mamat. “Orangnya agak susah diajak nego, mungkin susah kita mau lepaskan jeratan hutang-hutang keluarga Fenny”, sambung Syamsul selagi kami dalam perjalanan menuju ke arah sana.

Aku belum pernah memasuki tempat ini, dari luar cuma nampak menyerupai komplek perumahan biasa, makin ke dalam malah semakin sepi, kiri kanan hanya ada pohon menyerupai masuk ke dalam hutan, jalan pun rusak parah. Namun hingga ke dalam ada plang tertulis ‘Selamat datang di 1001 Malam’. Masuk dari gerbang ini sudah terlihat ramai, kiri kanan penuh kendaraan beroda empat dan motor yang parkir, kemudian ada meja dan dingklik tempat nongkrong orang-orang di sini. Ku lirik kanan dan kiri, berbagai perek-perek yang memandangi kami, bahkan banyak juga yang masih ABG. Ada beberapa orang berpakaian loreng, entah mereka yakni anggota brimob yang membacking atau hanya sekedar mengecek atau bermain-main di sini. Para pria hidung belangpun menatapi kami, wajar, mungkin bagi mereka kami yakni orang gres di sana, alasannya yakni Mamat dan Syamsul pun sudah lama tidak mengikuti Bang Solihin.


Di dalam ada beberapa gedung, dan gedung yang paling besar itu yakni tempat di mana Bang Solihin nongkrong. Kami pun turun coba berjalan ke arah pintu yang dijaga beberapa orang berbadan kekar. “Mat, lama tak tengok muka anyir kau…”, teriak salah satu pria yang berjaga itu, ia sepertinya kenal bersahabat dengan Mamat. Ternyata namanya Deni, sahabat Mamat juga selagi dulu di bawah pimpinan Bang Solihin. Setelah berkenalan, kamipun menjelaskan maksud kedatangan kami. “Hmm, kayaknya gue pernah dengar kasus ini…”, terang Deni. “Ibunya Fenny sekarang bekerja di sini sebagai wanita penghibur, namanya Yully…”. Cukup tragis terdengar, apalagi mendengar kelanjutan dongeng Deni, “Suaminya Yulli telah menjualnya ke Bang Solihin, terus suaminya sudah tidak di sini, dengar-dengar sih kabur ke Bali… Hutangnya besar Mat, dengar-dengar hingga miliaran Rupiah…”. Mendengar itu saya sangat kaget, apalagi saya hanya membawa puluhan juta Rupiah. “Dengar-dengar Fenny juga dijual ke Bang Solihin…”, lanjut Deni. “Apa mampu kami ketemu dengan ibunya Fenny?”, tanyaku. “Hmm, di sini tidak diperbolehkan bertemu tamu, bila mau kalian boking aja…”, jawab Deni. Aku sesungguhnya cuma mau minta petunjuk ibunya Fenny, saya takut ketemu Bang Solihin yang semakin membuat kacau keadaan, apalagi nanti bila beliau tahu eksistensi Fenny ada di tempat kami. “Oke lah, kami bawa keluar…”, balasku. “Ops, ga mampu bro, cuma diperbolehkan main di sini… Ambil kamar saja, ga mahal kok, tar untuk kalian gue kasih diskon, apalagi Mamat kawan gue…”, jawab Deni. Mau tidak mau saya menyetujuinya.


Sambil menuntun kami ke arah kamar, Deni mengolok-ngolok kami, “Doyan threesome juga bro? Hahaha…”. Mamat hanya membalas, “Kayak gak tau aja…”. Kuperhatikan keadaan sekeliling, isi gedung ini menyerupai hotel, ada sekat kamar di sepanjang lorong, kiri dan kanan, mungkin ada sekitar puluhan kamar di gedung ini. Kondisi pun bersih terawat, menyerupai hotel-hotel mewah pada umumnya. Ada beberapa gadis ABG berlalu lalang ditemani pria hidung belang. Kami menuju ke lantai dua, tidak jauh dari tangga, Deni membukakan pintu sebuah kamar.


Aku dan Syamsul masuk duluan, sedangkan Mamat membereskan pembayaran terlebih dahulu di depan kamar, menyerupai biasa, pengantar pasti minta tips. Mamat dan Deni ngobrol cukup lama di depan pintu, saya membiarkannya, anggap saja mereka sedang reuni. Di dalam kamar terdapat ranjang besar, seorang wanita sedang duduk sambil nonton televisi. “Yully?…” tanyaku padanya. “Iya, dua orang ya?”, tanya wanita itu. Saat ia menoleh ke arahku, saya cukup kaget, beliau seorang wanita yang cantik, wajah orientalnya sangat manis, tubuhnya masih seksi walaupun umurnya mungkin sudah menginjak kepala tiga. “Kami mau berbibcang sebentar…”, kataku sambil mendekatinya. “Oops, kalian bila mau wawancara, minta ijin sama bos saja dulu…”, jawabnya yang kesal menduga kami yakni reporter. “Gini… Kami mau tanya…”, belum sempat menyelesaikan pembicaraan, tante Yully eksklusif memotong, “Maaf, saya bekerja sesuai perintah atasan!”, hardiknya. “Baiklah…”, jawab Syamsul yang juga terlihat kesal, ia eksklusif membuka resletingnya. Padahal kami ke sini untuk maksud baik, dijawab menyerupai itu tentunya Syamsul cukup naik pitam.


Tante Yully eksklusif membuka laci meja yang ada di samping ranjang, ia mengeluarkan dua buah kondom lalu membukanya. Syamsul segera menanggalkan seluruh pakaiannya, lalu mendekati tante Yully. Penisnya diarahkan ke wajah tante Yully semoga tante Yully segera memakaikan kondom tersebut. Setelah itu tante Yully eksklusif mengulum penis Syamsul yang telah dibungkus kondom bercita rasa pisang. Di sini memang sangat terjaga akan keamanannya, tidak boleh ada yang tidak memakai kondom. Makanan dan minuman pun dilarang bawa dari luar, bahkan rokok sekalipun. Seminggu sekali para wanita penghibur di sini juga dicek kesehatannya, bila ada yang terjangkit penyakit HIV AIDS maka akan segera diungsikan ke panti rehabilitasi.


Melihat agresi tante Yully mengulum penis Syamsul menyerupai menikmati eskrim calpico yang nikmat, penisku pun terasa mengeras. Aku juga tidak memikirkan tujuan kedatangan kami lagi, segera saya juga membuka pakaianku hingga telanjang bulat. Ku dekati tante Yully dan ku pretel habis pakaian tante Yully. Susunya besar dan motok, segera kuremas-remas dengan penuh nafsu. Setelah puas dikulum, Syamsul ingin mencicipi goyangan tante Yully, ia segera membaringkan tubuh tante Yully dan menusukkan penisnya eksklusif ke vagina tante Yully. Karena sibuk melayani Syamsul, saya yakin tante Yully tidak sempat memakaikan kondom ke penisku, jadi terpaksa saya memakaikannya sendiri. ‘Wah, dapat rasa strawberry nih’, pikirku dalam hati melihat bungkus kondom yang barusan ku sobek. Aku sudah tak tabah ingin mencicipi kuluman tante Yully. Ku arahkan penisku ke verbal tante Yully yang terbaring di atas ranjang. Dua lubang dibantai sekaligus, sepertinya tante Yully sudah sangat terlatih.


Kata orang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, hmm, ternyata benar, kecantikan Fenny dan tante Yully sudah bagaikan pinang dibelah dua. Anak dan ibu sangat indah hingga menarik hati nafsu. “Oh yes…”, desahku kenikmatan mencicipi penisku yang semakin hangat di dalam verbal tante Yully. Tante Yully pun sepertinya sangat menikmati penisku, hahaha, benar-benar dicicipi menyerupai permen lolipop rasa strawberry. “Ini rasa kesukaanku…”, kata tante Yully menyempatkan bicara disela menyepong.
Tubuhnya bergoncang alasannya yakni bacokan Syamsul yang bersemangat, susunya kuremas, cukup besar hingga tanganku hampir tidak menutupinya. Matanya hanya meram melek menikmati goyangan. Aku sesungguhnya kurang tega, alasannya yakni anaknya, Fenny sudah bergabung dengan kami, tapi kapan lagi dapat kesempatan menyerupai ini?


Hampir setengah jam kami bercinta two in one, Mamat pun belum kunjung masuk menyusul. Aku pun sudah bergantian posisi dengan Syamsul. Walau tante Yully sudah berumur, tapi vaginanya masih seret, hanya alasannya yakni becek membuat saya lebih mudah melesapkan penisku ke lubang vaginanya. Ku peluk tubuh tante Yully hingga dadaku menyentuh erat dengan susunya, ku goyang terus di atas ranjang, sedangkan Syamsul sedang istirahat, ia menyalakan rokok dan duduk sambil memilih siaran televisi.


Cukup lama saya menikmati tubuh tante Yully, hingga saya pun berejakulasi. Ku tarik penisku yang penuh dengab sperma terbalut kondom. Tante Yully kemudian terkapar alasannya yakni cukup lelah. Aku pun meninggalkannya untuk membersihkan penisku di kamar mandi. Dalam kamar mandi ku dengar Syamsul dan tante Yully sedang berbincang-bincang, Syamsul pasti menceritakan maksud kedatangan kami. Aku pun keluar dari kamar mandi, walaupun kami bertiga masih dalam keadaan bugil, tapi kami tidak sungkan untuk saling berkenalan.


Tante Yully eksklusif meneteskan air mata setelah mendengar kabar dari kami. “Fenny yang malang…”, kata tante Yully. “Bapaknya yang penjudi itu telah menjual kami ke bang Solihin, untungnya Fenny mampu kabur…”, sambung tante Yully. “Tante sudah nyicil hutang-hutang bapaknya Fenny, tidak banyak lagi, semoga tante mampu keluar dari tempat ini dan segera bertemu dengan Fenny…”, kata tante Yully yang membuatku menjadi sedikit iba. Ia benar-benar merindukan anaknya, air matanya bercucuran hingga membasahi pipinya. “Tenang saja, Fenny baik-baik saja, beliau juga rindu kok sama tante…”, saya berusaha membujuknya semoga tidak menangis lagi. Lalu kucari celanaku untuk mengambil uang, “Emangnya sisa hutangnya berapa?”, saya bertanya kembali.


“Tinggal seratus juta, tapi bang Solihin sangat kejam, ia pasti menghitung bunganya juga…”, jawab tante Yully semakin sedih. ‘Waduh, uang yang ku bawa tidak lah cukup’, pikirku dalam hati.
Aku pun menjelakannya kepada tante Yully semoga beliau tenang, alasannya yakni saya akan menghubungi Herman untuk membawa sisanya. “Telp boss lah Syam…”, saya memerintahkan Syamsul. Ia lalu berdiri dan mencari handphone nya yang tertinggal di saku celana. 


Belum sempat mendapati handphone, pintu pun terbuka. Mamat masuk beserta seorang pria besar dengan tegap dan berwajah garang. “Man, nih bang Solihin…”, Mamat memperkenalkanku dengan pria berwajah garang itu. “Boss…”, sapa tante Yully kepada pria itu. Aku pun kemudian berjabat tangan dengannya, pria besar itu yakni pimpinan di sini, wajahnya terdapat goresan, membuatku sedikit takut melihatnya. “Oke, Mamat sudah menjelaskan kedatangan kalian… Kalau tidak memandang Mamat, saya tak akan lepaskan wanita ini…”, kata bang Solihin. Mungkin Mamat sudah banyak berjasa padanya. “Kalian bawa saja wanita ini…”, katanya. “Terima kasih bang…”, kami mengucapkan terima kasih padanya.


Pria besar itu pun pergi dari kamar sambil berkata, “tapi main-nya ga gratis ya…”. Kami pun tertawa sambil menjawab, “Iya bang, kami tambah waktu… Tar kami bayar…”, jawab kami. Tante Yully kegirangan lalu memelukku yang berada paling bersahabat dengannya. “Thanks…”, bisiknya di bersahabat telingaku. Mamat yang tadi tidak sempat menikmati tante Yully pun segera menanggalkan pakaiannya. “Ini ga gratis loh, bang Solihin minta bantu menemukan eksistensi bapaknya Fenny…”, kata Mamat.


Ternyata sedari tadi Mamat bernegosiasi dengan bang Solihin. “Tenang aja bro, itu sudah kerjaan kita dari dulu…”, lanjut Syamsul. “Sebagai tanta terima kasih, saya akan melayani kalian seumur hidup…”, kata tante Yully yang kemudian kembali membagikan kami kondom. Hahaha, ronde selanjutnya nih.
Aku dan Syamsul membiarkan Mamat beraksi sendiri terlebih dahulu. Tante Yully melayani Mamat dengan sangat semangat, tanpa kenal lelah. Ini kesempatan kami, alasannya yakni bila sudah kembali ke tempat kami, Herman lah yang berkuasa. Mamat menyetubuhi tante Yully dengan nafsu selayak suami istri, permainan cinta yang kemudian mengundang nafsu birahi kami. Hatiku kembali berkecamuk, jantungku berdegup kencang, dan penisku mulai kembali menegang. “Napa man? Mau lanjut?”, tanya Syamsul yang sedang duduk di sampingku. “Hahaha, kayak bro ga nafsu aja…”, balasku yang kembali menghisap rokok dan mencari channel tv yang enak ditonton. Syamsul juga kelihatan kembali bergairah, aib menjawab pernyataanku tadi, ia hanya memainkan penisnya yang kembali mengeras.


Mamat memeluk tante Yully dengan erat, dilumatnya bibir tante Yully sambil menggoyangkan pinggulnya untuk mengocok vagina tante Yully dengan penisnya. “Enakk…”, rintihan tante Yully yang benar-benar terang terdengar.


Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu, saya pun bangun dan coba melihat apa yang terjadi. “Ada apa?”, tanyaku melihat Deni di depan pintu. “Jangan lama mas, takut boss berubah pikiran…”, kata Deni yang sedari tadi juga mengawasi gelagat bang Solihin. “Kalau ga mandang Mamat, gue sih ga bakal kasih saran…”, lanjut Deni. “Iya bro, ne lagi tungguin Mamat…”, jawabku. Benar juga pikirku dalam hati, bang Solihin sudah memberi kemudahan, bila ia berubah pikiran, bisa-bisa kami tidak diperbolehkan keluar dari sini.
Aku pun kembali masuk dan mengenakan kembali pakaianku. “Mau ke mana man? Belum ronde dua nih…”, tanya Syamsul. “Kita mesti cepat tinggalin tempat ini bro, sebelum bang Solihin berubah pikiran…”, jawabku sambil mengemas semuanya. Mendengar itu, Syamsul juga segera memakai kembali pakaiannya. Kami hanya menunggu Mamat dan tante Yully menyelesaikan program mereka.


Tidak lama, mereka sudah terkapar, Mamat dan tante Yully sudah menyelesaikan permainan cinta mereka dan mencapai orgasme. Aku pun meminta mereka segera bergegas untuk meninggalkan tempat ini. Tanpa menunggu lama, kami pun keluar, tak berani berpamitan dengan bang Solihin, kami hanya keluar dengan diantar oleh Deni hingga ke parkiran. “Thanks bro..”, salam Mamat sambil berjabat tangan dengan Deni. “Sip, kapan-kapan kita ngumpul lagi…”, balas Deni.


Aman pikirku, kami pun keluar dari tempat itu. Aku menyupir dan Mamat duduk di sampingku, sedangkan Syamsul dan tante Yully duduk di belakang. Ternyata di sepanjang perjalanan, Syamsul melanjutkan percintaannya dengan tante Yully. Ia membuka resleting celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah mengerah. Tante Yully pun mulai mengocoknya, mereka tidak takut dengan pandangan dari luar, alasannya yakni jendela kendaraan beroda empat menggunakan beling film, sehingga sulit melihat terang ke dalam kendaraan beroda empat dari arah luar. Tante Yully sudah profesional, ia mulai menundukkan kepalanya untuk menyepong penis Syamsul. Sialan pikirku, tahu gini saya milih duduk di belakang saja deh. Sedikit iri juga alasannya yakni permainan mereka hanya membuat penisku terangsang tanpa pelampiasan.


Akhirnya hingga juga di tempat perjuangan Herman, sedangkan Mamat dan tante Yully sudah menyudahi acara mereka. Kami segera naik ke lantai tiga, tempat biasanya kami berkumpul. “Mamaaaa…..”, teriak Fenny ketika melihat kami tiba bersama ibunya. “Sudah beres?”, tanya Herman padaku. “Sip dah…”, jawabku. Reuni antara ibu dan anakpun berlangsung beberapa saat, setelah itu kami pun saling berkenalan. Hmm, nambah anggota lagi nih tempat kami. “Oke, nanti malam kita buat pesta…”, kata Herman membuat seluruh orang di sini bersorak gembira.

Cerita Sex Dewasa | ngentot dengan adik kandung

Cerita Sex Dewasa | ngentot dengan adik kandung – Gw anak yang paling renta dari tiga bersaudara. Gw mempunyai satu adik laki-laki dan satu adik perempuan. Umurku berbeda 1 tahun dengan adik lelakiku namu adik perempuanku beda lagi 10 tahun. Kami sangat dimanja oleh orang renta kami, sehingga tingkahku yang tomboy dan suka maksa pun tidak dilarang oleh mereka. Begitupun dengan adikku yang tidak mau disunat walaupun ia sudah kelas 2 SMP.

Waktu kecil, Gw sering mandi bersama bersama adik gw, tetapi semenjak ia masuk Sekolah Dasar, kami tidak pernah mandi bersama lagi. Walaupun begitu, Gw masih ingat betapa kecil dan keriputnya penis adik gw. Sejak dikala itu, Gw tidak pernah melihat lagi penis adik gw. Sampai suatu hari, Gw sedang asyik telpon dengan sobat cewekku. Gw telpon berjam-jam, kadang tawa keluar dari mulutku, kadang kami serius bicara perihal sesuatu, hingga balasannya Gw rasakan kandung kemihku penuh sekali dan Gw kebelet pengen pipis. Benar-benar kebelet pipis sudah di ujung lah. Cepat-cepat kuletakkan gagang telpon tanpa permisi dulu sama temanku. Gw berlari menuju ke toilet terdekat. Ketika kudorong ternyata sedang dikunci.

hallow..! Siapa di dalam buka dong..! Udah nggak tahan..! Gw berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi

Iyaaaaaaa..! Wait..! ternyata adikku yang di dalam. Terdengar suaranya dari dalam.
Nggak mampu nunggu..! Cepetan..! kata Gw memaksa.
aduhhhhhhhh….. Gw benar-benar sudah tidak berpengaruh menahan ingin pipis.

kreottttttt..! terbuka sedikit pintu toilet, kepala adikku muncul dari celahnya.
Ada apa sih kak? katanya.
Tanpa menjawab pertanyaannya, Gw pribadi nyerobot ke dalam alasannya yakni sudah tidak tahan. Langsung Gw jongkok, menaikkan rokku dan membuka celana dalamku.
criitttttt keluar air seni dari vagina Gw.
Kulihat adikku yang bangkit di depanku, badannya masih telanjang bulat.

Yeahhhhh..! Sopan dikit napa kak? teriaknya sambil melotot tetap bangkit di depanku.
Waitttt..! Udah nggak berpengaruh nih, kata Gw.
Sebenarnya Gw tidak mau menurunkan pandangan mata Gw ke bawah. Tetapi sialnya, turun juga dan balasannya kelihatan deh burungnya si adik gw.
hahahahah.. Masih keriput kayak dulu, cuma sekarang agak gede dikit kataku dalam hati.
Gw takut tertangkap tangan melihat kontolnya, cepat-cepat kunaikkan lagi mata Gw melihat ke matanya. Eh, ternyata ia sudah tidak melihat ke mata Gw lagi. Sialan..! Dia lihat vagina Gw yang lagi mekar sedang pipis. Cepat-cepat kutekan sekuat tenaga otot di vagina Gw biar cepat selesai pipisnya. Tidak sengaja, kelihatan lagi burungnya yang masih belum disunat itu. Sekarang penisnya kok pelan-pelan semakin gemuk. Makin naik sedikit demi sedikit, tapi masih kelihatan lemas dengan kulupnya masih menutupi helm penisnya.

Sialan nih adikku. Malah ngeliatin lagi, mana belum habis nih air kencing..! Gw bersungut dalam hati.
o0oooo.. Kayak gitu ya Kak..? katanya sambil tetap melihat ke vagina Gw.
Eh kurang didik Lu ya dik! pribadi saja Gw bangkit mengambil gayung dan kulemparkan ke kepalanya.
Kletokkkk..! kepala adikku memang kena pukul, tetapi hasilnya air kencingku kemana-mana, mengenai rok dan celana dalamku.

Ya… berair deh rok kakak… katGw melihat ke rok dan celana dalamku.
Syukurin..! Makanya jangan masuk seenaknya..! katanya sambil mengambil gayung dari tanganku.
Mandi lagi ahh..! lanjutnya sambil menyiduk air dan menyiram badannya.
Terus ia mengambil sabun dan mengusap sabun itu ke badannya.
Waduh.., sialan nih adik gw! sungutku dalam hati.
Waktu itu Gw resah mau gimana nih. Mau keluar, tapi Gw jijik pake rok dan celana dalam yang berair itu. Akhirnya kuputuskan untuk buka celana dalam dan rokku, lalu pinjam handuk adikku dulu. Setelah salin, gres kukembalikan handuknya.

Udah.., pake aja handuk Gw kak! kata adikku.
Sepertinya ia mengetahui kebingunganku. Kelihatan kontolnya mengkerut lagi.
Makara lucu lagi gitu..! Hihihi..! dalam hatiku.
Gw lalu membuka celana dalam gw yang warnanya merah muda, lalu dilanjutkan dengan membuka rok. Kelihatan lagi deh memek Gw. Gw takut adikku melihatku dalam keadan menyerupai itu. Makara kulihat adik gw. Eh sialan, ia memang memperhatikan Gw yang tanpa celana.

kakak Memek tu emang gemuk kayak gitu ya..? kakakaka..! katanya sambil nyengir.
Sialan, ia menghina vagina Gw, Daripada culun kayak punya lhoo..! kata Gw sambil memukul pundak adik gw.

