Cerita Sex Dewasa – Binalnya Tante Sonya

Cerita Sex Dewasa – Binalnya Tante Sonya – Namaku Ryan kini mahasiswa tingkat final sebuah perguruan tinggi tinggi negeri di Surabaya. Kejadian ini merupakan peristiwa beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya berusia 18 tahun. Masih tergolong ABG. Suka hidup bebas. Do what I want! Hidup cuma sekali, buat apa bersedih. Itulah sebabnya, saya suka keluyuran dari kota ke kota sekadar cari pengalaman.

Setelah Ujian Akhir Semester (UAS), saya pribadi pergi ke kota Bandung untuk berlibur. Sebelumnya saya memang belum pernah menginjakkan kaki di Kota Kembang tersebut. Aku juga ingin mencicipi indahnya Kota Kembang. Itulah sebabnya saya nekat pergi ke Bandung sendirian. Yang penting membawa uang banyak. Meskipun begitu, soal uang saya tidak terlalu foya-foya. Bahkan selalu berusaha untuk berhemat. Tapi kalau untuk urusan cewek, mungkin lain urusannya.

Aku menginap di hotel murah, Hotel Melati II, di Sekitar Alun-alun kota Bandung. Murah tapi bersih. Meskipun demikian kalau malam cukup berisik. Aku sudah telusuri tempat-tempat gituan, antara lain di Saritem dan Stasiun. Tapi WTS-nya tidak ada yang menarik perhatianku. Lalu, saya pergi makan di Mc Donal BIP. Eh, ketika sedang asyik-asyiknya makan, tiba-tiba pandanganku bertatapan dengan seorang wanita setengah baya. Setelah kuperhatikan, ya ampun ternyata Tante Sonya. Mungkin sudah sepuluh tahun saya tidak pernah ketemu. Waktu itu saya masih kecil.
“Apa kabar, Tante!”, sapaku sambil mendekat.
Akhirnya saya makan semeja dengan Tante Sonya yang kebetulan juga sedang sendiri. Tante Sonya hampir lupa melihatku.
“Maklum, kau sekarang sudah besar”, kata Tante Sonya.
Begitu tante tahu saya menginap di hotel, pribadi saja ditawari menginap di rumahnya. Katanya di rumahnya tidak ada orang, kedua anaknya sedang studi di Perancis dan Jerman.

Yah, kupikir-pikir saya mampu menghemat uang. Aku tentu saja menyetujui ajakannya. Hari itu juga saya pribadi pindah ke rumah Tante Sonya. Aku diberi sebuah kamar depan. Cukup bersih dan mewah. Rumahnya di daerah Dago Atas. Sebenarnya Tante tinggal bersama Om, tetapi Om sedang berada di negeri Paman Sam untuk mengambil gelar Doctor di Universitas Harvard. Maklum Om-ku dosen salah satu perguruan tinggi tinggi swasta di Bandung dan Jakarta. Malam itu saya tidur sangat lelap sekali. Maklum capek!

Hari kedua saya gres tahu, ternyata paviliun sebelah digunakan untuk terima kost, dua orang mahasiswa, yang satu mahasiswa fakultas teknik namanya Mas Ary sedangkan yang satunya mahasiswa fakultas ekonomi, namanya Mas Yudi. Kata tante, lumayan buat tambah-tambah uang belanja. Tante ternyata juga pembantu wanita, Teh (Teh atau Teteh bahasa Sunda untuk Mbak) Mimin namanya. Wah, ya cukup banyak orang.

Siang harinya tidak ada kejadian yang menarik. Sepulang dari Maribaya dan Tangkuban Parahu terus tidur hingga sore. Setelah makan malam terus ke kamar tidur nonton TV sambil tidur-tiduran. Tidak terasa, jam di dinding telah menunjukkan pukul 24.00. Akhirnya TV kumatikan. Lampu kamar yang terang benderang kumatikan dan kuganti lampu tidur lima watt warna biru. Sepi sekali suasananya.