Eh tiba-tiba ia berkelit, wakzzzzzz..! katanya.
Karena Gw memukul dengan sekuat tenaga, balasannya Gw terpeleset. Punggungku jatuh ke tubuhnya. Kena deh pantatku ke penisnya.
Iiihhh.., rasanya geli banget..! cepat-cepat kutarik tubuhku sambil bersungut, Huh..! kakak sih..!

kak.. kata Kakak tadi culun, kalau kayak gini culun nggak..? katanya mengacuhkan omonganku sambil menunjuk ke penisnya.
Kulihat penisnya mulai lagi menyerupai tadi, pelan-pelan semakin gemuk, makin tegak ke arah depan.
Ya.. gitu doang..! Masih kayak anak SD ya..? kata Gw mengejek dia.
Padahal Gw kaget juga, ukurannya mampu bertambah begitu jauh. Ingin juga sih tahu hingga dimana bertambahnya. Iseng Gw tanya, Gedein lagi mampu nggak..? kata Gw sambil mencibir.
Bisa..! Tapi kakak harus bantu dikit dong..! katanya lagi.
Megangin ya..? Wisssss.., ya nggak mau lah..! kataku.
Bukan..! kakak taruh ludah aja di atas kontolku..! jawabnya.

Karena penasaran ingin melihat penis perjaka kalau lagi penuh, kucoba ikuti perkataan dia.

Gitu doang kan..? Mau kakak ngeludahin Kamu mah. Dari dulu Kakak pengen ngeludahin Kamu” ujarku

Sialan nih adikku, Gw dikerjain. Kudekatkan kepal Gw ke arah penisnya, lalu Gw mengumpulkan air ludahku. Tapi belum juga Gw membuang ludahku, kulihat penisnya sudah bergerak, kelihatan penisnya naik sedikit demi sedikit. Diameternya makin lama semakin gede, jadi kelihatan semakin gemuk. Dan panjangnya juga bertambah. keren banget melihatnya. Geli di sekujur tubuh melihat itu semua. Tidak lama kepala penisnya mulai kelihatan di antara kulupnya. Perlahan-lahan mendesak ingin keluar. Wahh..! Bukan main perasaan senangku waktu itu. Gw benar-benar asyik melihat helm itu perlahan muncul.
Akhirnya bebas juga kepala penis itu dari halangan kulupnya. Penis adikku sudah tegang sekali. Menunjuk ke arahku. Warnanya kini lebih merah. Gw jadi terangsang melihatnya. Kualihkan pandangan ke adikku.
Hehe… ia ke arahku. Masih culun nggak..? katanya lagi. Hehe..! Macho kan kak! katanya tetap tersenyum.

Tangannya tiba-tiba turun menuju ke selangkanganku. Walaupun Gw terangsang, tentu saja Gw tepis tangan itu.

Apaan sih dik..! kubuang tangannya ke kanan.
Kak..! Please kakkk.. Pegang aja kak… Nggak akan diapa-apain… Gw pengen tahu rasanya megang itu-nya cewek. Cuma itu aja kak.. kata adik gw, kembali tangannya mendekati selangkangan dan mau memegang memek gw.

ehmmmm.. sebetulnya Gw mau jaga image, masa mau sih sama adik sendiri, tapi Gw juga ingin tahu bagaimana rasanya dipegang oleh perjaka di memek!hihihii…
Inget..! Jangan digesek-gesekin, taruh aja tanganmu di situ..! balasannya Gw mengiyakan. Deg-degan juga hati ini.

Tangan adik gw lalu mendekat, bulu kemaluanku sudah tersentuh oleh tangannya. Ihh geli sekali… Gw lihat penisnya sudah keras sekali, kini warnanya lebih kehitaman dibanding dengan sebelumnya. opppssttttt… Hangatnya tangan sudah terasa melingkupi vagina Gw. Geli sekali rasanya dikala bibir vagina Gw tersentuh telapak tangannya. Geli-geli nikmat di syaraf vagina Gw. Gw jadi semakin terangsang sehingga tanpa dapat ditahan, vagina Gw mengeluarkan cairan.
Hihihi.. kakak terangsang ya..?
Enak aja… sama adik mah mana mampu terangsang..! jawabku sambil merapatkan selangkangan gw biar cairannya tidak semakin keluar.
Ini berair banget apaan Kak..?
Itu sisa air kencing Kakak tahuuu..! kata Gw berbohong padanya.
Kak… memek tu anget, empuk dan berair ya..?
Tau ah… Udah belum..? Gw berlagak sepertinya Gw menginginkan situasi itu berhenti, padahal sebetulnya Gw ingin tangan itu tetap berada di situ, bahkan kalau mampu mulai bergerak menggesek bibir memek Gw.

Kak… gesek-gesek dikit ya..? pintanya.
Tuh kan..? Katanya cuma pegang aja..! Gw akal-akalan tidak mau.
Dikit aja Kak… Please..!
Terserah adik aja deh..! Gw mengiyakan dengan nada malas-malasan, padahal mau banget tuh. Hihihi.. Habis enak sih…
Tangan adik gw lalu makin masuk ke dalam, terasa bibir vagina Gw terbawa juga ke dalam.
uhhhhhh..! Hampir saja kata-kata itu keluar dari verbal gw. Rasanya nikmat sekali. Otot di dalam vagina Gw mulai terasa berdenyut. Lalu tangannya ditarik lagi, bibir vagina Gw ikut tertarik lagi.
Ouughhhhhhhhh..! balasannya keluar juga desahan nafasku menahan rasa nikmat di vagina Gw.
Badanku terasa limbung, bahuku condong ke depan. Karena takut jatuh, Gw bertumpu pada pundak adik gw.

Enak ya kak..?

Heeheee.., jawabku sambil memejamkan mata.
Tangan adik gw lalu mulai maju dan mundur, kadang klitoris gw tersentuh oleh telapak tangannya. Tiap tersentuh rasanya nikmat luar biasa, tubuh ini akan tersentak ke depan.
kak..! Adek juga pengen ngerasaain enaknya dong..!

Kamu mau diapain..? jawab gw lalu membuka mata dan melihat ke arahnya.
Ya pegang-pegangin juga..! katanya sambil tangan satunya lalu menuntun tanganku ke arah kontolnya.
Kupikir egois juga jikalau Gw tidak mengikuti keinginannya. Kubiarkan tangannya menuntun tangan gw. Terasa hangat penisnya di genggaman tangan ini. Kadang terasa kedutan di dalamnya. Karena masih ada sabun di penisnya, dengan mudah Gw mampu memaju-mundurkan tanganku mengocok penisnya.

Kulihat tubuh adikku kadang kala tersentak ke depan dikala tanganku hingga ke pangkal penisnya. Kami berhadapan dengan satu tangan saling memegang kemaluan dan tangan satunya memegang bahu.
Tiba-tiba ia berkata, Kak..! Titit Adek sama memek Kakak digesekin aja yah..!
hooh Gw pribadi mengiyakan alasannya yakni Gw sudah tidak tahan menahan rangsangan di dalam tubuh.
Lalu ia melepas tangannya dari vagina Gw, memajukan badannya dan memasukkan penisnya di antara selangkangan gw. Terasa hangatnya batang penisnya di bibir vagina Gw. Lalu ia memaju-mundurkan pinggulnya untuk menggesekkan penisnya dengan vagina Gw.

ohhhhh..! Gw kini tidak malu-malu lagi mengeluarkan erangan.
Dek… masukin aja..! Kakak udah nggak tahan..! Gw benar-benar sudah tidak tahan, setelah sekian lama mendapatkan rangsangan. Gw balasannya menghendaki sebuah penis masuk ke dalam memek Gw.
Iya Kak..!
Lalu ia menaikkan satu paha Gw, dilingkarkan ke pinggangnya, dan tangan satunya mengarahkan penisnya biar sempurna masuk ke itil Gw.

Gw terlonjak ketika sebuah benda hangat masuk ke dalam kemaluanku. Rasanya ingin berteriak sekuatnya untuk melampiaskan nikmat yang kurasa. Akhirnya Gw hanya mampu menggigit bibir gw untuk menahan rasa nikmat itu. Karena sudah dari tadi dirangsang, tidak lama kemudian Gw mengalami orgasme. Vagina Gw rasanya menyerupai tersedot-sedot dan seluruh syaraf di dalam tubuh berkontraksi.
ohhhhhh..! Gw tidak berpengaruh untuk tidak berteriak.
Kulihat adik gw masih terus memaju-mundurkan pinggulnya dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba ia mendorong sekuat tenaga hingga badanku terdorong hingga ke tembok.
Ouughhh..! katanya.
Pantatnya ditekannya lama sekali ke arah vagina Gw. Lalu badannya tersentak-sentak melengkung ke depan. Kurasakan cairan hangat di dalam vagina Gw.

Lama kami melamun dalam posisi itu, kurasa penisnya masih penuh mengisi vagina Gw. Lalu ia mencium bibirku dan melumatnya. Kami berpagutan lama sekali, berair keringat menyiram tubuh ini. Kami saling melumat bibir lama sekali. Tangannya lalu meremas payudara dan memilin putingnya.
Kak..! Kakak nungging, terus pegang bibir bathtub itu..! tiba-tiba ia berkata.
Wahh..! Gila adik ya..!
Udah.., ikutin aja..! katanya lagi.

Gw pun mengikuti petunjuknya. Gw berpegangan pada bathtub dan menurunkan tubuh bab atasku, sehingga batang kemaluannya sejajar dengan pantatku. Gw tahu adikku mampu melihat dengan terperinci vagina Gw dari belakang. Lalu ia mendekatiku dan memasukkan penisnya ke dalam vagina Gw dari belakang.

uhhhhhh..! %@!#$&tt..! Gw menjerit dikala penis itu masuk ke dalam rongga vagina Gw.

Rasanya lebih nikmat dibanding sebelumnya. Rasa nikmat itu lebih kurasakan alasannya yakni tangan adikku yang bebas kini meremas-remas payudara Gw. Adikku terus memaju-mundurkan pantatnya hingga sekitar 10 menit ketika kami hampir bersamaan mencapai orgasme. Gw rasakan lagi tembakan sperma hangat membasahi rongga vagina Gw. Kami lalu berciuman lagi untuk waktu yang cukup lama.

Setelah kejadian itu, kami jadi sering melakukannya, terutama di kamar gw ketika malam hari dikala orang renta sudah pergi tidur. Minggu-minggu awal, kami melakukannya bagaikan pengantin baru, hampir tiap malam kami bersetubuh. Bahkan dalam semalam, kami mampu melaksanakan hingga 4 kali. Biasanya Gw membiarkan pintu kamar gw tidak terkunci, lalu sekitar jam 2 malam, adik gw akan datang dan menguncinya. Lalu kami bersetubuh hingga kelelahan. Kini setelah Gw di Bandung, kami masih selalu melakukannya jikalau ada kesempatan. Kalau bukan Gw yang ke Sukabumi, maka ia yang akan datang ke Bandung untuk menyetor jatah spermanya ke memek Gw. Saat ini Gw mulai berani menelan sperma yang dikeluarkan oleh adik kandung gw sendiri

Cerita Dewasa Sex | Melewati Malam Bersama Dokter Shinta

Cerita Dewasa Sex | Melewati Malam Bersama Dokter Shinta – Shinta yakni seorang dokter muda. Dia gres saja menamatkan pendidikannya pada sebuah universitas ternama di Pulau S. Selain kecerdasannya yang mengantarkan dirinya meraih gelar dokter. Shinta juga merupakan gambaran profil generasi muda masa kini. Disamping sebagai gadis yang sangat cantik, Shinta yang berusia 24 tahun ini juga lincah dan intelek dan dikenal oleh teman-temannya sebagai gadis yang cinta lingkungan dan duduk perkara sosial budaya. Dia sangat senang dengan petualangan alam. Selama 2 tahun terakhir di kampusnya Shinta dipercaya teman-temannya menjadi Ketua Group Pecinta Alam. Sangat kontras memang. Dilihat dari penampilan fisiknya yang demikian mengagumkan dan lembut Shinta yakni jago bela diri Kung Fu pemegang sabuk hitam. Disamping itu beliau juga sebagai pemanjat tebing yang handal dan juga beberapa kali telah mengikuti aktivitas arung gerojokan dengan menelusuri sungai-sungai ganas di seputar Sumatera. Sebagaimana dokter gres ia harus menjalani masa PTT pada sebuah desa yang jauh dari tempat tinggalnya. Reaksi orang tuanya dalam hal ini ibunya dan Rudi tunangannya yakni sangat keberatan dikala mendengar bahwa beliau harus bertugas di desa terpencil itu. Ibu Shinta sangat menyayangi Shinta. Beliaulah yang terus mendorong sekolah Shinta hingga lulus menjadi dokter. Orang bau tanah Shinta cerai dikala Shinta masih kecil. Sampai tamat dokter Shinta mengikuti ibunya. Shinta tak pernah kenal dan tahu bagaimana dan dimana ayahnya sekarang. Selain jauh dari kotanya kawasan itu masih sangat kolot dan terisolir. Bayangkan, untuk mencapai kawasan itu orang harus seharian naik bus antar kota, kemudian disambung dengan ojek hingga ke tepian desa yang dimaksud. Di desanya sendiri yang sama sekali tak ada sarana transportasi juga belum terjangkau oleh penerangan listrik. Tak ada TV dan belum ada sambungan pesawat telpon maupun antene repeater untuk penggunaan hand phone. Ibunya minta pamannya yang adik kandung ibunya bersama Rudi tunangannya untuk menyempatkan diri meninjau eksklusif desa itu. Sepulang dari desa tersebut mereka menyatakan bahwa betapa berat medan yang akan dihadapi oleh Shinta nantinya. Mereka khawatir dan cemas pada Shinta yang rencananya pada bulan Haji nanti akan dinikahkan dengan Rudi. Shinta dan Rudi telah bertunangan selama hampir 2 tahun. Rudi sendiri yakni seorang insinyur pertanian yang telah bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten. Tetapi semua kecemasan dan kekhawatiran orang bau tanah dan tunangannya itu tidak terlampau ditanggapi oleh Shinta. Untuk lebih menghayati dongeng selanjutnya, biarlah Shinta sendiri yang menceriterakan kisah yang dialaminya sebagaimana yang tertera di bawah ini.
Perjalanan itu hampir memakan waktu 1 jam. Mungkin hanya 10 menit bila jalanannya macam jalan aspal di kota. Sampai di pintu desa nampak mereka yang menjemputku. Masih beberapa rumah dan kebon yang mesti kami lewati. Aku mendapatkan seorang perempuan yang sedang menggigil karena demam yang tinggi. Sesudah kuperiksa beliau kuberi obat-obatan yang diperlukan. Kepada suami dan kerabatnya yang di rumah itu saya berkesempatan memperlihatkan sedikit penerangan kesehatan. Aku sarankan banyak makan sayur dan buah-buahan yang banyak terdapat di desa itu. Bagaimana mencuci bakal makanan sehingga bersih dan sehat. Jangan terlalu asyik dengan ikan asin. Kalau berkesempatan buatlah kakus yang benar. Perhatikan kebersihan rumah dan sebagainya. Terkadang Pak Tanba ikut melengkapi omonganku. Dari sekian puluh kali beliau mengantar aku, balasannya beliau juga menguasai ilmu populer yang sering kusiarkan pada penduduk itu.
Saat pulang, kilat dari langit makin sering dengan sesekali diiringi bunyi guntur. Jam tanganku menujukkan pukul 10.30 malam. Ah, hujan, nih. Pak Tanba mencoba mempercepat laju kendaraannya. Angin malam di pedesaan yang dingin terasa menerpa tubuhku.
Kira-kira setengah perjalanan kami rasakan hujan mulai jatuh. Lampu motor Pak Tanba menerangi titik-titik hujan yang mirip jarum-jarum berjatuhan. Aku lebih mempererat peganganku pada pinggulnya dan lebih menyandarkan kepalaku ke punggungnya untuk mencari kehangatan dan menghindarkan jatuhan titik-titik air ke wajahku.
Hujan memang tak kenal kompromi. Makin deras. Aku pengin ngomong ke Pak Tanba semoga berteduh dulu, tetapi derasnya hujan membuat omonganku tak terdengar terang olehnya. Dia terus melaju dan saya semakin erat memeluki pinggulnya. Tiba-tiba beliau berhenti. Rupanya kami mendapatkan dangau beratap daun nipah yang sepi di tepi jalanan. Aku ingat, dangau tempat jualan milik orang desa sebelah. Kalau siang hari tempat ini dikunjungi orang yang mau beli peniti, sabun atau barang-barang kebutuhan lain yang bersifat kering. Ada ‘amben’ dari bambu yang tidak luas sekedar cukup untuk duduk berteduh. Pak Tanda lekas menyandarkan motornya kemudian lari kebawah atap nipah. Aku menyilahkannya duduk.
“Sini Pak, cukup ini buat berdua,”
Dan tanpa canggung beliau mendekat ke saya dan sambil merangkulkan tangannya ke pundakku duduk di sampingku.
“Ibu kedinginan?”
“Iyalah, Pak..” sambil saya juga merangkul balik pinggangnya dengan rasa akrab.
Untuk beberapa dikala kami hanya membisu mendengarkan derasnya hujan yang mengguyur. Omongan apapun nggak akan terdengar. Suara hujan yang mirip dicurahkan dari langit mengalahkan suara-suara omongan kami. Beberapa kali saya menekan pelukanku ke badan Pak Tanba untuk lebih mendapatkan kehangatannya. Kepala dan wajahku semakin rebah menempel ke dadanya.
Aku nggak tahu bagaimana mulanya. Kudengar dengusan nafas Pak Tanba di telingaku dan tahu-tahu kurasakan mukanya telah nyungsep ke leherku. Aku diam. Aku pikir beliau juga perlu kehangatan. Dan saya mencicipi betapa tenang pada saat-saat mirip ini ada Pak Tanba. Aku juga ingin membuat beliau merasa senang di dekatku.
Tiba-tiba beliau menggerakkan kecil wajahnya dan leherku mencicipi bibirnya mengecupku. Aku juga diam. Aku sendiri sebenarnya sedang sangat lelah. Ini jam-jam istirahatku. Kondisi rasio dan emosiku cenderung malas. Aku cenderung hirau taacuh dan membiarkan apa maunya. Aku nggak perlu mengkhawatirkan ulah Pak Tanba yang telah demikian banyak berkorban untukku. Dan saya sendiri yang semakin kedinginan karena pakaianku yang berair ditambahi oleh angin ribut malamnya yang sangat dingin mencicipi bibir itu mendongkrak kehangatan dari dalam tubuhku. Bahkan kemudian saya juga tetap membiarkan ketika balasannya kurasakan kecupan itu juga dilengkapi dengan sedotan bibirnya. Aku hanya sedikit menghindar.
“Aiihh..” desahku tanpa upaya sungguh-sungguh untuk menghindar. Hingga kudengar.
“Bb.. Bu dokteerr..” desis bisik setengah samar-samar di tengahnya bunyi hujan yang semakin deras menembusi gendang telingaku.
“Buu..” kembali desis itu.
Dan saya hanya, “Hhmm..”
Aku nggak tahu mesti bagaimana. Aku secara ikhlas menyayangi Pak Tanba sebagai sahabat dan orang yang telah demikian banyak menolong aku. Aku menyayanginya juga karena adanya rasa ‘damai dan terlindungi’ dikala beliau berada di dekatku. Aku juga menyayanginya karena rasa hormatku pada seorang lelaki yang begitu ‘concern’ akan nilai tanggung jawabnya. Aku menyayangi Pak Tanba sebagai bentuk hormatku pada seorang insan yang juga bisa menunjukkan rasa sayangnya pada sesama insan lainnya.
Adakah saya juga menyayangi karena hal-hal lain dari Pak Tanba yang usianya mungkinlebih bau tanah dari ayahku? Adakah saya sedang dirundung oleh rasa sepiku? Adakah saya merindukan belaian seorang ayah yang belum pernah kujumapi? Adakah saya merindukan belaian Rudi tunanganku? Sementara saya masih gamang dan mencari jawab, kecupan dan sedotan bibir dengan halus melata pelan ke atas menyentuhi kupingku yang eksklusif membuat darahku berdesir.
Jantungku tersentak dan kemudian berdenyut kencang. Tubuhku tersentak pula oleh denyut jantungku. Rasa dingin yang disebabkan angin malam dan pakaian berair di tubuhku eksklusif sirna. Kegamanganku menuntun tanganku untuk berusaha mencari pegangan. Dan pada dikala yang bersamaan tangan kiri Pak Tanba mendekap tangan-tanganku kemudian tangan kanannya merangkul untuk kemudian menelusup ke bawah baju basahku. Dia meraba kemudian mencengkeramkan dengan lembut jari-jarinya pada buah dadaku.
Kemudian juga meremasinya pelan. Darahku melonjak dalam desiran tak tertahan. Jari-jari tangannya yang bernafsu itu menyentuh dan menggelitik puting susuku. Aku tak mengira atas apa yang Pak Tanba lakukan ini. Tetapi saya tak hendak menolak. Aku mencicipi semacam nikmat. Aku menggelinjang berkat remasan tangan Pak Tanba pada susuku. Aku eksklusif disergap rasa dahaga yang amat sangat.
Dengan sedikit menggeliat saya mendesah halus sambil sedikit menarik leher dan menengadahkan mukaku. Sebuah sergapan hangat dan manis menjemput bibirku. Bibir Pak Tanba eksklusif melumat bibirku. Oocchh.. Apa yang telah terjadi.. Apa yang melandaku dalam sekejab ini.. Apa yang melemparkan saya dalam awang tanpa batas ini.. Dimana orbitku kini..
Seperti burung yang terjerat pukat, saya mencicipi ada arus yang mengalir berpengaruh dan menyeretku. Namun saya tak berusaha mencari selamat. Aku justru kehausan dan ingin lebih lumat larut dalam arus itu. Tanganku bergerak ke atas. Kuraih kepala Pak Tanba dan menarik menekan ke bibirku. Aku ingin beliau benar-benar melumatku habis.
Aku mau dahagaku terkikis dengan lumantannya. Aku menghisap bibirnya. Kami saling melumat. Lidah Pak Tanba meruyak ke mulutku dan saya menyedotinya. Aku eksklusif kegerahan dalam hujan lebat dan dinginnya malam pedesaan itu. Tubuhku terasa mengeluarkan keringat. Mungkin pakaianku mengering karena panas tubuhku kini.
“Mmmhh..” desahnya.
“Mllmmhh..” desahku.
Aku tak tahu lagi apa yang berikutnya terjadi. Aku hanya merasa Pak Tanba merebahkan tubuhku ke ‘amben’ bambu itu sambil mulutnya terus melumati bibirku. Dan tanganku tak lepas dari pegangan di kepalanya untuk saya bisa lebih menekankannya ke bibirku. Desah dan rintih yang tertimpa bunyi derasnya hujan menjadi mantera dan sihir yang dengan cepat menggiring kami ketepian samudra birahi. Hasrat menggelora menggelitik saraf-saraf libidoku.
Kemudian kehangatan bibir itu melepas dari bibirku untuk melata. Pak Tanba sesaat melumat dan menggigit kecil bibir bawahku untuk kemudian turun melumati daguku. Aamppuunn.. Kenapa gairah ini demikian mengobarkan syahwatku.. Ayoo.. Terus Paakk.. Aku hauss.. Pak Tanbaa..
Leherku mengelinjang begitu bibir Pak Tanba menyeranginya. Kecupan demi kecupan beliau lepaskan dan saya tak bisa menahan gejolak nafsuku. Aku beranikan menjerit di tengah hujan keras di atas dangau sepi dekat tepian desa ini.
“Ayyoo.. Paakk.. Aku hauss Pak Tanbaa.. “.
Aku menggelinjang kuat. Aku meronta ingin Pak Tanba merobek-robek nafsu birahiku. Aku ingin beliau cepat menyambut dahagaku.
Tiba-tiba tangan Pak Tanba merenggut keras baju dokterku. Dia renggut pula blusku. Semua kancing-kancing bajuku putus terlepas. Pak Tanba menunjukkan kebuasan syahwat hewaniahnya. Duh.. Aku jadi begitu terbakar oleh hasrat nikmat birahiku. Aku mencicipi seorang yang sangat jantan sedang berusaha merampas kelembutan keperempuananku. Dan saya harus selekasnya mengalah pada kejantanannya itu.
Dia ‘cokot’i buah dadaku. Dia emoti susu-susuku. Di gigit-gigit pentil-pentilku. Sambil tangannya mengelusi pinggulku, pantatku, pahaku. Ciuman-ciumannya terus menyergapi tubuhku. Dari dada turun ke perut dan turun lagi.. Turun lagi.. Aku benar-benar terlempar ke awang lepas. Aku memasuki kenikmatan dalam samudra penuh sensasi. Semua yang Pak Tanba lakukan pada tubuhku belum pernah saya rasakan sebelumnya. Aku sama sekali tak mempertimbangkan adanya Rudi tunanganku itu.
Dan yang lebih-lebih menyiksaku kini yakni rasa gatal yang sangat di seputar kemaluanku. Tanpa bisa kuhindarkan tanganku sendiri berusaha menggaruk elus rasa gatal itu. Dengan sigap tanpa rasa aib saya lepasi celana dalamku sendiri. Kulemparkan ke tanah. Aku menekan-nekan adegan atas vaginaku untuk mengurangi kegatalan itu. Aku makin mencicipi cairan birahiku meleleh luber keluar dari vaginaku.
Sensasi dari Pak Tanba terus mengalir. Kini bibirnya telah merasuk lebih kebawah. Dia mengecupi dan menjilat-jilat selangkanganku. Dan itu membuat saya menjadi sangat histeris. Kujambaki rambut Pak Tanba dalam upaya menahan kegatalan syahwatku. Pak Tanba rupanya tahu. Bibirnya eksklusif merambah kemaluanku. Bibirnya eksklusif melumat bibir vaginaku. Lidahnya menjilati cairan birahiku. Kudengar.. Ssluurrpp.. Sslluurrpp.. Saat menyedoti cairan itu. Bunyi itu terdengar sangat merangsang nafsuku.
Aku tak tahan lagi. Aku menyerupai hewan korban persembahan Pak Tanba yang siap mendapatkan bacokan tajam dari tombaknya. Kobaran birahiku menuntut semoga persembahan cepat dilaksanakan. Aku tarik pundak Pak Tanba semoga berdiri dan cepat menikamkan tombaknya padaku. Ayoolaahh.. Paakk..
Aku tak tahu kapan Pak Tanba melepasi pakaiannya. Bahkan saya juga tak sepenuhnya menyadari kenapa kini saya telah telanjang bulat. Pak Tanba memang lekas merespon kobaran nafsuku. Dia telah jauh pengalamannya. Apa yang saya lakukan mungkin sudah sering beliau dapatkan dari istri-istrinya. Dengan sigap beliau naik dan menindihku dalam keadaan telah telanjang. Dia benamkan wajahnya ke lembah ketiakku. Dia menjilati dan menyedotinya.
Sementara itu saya juga mencicipi ada batang keras dan panas menekan pahaku. Tak memerlukan pengalaman untuk mengetahui bahwa itu yakni kemaluan Pak Tanba yang telah siap untuk menikam dan menembusi kemaluanku. Tetapi beliau terhenti. Detik-detik penantianku seolah-olah bertahun-tahun. Dia berbisik dalam parau.
“Bu Dokter, ibu masih perawan?”
Aku sedikit tersentak atas bisikkannya itu. Yaa.. Aku memang masih perawan. Akankah saya serahkan ini kepada Pak Tanba? Bagaimana dengan Rudi nanti? Bagaimana dengan masa depanku? Bagaimana dengan risiko moralku? Bagaimana dengan karirku? Dalam sekejab saya harus mengambil sikap. Dengan sangat kilat saya mencoba berkilas balik.
Dalam posisi begini ternyata saya bisa berpikir jernih, walau sesaat. Kemudian saya kembali ke arus syahwat birahi yang menyeretku. Aku tidak menjawab dalam kata kepada Pak Tanba. Aku eksklusif menjemput bibirnya untuk melumatinya sambil sedikit merenggangkan pahaku. Aku rela menyerahkan keperawananku kepada Pak Tanba.
Ditengah derasnya hujan dan dinginnya pedesaan, diatas ‘amben’ bambu dan disaksikan dangau beratap daun nipah di tepi jalan tidak jauh dari pintu desaku Pak Tanba telah mengambil keperawananku. Aku tak menyesalinya. Hal itu sangat mungkin karena rasa relaku yang timbul setelah melihat bagaimana Pak Tanba tanpa menunjukkan pamrihnya membantu tugas-tugasku. Dan mungkin juga atas sikapnya yang demikian penuh perhatian padaku. Rasa ‘adem’ dan ‘terlindungi’ dari sosok dan perilaku Pak Tanba demikian menghanyutkan kesadaran emosi maupun rasioku hingga saya tak harus merasa kehilangan dikala keperawananku di raihnya.
Sesaat setelah peristiwa itu terjadi Pak Tanba nge-’gelesot’ di rerumputan dangau itu sambil menangis di depan kakiku. Ini juga istimewa bagiku karena saya pikir orang mirip Pak Tanba tidak bisa menangis.
“Maafkan kekhilafan saya, Bu Dokter. Saya minta ampuunn..”
Tetapi saya cepat meraihnya untuk kembali duduk di ‘amben’. Bahkan saya merangkulinya. Bahkan sambil kemudian menjemput bibirnya dan kembali melumatinya saya katakan bahwa saya sama sekali rela atas apa yang Pak Tanba telah lakukan kepadaku. Malam itu sebelum beranjak pulang kami sekali lagi menjemput nikmat syahwat birahi. Tanpa kata-kata Pak Tanba menuntunku bagaimana supaya saya bisa meraih orgasmeku. Dia didik saya untuk menindih tubuhnya yang kekar itu. Dia tuntun kemaluannya untuk diarahkan ke kemaluanku. Kemudian beliau dorong tarik sesaat sebelum saya berhasil melakukannya sendiri. Betapa sensasi syahwat eksklusif menyergapku. Aku mengayun pantat dan pinggulku mirip perempuan yang sedang mencuci di atas penggilesan. Hanya kali ini yang berayun bukan tanganku tetapi pantat dan pinggulku. Aku berhasil meraih orgasmeku secara beruntun menyertai saat-saat orgasme dan ejakulasinya Pak Tanba yang kurasakan pada kedutan-kedutan kemaluannya yang disertai dengan panasnya semprotan sperma kentalnya dalam liang sanggamaku.
Aneh, dikala kami bersiap pulang langit mendadak jadi terang benderang. Bahkan bulan yang hampir purnama membagikan cahayanya mengenai pematang sawah di tepian jalan itu. Sebelum Pak Tanba menarik motornya beliau sekali lagi meraih pinggangku dan kembali memagut bibirku kemudian.
“Bu Dokter maukah kau menjadi istriku?,”
Aku tak menjawab dalam kata pula. Aku hanya mencubit lengannya yang dibalas Pak Tanba dengan ‘aduh’.
Dalam keremangan cahaya bulan kami memasuki desa tantanganku. Aku merenungi betapa desa ini telah memberiku banyak arti dalam hidupku. Dan pada dini pagi yang dingin itu kutetapkan hatiku. Aku akan mengabdi pada desa tantanganku ini. Aku akan jadi dokter desa dan tinggal bersama suamiku sebagai istri ke.4 Pak Tanba yang sangat baik itu.
Saat pamanku datang menjemput dan kebetulan tanpa disertai Rudi karena sedang bertugas di luar kotanya semuanya kuceritakan kepadanya. Kusampaikan bahwa dengan sepenuh kesadaranku saya telah menemukan jalan dan pilihanku. Aku akan mengabdi di desa tantanganku. Dan saya minta tolong untuk disampaikan kepada Rudi permohonan maafku yang telah mengecewakannya. Dan tentu saja kepada ibuku disamping restunya yang selalu saya perlukan.

Cerita Sex Dewasa | Goyangan Maut Tante Any

Cerita Sex Dewasa | Goyangan Maut Tante Any – Sebut saja namaku Pram, saya ialah suami dari seorang istri yang menurutku sungguh sangat sempurna. Namun begitu sebagaimana layaknya sebuah pepatah, rumput tetangga sangatlah segar, itu yang berlaku dalam kehidupanku. Walaupun pelayanan yang kuterima dari istriku sungguh tidak kurang suatu apapun, masih juga terlintas dalam anganku fantasi yang menggairahkan setiap kali Tante Amy lewat di depan rumah.

Tante Amy ialah seorang pengusaha Garment yang cukup ternama di kota Solo. Kalau tidak salah tafsir, usia Tante Amy sekitar 38 tahun, sementara suaminya ialah pemilik sebuah penginapan di Pantai Senggigi Pulau Lombok. Barangkali alasannya lokasi perjuangan pasutri ini yang berjauhan, mungkin itulah penyebab mereka hingga sekarang ini belum dikaruniani momongan. Tapi sudahlah, itu bukan urusanku, alasannya saya hanya berkepentingan dengan pemilik betis kaki yang berbulu halus milik Tante Amy yang selalu melintas dalam setiap fantasi seksku. Kalau menurut penilaianku betis kaki Tante Amy kolam biji mentimun, sementara gumpalan buah dada, pantat maupun leher Tante Amy sangatlah sejuk kurasakan seiring dengan air liurku yang tertelan dalam kerongkonganku.

Sore.., sehabis kubersihkan Tiger 2000-ku, terlihat Tante Amy keluar dari mobil. Saat itulah sejengkal paha putih di atas lutut tertangkap oleh mataku tidak urung kelaki-lakianku berdenyut juga. Lamunanku buyar oleh panggilan istriku dari teras samping. Sesuai rencana, saya akan mengantar istriku untuk berbelanja ke pasar untuk membeli buah tangan yang akan dibawa pulang ke Kalimantan (perlu kujelaskan di sini, istriku berasal dari Kalimantan Selatan).

Malam terakhir sebelum keberangkatan istriku beserta putra putriku ke Kalimantan sungguh suatu malam yang menggairahkan buatku. Bagaimana tidak, setelah sekian ahad tidak pernah kulihat istriku minum ramu-ramuan anti hamil, malam ini ia kulihat sibuk di dapur mengaduk dua buah gelas jamu, satu untuknya satu untukku. Anak-anak asyik main video game di ruang keluarga di temani Ryan adikku. Kode diam-diam dari kelopak mata istriku mengajakku masuk ke kamar tidur.

Setelah mengunci pintu kamar, saya duduk di dingklik sambil mengupas apel, sementara istriku yang mengenakan gaun tembus pandang sedang meletakkan dua buah gelas berisi diam-diam kedahsyatan permainan ranjangku di meja di dekatku. Tonjolan payudara yang amat terawat bagus itu menyembul tepat di depan mataku. Pembaca yang budiman, cita rasa relasi seksku ialah menarinya Citra istriku mengawali kisah ranjang.

Setelah kuminum jamu, saya mendekati Citra sambil memandangi dari ujung kaki hingga ujung rambut panjang sebahunya perlahan kutelusuri. 15 menit sudah berlalu, Citra mulai melepas satu persatu pakaiannya hingga balasannya tinggal BH dan celana dalamnya yang menutupi point penting persembahan untukku. Kudekap Citra sambil kucium mata indahnya, desahan napas terasa hangat terhembus di helaian bulu dadaku. Lidahku yang terjulur memasuki verbal Citra dan perlahan bergerak memutari langit-langit rongga verbal istriku. Balasan yang kurasakan sangatlah hangat menggetarkan bibirku.

Tangan Citra yang melingkari tubuhku bergerak melucuti bajuku. Sementara jilatan lidahku mampir mendarati leher yang putih bergelombang kolam roti bolu itu. Jilatanku pindah ke belakang leher dan daun telinganya. Pelukanku memutar ke belakang diikuti belaian tanganku memutari gumpalan payudara yang semakin mengeras. Tidak urung telapak tanganku semakin gemetaran, kuremas halus payudara Citra dengan tangan kananku sementara tangan kiriku meraba dan mengusap sekujur pusaran. Citra mendesah-desah sambil memegang klitorisnya.

“Ouch.., uhh. Mas antar saya ke puncak sanggama buat sanguku pisah tiga ahad denganmu..!” permohonan Citra memang selalu begitu setiap bersetubuh.
“Janganlah terlalu banyak bicara Citraku, lebih baik kita nikmati malam ini dengan desah napasmu, alasannya desah napas dan erangan kepuasanmu akan membuatku bisa mengantarmu ke puncak berulang-ulang. Kau tahu kan penyakitku, semakin kau mengerang kenikmatan semakin dahsyat pacuan kuda kontolku,” jawabku.
“Aacchh.., huuhh.., hest..!” desah napas Citra keluar sambil kedua tangannya memeluk wajahku dan perlahan menuntunnya menelusuri titik-titik kenikmatan yang kata orang titik kenikmatan perempuan ada beratus-ratus tempatnya.

Memang hingga ketika ini saya tidak pernah menghitung entah ada berapa bergotong-royong titik itu, yang terang menurutku badan perempuan itu menyerupai permen yang semuannya enak dirasa untuk dijilati, buktinya setiap mili badan istriku kujilati selalu nikmat dirasakan Citraku. Perjalanan lidahku lurus di atas vagina yang kemudian menjilat helaian bulu halus menuju Vagina. Harum semerbak aroma vagina wanita asal Kalsel hasil dari Timung (Timung ialah perawatan/pengasapan ramu-ramuan untuk badan wanita-wanita asal Suku Kalimantan) membuatku menarik napas dalam-dalam.

Kulumanku mendarat di bibir vagina sambil sesekali menarik lembut, membuat Citra menanggapi dengan erangan halus dan tekanan tangannya menekan kepalaku untuk semakin menelusuri kedalaman jilatan pengecap mancari biji kedelai yang tersembunyi. Gigitan halus gigiku menarik lembut klitoris merah delima. Tanpa kusadari Citra mengulurkan balon jari kepadaku, jari tengah tanganku yang terbungkus dengan balon karet pelan kumasukkan ke dalam lubang vagina Citra dan menari di dalam menelusuri dinding lubang senggamanya.

“Hsstt.. uuhh.. aduduhh..!” desah napas Citra membuat kedua kakinya gemetaran, “Ayo Mas..! Sekarang..!” pintanya tidak tabah lagi.
Batang kemaluanku yang semenjak tadi mengejang ditariknya menuju ring tinju persetubuhanku. Penisku memang tidak seberapa besar, namun panjangnya yang 18,3 cm ini semenjak pemuda dulu kupasangi anting-anting, dan hal itu yang membuatku bisa main berulang-ulang.

Di atas ranjang Citra membuat posisi silang, posisi yang sangat ia senangi. Tanpa membuat roman tambahan, kumasukkan batang kemaluanku ke lubang vagina yang sudah siap tempur itu.
“Uuch.. aacchh.. terus genjot Mas..!” desahnya.
Tanpa mencabut penisku dari lubang, Citra membuat posisi balik, “Ii.. ii yaa begitu Mas teeruus..!”
Sekali lagi kelenturan hasil fitnest Citra membantu membalik posisi menungging tanpa kucabut batang kemaluanku yang masih menancap di liangnya.

Dengan gerakan katrol kuhujani celah pantat Citra dengan kencang.
Akhirnya, “Uuu.. uch aa.. ach e.. ee.. enakk..!” teriakan kecil Citra membuatku semakin kencang menusuk vaginanya dengan semakin dahsyat.
“Tunggu saya Cit.. kita sama-sama.. oya.. oy.. yack.. uuhh..!” desahku.
Kupeluk dari belakang badan yang terbalut dengan peluh, terasa nikmat sekali. Akhirnya malam ini Citra kewalahan setelah mengalami orgasme hingga lima kali hingga saya telat bangkit pagi untuk jogging sambil melihat badan rupawan Tante Amy lari pagi di Minggu yang cerah ini.

Hari ini masuk hitungan ke tiga hari saya ditinggalkan oleh istriku pulang mudik, fantasi Tante Amy selalu hadir dalam kesepianku. Hingga tanpa kusadari pembantu Tante Amy mengetuk pintu depan rumahku.
“Pak Pram saya ke mari disuruh Ndoro Putri minta pinjaman Pak Pram untuk memperbaiki komputer Ndoro Putri,” kata pembantu Tante Amy.
Ya.. inilah namanya ‘kuthuk marani sundhuk’ (datang menyerupai apa yang diinginkan).
“O ya, sebentar nanti saya susul.” kusuruh Bik Ijah pulang duluan.

“Kulo nuwun..” kekethuk pintu depan rumah Tante Amy tanpa kudengar jawaban, hanya klethak.. klethok bunyi langkah kaki menuju pintu yang ternyata Tante Amy sendiri yang datang.
“Silahkan masuk Dik Pram, Tante mau minta tolong komputer Tante kena Virus. Silahkan eksklusif saja ke ruang kerja Tante.”
Tanpa berkata-kata lagi saya masuk menuju ruang kerja Tante Amy yang menurutku menyerupai kamar Hotel 7 (Obat Sakit Kepalaku yang sedang puyeng ngelihat lenggak-lenggok jalan Tante Amy di depanku).

Sejujurnya kukatakan saya sudah tidak karuan membayangkan hal-hal yang menggairahkan. Sambil saya menunggu Scan Virus berjalan, kutelusuri pelosok ruangan kerja Tante Amy (sengaja kuhilangkan label Tante di depan nama Amy untuk menghibur dan membuat fantasi di benakku ihwal kharisma seksualitas pemilik ruangan ini). Khayalanku buyar dengan kedatangan si pemilik ruang kerja ini. Pendek kata, sambil kerja saya di temani ngobrol oleh Tante Amy kesana kesini hingga balasannya Tante Amy menyinggung rasa kesepiannya tanpa kehadiran anak di rumah yang megah ini.

“Dik Pram nggak tahu betapa hampa hidup ini walau terguyur dan tertimbun harta begini tanpa kebersamaan suami dan hadirnya anak. Selain Om Jhony itu nggak bisa ngasih keturunan yang dapat menawarkan kehangatan keluarga. Keadaan ini membuatku butuh sahabat untuk menghapus kekeringanku.” kisah Tante Amy membuat kelakianku eksklusif bangun.

“Perkawinanku diambang kehancuran alasannya kerasnya mertuaku menuntut kehadiran cucu-cucu untuk mewarisi peninggalan Papanya Om Jhon. Sebenarnya jujur kukatakan Om Jhony nggak mau pisah denganku, apapun yang terjadi. Malah pernah diluar kewajarannya sebagai seorang Suami dan kepala Rumah Tangga, Om Jhony pernah memintaku untuk membuat Bayi tabung.” kisah Tante Amy tidak seratus persen kuperhatikan, alasannya saya lebih tertarik melihat betis biji timun Tante Ami dan pahanya tersingkap alasannya terangkat ketika duduk di sofa.