Namun, di tengah suasana yang sepi itu, kok saya rasa-rasanya mendengar ada orang bicara bisik-bisik? Mungkinkah pencuri? Karena penasaran, saya bangun pelan-pelan. Aku mengintip keluar melalui jendela, ternyata tidak ada siapa-siapa.
Ah, kok sepertinya dari kamar tante. Akupun mengambil kursi dan kuletakkan di erat tembok. Di atas tembok ada lubang angin-angin kecil sekali, itupun tertutup karton. Karena penasaran, saya mengambil jarum dan membuat lubang kecil di karton itu. Setelah lubangnya lumayan, saya coba mengintip.

“Wow.., malam-malam begini mau ngapain tuh Mas Ary, si anak kost?”, pikirku sambil memperhatikan. Tante dan Mas Ary tampak duduk berdua di tempat tidur. Walaupun kamar Tante Sonya memakai lampu lima watt, namun mataku masih sanggup melihat dengan jelas.
Uh, mau ngapain Mas Ary?, Kulihat sebentar-sebentar mencium pipi Tante Sonya, kulihat Tante Sonya tersenyum. Dan kemudian dengan tenangnya Mas Ary mulai membuka baju Tante Sonya dan tinggal mengenakan BH.

Kuakui, tanteku memang masih tergolong muda, belum berusia 40 tahun. Tubuhnya montok, kulitnya putih, wajahnya menyerupai Dessy Ratnasari. Rambutnya pendek model Lady Diana, tubuhnya langsing. Tak lama kemudian Mas Ary melepas BH tanteku.
Duh.., ternyata bahenol sekali. Diam-diam saya mulai terangsang. Burungku mulai membesar. Aku tetap berdiri ddengan hening di atas kursi.

Berikutnya kulihat Tante Sonya ganti melepaskan baju Mas Ary. Satu persatu kancing bajunya dilepas, karenanya bajunya dilempar ke lantai. Boleh juga tubuh Mas Ary, tegap dan atletis. Wow.., mereka kemudian saling cium bibir. Saling mengelus punggung. Sebentar-sebentar tangan Mas Ary meremas-remas payudara Tante Sonya. Beberapa menit kemudian kulihat Mas Ary membuka ritsluiting rok yang dipakai tanteku, kemudian dilepasnya rok itu sehingga tanteku cuma memakai celana dalam saja. Adegan berikut tanteku ganti membuka kancing celana Mas Ary, dilepasnya satu persatu, kemudian ditariknya sehingga lepas dan tinggal celana dalamnya saja.

Lagi-lagi keduanya berpelukan lagi dan berciuman mesra sekali. Kemudian Mas Ary mencium leher Tanteku, lalu payudaranya, lalu perutnya, lalu pahanya. Dan kemudian tangannya memelorotkan celana dalam Tanteku. Lepas!, Kemudian diletakkan di kursi. Tahap berikutnya Mas Ary membuka sendiri celana dalamnya. Kulihat penis Mas Ary besar dan panjang menyerupai punyanya orang Arab. Jantungku berdetak keras sekali. Bahkan penisku ikut-ikutan menjadi keras. Apalagi melihat keduanya kemudian sama-sama dalam posisi berdiri, saling berpelukan, lagi-lagi saling berciuman.

Sekitar tiga menit kemudian dengan posisi berdiri, Mas Ary memasukkan ujung penisnya ke lubang kemaluan tanteku. Sesudah itu mereka berpelukan rapat sekali sambil menggoyang-goyang pinggul masing-masing. Cukup lama. Akhirnya kulihat mereka berdua sudah saling orgasme. Hal ini terlihat karena mereka membuat gerakan yang cukup bergairah sekali. Walaupun samar-samar, kudengar bunyi uh.., uh.., uh.., dari lisan Tante Sonya. Sialnya, tak terasa akupun mengalami orgasme, celana dalamku menjadi basah, apa boleh buat.