Ternyata tanpa kusadari bergotong-royong Tante Amy memancing hasratku secara tidak langsung. Walau sedikit ragu saya semakin mengarahkan pembicaraan ke arah seks. Tanpa sadar saya pindah duduk di erat Tante Amy, dan tanpa permisi kupegang dan kuremas tangannya. Ternyata perlakuanku itu tidak mendapatkan penolakan sama sekali. Hingga balasannya dalam posisi berdiri kudorong Tante Amy ke tembok dan kucium bibir merekah delima itu.

Dengan hasrat yang menggebu-gebu saya agak agresif dalam permainan, sehingga terbawa emosi menyerang sekujur badan Tante Amy yang tentunya takut tertangkap tangan pembantu. Permainanku berhenti sejenak alasannya Tante Amy bergegas menutup pintu. Dan mungkin alasannya Tante Amy telah sekian lama kering tidak pernah disemprot air mani suaminya, ia terkesan terburu-buru. Dengan cepat ia melepas pakaiannya satu persatu hingga menyisakan BH dan celana dalamnya.

Kini saya tahu betapa indahnya rumput tetangga dan betapa dahsyatnya gairahku. Kudorong Tante Amy rebah di atas meja kerja dengan tangan kananku meremas payudaranya yang kenyal alasannya belum pernah melahirkan. Terasa nikmat sekali payudaranya kuremas-remas, sementara tangan kiriku melepaskan celana dalam biru lautnya. Aduh itu bulu-bulu halusnya membuatku merinding. Tidak kuingat saya siapa Amy itu siapa.., Nilam dan Ziddan (anakku) yang sedang jauh di sana, semuanya kulupakan alasannya saya sudah terselimuti nafsu setan duniawi. Aku semakin menggila melumat dan menjilat, meraba serta meremas pantat Tante Amy yang sekal plus mulus terawat ini.

Tante Amy menggelinjang kenikmatan mencicipi pelayananku. Vagina Tante Amy ternyata masih teramat berpengaruh mencengkeram penisku yang membuatnya terbelalak kagum plus ngeri melihat anting-anting yang kupasang di bawah ujung kepala kemaluanku. Tante Amy tidak tabah menanti nikmatnya ditusuk pistol kejantananku. Lagi-lagi Tante Amy kelewat terburu-buru menyerangku yang balasannya saya merasa sedang diperkosanya. Anting-anting yang maha dahsyat tergantung setia selalu bertahun-tahun kupakai terasa sakit oleh hisapan dan kuluman serta gigitan giginya.

Lidah Tante Amy berputar memutari batang kemaluanku. Aku menggelinjang tidak karuan. Pikir punya pikir inilah hasil dari pikiran kotorku selama ini, ya sudah, kunikmati saja walau sakit. Mendadak Tante Amy ganas menyerangku, didorongnya saya ke sofa, dengan posisi duduk bersandar saya mendapatkan tindihan badan rupawan Tante Amy yang posisinya membelakangiku. Kemudian dipegangnya pistol gombyokku dan diarahkan ke vaginanya. Lalu dengan ngos-ngosan Tante Amy naik turun menekanku, ini berlangsung kurang lebih 15 menit.

Kini posisi Tante Amy menghadapku. Lagi-lagi dipegang penisku dan dimasukkan ke liang vaginanya. Nah.., ini gres membuatku merasa enak alasannya saya dapat dengan leluasa mengulum putingnya dan mengusap-usap bulu halus betis biji timunnya. Goyang sana goyang sini, sekarang dengan kekuatanku kuangkat badan Tante Amy dengan posisi berdiri. Kunaik-turunkan dan kurebahkan di sofa tubuhnya. Kutaruh kaki rupawan ini di bahuku, kuhujani Tante Amy dengan gesekan-gesekan tajam. Dalam hal ini ia mulai merasa tidak tahan sama sekali, kakinya yang melingkar di bahuku semakin kencang menjepitku. Dia mengerang kenikmatan mencapai klimaks orgasme.

Aku merasa heran, saya merasa belum mau keluar. Sudah banyak sekali posisi kulakukan, belum juga keluar. Tante Amy semakin merintih kewalahan, saya tidak mau melepaskan hujanan-hujananku. Anting-anting saktiku membantu membuatku dapat main hingga empat kali Tante Amy mengalami orgasmenya.

Hingga pada suatu ketika saya merasa mendekati pelabuhan, kubiarkan batang kemaluanku tertanam dan tertimbun bulu-bulu kemaluannya yang tidak seharum punya Citra, istriku. Tanpa sadar saya terikat kenikmatan sedang main dengan istri orang. Lalu laharku muntah di dalam vagina bersamaan dengan orgasme Tante Amy untuk yang kelima kalinya. Aku lemas dengan masih membiarkan penisku yang terbenam dan tertimbun bulu vaginanya. Aku terkulai merasa hangat di atas badan Tante Amy yang berair oleh keringat.

Lama-lama saya sadar, saya bangkit tapi kok Tante Amy tidak bergerak. Ach.., mungkin ia tertidur kenikmatan. Kutepis anganku dari pikiran yang tidak-tidak. Aduh mak, Tante Amy ternyata pingsan. Tapi melihat seonggok badan molek berbulu halus, gairahku tumbuh lagi. Perlahan kujilat dari ujung kaki hingga pangkal paha dengan membalik posisi pistolku menindih wajahnya. Kukulum vagina Tante Amy hingga tiba-tiba saya kelelahan dan tertidur.

Akhir cerita, perbuatanku ini berlangsung terus tanpa setahu suami Tante Amy dan Istriku. Sampai suatu hari kutahu Tante Amy sedang hamil bau tanah yang tidak lain alasannya mengandung benihku, tapi herannya relasi Tante Amy dengan suaminya tambah mesra. Kutahu juga belakangan hari mertua maupun orangtua Tante Amy sering hadir di rumah yang letaknya di depan rumahku.

Cerita Sex Dewasa | Keperjakaan ku di Renggut Pembantuku

 Cerita Sex Dewasa | Keperjakaan ku di Renggut Pembantuku – Namaku Asri, biasa dipanggil “Sri” saja, asli dari Solo, pernah 4 kali menikah, tapi tidak pernah mampu hamil, sehingga mantan-mantan suami semua meninggalkanku,bodyku sexy, kulitku kuning langsat, tinggiku 161 cm dengan berat tubuh 50 kg,”kamu persis Desy Ratnasari, Sri!”, kata mantan suamiku terakhir. Banyak laki-laki lain juga mengatakan saya persis ibarat Desy Ratnasari.

Aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di kota Gudeg Yogyakarta,majikanku seorang janda berusia 50 thn, Ibu Sumiati yang masih bekerja sebagai pegawai negeri di Gubernuran. Anaknya 3 orang.Yang pertama perempuan, Aryati 28 thn, bekerja sebagai sekretaris, 2 bulan lagi menikah. Yang kedua juga perempuan, Suryati 25 thn, bekerja sebagai guru. Yang ketiga laki-laki, satu-satunya laki-laki di rumah ini, ganteng dan halus budi-pekertinya, Harianto 22thn, masih kuliah, kata Ibu Sum, Mas Har (demikian saya memanggilnya) tahun depan lulus jadi insinyur komputer. Wah hebat, sudah guaaanteng, pinter pula…

Setiap pagi, saya selalu bangun jam 4:30, sebelum bekerja saya sudah mandi dengan sangat bersih, berpakaian rapi. Aku selalu memakai rok panjang hingga semata-kaki, bajuku berlengan panjang. Aku tahu, Ibu Sum senang dengan cara berpakaianku, beliau selalu memujiku bahwa saya sopan dan soleha, baik sikap yang santun, maupun cara berpakaian. Meskipun begitu, pakaianku semuanya agak ketat,sehingga lekuk-lekuk tubuhku cukup terlihat dengan jelas.

Mas Har sering melirik ke arahku sambil terkagum-kagum melihat bentuk tubuhku,aku selalu membalasnya dengan kedipan mata dan goyangan pengecap ke arahnya,sehingga membuat wajahnya yang lugu jadi pucat seketika. Paling telat jam 7:15,mereka semua berangkat meninggalkan rumah, kecuali Mas Har sekitar jam 8:00. Aku tahu, Mas Har sangat ingin menghampiriku dan bercumbu denganku, tapi ia selalu nampak pasif, mungkin ia takut kalau tertangkap berair ibunya. Padahal saya juga ingin sekali mencicipi genjotan keperjakaannya.

Pagi itu, mereka semua sudah pergi, tinggal Mas Har dan saya yang ada di rumah, Mas Har belum keluar dari kamar, menurut Ibu Sum sebelum berangkat tadi bahwa Mas Har sedang masuk angin, tak masuk kuliah. Bahkan Ibu Sum minta tolong supaya saya memijatnya, setelah saya selesai membersihkan rumah dan mencuci pakaian. “Baik, Bu!”, begitu sahutku pada Ibu Sum. Ibu Sum sangat percaya kepadaku, alasannya yaitu di hadapannya saya selalu nampak dewasa, dengan pakaian yang sangat sopan. Setelah pasti mereka sudah jauh meninggalkan rumah, saya segera masuk kamarku dan mengganti pakaianku dengan rok supermini dan kaus singlet yang ketat dan sexy. Kusemprotkan parfum di leher, belakang telinga, ketiak, pusar dan pangkal pahaku akrab lubang vagina. Rambutku yang biasanya kusanggul, kuurai lepas memanjang hingga sepinggang. Kali ini, saya pasti mampu merenggut keperjakaan Mas Har, pikirku.

“Mas Har. Mas Har!” panggilku menggoda, “tadi Ibu pesan supaya Mbak Sri memijati Mas Har, supaya Mas Har cepat sembuh. Boleh saya masuk, Mas Har?”

Pintu kamarnya pribadi terbuka, dan nampak Mas Har terbelalak melihat penampilanku,”Aduh, kau mengagumkan sekali, Mbak Sri… Persis Desy Ratnasari… ck, ck, ck…”

“Ah, Mas Har, mampu saja, jadi mau dipijat?”

“Jadi, dong…” sekarang Mas Har mulai nampak tidak sok alim lagi, “ayo, ayo…”,ditariknya tanganku ke arah daerah tidurnya yang wangi….

“Kok Wangi, Mas Har?” Rupanya beliau juga mempersiapkan daerah tidur percumbuan ini, beliau juga sudah mandi dengan sabun wangi.

“Ya dong, kan ada Desy Ratnasari mau datang ke sini,”.

Kami mulai mengobrol ngalor-ngidul, beliau tanya berapa usiaku, dari mana saya berasal, sudah kawin atau belum, sudah punya anak atau belum, hingga kelas berapa saya sekolah. Omongannya masih belum “to-the-point” , padahal saya sudah memijatnya dengan sentuhan-sentuhan yang sangat merangsang. Aku sudah tak tabah ingin bercumbu dengannya, mencicipi sodokan dan genjotannya, tapi maklum sang pejantan belum berpengalaman.

“Mas Har sudah pernah bercumbu dengan perempuan?”, saya mulai mengarahkan pembicaraan kami, beliau hanya menggeleng lugu.

“Mau Mbak Sri ajari?”, wajahnya merah padam dan segera berubah pucat. Kubuka kaus singletku dan mulai kudekatkan bibirku di depan bibirnya, beliau pribadi memagut bibirku, kami bergulingan di atas daerah tidurnya yang empuk dan wangi, kukuatkan pagutanku dan menggigit kecil bibirnya yang merah delima, beliau makin menggebu, batang kontolnya mengeras ibarat kayu…

Wow! beliau melepas beha-ku, dan mengisap puting susuku yang kiri, dan meremas-remas puting susuku yang kanan…

“Aaah.. sssshhhh, Mas Har, yang lembut doooong…” desahku makin membuat nafasnya menderu…

“Mbak Sri, saya cinta kamu….” suaranya agak bergetar..

“Jangan, Mas Har, saya cuma seorang Pembantu, nanti Ibu marah,” kubisikkan desahanku lagi…. Kulucuti seluruh pakaian Mas Har, kaos oblong dan celana pendeknya sekaligus celana dalamnya, pribadi kupagut kontolnya yang sudah menjulang bagai tugu monas, kuhisap-hisap dan kumaju-mundurkan mulutku dengan lembut dan terkadang cepat…

“Aduuuh, enaaaak, Mbak Sri….” jeritnya…

Aku tahu air-mani akan segera keluar, alasannya yaitu itu segera kulepaskan kontolnya, dan segera meremasnya episode pangkalnya, supaya tidak jadi muncrat. Dia membukarok-miniku sekaligus celana dalamku, segera kubuka selangkanganku.

“Jilat itil Mbak Sri, Mas Haaaarrr…, yang lamaaa…”, godaku lagi… Bagai robot, beliau pribadi mengarahkan kepalanya ke nonokku dan menjilati itilku dengan sangatnafsunya…. “Sssshhhh, uu-enaaak, Mas Haaaarrrr… ., hingga air mani Mabk Sri keluar, ya masHaaar”.

“Lho, perempuan juga punya air mani..?” tanyanya blo’on. Aku tak menyahut alasannya yaitu keenakan…

“Mas Haaarrr, saya mau keluaaar…” serrrrrr…. serrrrrrrrr. … membasahi wajahnya yang penuh birahi.

“Aduuuuh, enak banget, Mas Har! Mbak Sri puaaaaaassss sekali bercinta dengan MasHar….. ****** Mas Har belum keluar ya? Mari saya masukin ke liang kenikmatan saya, Mas! Saya jamin Mas Har pasti puas-keenakan. …”

Kugenggam batang pelernya, dan kutuntun mendekati lubang nonokku, kugosok-gosokkan pada itilku, hingga saya terangsang lagi… Sebelum kumasukkan batang keperkasaannya yang masih ting-ting itu ke lubang nonokku, kuambil kaos singletku dan kukeringkan dulu nonokku dengan kaos, supaya lebih peret dan terasa uuenaaaak pada ketika ditembus kontolnya Mas Har nanti..

“Sebelum masuk, bilang ‘kulonuwun’ dulu, dong sayaaaaaang. ..”, Candaku….

Mas Har berdiri sebentar dan menghidupkan radio-kaset yang ada di atas meja kecildi samping ranjang….. lagunya…. mana tahaaaan….

“Kemesraan ini Janganlah Cepat Berlalu….. .”

“Kulonuwun, Mbak Sri cintakuuuuu. …”

“Monggo, silakan masuk, Mas Haaaarrr Kekasihkuuuuu. ..”, segera kubuka lebar-lebar selangkanganku, sambil kuangkat pinggulku lebih tinggi dan kuganjel dengan guling yang agak keras, supaya batang kenikmatannya mampu menghunjam dalam-dalam. … Sreslepppppp. …….. blebessss… ..

“Auuuuuow… .”, kami berdua berteriak bersamaan… ..

“Enaaaak banget Mbak Sri, nonok Mbak Sri kok enak gini sih….?”

“Karena Mbak Sri belum pernah melahirkan, Mas Har… Makara nonok Mbak Sri belum pernah melar dibobol kepala bayi….. kalau pernah melahirkan, apalagi kalau sudah melahirkan berkali-kali, pasti nonoknya longgar sekali, dan nggak mampu rapet ibarat nonoknya Mbak Sri begini, sayaaaaang.. . lagi pula Mbak selalu minum jamu sari-rapet, pasti SUPER-PERET. …”, kami berdua bersenggama sambil cekikikan keenakan… Kami berguling-guling di atas ranjang-cinta kami sambil berpelukan erat sekali….

Sekarang giliranku yang di atas… Mas Har terlentang keenakan, saya naik-turunkan pinggulku, rasanya lebih enak bila dibanding saya di bawah, kalau saya di atas, itilkuyang bertumbukan dengan tulang selangkang Mas Pur, menyebabkan rasa nikmat yang ruaaaaarbiassssa uu-enaaaaaaknya. ….

Keringat kami mulai berkucuran, padahal kamar Mas Har selalu pakai AC, sambil bersenggama kami ekspresi kami tetap berpagutan-kuat. Setelah bosan dgn tengkurap di atas tubuh Mas Har, saya ganti gaya. Mas Har masih tetap terlentang, saya berjongkok sambil kunaik-turunkan bokongku. Mas Har malah punya kesempatan untuk menetek pada susuku, sedotannya pada tetekku makin membuatku tambah liar, serasa ibarat di-setrum sekujur tubuhku.

Setelah 10 menit saya di atas, kami berganti gaya lagi… kami berguling-gulingan lagi tanpa melepaskan ****** dan nonok kami.

Sekarang giliran Mas Har yang di atas, waduuuuh… sodokannya mantep sekali… terkadang lambat hingga bunyinya blep-blep-blep. .. terkadang cepat plok-plok-plok. .. benar-benar beruntung saya mampu senggama dengan Mas Harianto yang begini kuaaaatnya, kalau kuhitung-kuhitung sudah tiga kali air nonokku keluar alasannya yaitu orgasme, kalau ditambah sekali pada waktu itilku dijilati tadi sudah empat kali saya orgasme… benar-benar nonokku hingga kredut-kredut alasannya yaitu dihunjam dengan mantapnya oleh ****** yang sangat besar dan begitu keras, bagaikan lesung dihantam alu….. bertubi-tubi. … kian lama kian cepat…… waduuuuhhhhh. …..Wenaaaaaaaaakkkkk tenaaaaan… …

“Mbak Sri, saya hampir keluaaaaaar nih…!!” ….

“Saya juga mau keluar lagi untuk kelima kalinya ini, Mas Haaaaar…. Yuk kita bersamaan hingga di puncak gunung kenikmatan, yaaa sayaaaaanngggg”

“Ambil nafas panjang, Mas Har… lalu tancepkan kontolnya sedalam-dalamnya hingga kandas…… gres ditembakkan, ya Maaaasss… ssssshhhhhh. …….”

Sambil mendesis, saya segera mengangkat pinggulku lagi, kedua kakiku kulingkarkanpada pinggangnya, guling yang sudah terlempar tadi kuraih lagi dan kuganjelkan setinggi-tingginya pada pinggulku, hunjaman ****** Mas Har semakin keras dan cepat, bunyi lenguhan kami berdua hhh…hhhhh. …hhhhhh. …. seirama dengan hunjaman kontolnya yang semakin cepat…..

“Tembakkan sekaraaaaang, Maaaasssss!” , Mas Har menancapkan kontolnya lebih dalam lagi, padahal sedari tadi sudah mentok hingga ke ekspresi rahimku….bersamaan dengan keluarnya air nonokku yang kelima kali, Mas Har pun menembakkan senjata otomatis berkali-kali dengan sangat kerasnya….

CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!!CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! Berhenti sebentar dan CROOTTTTT!!!CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! lagi….. Seperti wong edan, kami berdua berteriak panjaaaaanggg bersamaan;

“Enaaaaaaaaaakkkkk! “….. sekujur tubuhku rasanya bergetar semuanya… dari ujung kepala hingga ujung kaki, terutama nonokku hingga ibarat “bonyok” rasanya….. Mas Har pun rebah tengkurep di atas tubuh telanjangku. …. sambil nafas kami kejar-mengejar alasannya yaitu kelelahan…

“Jangan cabut dulu, ya Maaasss sayaaaang… masih terasa enaknya… tunggu hingga semua getaran dan nafas kita reda, gres Mas Har boleh cabut yaaa……”pintaku memelas….. kami kembali bercipokan dengan lekatnya…. .. kontolnya masih cukup keras, dan tidak segera loyo ibarat punya mantan-mantan suamiku dulu….

“Mbak Sri sayaaaang, terima kasih banyak ya….. pengalaman pertama ini sungguh-sungguh luar biasa… Mbak Sri telah menunjukkan pelayanan dan pelajaran yang maha-penting untuk saya…… saya akan selalu mencintai dan memiliki Mbak Sriselamanya… .”

“Mas Har cintaku, cinta itu bukan harus memiliki… tanpa kawin pun kalau setiap pagi –setalah Ibu & Mbak-mbak Mas Har pergi kerja–, kita mampu melaksanakan senggama ini, saya sudah puas kok, Massss….. Apalagi Mas Harianto tadi begitu kuatnya, setengah jam lebih lho kita tadi bersetubuhnya, Mas! Sampai nonok saya endut-endutan rasanya tadi…..”

“Aku hari ini tidak pergi kuliah, kebetulan memang ada program untuk mahasiswa baru… jadi ndak ada kuliah…”, kata Mas Harianto.

“Nah… kalau begitu, hari ini kita kan punya banyak waktu, pokoknya hingga sebelum Ibu dan Mbak-mbak Mas Har pulang nanti sore, kita main teruuuusss,sampai 5 ronde, besar lengan berkuasa nggak Mas Har?”, sahutku semakin menggelorakan birahinya.

“Nantang ya?” Tanyanya sambil tersenyum manis, tambah guanteeeeng dia…..

“aku cabut sekarang, ya Mbak? sudah layu tuh hingga copot sendiri….”

kami tertawa cekikikan dengan tubuh masih telanjang bulat…. setelah mencabut kontolnya dari nonokku, Mas Har terlentang di sisiku, kuletakkan kepalaku di atas dadanya yang lapang dan sedikit berbulu…. radio kaset yang sedari tadi terdiam, dihidupkan lagi… lagunya masih tetap “kemesraan ini janganlah cepat berlaluuuuuu….”

Setelah lagunya habis, “Mas sayaaang, Mbak Sri mau bangun dulu ya…. Mbak Sriharus masak sarapan untuk Mas….”

“Untuk kita berdua, dong, Mbak Sri…. masak untuk dua porsi ya… nanti kita makan berdua sambil suap-suapan. Setuju?”, sambil ditowelnya tetekku, saya kegelian dan”auuuwwww! Mas sudah mulai pinter nggangguin Mbak Sri ya.., Mbak Sri tambah sayang deh”.

Aku berdiri dari ranjang, dan berlari kecil ke kamar mandi yang jadi satu dengan kamar tidurnya,

“Mas, numpang cebokan, ya…”

Kuceboki nonokku, nonok Asri yang paling beruntung hari ini, alasannya yaitu mampu merenggutdan menikmati keperjakaan si ganteng Mas Har… waduuuuhhh.. . benar-benar nikmat persetubuhanku tadi dengannya.. meskipun nonokku hingga kewalahan disumpal dengan ****** yang begitu gede dan kerasnya — hampir sejengkal-tanganku panjangnya.. .. wheleh.. wheleh….

“Sebelum bikin nasi goreng, nanti Mbak bikinkan Susu-Telor-Madu- Jahe (STMJ) buat Mas Har, semoga ronde-ronde berikutnya nanti Mas tambah besar lengan berkuasa lagi, ya sayaaaaaang….”

Kuambil selimut dan kututupi sekujur tubuhnya dengan selimut, sambil kubisikkan kata-kata sayangku… “Sekarang Mas Har istirahat dulu, ya…” kuciumi seluruh wajahnya yang ibarat Andy Lau itu…

“Terima kasih, Mbak Sri… Mbak begitu baik sama saya… saya sangat sayang sama Mbak Sri…”.

Kupakai pakaianku lagi, segera saya lari ke dapur dan kubuatkan STMJ untuk kekasihku… . setelah STMJ jadi, kuantarkan lagi ke kamarnya,

“Mas Har sayaaaang… . mari diminum dulu STMJ-nya, semoga kontolnya keras kayak batang kayu nanti, nanti Mbak Sri ajari lagi gaya-gaya yang lain, ada gaya kuda-kudaan, anjing-anjingan, gaya enam-sembilan (69), dan masih ada seratusgaya lagi lainnya, Masssss,” kataku membangkitkan lagi gelora birahinya… selesai minum diciuminya bibirku dan kedua pipiku…. dan Mas Harianto-ku, cintaanku, tidur lagi dengan tubuh telanjang dilapisi selimut.

Aku segera kembali ke daerah biasanya saya mencuci pakaian majikanku, menyapu rumah dan mengepelnya. . semua kulakukan dengan cepat dan bersih, supaya tidak ada ganjelan utang kerjaan pada ketika bersenggama lagi dengan Mas Har nanti….

Kumasakkan nasi goreng kesukaan Mas Har dalam porsi yang cukup besar, sehingga cukup untuk sarapan berdua dan juga makan siang berdua… hmmm…. nikmat dan mesranya… ibarat penganten gres rasanya…

Setelah nasi gorengnya jadi, kusiapkan dalam piring yang agak lebar, kutata penyajian dengan kelengkapan tomat, timun, telur mata-sapi, dan kulengkapi pula dengan sebuah pisang mas yang agak mungil, kusiapkan pula segelas coca-cola kesukaannya. Dengan memakai daster tipis tanpa beha dan celana dalam, kuantarkan makanan tadi ke kamarnya. Langsung kubuka saja pintu kamarnya…

Aduh! Betapa terkejutnya diriku, ketika kulihat Mas Har sudah bangun dari tidurnya,tanpa memakai selimut lagi, Mas Har sedang ngeloco (mengocok kontolnya), dengan wajah merah-padam. .. Segera kuletakkan makanan di atas meja tulisnya..

“Aduuuuhhh, jangan ibarat itu, sayang, ngocoknya… nanti mampu lecet… nanti pasti Mbak Sri kocokkan… tapi Mas Har harus makan dulu, supaya ada tenaga lagi…kalau ndak makan dulu, nggak mampu besar lengan berkuasa dan tahan lama senggamanya, Mas!”

Kutanggalkan dasterku, segera beliau menyergap tubuh telanjangku, dihisapnya puting tetekku yang kanan, sedang tangannya memilin tetekku yang kiri… Kupikir ini pasti gara-gara STMJ tadi,

“Sabar dong, Mas-ku tersayaaaaang. .., yuk kita makan nasi goreng kesukaan Mas,sepiring berdua Mas, kayak judulnya lagu dangdut…”

Kusuapi Mas Har-ku dan disuapinya pula aku, sambil tangannya mengkilik-kilik itilku dengan sangat birahinya. Wah! Edhiaan tenan reaksi STMJ tadi…. Hihihi…

“Mas Har sayang, jangan kenceng-kenceng dong kilikannya, nggak nikmaaat…. “,dia memperlambat kilikannya, sambil kami lanjutkan dan tuntaskan sarapan kami. Selesai makan, kuambilkan pula segelas besar coca-cola, kuulurkan gelas coca-cola ke mulutnya. Minum seteguk, Mas Har pun mengambil gelas dan mengulurkan pula ke mulutku…. wah! mesranya, Mas Har-ku ini…Kuambil pisang mas, kukupas dan kubuang kulitnya, lalu saya berbaring di samping Mas Har, kubuka selangkanganku lebar-lebar, dan kumasukkan pisang tadi ke dalam liang nonokku…. Mas Har agak terkejut,

“Ayo! Bisa nggak makan pisang hingga habis dari lubang nonok Mbak Sri? Kalau bisa, nanti Mbak Sri ajari teknik-teknik dan gaya-gaya senggama yang lain deh!”

“Siapa takut!” sahut Mas Har…

Dia segera menaiki tubuhku, dengan posisi tengkurap… mulutnya di depan nonokku,ditariknya pisang itu dengan pelan-pelan dan sedikit-sedikit digigitnya daging pisangnya, sedangkan kontolnya pun terjuntai ngaceng di depan mulutku…. segera kugenggam dan kumasukkan barangnya yang ngaceng itu ke dalam mulutku,kumainkan lidahku mengusap-usap kepala kontolnya, dan dimaju-mundurkannya pisang mas tadi dalam liang nonokku, sehingga menyebabkan perasaan yang sangat nikmaaaaat dan memerindingkan seluruh bulu-bulu tubuhku….

“Mbak Sri, pisangnya sudah habis…. jago kan?” Katanya lugu…

“Mas Har memang nomer satu buat Mbak Sri…” sahutku memujinya, membuatnya tersanjung dan sangat ditinggikan harga dirinya.

“Sekarang apalagi?” tanya Mas Har…

“Silakan Mas jilati dan mainkan pengecap dalam liang nonok saya… dan saya akan meng-emuti dan mengocok ****** Mas dengan ekspresi saya…. ini namanya gaya 69,Mas sayaaang… ekspresi Mas ketemu nonok saya dan ekspresi saya ketemu ****** Mas Har…. Enaaaak kan, sayaaang?”

“Wah! Sensasinya luar-biasa, Mbak……”

“Kalau bercinta itu jangan buru-buru, Mas…. harus tabah dan tenang, sehingga emosi kita mampu terkendali. Kalau Mas mau hingga duluan dengan cara ngeloco ibarat tadi, kalau sempat keluar kan saya harus nunggu lagi ****** Mas ngaceng…kasian dong sama saya, Mas,” suaraku kubikin ibarat mau menangis…. .

“Maafkan saya, ya Mbak Sri…. saya belum ngerti… mesti harus banyak berguru sama Mbak…..”

Kami lanjutkan gaya 69 kami, kutelan habis kontolnya, kuhisap-hisap dan kumaju-mundurkan dalam mulutku…. sementara Mas Har meluruskan lidahnya dan menjilati ITIL-ku, kemudian memasukkan lidahnya yang kaku ke dalam liang nonokku… ini berlangsung cukup lama…

Pada menit kelimabelas, serrr… serrrr… serrrr…. cairan hangat nonokku meluap,sekarang Mas Har malah menelannya.. .. aooowwww!

Dan pada menit keduapuluhlima, serrr… serrrr… serrrr…. lagi, kali ini lebih enaaaaklagi, kukejangkan seluruh tubuhku…. sambil mulutku tetap terus mengocok kontolnya yang kerasnya minta-ampuuuuun. … pada waktu itu juga,kontolnya memuncratkan air-peju dengan sangat derasnya, pribadi kutelan

seluruhnya, hingga hampir keselek….. .

“Enaaaakkkk. ….” Mas Har berteriak keenakan…. .

Kami berguling, sekarang saya yang di atas, dengan tetap memagut kontolnya yang masih cukup keras, kuhisap terus kontolnya, hingga tubuh Mas Har berkedut-kedut memuncratkan tembakan-tembakan terakhirnya. …. kujilati ****** Mas Har hingga bersiiiiih sekali dan segera saya berputar, sehingga kepala kami berhadap-hadapan dengan posisi saya masih tetap di atas…

“Gimana, Mas Har sayaaang…. Enak opo ora?” godaku…

“Uu-enaaaaaaakkkkk tenaaaan…. “, kata Mas Har menirukan gaya komedian Timbul dalam sebuah iklan jamu…..

Kami berciuman lagi dan berguling-guling lagi…. ekspresi kami tetap berpagutan dengan sangat kuaaaatnya.. … Kucari kontolnya dan kupegang… wah sudah ngaceng keras lagi rupanya….. luarbiasa kuatnya Mas Har kali ini, lebih besar lengan berkuasa dari ronde tadi pagi…..

“Mas Har… saya ajari gaya kuda-kudaan. .. mau nggak?”,

“Mau dong, sayaaaang… . Gimana?”, tanyanya penasaran… .

“Mas Har duduk menyender dulu…..”

Dia segera mengikuti perintahku, duduk menyender landai pada sebuah bantal yang kutegakkan di punggung ranjang, akupun segera mengambil posisi jongkok membelakanginya. Kugenggam kontolnya dan kutancapkan ke nonokku dari belakang…. BLESSS!!!, tangan Mas Har mendekap kedua tetekku dari belakang….

Sekarang giliranku yang harus menaik-turunkan pantatku ibarat orang naik kuda….semuanya berlangsung dengan sangat halus…. sehingga tidak hingga menyebabkan lecet pada ****** Mas Har maupun nonokku…..

“Gimana Mas?”, tanyaku untuk mengalihkan konsentrasi, supaya air-pejunya tidak segera muncrat….. .

“Benar-benar Mbak Sri pantas menjadi dosen percintaan saya…..”, katanya sambil mendesah-desah dan mendesis-mendesis keenakan…

Itilku kembali bertumbukan nikmat dengan tulang selangkang Mas Har… Nikmatnya sudah hingga mneggeletarkan segenap perasaanku, membuat perasaanku semakin menyatu dan terikat besar lengan berkuasa dengan perasaan Mas Har….. inilah arti bekerjsama persetubuhan. …

Kuatur kecepatan pacuan kuda-kudaan ini, sehingga kenikmatannya mampu kukendalikan, sementara Mas Har terlentang dengan tenang, makin didekapnya kedua buah dadaku, diremas-remasnya, dipilin-pilinnya, diremas-remas lagi…membuatku kembali ingin mencapai puncak kenikmatan.. .. kukejangkan seluruh anggota tubuhku…. Mas Har sudah mulai mengerti bahwa saya akan mencapai puncak…..

“Keluar lagi ya, Mbak?” tanyanya…. . Ya! serrr… serrrr… serrrrr…., kembali cairan hangat nonokku tertumpah lagi…. kelelahan saya rasanya….. .

lelah tapi enaaak….

Aku melepaskan kontolnya dari lubang nonokku, kekeringkan nonokku dengan dasterku supaya peret lagi… Mas Har melihat pemandangan ini dengan wajah lugu,kuberi beliau senyum manis….

“Saya sudah capek, Mas…. Gantian dong… Mas Har sekarang yang goyang, ya?”

Sekarang saya mengambil posisi menungging di pinggir ranjang….. Mas Har kuminta berdiri dan menembakkan rudalnya yang super-keras dari belakang,

“Yang ini gaya anjing-anjingan, Mas….. tapi jangan salah masuk ke lubang pantatya… pas yang di bawahnya yang merah merekah itu, lho ya….”

“Kalau di lubang pantat katanya lebih enak, Mbak Sri?” tanyanya lucuuuu….

“memang lebih enak untuk laki-laki, tapi tidak untuk perempuan… .. itu kan namanya tidak adil, Mas…. Lagipula lubang pantat itu kan kanal untuk tai, kotoran yang kita buang, itu tidak sehat namanya, mampu kena penyakit aids, Mas…. Aids itu mematikan dan tidak ada obatnya lho, hiiii…. seremmmm…. “

Mas Har memasukkan kontolnya pelan-pelan ke lubang nonokku dari belakang sambil berdiri di pinggir ranjang, pelan-pelan sekaliiiiii. …. seperti beliau takut kalau hingga merusakkan lubang nikmat ini….. saya tahu sekarang…. Mas Har sangat sayang padaku, sehingga tingkah-laku persenggamaannya pun melukiskan betapa besar perasaan cintanya pada diriku….

“Aaaaahhhhhh. …”, saya mendesah sambil mencicipi hunjaman kontolnya yang kembali menembus nonokku, demikian juga dengan Mas Har… dilingkarkannya tangan kirinya di perutku, sedang tangan kanannya meremas tetekku….. . Dia mulai menggoyangkan kontolnya maju mundur…. blep-blep-blep. …..aduuuuhhh. ….mantapnyaaaa. ….. tenaganya sangat besar lengan berkuasa dan berirama tetap…… membuat aliran-darahku menggelepar di sekujur tubuhku….. ..

“Enaaaak, Maaaaasssss. ……”, lagi-lagi kukejangkan seluruh anggota tubuhku sambil kukeluarkan lagi cairan hangat nonokku kesekian kalinya….. . puaaaasssss sekali tiada taranya….. ..

“aaaaaahhhhhhhh. ……… “, lenguhku…. ….

“Lap dulu dong, Mbak Sriiii….. becek sekali nih….” pintanya…. .

Kuambil dasterku dan kuserahkan padanya….. . segera beliau mengeringkan nonokku dan juga kontolnya yang basaaaah tersiram cairan hangatku…. .

“Mbak, saya sudah hampiiiirrr keluaaaarrr. ….” desahnya membuatku semakin terangsang.. ….

“Tembakkan saja, Massss…… ..”Tembakannya masih sekencang yang sebelumnya.. …. hingga nonokku penuh dengan air-pejunya yang ekstra-kental itu…….

“Aaaaahhhhhhhh. ……” Mas Har berteriak keenakan…. .. demikian juga dengan aku,kukejangkan tubuhku dan kusiram lagi kontolnya dengan cairan hangat kenikmatan nonokku….. .

“Aaaaaaahhhhhhh, Massss Harrrrr….. … Mbak Sri cintaaaaa banget sama Mas Har…….”

“Aku juga Mbak….. selain Mbak Sri, tidak ada perempuan lain yang saya cintai didunia ini …..”, saya tahu kata-kata ini sangat jujur…. membuatku semakin menggelinjang kenikmatan.. ….

“Terima kasih Mas Harrrrrr…. . untuk cinta Mas Har yang begitu besar kepada saya…..” Dengan tanpa melepaskan kontolnya, Mas Har dengan hati-hati dan penuh perasaan menengkurapkan tubuhnya di atas tubuh telanjangku. … dan saya kemudian meluruskan kakiku dan tubuhku mengambil posisi tengkurap… .. dengan Mas Har tengkurap di belakangku.. …

Mulutnya didekatkan pada telingaku… . nafasnya menghembusi tengkukku… .membuatku terangsang lagi……

“Enaaaak dan puassss sekali, Mbak Sri….. Apa Mbak Sri juga puas?”

“Tentu, Mas Har….. dari pagi tadi sudah sembilan kali nonok saya memuntahkan air hangatnya… .. Pasti saya puasssss bangettt, Mas!”

“Terima kasih, ya sayaaaang… … saya ingin setiap hari bercinta dengan Mbak Sri ibarat ini…….”

“Boleh, Massss…. saya juga siap kok melayani Mas Har setiap hari….. kecuali hari Minggu tentunya…. . Ibu dan Mbak-mbak kan ada di rumah kalau Minggu….”

Mas Har melepaskan kontolnya dari lubang nonokku, saya segera mengambil posisi terlentang, dan Mas Har pun merebahkan dirinya di sisiku….

Jam dinding sudah menunjukkan jam 10.40…… sambil berpelukan dan berciuman erat, kutarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang kami berdua… dan kami pun tertidur hingga siang…..

Sudah hampir jam setengah-dua ketika saya terbangun, pantes perutku rasanya lapar sekali. Mas Har masih belum melepaskan pelukannya sedari tadi, rasanya beliau tidak ingin melewatkan saat-saat nikmat yang sangat langka ini, mampu seharian bersenggama dengan bebasnya. Kucium bibirnya untuk membangunkan lelaki kesayanganku ini,

“Mas sayaaang, bangun yook, kita makan siang. Nanti abis makan kita bercinta lagi hingga sore….”

“Mmmm…” Mas Har menggeliat, “sudah jam berapa, istriku?””Setengah-dua, suamikuuuu.. …”, jawabku genit….

“Makan-nya di ruang makan, yok Mas, nggak usah pakai baju nggak apa-apa, kan pintu-pintu dan korden-korden sudah Mbak Sri tutup tadi….”

Dengan bugil bulat, kami berdua bangun dan berjalan ke ruang tamu, sambil Mas Har menggendong/ mengangkatku ke ruang tamu.

“Edhian tenan, koyok penganten anyar wae…..” kataku dalam hati…. (“gila benar,seperti pengantin gres saja”)….

Selesai makan siang, Mas Har kembali menggendongku ke kamar, sambil kuelus-elus ****** Mas Har yang sudah mengeras ibarat batang kayu lagi…..

Direbahkannya diriku dengan hati-hati di atas ranjang cinta kami. Aku segera mengambil posisi memiringkan tubuh ke kanan, supaya Mas Har juga mengambil posisi miring ke kiri, sehingga kami berhadap-hadapan. …

“Mas sayaaang, kita senggama dengan posisi miring ibarat ini, ya….., lebih terasa lho goresan ****** Mas Har di dalam nonok Mbak Sri nanti,” ajakku untuk membangkitkan rangsangan pada Mas Har….

Kami tetap berposisi miring berhadap-hadapan sambil berciuman besar lengan berkuasa dan mesra.Kali ini Mas Har lebih aktif mencium seluruh wajah, tengkuk, belakang telinga, leher,terus turun ke bawah, payudara-kiriku kuisap-isapnya, sementara yang kanan dipilin-pilinnya lembut…..

Rangsangan ini segera membangkitkan birahiku. Mulutnya bergerak kagi ke bawah,ke arah pusar, dijilatinya dan ditiupnya lembut, kembali saya mendesah-mendesisnikmat, sambil jari tangannya mengobok-obok lembut lubang nonokku, mengenaiitilku, menyebabkan kenikmatan yang hebaaaat…, kukejangkan seluruh tubuhku,sampai pingganggku tertekuk ke atas, serrrrrr…. kubasahi tangannya yang lembutdengan semburan cairan hangat yang cukup deras dari nonokku…

“Mas, masukkan sekarang, Masssss….. Mbak Sri udah nggak tahaaaannnn. …..”,pintaku manja…..

Tetap dengan posisi miring-berhadapan, kubuka selangkanganku tinggi-tinggi,kugenggam kontolnya dan kusorongkan lembut ke lubang kenikmatan.. …

“aaaaahhhhhh. ……” lenguhan kami kembali terdengar lebih seru…. ****** Mas Harbaru masuk setengahnya dalam nonokku, dimajukannya lagi kontolnya, dankumajukan pula nonokku menyambut sodokannya yang mantap-perkasa. ….

“Mas sayaaaang… maju-mundurnya barengan, ya…..”, ajakku sambil mengajariteknik senggama yang baru, kunamakan gaya ini “Gaya Miring”, dengan gaya inikami berdua mampu sama-sama goyang, tidak sepihak saja…..

Kami maju dan mundur bersamaan tanpa perlu diberi aba-aba…. rasanya lebih enakdibandingkan pria di atas wanita di bawah…. Kulihat Mas Har merem-melek,demikian juga dengan diriku, ****** Mas Har dengan irama teratur terusmenghunjam-mantap berirama di dalam liang sempit Asri….. nonokku mulaitersedut-sedut lagi, tanda akan mengeluarkan semburan hangatnya… ..

“Aduuuuhhhh, Maaaaassssss, enaaaaakkkkkkk. …….”, saya agak berteriaksambilmendesis…. …

Air mani Mas Har belum juga muncrat, luarbiasa kuatnya kekasihku ini…..

“Ganti gaya, Maaaasssss.. .. cabut dulu sebentar…. .” ajakku lagi, sambil kuputartubuhku, tetap pada posisi miring membelakanginya, Mas Har memelukku besar lengan berkuasa daribelakang, sambil meremas lembut kedua tetekku, kuangkat kakiku sebelah, dankuhantar lagi kontolnya memasuki nonokku….. .

“aaaaaaaaahhhhhhhhh hh…. enak, Mbak Sriiiiii…. …, gesekannya lebih terasa dariyang tadiiiiii… ..” Mas Har mendesah nikmat…..

Kali ini saya hanya diam, sedang Mas Har yang lebih aktif memaju-mundurkankontolnya yang belum muncrat-muncrat juga air-maninya. …..

Sudah jam setengah-tiga, hampir satu jam dengan dua gaya yang gres ini……

“Mbak Sri, siap-siap yaaa…. rudalku hampir nembak….”

Kupeluk erat guling, dan Mas Har semakin mempercepat irama maju-mundurnya……

“Aaah, aaah, aaahh….” Mas Har mendesah sambil mengeluarkan air maninyadengan tembakan yang kuat-tajam-kental bagai melabrak seluruh dinding-dindingrahimku….. setrumnya kembali menyengat seluruh kujur tubuhku…..

“Aaaaaaaa… ……” saya berteriak panjaaaanng sambil kusemburkan juga airnonokku….. .

Tenaga kami benar-benar ibarat terkuras, getaran cinta kami masih terus terasa…..tanpa melepaskan pelukan dan juga kontolnya, masih dengan posisi miring, kamitertidur lagi beberapa menit… hingga semua getaran mereda……

Jam tiga sudah lewat…. berarti masih mampu satu ronde lagi sebelum Ibu Sum dankakak-kakaknya pulang dari kerja…..

“Mas, bangun, Mas…. sudah jam tiga lewat….. saya kan mesti membereskan kamarini, mandi dan berpakaian sopan ibarat biasanya bila ada Ibu…..”

“Mandi bareng, yok….. di sini aja di kamar mandiku, ada air hangatnya kan?”ajaknya….

Dicabutnya kontolnya dari lobang nonokku yang sudah kering, aduuuhhhhenaknya….. . Aku pun segera bangun dan menarik tangannya, Mas Har berdiri danmemelukku, menciumku, menggelitiki tetek dan nonokku, kembali birahiku naik…..Sampai di bawah kran pancuran air hangat, kami berdua berpelukan, berciuman,merangkul kuat…. Dengan posisi berdiri kembali ****** Mas Har mengeras bagaibatu, segera kurenggut dan kugenggam dan kumasukkan lagi ke nonokku. Dengantubuh berair disiram air hangat dari pancuran, dan tetap dengan berdiri, kamibersenggama lagi…… bagai geregetan, Mas Har kembali menggerakkan kontolnyamaju-mundur, sementara saya bagai menggelepar memeluk erat tubuhnya yangperkasa…..

“Mas, sabunan dulu, ya sayaaaanggg. …”, tanpa melepaskan kedua alat kelaminkami, kami saling menyabuni tubuh kami, khususnya di bagian-bagian yang peka-rangsangan. …

“Lepas dulu, ya sayaaanggg.. .. kuambilkan handuk gres untuk kekasihku… ..”, MasHar melepaskan tusukannya, menuju lemari pakaian, dan diambilnya dua

handuk baru, satu untukku satu untuknya… Selesai handukan, saya bermaksudmengambil dasterku untuk berpakaian, alasannya yaitu kupikir persenggamaan hari ini sudahselesai…..

“Eiittt, tunggu dulu, istriku….. Rudalku masih keras nih, kudu dibenamkan lagi diliang hangat cinta kita……”

Edhiaaan, mau berapa kali saya orgasme hari ini….. kuhitung-hitung sudah 12 kaliaku menyemburkan air nonok sedari pagi tadi…

Aku mengambil posisi sederhana, terlentang menantang… semoga Mas Har menindihkudari atas…..

Kami bersenggama lagi sebagai hidangan penutup….. dengan “Gaya Sederhana”pria diatas wanita dibawah, melambangkan kekuatan pria yang melindungikepasrahan wanita…. Mas Har terus menggoyang kontolnya maju-mundur. ….

Kembali saya akan mencapai puncak lagi, sedang Mas Har masih terus denganmantapnya maju-mundur begitu kuat…..

“Mas Har, Mbak Sri sudah mau keluar lagiiiiii… …”, kukejangkan kedua kakiku dansekujur tubuhku…..

“Mbak, saya juga mau keluar sekarang…. ..”, dalam waktu bersamaan kami salingmenyemprotkan dan memuncratkan cairan kenikmatan kami masing-masing. …..

“Enaaaaaaaaaaakkkkk kk, Mas Haaaaaarrrrrr. ……”

“Puaaaaassssss, Mbak Sriiiiii…. ……”

Mas Har pribadi ambruk di atas ketelanjanganku, waktu sudah hampir jamemapat….. semua sendi-sendiku masih bergetar semuanya rasanya…..

“Mas, sebentar lagi Ibu pulang, Mbak Sri mau siap-siap dulu ya, sayaang…”

Mas Har segera berdiri sekaligus mencabut kontolnya… . “

Hari ini yaitu hari yang paling luar-biasa dalam hidupku, Mbak Sriii… Bagaimana saya tak akan sanggup melupakannya? “

Kupakai dasterku, kukecup lagi kedua pipi dan bibir Mas Har…. segera saya larimenuju kamarku, membersihkan air mani Mas Har yang masih menetes dari lubangnonokku yang agak bonyok…..

Kukenakan celana dalam, rok dalam, beha, rok panjang, dan blus berlenganpanjang, rambut kusisir rapi, kusanggul rapi ke atas…. semua ini untuk”mengelabui” Ibu Sumiati dan kedua kakak Mas Harianto, untuk menutupi sisi lain kehidupanku sebagai seorang Ratu Senggama

Cerita Sex Dewasa | Sekretaris ku yang Menggoda

Cerita Sex Dewasa | Sekretaris ku yang Menggoda – Saking buru-burunya, ia tidak membaca lagi goresan pena atau gambar yang menyampaikan bahwa WC itu untuk pria atau untuk wanita. Ia pribadi masuk saja. Namun.., begitu tiba di dalam WC itu, ia melihat seorang pria bertubuh atletis sedang pipis. Ups! Pria itu terkejut dan menoleh.., “Eh Shinta.., kau salah masuk.., ini WC pria..” Shinta terkejut setengah mati. Ternyata sang supervisor sedang pipis di situ. Dan tanpa sengaja, kedua mata Shinta terarah pada benda panjang lingkaran dari ritsluiting celana panjang yang sedang dipegang sang supervisor. Ternyata batang kemaluan si supervisor belum dimasukkan ke sarangnya. Dengan muka tersipu memerah alasannya yaitu malu, Shinta membuang mukanya dan segera ingin berlalu dari daerah itu. Sial..! gerutunya dalam hati.
Tapi rupanya si supervisor tidak ingin membuang kesempatan emas itu. Dengan sigapnya tangan Shinta ditarik dan tubuhnya disandarkan ke tembok. “Shin.. sudah lama sebetulnya saya ingin menikmati keindahan tubuhmu.. Pasti kau juga pernah mendengar bahwa di kantor ini yang paling perkasa yaitu aku.. Nah sekarang tiba saatnya kita mencoba apa yang kau dengar dari teman-teman..”
Mendengar itu Shinta kaget setengah mati. Ia tidak menyangka bahwa supervisor yang sangat dihormati alasannya yaitu kharismanya, memiliki hati yang demikian bejadnya. “Tapi Pak.., saya sedang sakit perut nih.., lagian Bapak ‘khan supervisor saya.., masa Bapak tega melakukannya pada saya?”
“Oh.., jangan kuatir Shin.., cuma sebentar kok.. Ibu Edi saja pernah melakukannya denganku kok..”, kata si supervisor sambil dengan kasar membuka kancing stelan atas yang dipakai Shinta. “Ja.., jangan Pak.., tolong jangan.., ingat posisi Bapak di kantor..”, jerit Shinta. “To.., tolong.., tolong..!”, tampak Shinta berusaha meronta-ronta alasannya yaitu tangan si supervisor mulai masuk ke dalam BH-nya yang berukuran super besar, 38C. Dan.., bret.., bret.., baju Shinta terlihat sudah sobek di sana sini.. Dan dengan sekali hentakan, BH Shinta turun dan jatuh ke lantai. Walau sudah berusaha mendorong dan menendang badan atletis itu, namun nafsu si supervisor yang sudah demikian buas terus membuatnya mampu mencengkeram badan mulus Shinta yang kini hanya mengenakan celana dalam dan terus menghimpitnya ke tembok WC itu.
Karena merasa yakin bahwa ia sudah tidak mampu lari lagi dari sana, Shinta hanya mampu pasrah. Sekarang lisan si supervisor sudah mulai menghisap-hisap puting susunya yang besar. Persis menyerupai bayi yang gres lahir sedang menyusu ke ibunya. Gairah dalam diri Shinta tiba-tiba muncul dan bergejolak. Dengan sengaja diraihnya batang kemaluan si supervisor yang sudah bangun dari tadi. Dan dikocok-kocokknya dengan pelan. Memang batang kemaluan itu amat besar dan panjang. “Wah, pasti enak nih kalo ngisi lubang gue.., udah lama gue ngangenin batang kenikmatan yang segini besar dan panjangnya..”, pikir Shinta dalam hati.
Sementara itu tangan si supervisor pun sudah melepaskan seluruh celana dalam putih yang dikenakan Shinta… Dan si supervisor pun ikut membuka semua pakaiannya.., hingga kini keduanya sama-sama dalam keadaan tanpa busana selembar benangpun. Si supervisor mengangkat kaki kanan Shinta ke pingggangnya lalu dengan perlahan ia memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Shinta. Bles.., bless.., jebb.., setengah dari batang kemaluan itu masuk dengan tepat ke liang surga wanita yang rupanya sudah tidak lagi perawan itu. Shinta terbeliak kaget mencicipi besarnya batang kemaluan itu di dalam liang kewanitaannya. Si supervisor terus saja mendorong maju batang kemaluannya sambil mencium dan melumat bibir Shinta yang seksi itu. Shinta tak mau kalah. Ia pun maju mundur menghadapi serangan si supervisor. Jeb.., jeb.., jebb..! Batang kemaluan yang besar itu keluar masuk berkali-kali.. Shinta hingga terpejam-pejam mencicipi kenikmatan yang tiada taranya… Sakit perutnya pun sudah terlupakan.
Sepuluh menit kemudian, mereka berganti posisi. Shinta kini berpegangan ke bab atas kloset dan pantatnya di hadapkan ke si supervisor. Melihat pemandangan menggairahkan itu, tanpa membuang-buang waktu lagi si supervisor segera memasukkan batang kemaluannya dari arah belakang kemaluan Shinta.., bless.., bless.., jeb.., jebb..! Si supervisor dengan asyik melaksanakan aksinya itu. Tangan kanannya berusaha meraih payudara Shinta sambil terus menusukkan batang kemaluan supernya ke kewanitaan Shinta.
“Bapak duduk aja sekarang di atas kloset ini.., supaya sekarang gantian saya yang aktif..”, kata Shinta di tengah-tengah permainan mereka yang penuh nafsu. Supervisor itu pun menurut. Tanpa menunggu lagi, Shinta meraih batang kemaluan yang sudah 2 kali lebih keras dan besar itu, untuk segera dimasukkan ke liang kenikmatannya. Ia pun duduk naik turun di atas batang kemaluan absurd itu. Sementara kedua mata si supervisor terpejam-pejam mencicipi kenikmatan surgawi itu. Kedua tangannya meremas-remas gunung kembar Shinta. “Ooh.., oh.., ohh..”, erang Shinta penuh kenikmatan.
Batang kemaluan itu begitu kuat, kokoh dan keras. Walau sudah berkali-kali ditusukkan ke depan, belakang, maupun dari atas, belum juga menyampaikan akan menyemburkan cairan putih kentalnya. Melihat itu, Shinta segera turun dari pangkuan supervisor itu. Dengan penuh semangat ia meraih batang kemaluan itu untuk segera dimasukkan ke mulutnya. Dijilatnya dengan lembut kemudian dihisap dan dipilin-pilin dengan lidahnya… oooh.., oh.., oohh.., kali ini ganti si supervisor yang mengerang alasannya yaitu mencicipi kenikmatan. Lima belas menit kemudian, wajah si supervisor tampak menegang dan ia mencengkeram bahu Shinta dengan sangat erat.. Shinta menyadari apa yang akan terjadi.., tapi ia tidak menghiraukannya.., ia terus saja menghisap batang kemaluan absurd itu.., dan benar.., crot.., crot.., crott..! Semburan air mani masuk ke dalam lisan seksi Shinta tanpa mampu dihalangi lagi. Shinta pun menelan semua mani itu termasuk menjilat yang masih tersisa di batang kemaluan supervisor itu dengan lahapnya…
Sejak peristiwa di WC itu, mereka tidak henti-hentinya berafiliasi intim di mana saja dan kapan saja mereka bernafsu.., di mobil, di hotel, di rumah si supervisor (bahkan walau sang isteri sedang hamil).

Cerita Sex Dewasa | Desahan Liar si Janda

Cerita Sex Dewasa | Desahan Liar si Janda  – Udara pagi ini trasa sejuk skali, seakan mnyambut baik datangnya hari Minggu ini. Secerah wajah tante Ivone yg tengah brcengkrama dngn bunga bunga ditaman. Meskipun nampak angkuh, namun kcantikan wajahnya tak dapat disembunyikan.

Aku gres saja selesai mandi dan brniat ngeteh diteras rumah sambil mnghirup udara pagi yg segar. Akan tetapi mataku mlihat tante Ivone tengah asyik menikmati keindahhan bunga ditaman depan rumah. Dengan gaya ala petani bunga Cibodas, tante Ivone nampak srius mmperhatikan tanaman itu. ” Pagi tan ” sapaku. ” Hmm… ” balasnya tanpa brpaling dari rumpunan bunga. ” Mau saya buatin minum nda tan!? ” tanyaku lagi stengah mnawarkan jasa. ” Nda usah!! ” jawabnya juga seraya mmblakangiku. Aku tak mlihat tante Rita, Hendri ataupun Nita pagi ini. ” Ach, pada lari pagi kali? ” fikirku dalam hati.

Aku kmbali mmperhatikan tante Ivone yg mmblakangiku. Mulai dari betisnya yg putih mulus mskipun nampak kurus, pahanya yg lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun trbalut clana pendek, namun trlihat terang lekukannya. ” Coba ia bisa saya tiduri sperti tante Rita ya? ” gumanku dalam hati. Belum habis lamunanku,tiba tiba kulihat badan tante Ivone trhuyung lemah ingin trsungkur. Dengan cepat saya mloncat dan mmegangi tubuhnya yg nyaris trsungkur itu, mninggalkan sisa lamunan cabulku.

Kurangkul tubuhnya yg mulus dan trlihat lemas sekali. “Ga papa kan tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, sraya mmapah badan tante Ivone. “Kpalaku trasa pusing Fad” jawab tante Ivone lemah. “Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah. “Akhirnya saya bisa mrangkulmu Vone” ucapku dalam hati. Ada sjuta kebahagian dihatiku karna bisa mrangkul badan si arogan trsebut.

Stelah brada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Ivone disofa ruang tamu. Dengan mnarik nafas tante Ivone duduk dan brsandar pada sandaran sofa. Stelah itu saya melangkah mninggalkannya sendiri. Tak brapa lama saya kembali dngn sgelas air hangat dan mnghampiri tante Ivone yg tengah brsandar disandaran sofa. “Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku sambil mnyerahkan gelas brisi air hangat yg kubawa. Tante Ivone pun mminum air hngt yg kuberikan. “Makasih ya Fad” ucapnya lemah sambil mletakan gelas dimeja yg ada didepannya.

“Kpalanya masih pusing ga tan!?” tanyaku. Tante Ivone hanya mnganggukan kpalanya. “Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi. “E, em” jawab tante Ivone prlahan seakan tengah mnahan sakit. Aku pun sgera memijat mulai dari kpalanya dngn prlahan lahan, kmudian dahinya yg ia bilang mrupakan sentra rasa sakitnya. “Wah, knapa tante Fad!?” tanya Nita yg gres saja pulang. “Tadi si tante hampir jatuh, kpalanya pusing Nit!” jawabku. ” Trlalu capek kali!? ” ujar Nita sambil mlangkah kedapur. “Dah aga mndingan Fad” terang tante Ivone dngn mata terpejam, menikmati pijatan pijatan jariku. Terasa hangat dahinya brsamaan dngn rasa hangat yg menjalari tubuhku. Harum aroma badan tante Ivone trasa mnusuk kedua lobang hidungku. Mmbuat saya ingin lebih lama lagi memijat dan akrab dngnnya.

“Masuk angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing semoga niatku tercapai. “Iya kali? “ujarnya pula, seakan mngerti akan arti ucapanku. Membuatku makin brani lebih jauh. “Mau dikerikin ga!?” tanyaku dngn penuh haraf kepadanya. “Memang kau bisa!?” tante Ivone balik brtanya. Membuat hatiku trasa brdebar tak karuan. “Ya bisa… ” jelasku dngn cepat, takut tante Ivone brubah fikiran lagi. “Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Ivone. Mmbuat hatiku brdebar makin cepat. Dengan prlahanku papah ia mlangkah mnuju kamarnya. Akupun brusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku. Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku.

Setelah brada didalam kamar, kusarankan semoga ia istrahat diranjangnya. Tante Ivone pun mrebahkan tubuhnya sraya brnafas panjang. Seolah olah ada beban berat yg dibawanya. Aku sgera brlalu mngambil obat gosok dan coin untuk mengerik badan tante Ivone. Stelah kudapati smua yg kubutuhkan, saya kembali mnghampiri tante Ivone yg tengah menanti. Dengan mmbranikan diri saya memintamya semoga ia mlepaskan pakaian yg dipakainya. Dia pun prlahan melepaskan pakaian atau baju yg dipakainya. Shingga tante Ivone kini hanya mngenakan bra yg brwarna pink dan clana pendek saja. Ada getaran hangat mnjalari sluruh tubuhku, ketika menyaksikan tante Ivone mmbuka bajunya. Hingga mmbangunkan kjantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah mngendap dibenakku semenjak awal, ketika memprhatikan ia ditaman.
Dengan prasaan yg tak mnentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mngusap …

..usap punggung mulus yg mmblakangiku, dngn hati hati sekali. “Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku pnuh haraf sambil trus mngusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya lirih. Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli saya tak tau. Yang pasti tanganku sgera melepaskan kait tali branya, sehingga mmbuat branya mlorot mnutupi sbagian payudaranya yg lingkaran dan berisi. Sperti payudara milik gadis kebanyakan. Stelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, akupun membalurinya dngn minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung tante Ivone. Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yg brusaha ditutupi dngn bra dan kedua tlapak tangannya. Tapi hal trsebut mmbuatku smakin terangsang didorong rasa pnasaran yg tramat. Smentara tante Ivone hanya trdiam sraya mmejamkan matanya yg lingkaran dan indah. ” Pelan pelan ya Fad!? ” pintanya masih dngn mata yg trpejam. Tiba tiba pintu kamar prlahan terbuka, nampak Nita tengah brdiri dimuka pintu. “Tan saya mo kerumah tman dulu ya!?” ujar Nita brpamitan sraya matanya mlirik kearahku. “Iya Nit… ” balas tante Ivone tanpa brpaling kearahnya. Kmudian scara prlahan Nita mnutup pintu kembali dan brlalu pergi.

Jari tanganku mulai pembangkang trhadap tugasnya, jariku trkadang nyelinap dibawah ketiaknya brusaha meraih benda yg lingkaran dan padat brisi yg ditutupinya. Tapi tangan tante Ivone terkadang brusaha mnghalanginya, dngn merapatkan pangkal lengannya. “Jari kau pembangkang ya Fad!? ” ucap tante Ivone stengah berbisik seraya mlirik ke arahku. Membuatku trsipu malu. “Habis ga besar lengan berkuasa sich, tan…” jawabku jujur. Tapi tante Ivone malah melepaskan branya shingga kini payudaranya nampak polos tanpa plindung lagi. Dan pribadi menjadi santapan kedua mataku tanpa brkedip. Langsung mmbuat hatiku brdebar debar mnyaksikan pemandangan trsebut. “Sekarang bisa kau plototin pe puas dech!!” ujar tante Ivone tak lagi mnutupit buah dadanya dngn kedua tlapak tangannya lagi. Jantungku trasa bgitu cepat brdetak dan mmbuat lemas sluruh prsendianku. Kontolku brlahan tapi pasti mulai brdiri tegak mngikuti dorongan hasratku.

“Memang dah selesai ngeriknya Fad!?” tegur tante Ivone mngingatkanku. Mmbuat saya sgera mlanjutkan prkerjaanku yg trtunda sesaat. Hampir sluruh adegan belakang badan tante Ivone telah kukerik dan brwarna merah brgaris garis. Hanya adegan bokongnya yg luput dari kerikanku karna trhalang dngn clana pendek serta CD yg dikenakannya. Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin.
Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Kemudian dngn prlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante Ivone mnundukan kpalanya, sekali sekali trdengar bunyi dahak dari mulutnya. “Sudah Fad!” printahnya, semoga saya mnyudahi pijatanku.

Dengan prasaan malas akupun mnghentikan pijatanku dan sgera mmbrsihkan sisa sisa minyak dikedua tlapak tngnku. ” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Ivone skaligus printah. Akupun branjak pergi kekamar mandi yg memang ada didalam kamar trsebut. Stelah usai mncuci sluruh tanganku sampai bnar bnar bersih. Akupun kembali menghampiri tante Ivon yg tengah telentang diatas ranjang masih dngn keadaan sparuh bugil. Sperti ketika saya tinggalkan kekamar mandi. Hingga payudaranya yg lingkaran dan brisi nampak mmbusung besar didadanya, dngn puting yg brwarna coklat susu. “Ayo Fad, kau mau mainin ini kan!?”. “Aku juga mau kok!?” ucap tante Ivone sambil mremas salah satu payudaranya sampai putingnya mnonjol kearahku. Akupun mndekat mnghampirinya dngn perasaan nafsu. Membuat kontolku kian brdiri dan mngeras kencang dibalik clanaku.

Akupun tak mnunggu lebih lama, sgeraku remasi payudaranya yg mnantang. Tante Ivone brgelinjang ketika tlapak tanganku mndarat dan meremas kedua payudaranya. ” Achh.., iya Fad trussss ” rintihnya prlahan. Jari jemariku kian liar mremasi sluruh daging lingkaran yg padat brisi. JariQ juga memainkan putingnya yg mulai mngeras. ” Iya,.., ayo diisep Fad.., aaaayooo “pinta tante Ivone dngn nafas taj tratur. Akupun sgera mnjilati dan mengisapi puting payudaranya. “Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Ivone sraya mmegangi kpalaku. Aku smakin brnafsu dngn puting yg kenyal sperti urat dan mnggemaskan. Smentara tante Ivone smakin mndesah tak karuan. Tangan kananku meluncur kearah slangkangan dibawah pusar, trus mnyusup masuk diantara clana dan CD tante Ivone. Hingga jari jariku trasa mnyentuh rumput halus yg cukup lebat didalamnya. Tante Ivone mmbuka pahanya tak kala jari tlunjukku brusaha masuk kedalam lobang yg ada ditengah bulu bulu halus miliknya. “Aowww…” jerit kecil tante Ivone ketika tlunjukku brhasil memasuki lobang memeknya. Dia pun mnggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu. Smentara kontolku smakin mngeras hendak kluar dari materi yg mnutupinya.

Cukup lama jari tlunjukku kluar masuk didalam memek tante Ivone, sampai lobang itu mulai trasa berair dan lembab. Sampai balasannya tangan tante Ivone menahan gerakan tanganku dan mminta mnyudahinya. “Aaaachhh.., udaahhh., Faddh.., aaachh” rintih tante Ivone. Akupun menarik tanganku dari balik clananya dan mlepaskan putingnya dari mulutku.

“Buka pakaianmu dong, Fad!!” seru tante Ivone sraya bangun dan mlepaskan clana pendek serta CDnya. Shingga ia bugil dan nampak rumput hitam ditengah slangkangannya yg gres saja ku obok obok. Akupun mlepaskan smua pakaianku dan bugil sperti dirinya.

Dengan senyum manis kearahku, tante Ivone mendekat dan brjongkok sempurna didepan slangkanganku. “Aouw, gede banget..!!” seru tante Ivone sraya tlapak tangannya mraih kontolku yg telah brdiri dan keras. Dngn tangan kanan ia mmegang erat batang kontolku, sedangkan tlapak kirinya mngelus elus kpalanya. Hingga kpala kontolku trasa brdenyut hangat. Kmudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya sraya matanya mlirik ke arahku. “Agghhh… “aku mlengguh tak kala sluruh kontolku tnggelam masuk kedalam mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari sluruh urat ditubuhku. Aku hanya dapat memegangi kpala tante …
…Ivone, mremas serta mngusap usap rambutnya yg ikal sebahu. Smentara tante Ivone smakin liar, sbentar mngulum dan mngemud seakan ia ingin melumat sluruh kontolku. Trnyata ia lebih buas dari tante Rita. Trkadang ia mnjilati dari batang sampai lobang kencing dikpalanya. ” Aaaaaaa… ” erangku menahan rasa nikmat nan tramat. Trasa tubuhku melayang jauh tak menentu.

Entah brapa lama tante Ivone mngemut, mnjilat dan mngulum kontolku. Yg terang hal ini mmbuat tubuhku brgetar dan hampir kejang. ” Gantian dong tan, aQ juga mau jilatin memekmu! ” rengekku, hampir tak bisa mnahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak banyak. Agar tante Ivone mandi dngn air maniku.

Tante Ivone sgera bangun brdiri meninggalkan kontolku yg masih brdiri tegak. Kmudian saya mminta semoga ia duduk dikursi tanpa lengan yg ada. Akupun brjongkok mnghadap memeknya yg dihiasi bulu lebatnya. Kedua kaki tante Ivone trtumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai mnjarah memek yg tlah mnganga terkuak jari jemariku, sampai nampak terang lobang memek yg brwarna merah dan lembab. Lidahku pun mulai mnjelajahi dan mnjilati lorong itu. “Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh” desah tante Ivone ketika lidahku brmain mnjilati lobang memeknya. “Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya pula sambil mremas dan mnjambaki rambut dikpalaku. Lidahkupun smakin liar dan brusaha masuk lebih dalam lagi. “Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” bunyi tante Ivone tak karuan. Lidahku brhenti mnjilati dinding lobang memek, kini brpindah pada daging mungil sbesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yg brwarna merah dan berair dngn air mazinya dan air liurku.
“Aughh…..” bunyi tante Ivone sperti tersedak sambil mrapatkan kedua pahanya, sampai mnjepit leherku, ketika ku isap itilnya. ” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Ivone lirih. ” Udahhh…, Fad…, udddaah Faadd ” rengek tante Ivone sraya mndorong kpalaku dngn kakinya yg trkulai lemas dibahuku.
Akupun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante Ivone dan bangun brdiri dihadapannya dngn kontol yg masih tegak dan keras. Kemudian mminta tante Ivone semoga bangun dari duduknya. Kini saya yg mnggantikan posisinya duduk dikursi.

Tante Ivone naik keatas pahaku dan tubuhnya mnghadap kearahku, sampai badan kami saling brhimpitan. Kmudian tante Ivone mmbimbing kontolku masuk kelobang memeknya dngan jarinya. ” Aagghhsss.. ” rintih kecil tante Ivone ketika kontolku masuk menusuk memeknya. Tak lama kmudian bokongnya mulai turun naik, mngesek gesek kontolku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dngn mmegangi pinggulnya mmbantu bokongnya turun naik. ” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fadd “. ” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante Ivone tak karuan jikalau tubuhnya turun mnenggelamkan kontolku dimemeknya. ” Aauwww, saya ga tahan ne Fadd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Ivone sraya mnggerakan bokongnya dngn cepat. Akupun mmbalas reaksinya, dengan melumat lagi payudaranya .”Aaaaaawhhh……..”erang tante Ivone sambil mnekan bokongnya lebih rapat dengan slangkanganku. Akupun mengejang mnahan tekanan bokong tante Ivone. “Aaaachhhh…….” balasannya saya tak bisa lagi mmbendung cairan kental dari dalam kontolku. Kamipun saling brpelukan dngn erat beberapa ketika dngn brcampur peluh masing masing.
Stelah cukup lama kami brpelukan, kamipun bangun dngn malas, enggan branjak dari suasana yg ada. Stelah itu kamipun mandi mmbrsihkan badan kami masing masing yg berair dngn peluh syurga.
Akhirnya saya bisa menidurimu dan menaklukan keangkuhanmu Ivone Gienarsih.

Cerita Sex Dewasa | Hadiah Kedewasaan Dari Mbak Yuni

Cerita Sex Dewasa | Hadiah Kedewasaan Dari Mbak Yuni – Mbak Yuni yakni anak tetangga nenekku di desa tempat Cilacap yang ikut dengan keluargaku di Kota Semarang semenjak SMP. Waktu SD ia sekolah di desa, setelah itu ia diajak keluargaku di kota untuk melanjutkan sekolah sekaligus membantu keluargaku terutama merawat aku. Kami sangat dekat bahkan di juga sering ngeloni aku. Mbak Yuni ikut dengan keluargaku hingga ia lulus SMA atau saya kelas 2 SD dan ia kembali ke desa. Namanya juga anak kecil, jadi saya belum ada perasaan apa-apa terhadapnya.

Setelah itu kami jarang bertemu, paling-paling hanya setahun satu atau dua kali. Tiga tahun kemudian ia menikah dan waktu saya kelas dua SMP saya harus pindah luar Jawa ke Kota Makassar mengikuti ayah yang dipindah tugas. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Kami hanya bekerjasama lewat surat dan kabarnya ia sekarang telah memiliki seorang anak. pada waktu saya lulus SMA saya pulang ke rumah nenek dan berniat mencari tempat kuliah di Kota Yogya.

Sesampai di rumah nenek saya tahu bahwa Mbak Yuni sudah punya rumah sendiri dan tinggal bersama suaminya di desa seberang. Setelah dua hari di rumah nenek saya berniat mengunjungi rumah Mbak Yuni. Setelah diberi tahu arah rumahnya (sekitar 1 km) saya pergi kira-kira jam tiga sore dan berniat menginap. Dari sinilah kisah ini berawal.

Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, balasannya saya hingga di rumah yang ciri-cirinya sama dengan yang dikatakan nenek. Sejenak kuamati kelihatannya sepi, lalu saya coba mengetok pintu rumahnya.

“Ya sebentar..” terdengar sahutan wanita dari dalam.

Tak lama kemudian keluar seorang wanita dan saya masih kenal wajah itu walau lama tidak bertemu. Mbak Yuni terlihat manis dan kulitnya masih putih ibarat dulu. Dia sepertinya tidak mengenaliku.

“Cari siapa ya? tanya Mbak Yuni”.
“Anda Mbak Yuni kan?” saya balik bertanya.
“Iya benar, anda siapa ya dan ada keperluan apa?” Mbak Yuni kembali bertanya dengan raut muka yang berusaha mengingat-ingat.
“Masih inget sama saya nggak Mbak? Aku Aris Mbak, masak lupa sama aku”, kataku.
“Kamu Aris anaknya Pak Tono?” kata Mbak Yuni setengah nggak percaya.
“Ya ampun Ris, saya nggak ngenalin kau lagi. Berapa tahun coba kita nggak bertemu.” Kata Mbak Yuni sambil memeluk tubuhku dan menciumi wajahku.

Aku kaget setengah mati, gres kali ini saya diciumi seorang wanita. Aku rasakan buah dadanya menekan dadaku. Ada perasaan lain muncul waktu itu.

“Kamu kapan datangnya, dengan siapa” kata Mbak Yuni sambil melepas pelukannya.
“Saya datang dua hari lalu, saya hanya sendiri.” kataku.
“Eh iya ayo masuk, hingga lupa, ayo duduk.” Katanya sambil menggeret tanganku.

Kami kemudian duduk di ruang tamu sambil mengobrol sana-sini, maklum lama nggak tetemu. Mbak Yuni duduk berhimpitan denganku. Tentu saja buah dadanya menempel di lenganku. Aku sedikit terangsang alasannya hal ini, tapi saya coba menghilangkan pikiran ini alasannya Mbak Yuni sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri.

“Eh iya hingga lupa buatin kau minum, kau pasti haus, sebentar ya..” kata Mbak Yuni ditengah pembicaraan.

Tak lama kemudian ia datang, “Ayo ini diminum”, kata Mbak Yuni.

“Kok sepi, pada kemana Mbak?” Tanyaku.
“Oh kebetulan Mas Heri (suaminya Mbak Yuni) pergi kerumah orang tuanya, ada keperluan, rencananya besok pulangya dan si Dani (anaknya Mbak Yuni) ikut” jawab Mbak Yuni.
“Belum punya Adik Mbak dan Mbak Yuni kok nggak ikut?” tanyaku lagi.
“Belum Ris padahal udah pengen lho.. tapi memang dapatnya lama mungkin ya, kayak si Dani dulu. Mbak Yuni ngurusi rumah jadi nggak mampu ikut” katanya.
“Eh kau nginep disini kan? Mbak masih kangen lho sama kamu” katanya lagi.
“Iya Mbak, tadi sudah pamit kok” kataku.
“Kamu mandi dulu sana, ntar keburu dingin” kata Mbak Yuni.

Lalu saya pergi mandi di belakang rumah dan setelah selesai saya lihat-lihat kolam ikan di belakang rumah dan kulihat Mbak Yuni gantian mandi. Kurang lebih lima belas menit, Mbak Yuni selesai mandi dan saya terkejut alasannya ia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Aku pastikan ia tidak memakai BH dan mungkin CD juga alasannya tidak saya lihat tali BH menggantung di pundaknya.

“Sayang Ris ikannya masih kecil, belum mampu buat lauk” kata Mbak Yuni sambil melangkah ke arahku lalu kami ngobrol sebentar ihwal kolam ikannya.

Kulihat buah dadanya sedikit menyembul dari balutan handuknya dan ditambah bau harum tubuhnya membuatku terangsang. Tak lama kemudian ia pamit mau ganti baju. Mataku tak lepas memperhatikan tubuh Mbak Yuni dari belakang. Kulitnya benar-benar putih. Sepasang pahanya putih mulus terlihat terperinci bikin burungku berdiri. Ingin rasanya saya lepas handuknya lalu meremas, menjilat buah dadanya, dan menusuk-nusuk selangkangannya dengan burungku ibarat dalam bokep yang sering saya lihat. Sejenak saya berkhayal lalu kucoba menghilangkan khayalan itu.

Haripun berganti petang, udara cuek pegunungan mulai terasa. Setelah makan malam kami nonton teve sambil ngobrol banyak hal, hingga tak terasa sudah pukul sembilan.

“Ris nanti kau tidur sama saya ya, Mbak kangen lho ngeloni kamu” kata Mbak Yuni.
“Apa Mbak?” Kataku terkejut.
“Iya.. Kamu nanti tidur sama saya saja. Inget nggak dulu waktu kecil saya sering ngeloni kamu” katanya.
“Iya Mbak saya inget” jawabku.
“Nah ayo tidur, Mbak udah ngantuk nih” kata Mbak Yuni sambil beranjak melangkah ke kamar tidur dan saya mengikutinya dari belakang, pikiranku berangan-angan ngeres. Sampai dikamar tidur saya masih ragu untuk naik ke ranjang.
“Ayo jadi tidur nggak?” tanya Mbak Yuni.

Lalu saya naik dan tiduran disampingnya. Aku deg-degan. Kami masih ngobrol hingga jam 10 malam.

“Tidur ya.. Mbak udah ngantuk banget” kata Mbak Yuni.
“Iya Mbak” kataku walaupun bahwasanya saya belum ngantuk alasannya pikiranku semakin ngeres saja terbayang-bayang pemandangan menggairahkan sore tadi, apalagi kini Mbak Yuni terbaring di sampingku, kurasakan burungku mengeras.

Aku melirik ke arah Mbak Yuni dan kulihat ia telah tertidur lelap. Dadaku semakin berdebar kencang tak tahu apa yang harus saya lakukan. Ingin saya onani alasannya sudah tidak tahan, ingin juga saya memeluk Mbak Yuni dan menikmati tubuhnya, tapi itu tidak mungkin pikirku. Aku berusaha menghilangkan pikiran kotor itu, tapi tetap tak mampu hingga jam 11 malam. Lalu saya putus kan untuk melihat paha Mbak Yuni sambil saya onani alasannya galau dan udah tidak tahan lagi.

Dengan dada berdebar-debar saya buka selimut yang menutupi kakinya, kemudian dengan pelan-pelan saya singkapkan roknya hingga celana dalam hitamnya kelihatan, dan terlihatlah sepasang paha putih mulus didepanku beitu dekat dan jelas. Semula saya hanya ingin melihatnya saja sambil berkhayal dan melaksanakan onani, tetapi saya penasaran ingin mencicipi bagaimana meraba paha seorang perempuan tapi saya takut kalau ia terbangun. Kurasakan burungku melonjak-lonjak seakan ingin melihat apa yang membuatnya terbangun. Karena sudah dikuasai nafsu balasannya saya nekad, kapan lagi kalau tidak sekarang pikirku.

Dengan hati-hati saya mulai meraba paha Mbak Yuni dari atas lutut lalu keatas, terasa halus sekali dan kulakukan beberapa kali. Karena semakin penasaran saya coba meraba celana dalamnya, tetapi tiba-tiba Mbak Yuni terbangun.

“Aris! Apa yang kau lakukan!” kata Mbak Yuni dengan terkejut.

Ia lalu menutupi pahanya dengan rok dan selimutnya lalu duduk sambil menampar pipiku. Terasa sakit sekali.

“Kamu kok berani berbuat kurang bimbing pada Mbak Yuni. Siapa yang ngajari kamu?” kata Mbak Yuni dengan marah.

Aku hanya mampu membisu dan menunduk takut. Burungku yang tadinya begitu perkasa saya rasakan pribadi mengecil seakan hilang.

“Tak kusangka kau mampu melaksanakan hal itu padaku. Awas nanti kulaporkan kau ke nenek dan bapakmu” kata Mbak Yuni.
“Ja.. jangan Mbak” kataku ketakutan.
“Mbak Yuni kan juga salah” kataku lagi membela diri.
“Apa maksudmu?” tanya Mbak Yuni.

“Mbak Yuni masih menganggap saya anak kecil, padahal saya kan udah besar Mbak, sudah lebih dari 17 tahun. Tapi Mbak Yuni masih memperlakukan saya ibarat waktu saya masih kecil, pakai ngeloni saya segala. Trus tadi sore juga, habis mandi Mbak Yuni hanya memakai handuk saja didepanku. Saya kan lelaki normal Mbak” jelasku.

Kulihat Mbak Yuni hanya membisu saja, lalu saya berniat keluar dari kamar.

“Mbak.. permisi, semoga saya tidur saja di kamar sebelah” kataku sambil turun dari ranjang dan berjalan keluar.

Mbak Yuni hanya membisu saja. Sampai di kamar sebelah saya rebahkan tubuhku dan mengutuki diriku yang berbuat kolot dan membayangkan apa yang akan terjadi besok. Kurang lebih 15 menit kemudian kudengar pintu kamarku diketuk.

“Ris.. kau masih bangun? Mbak boleh masuk nggak?” Terdengar bunyi Mbak Yuni dari luar.
“Ya Mbak, silakan” kataku sambil berpikir mau apa dia.

Mbak Yuni masuk kamarku lalu kami duduk di tepi ranjang. Aku lihat wajahnya sudah tidak marah lagi.

“Ris.. Maafkan Mbak ya telah nampar kamu” katanya.
“Seharusnya saya yang minta maaf telah kurang bimbing sama Mbak Yuni” kataku.
“Nggak Ris, kau nggak salah, setelah Mbak pikir, apa yang kau katakan tadi benar. Karena lama nggak bertemu, Mbak masih saja menganggap kau seorang anak kecil ibarat dulu saya ngasuh kamu. Mbak tidak menyadari bahwa kau sekarang sudah besar” kata Mbak Yuni.

Aku hanya membisu dalam hatiku merasa lega Mbak Yuni tidak marah lagi.

“Ris, kau bener mau sama Mbak?” tanya Mbak Yuni.
“Maksud Mbak?” kataku terkejut sambil memandangi wajahnya yang terlihat bagitu manis.
“Iya.. Mbak kan udah nggak muda lagi, masa’ sih kau masih tertarik sama aku?” katanya lagi.

Aku hanya diam, takut salah ngomong dan membuatnya marah lagi.

“Maksud Mbak.., kalau kau bener mau sama Mbak, saya rela kok melakukannya dengan kamu” katanya lagi.

Mendengar hal itu saya tambah terkejut, seakan nggak percaya.

“Apa Mbak” kataku terkejut.
“Bukan apa-apa Ris, kau jangan berpikiran enggak-enggak sama Mbak. Ini hanya untuk meyakinkan Mbak bahwa kau telah cukup umur dan lain kali tidak menganggap kau anak kecil lagi” kata Mbak Yuni

Lagi-lagi saya hanya diam, seakan nggak percaya. Ingin saya mengatakan iya, tapi takut dan malu. Mau menolak tapi saya pikir kapan lagi kesempatan ibarat ini yang selama ini hanya mampu saya bayangkan.

“Gimana Ris? Tapi sekali aja ya.. dan kau harus komitmen ini menjadi belakang layar kita berdua” kata Mbak Yuni.
Aku hanya mengangguk kecil tanda bahwa saya mau.
“Kamu pasti belum pernah kan?” kata Mbak Yuni.
“Belum Mbak, tapi pernah lihat di film” kataku.
“Kalau begitu saya nggak perlu ngajari kau lagi” kata Mbak Yuni.

Mbak Yuni lalu mencopot bajunya dan terlihatlah buah dadanya yang putih mulus terbungkus BH hitam, saya membisu sambil memperhatikan, birahiku mulai naik. Lalu Mbak Yuni mencopot roknya dan paha mulus yang saya gerayangi tadi terlihat. Tangannya diarahkan ke belakang pundak dan BH itupun terlepas, sepasang buah dada berukuran sedang terlihat sangat rupawan dipadu dengan puting susunya yang mencuat kedepan. Mbak Yuni lalu mencopot CD hitamnya dan kini ia telah telanjang bulat. Penisku terasa tegang alasannya gres pertama kali ini saya melihat wanita telanjang pribadi dihadapanku. Ia naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya terlentang. Aku begitu takjub, bayangkan ada seorang wanita telanjang dan pasrah berbaring di ranjang sempurna dihadapanku. Aku tertegun dan ragu untuk melakukannya.

“Ayo Ris.. apa yang kau tunggu, Mbak udak siap kok, jangan takut, nanti Mbak bantu” kata Mbak Yuni.

Segera saya melepaskan semua pakaianku alasannya bahwasanya saya sudah tidak tahan lagi. Kulihat Mbak Yuni memperhatikan burungku yang berdenyut-denyut, saya lalu naik ke atas ranjang. Karena sudah tidak sabar, pribadi saja saya memulainya. Langsung saja saya kecup bibirnya, kulumat-lumat bibirnya, terasa ia kurang meladeni bibirku, saya pikir mungkin suaminya tidak pernah melakukannya, tapi tidak saya hiraukan, terus saya lumat bibirnya. Sementara itu kuarahkan tanganku ke dadanya. Kutemukan gundukan bukit, lalu saya elus-elus dan remas buah dadanya sambil sesekali memelintir puting susunya.

“Ooh.. Ris.. apa yang kau lakukan.. ergh.. sshh..” Mbak Yuni mulai mendesah tanda birahinya mulai naik, sesekali kurasakan ia menelan ludahnya yang mulai mengental. Setelah puas dengan bibirnya, kini mulutku kuarahkan ke bawah, saya ingin mencicipi bagaimana rasanya mengulum buah dada. Sejenak saya pandangi buah dada yang kini sempurna berada di hadapanku, ooh sungguh indahnya, putih mulus tanpa cacat sedikitpun, ibarat belum pernah terjamah lelaki. Langsung saya jilati mulai dari bawah lalu ke arah putingnya, sedangkan buah dada kanannya tetap kuremas-remas sehingga tambah kenyal dan mengeras.
“Emmh oh aarghh” Mbak Yuni mendesah jago ketika saya menggigit puting susunya.

Kulirik wajahnya dan terlihat matanya merem melek dan giginya menggigit bibir bawahnya. Kini jariku kuarahkan ke selangkangannya. Disana kurasakan ada rumput yang tumbuh di sekeliling memeknya. Jari-jariku kuarahkan kedalamnya, terasa lubang itu sudah sangat basah, tanda bahwa ia sudah benar-benar terangsang. Kupermainkan jari-jariku sambil mencari klentitnya. Kugerakkan jari-jariku keluar masuk di dalam lubang yang semakin licin tersebut.

“Aargghh.. eemhh.. Ris kam.. mu ngapainn oohh..” kata Mbak Yuni meracau tak karuan, kakinya menjejak-jejak sprei dan badannya mengeliat-geliat. Tak kupedulikan kata-katanya. Tubuh Mbak Yuni semakin mengelinjang dikuasai nafsu birahi. Kuarasakan tubuh Mbak Yuni menegang dan kulihat wajahnya memerah bercucuran keringat, saya pikir ia sudah mau klimaks. Kupercepat gerakan jariku didalam memeknya.
“Ohh.. arghh.. oohh..” kata Mbak Yuni dengan nafas tersengal-sengal dan tiba-tiba..
“Oohh aahh..” Mbak Yuni mendesah jago dan pinggulnya terangkat, badannya bergetar jago beberapa kali. Terasa cairan hangat memenuhi memeknya.
“Ohh.. ohh.. emhh..” Mbak Yuni masih mendesah-desah meresapi kenikmatan yang gres diraihnya.
“Ris apa yang kau lakukan kok Mbak mampu kayak gini” tanya Mbak Yuni.
“Kenapa emangnya Mbak? Kataku.
“Baru kali ini saya mencicipi nikmat ibarat ini, luar biasa” kata Mbak Yuni.

Ia lalu bercerita bahwa selama bersama suaminya ia tidak pernah menerima kepuasan, alasannya mereka hanya sebentar saja bercumbu dan dalam bercinta suaminya cepat selesai.

“Mbak sekarang giliranku” kubisikkan ditelinganya, Mbak Yuni mengangguk kecil.

Aku mulai mencumbunya lagi. Kulakukan ibarat tadi, mulai dari bibirnya yang kulumat, lalu buah dadanya yang saya nikmati, tak lupa jari-jariku kupermainkan di dalam memeknya.

“Aarghh.. emhh.. ooh..” terdengar Mbak Yuni mulai mendesah-desah lagi tanda ia telah terangsang.

Setelah saya rasa cukup, saya ingin segera mencicipi bagaimana rasanya menusukkan burungku ke dalam memeknya. Aku mensejajarkan tubuhku diatas tubuhnya dan Mbak Yuni tahu, ia lalu mengangkangkan pahanya dan kuarahkan burungku ke memeknya. Setelah hingga didepannya saya ragu untuk melakukannya.

“Ayo Ris jangan takut, masukin aja” kata Mbak Yuni.

Perlahan-lahan saya masukkan burungku sambil kunikmati, bless terasa nikmat ketika itu. Burungku mudah saja memasuki memeknya alasannya sudah sangat lembap dan licin. Kini mulai kugerakkan pinggulku naik turun perlahan-lahan. Ohh nikmatnya.

“Lebih cepat Ris arghh.. emhh” kata Mbak Yuni terputus-putus dengan mata merem-melek.

Aku percepat gerakanku dan terdengar bunyi berkecipak dari memeknya.

“Iya.. begitu.. aahh.. ter.. rrus.. arghh..” Mbak Yuni berkata tak karuan.

Keringat kami bercucuran deras sekali. Kulihat wajahnya semakin memerah.

“Ris, Mbak mau.. enak lagi.. oohh.. ahh.. aahh.. ahh..” kata Mbak Yuni sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar dan kurasakan memeknya dipenuhi cairan hangat menyiram penisku.

Remasan dinding memeknya begitu kuat, akupun percepat gerakanku dan.. croott.. akupun mencapai klimaks aahh.., kubiarkan air maniku keluar di dalam memeknya. Kurasakan nikmat yang luar biasa, berkali-kali lebih nikmat dibandingkan ketika saya onani. Aku peluk tubuhnya erat-erat sambil mengecup puting susunya menikmati kenikmatan sex yang sesungguhnya yang gres saya rasakan pertama kali dalam hidupku. Setelah cukup kumenikmatinya saya cabut burungku dan merebahkan badanku disampinya.

“Mbak Yuni, terima kasih ya..” kubisikkan lirih ditelinganya sambil kukecup pipinya.
“Mbak juga Ris.. gres kali ini Mbak mencicipi kepuasan ibarat ini, kau hebat” kata Mbak Yuni lalu mengecup bibirku.

Kami berdua lalu tidur alasannya kecapaian.

Kira-kira jam 3 pagi saya terbangun dan merasa haus sekali, saya ingin mencari minum. Ketika saya gres mau turun dari ranjang, Mbak Yuni juga terbangun.

“Kamu mau kemana Ris..” katanya.
“Aku mau cari minum, saya haus. Mbak Yuni mau?” Kataku.

Ia hanya mengangguk kecil. Aku ambil selimut untuk menutupi anuku lalu saya ke dapur dan kuambil sebotol air putih.

“Ini Mbak minumnya” kataku sambil kusodorkan segelas air putih.

Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi Mbak Yuni yang tubuhnya ditutupi selimut meminum air yang kuberikan.

“Ada apa Ris, kok kau memandangi Mbak” katanya.
“Ah nggak Papa. Mbak cantik” kataku sedikit merayu.
“Ah kau Ris, mampu aja, Mbak kan udah renta Ris” kata Mbak Yuni.
“Bener kok, Mbak malah makin cantik sekarang” kataku sambil kukecup bibirnya.
“Ris.. boleh nggak Mbak minta sesuatu” kata Mbak Yuni.
“Minta apa Mbak?” tanyaku penasaran.
“Mau nggak kau kalau..” kata Mbak Yuni terhenti.
“Kalau apa Mbak?” kataku penuh tanda tanya.
“Kalau.. kalau kau emm.. melakukannya lagi” kata Mbak Yuni dengan malu-malu sambil menunduk, terlihat pipinya memerah.
“Lho.. katanya tadi, sekali aja ya Ris.., tapi sekarang kok?” kataku menggodanya.
“Ah kamu, kan tadi Mbak nggak ngira bakal kayak gini” katanya manja sambil mencubit lenganku.
“Dengan senang hati saya akan melayani Mbak Yuni” kataku.

Sebenarnya saya gres mau mengajaknya lagi, e.. malah ia duluan. Ternyata Mbak Yuni juga ketagihan. Memang benar kalau seorang wanita pernah merasa puas, ia sendiri yang akan meminta. Kami mulai bercumbu lagi, kali ini saya ingin menikmati dengan dengan sepuas hatiku. Ingin kunikmati setiap inci tubuhnya, alasannya kini saya tahu Mbak Yuni juga sangat ingin. Seperti tadi, pertama-tama bibirnya yang kunikmati. Dengan penuh kelembutan saya melumat-lumat bibir Mbak Yuni.

Aku makin berani, kugunakan lidahku untuk membelah bibirnya, kupermainkan lidahku. Mbak Yuni pun mulai berani, lidahnya juga dipermainkan sehingga pengecap kami saling beradu, membuatku semakin betah saja berlama-lama menikmati bibirnya. Tanganku juga ibarat tadi, beroperasi di dadanya, kuremas-remas dadanya yang kenyal mulai dari lembah hingga ke puncaknya lalu saya pelintir putingnya sehingga membuatnya menggeliat dan mengelinjang. Dua bukit kembar itupun semakin mengeras. Ia menggigit bibirku ketika kupelintir putingnya.

Aku sudah puas dengan bibirnya, kini mulutku mengulum dan melumat buah dadanya. Dengan sigap lidahku menari-nari diatas bukitnya yang putih mulus itu. Tanganku tetap meremas-remas buah dadanya yang kanan. Kulihat mata Mbak Yuni sangat redup, dan ia memagut-magut bibirnya sendiri, mulutnya mengeluarkan desahan erotis.

“Oohh.. arghh.. en.. ennak Ris.. emhh..” kata Mbak Yuni mendesah-desah.

Tiba-tiba tangannya memegang tanganku yang sedang meremas-remas dadanya dan menyeretnya ke selangkangannya. Aku paham apa yang diinginkannya, rupanya ia ingin saya segera mempermainkan memeknya. Jari-jarikupun segera bergerilya di memeknya. Kugerakkan jariku keluar masuk dan kuelus-elus klentitnya membuatnya semakin menggelinjang tak karuan.

“Ya.. terruss.. aarggghh.. emmhh.. enak.. oohh..” verbal Mbak Yuni meracau.

Setiap kali Mbak Yuni terasa mau mencapai klimaks, saya hentikan jariku menusuk memeknya, setelah ia agak tenang, saya permainkan lagi memeknya, kulakukan beberapa kali.

“Emhh Ris.. ayo dong jangan begitu.. kau jahat oohh..” kata Mbak Yuni memohon.

Mendengarnya membuatku merasa kasihan juga, tapi saya tidak akan membuatnya klimaks dengan jariku tetapi dengan mulutku, saya benar-benar ingin mencoba semua yang pernah saya lihat di bokep.

Segera saya arahkan mulutku ke selangkangannya. Kusibakkan rumput-rumpuat hitam yang disekeliling memeknya dan terlihatlah memeknya yang merah dan mengkilap basah, sungguh rupawan alasannya gres kali ini melihatnya. Aku agak ragu untuk melakukannya, tetapi rasa penasaranku ibarat apa sih rasanya menjilati memek lebih besar. Segera saya jilati lubang itu, lidahku kujulurkan keluar masuk.

“Ris.. apa yang kau lakukan.. arghh itu kan ji.. jik emhh..” kata Mbak Yuni.

Ia terkejut saya menggunakan mulutku untuk menjilati memeknya, tapi saya tidak pedulikan kata-katanya. Ketika lidahku menyentuh kelentitnya, ia mendesah panjang dan tubuhnya menggeliat tak karuan dan tak lama kemudian tubuhnya bergetar beberapa kali, tangannya mencengkeram sprei dan mulutku di penuhi cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.

“Ohmm.. emhh.. ennak Ris.. aahh..” kata Mbak Yuni ketika ia klimaks.

Setelah Mbak Yuni selesai menikmati kenikmatan yang diperolehnya, saya kembali mencumbunya lagi alasannya saya juga ingin mencapai kepuasan.

“Gantian Mbak diatas ya sekarang” kataku.
“Gimana Ris saya nggak ngerti” kata Mbak Yuni.

Daripada saya menjelaskan, pribadi saya praktekkan. Aku tidur telentang dan Mbak Yuni saya suruh melangkah diatas burungku, tampaknya ia mulai mengerti. Tangannya memegang burungku yang tegang jago lalu perlahan-lahan pinggangnya diturunkan dan memeknya diarahkan ke burungku dan dalam sekejap bless burungku hilang ditelan memeknya. Mbak Yuni lalu mulai melaksanakan gerakan naik turun, ia angkat pinggangnya dan ketika hingga di kepala penisku ia turunkan lagi. Mula-mula ia pelan-pelan tapi ia kini mulai mempercepat gerakannya.

Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, matanya sayu sambil merem melek dan sesekali ia melihat kearahku. Mulutnya mendesis-desih. Sungguh sangat sexy wajah wanita yang sedang dikuasai nafsu birahi dan sedang berusaha untuk mencapai puncak kenikmatan. Wajah Mbak Yuni terlihat sangat cantik ibarat itu apalagi ditambah rambut sebahunya yang terlihat berantakan terombang ambing gerakan kepalanya. Buah dadanya pun terguncang-guncang, lalu tanganku meremas-remasnya. Desahannya tambah keras ketika jari-jariku memelintir puting susunya.

“Oh emhh yaah.. ohh..” itulah kata-kata yang keluar dari verbal Mbak Yuni.
“Aku nggak berpengaruh lagi Ris..” kata Mbak Yuni sambil berhenti menggerakkan badannya, saya tahu ia segera mencapai klimaks.

Kurebahkan badannya dan saya segera memompa memeknya dan tak lama kemudian Mbak Yuni mencapai klimaks. Kuhentikan gerakanku untuk membiarkan Mbak Yuni menikmati kenikmatan yang diperolehnya. Setelah itu saya cabut penisku dan kusuruh Mbak Yuni menungging lalu kumasukkan burungku dari belakang. Mbak Yuni terlihat hanya pasrah saja terhadap apa yang saya lakukan kepadanya. Ia hanya mampu mendesah kenikmatan.

Setelah puas dengan posisi ini, saya suruh Mbak Yuni rebahan lagi dan saya masukkan lagi burungku dan memompa memeknya lagi alasannya saya sudah ingin sekali mengakhirinya. Beberapa ketika kemudian Mbak Yuni ingin klimaks lagi, wajahnya memerah, tubuhnya menggelinjang kesana kemari.

“Ahh.. oh.. Mbak mau enak lagi Ris.. arrghh ahh..” kata Mbak Yuni.
“Tunggu Mbak, ki kita bareng saya juga hampir” kataku.
“Mbak udah nggak tahan Ris.. ahh..” kata Mbak Yuni sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar hebat, pinggulnya terangkat naik. Cairan hangat menyiram burungku dan kurasakan dinding memeknya seolah-olah menyedot penisku begitu berpengaruh dan balasannya akupun tidak berpengaruh dan croott.. akupun mencapai klimaks, oh my god nikmatnya luar biasa. Lalu kami saling berpelukan erat menikmati kenikmatan yang gres saja kami raih.

Ingin unduh Film sex terbaru, film hot, film 18+ terbaru pribadi saja KLIK DISINI

Cerita Sex Dewasa | Tetanggaku yang Haus Seks

Cerita Sex Dewasa | Tetanggaku yang Haus Seks – Sebut saja saya Edo,Aku perjaka biasa aja saya ngrasa gak ada yang istimewa dari aku,bahkan mungkin sebagai perjaka cenderung agak telat soal bercinta.buktinya hingga ketika itu saya belom mempunyai cewek,sedangkan temen-temen kostku semua dah pada dapat gandengan semenjak semester awal.

Hari itu ahad pagi,seperti biasa saya duduk di teras depan sambil baca koran ditemani secangkir kopi dan A-mild yang tinggal beberapa batang.tiba-tiba berhenti sebuah kendaraan beroda empat pick-up di depan rumah kostku,rupanya ada yang mau menghuni rumah depanku yang sudah beberapa bulan kosong. kulihat sejenak ada seorang laki-laki berumur 35an turun diikuti seorang perempuan,belakangan kuketahui namanya mas Bram dan istrinya mbak Lia.
Sesaat ku amati mereka menurunkan barang-barang timbul rasa kasianku,karena yang bantuin cuma ada satu orang kuli dan sopir.Timbul niatku untuk berkenalan dan membantu mereka.
Sejak ketika itu saya sering main kerumah mereka.aku juga makin dekat dengan mas Bram.Lama kelamaan saya jadi menganggap mas bram dan mak Lia ibarat kakaku sendiri,mas Bram kadang juga mengajakku terlibat dalam bisnisnya,dia yaitu disributor spare part yang gres membuatkan bisnisnya di kota ini,sedangkan kantornya masih di surabaya,sehingga beliau masih mesti sering ke surabaya hingga beberapa hari.
Suatu hari,minggu pagi ibarat biasa saya duduk-duduk diteras depan baca jawa post sambil ngisep A mild.Tiba-tiba dari luar pintu pagar terdengar bunyi mbak lia menyapa” Lagi nyantai dik?”.” Eh,iya mbak”jawabku sambil nglipet koran.”bisa bantuin saya gak?””ngapain mbak?” “Betulin kran,dah saya beliin tadi tapi gak mampu masangnya,mas Bram lagi kesurabaya” tambahnya. “Ayuk” kataku sambil erus nylonong.
sekitar 15 menit saya selesai memasang kran,mbak lia dah nyiapin secangkir kopi.”makasih lo dik” katanya.”Emm kalo mau nonton film nonton aja tuh,kemaren mas bram beli VCD baru,mbak mau bikin pisang goreng” katanya lagi. “Wah boleh lah” kataku.aku mulai buka buka tumpukan VCD dari raknya.tiba2 kuliat ada seuah VCD bokep,ah cobain lah,tapi volumenya sengaja saya kecilin biar mbak lia gak denger pikirku.akupun mulai terlarut dengan film itu,adeganya mulai bikin kontolku mengeras.mataku tak berkedip sekalipun,tiba-tiba mbak lia mengagetkanku dari belakang,”Suka film Itu ya dik?” “Eh mbmbak..” mukaku jadi merah alasannya aib campur kaget,buru buru ku ambil remote,tapi mbak lia segera menimpali,”Gak apa-apa, lanjutin aja” Mbak juga pengin nonton kok” katanya,akupun gak mampu berbuat apa-apa.
kesannya kami nonton berdua,tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku walaupun mbak lia duduk stau sofa denganku,tak terasa kontolku mulai menegang lagi dan semakin tak tertahankan,bikin saya makin gelisah.Diam-diam mbak lia melirik ke arahku,aku akal-akalan terus liat film itu.Tapi sesekali saya lirik beliau juga nampak gelisah,dadaku makin berdegup tak karuan.
“Dik Edo dah pernah?” tiba-tiba bunyi mbak ani memecahkan suasana.”Emm..”sebelum saya menjawab tiba-tiba mbak lia menggapai tanganku,sambil berkata”Dik saya horny..”di bawanya tanganku ke arah payudaranya yang besar dan semok itu.akupun tak mampu berbuat apa-apa,semenara batang kontolku semakin keras saja.lalu beliau mulai menciumku,nafasnya terasa tersengal-sengal.akupun jadi makin bernafsu,akhirnya ku kulum juga bibirnya yang sensual ibarat bibirnya sarah ashari itu,ooohh nikmat sekali bibir mbak lia.tangankupun mulai lihai,kubuka branya dan kuremas-remas payudaranya yang semok dan kenyal itu.ciumankupun kulanjutkan kelehernya yang jenjang dan mulus kolam porselin,terus turun hingga ke punting,,wooow…rasanya tak dapat kulukiskan dengan kata-kata lagi.mbak liapun jadi tambah belingsatan, oh…dik….teru…s,….ough…yah., dan tangannya mulai turun menjamah batang kontolku yang sudah sangat tegang,dibukanya reslitingku,dan segera tugu pancoranku kluar menghadap lagit-langit dengan gagahnya,”oh dik …besar banget punyamu,” katanya,sambil serta merta penundukkan kepalanya…di emutnya kontolku mulai dari ujung,,ogh,,,…mmbba,,,k,..ennna,,,kk,diapun terus mengocok kontolku kedalam rongga mulutnya ooohh..uhgg,akupun makin tak tahan,terasa ada sesuatu yang mau mengalir deras dari jalan masuk kencingku,tapi berusaha saya tahan.mmb,,,ak..aku gak taha.n,,buru-buru beliau sudahi kocokanya,dan beliau mulai lucuti semua pakaianya yang tersisa.akupun tak tinggal diam. segera ku buka T shirt dan jeans ku,hingga kami sama sama telanjang bulat.aku masih dalam posisi duduk menghadap TV,lalu mbak lia ambil posisi duduk di atas pangkuanku membelakangiku,sementara batang kontolku yang sudah sangat keras dan mengkilat alasannya ludah mbak lia sudah tak tabah menunggu.di pegangnya kontolku lalu di bimbingnya masuk ke liang veginanya…ogh,,,rasanya,,benar-benar niknmat di jepit vagina mbak lia yang lembut dan masih rapat itu,ugh….tanganku yang satu masih meremas-remas payudaranya sementara tangan yang lain meraba-raba ke kawasan klitorisnya,,,ohh…ughh…diapun mulai melakukukan gerakan naik turun,,ooooohh…mba,,,k enakkk bange..t…iyaa..h dikk…mbak …jjjuugaa.
ouu..sesekali beliau memekik. mmmbak…aku dah gak tahhan…kataku..,kataku. lalu beliau bangun sehingga kontolku lepas dari vaginanya,dia ambil posisi tidur di sofa sambil membuka selangkangnya..sekarang nampak terang olehku vagina yang cantik kemerahan dan sudah sangat basah,diatasnya ditumbuhi bulu-bulu hitam yang halus,segara kuhampiri apa yang ada di hadapanku,kujilati bibir-bibirnya ooohh..enak banget…dan wanginya khas ..tak ibarat yang kubanyangkan sebelumnya. diapun semakin belingsatan sambil tanganya meremas-remas apa yang ada,ooh dik,,,enak bange,,.dikk saya juga sudah,,gak taha,,,n,,keringatnya semakin deras membasahi sekujur tubuhnya,’masukinnn aja ..sekara,,ng..ouuugh…,segera saya ambil posisi di aasnya,lalu kakinya kuangkat ke pundakku,dan pelan- pelan kumasukkan kontolku ke lobang memeknya….oohh..yeaah,..benar-benar sensasi luar biasa yang belom pernah saya rasakan seumur hidup,lalu segera saya kocokkan kontolku hingga amblas hingga ke pangkal,dan kocokanku semakin cepat,,,membua pedoman darah yang mengalir ketubuhku pun semakin deras,heringat pun mengucur membasahi tubuh kami berdua,,oooohhh,, uuugh,,,,ooogh…yyyea…yeaaahh.,,ayo,,,,dikkk,,, terusss…….ohhhg.
saya dah mau klu,,ar mbakk,,,,.iiiiiyyyaahh…iyyyaah..aku juga..dddiik..
oooogh….yeah…,dan kurasakan ada pedoman deras yang sudah tak besar lengan berkuasa lagi saya bendung hingga ke ujung kontolku…,lalu segera kubenamkan dalam-dalam kontolku kedalam vagina mbak lia,terasa badanku gemetar hingga ke ubun ubun,seiring menyemburnya semua isi yang membara dalam birahiku….ooouuh,bersamaan dengan itu kurasakan juga kaki-kaki mbak lia juga gemetar dan menjepit erat ke pinggangku sambil tanganya menjambak rambutku…ooooghh…dikkk,,en…aaaaak,,,
kamu….hebbaatt katanya sambil sekali lagi mencium bibirku.
Kamipun terkulai lemas sementara kontolku masih ku biarkan menikmati hangatnya liang vaginanya yang sudah sangat becek oleh spermaku dan cairan vaginanya..