Adegan berikutnya dilakukan menyerupai biasa, ialah tante berada di tempat tidur dengan posisi di bawah dan Mas Ary di atas. Apa yang kulihat memang benar-benar mengasyikkan. Maklum, gres sekali itu saya melihat dengan mata kepala sendiri pecahan seks yang dilakukan orang lain.

Esok harinya saya bersikap biasa-biasa saja seakan-akan tidak ada kejadian apa-apa. Kulihat Tante juga bersikap biasa-biasa saja. Makan pagi bersama. Sesudah itu saya pergi ke Pangalengan sekedar rekreasi.

Sore harinya saya sudah hingga di rumah lagi. Seperti kemarin, sore-sore pembantu tante menyediakan teh manis dan roti. Kulihat, pembantu Tante Sonya yang namanya Teh Mimin ini tergolong seksi juga. Umurnya kira-kira sama dengan umurku, ialah sekitar 19 tahun. Terus terang, nafsuku jadi bangun melihat buah dadanya yang bahenol itu. Kata tanteku Teh Mimin sudah punya anak, tapi ditinggal di desanya, dirawat neneknya. Tiap hari Kamis pasti pulang ke kampung untuk menengok anaknya.

Malamnya saya tidak mampu tidur. Sebentar-sebentar saya mengintip kamar tanteku. Namun hingga pukul 24.00 ternyata tidak ada kejadian apa-apa. Akhirnya saya tidur pulas.

Sekitar pukul 10:15 saya menuju ke terminal Ledeng. Aku kepingin melihat obyek pariwisata Ciater. Eh.., ternyata saya ketemu Teh Mimin.
“Mau kemana Teh”, tanyaku.
“Ke Subang.., nengok anak Mas..”.
“Wah, sama-sama aja, deh..”, ajakku.
Ternyata ya lancar-lancar saja. Aku duduk berdua dengan Teh Mimin. Akhirnya saya mencari-cari alasan untuk ditemani di Ciater, soalnya saya belum hafal kota Bandung. Karena hari masih siang, karenanya mau juga Teh Mimin menemani aku. Walaupun gadis desa, tapi Teh Mimin sempat mengecap kursi SLTP hingga lulus. Cara berpakaiannya pun tergolong rapi menyerupai pelajar-pelajar pada umumnya.

Sampai di Ciater saya menyewa salah satu bungalow dengan alasan ingin istirahat. Kebetulan rumah Teh Mimin tidak begitu jauh dari bungalow tempatku istirahat. Aku cari-cari alasan lagi. Aku bilang, di Ciater tidak ada yang jualan nasi goreng, kalau tidak keberatan saya minta Teh Mimin nanti malam mengantarkan nasi goreng. Ternyata Teh Mimin tak keberatan. Ya begitulah, tanpa rasa curiga sedikitpun, sekitar pukul 19.00 Teh Mimin telah berada di bungalowku mengantarkan nasi goreng. Kuajak ngobrol ngalor-ngidul perihal apa saja.

Akhirnya obrolanku agak nyenggol-nyenggol dikit perihal seks. Teh Mimin bilang sudah lama tidak melakukannya karena suaminya sudah tiga bulan ini impoten akhir kecelakaan sepeda motor. “Nah.., ini beliau yang kucari”, pikirku.
Sengaja memang saya ngobrol terus sehingga tanpa terasa telah pukul 21.30. Ketika Teh Mimin pamit pulang, akupun bilang, lebih baik jangan pulang karena malam-malam begini banyak orang iseng atau orang jahat.
“Tidur aja di sini Teh, kan ada dua kamar. Teh Mimin di kamar sebelah, saya di sini”, kataku.
Setelah kubujuk habis-habisan karenanya Teh Mimin mau juga tinggal di kamar sebelah.

Kira-kira pukul 24.00 saya mengendap-endap berjalan pelan menuju ke kamar Teh Mimin.
“Kok, belum tidur?”, tanyaku pelan sambil menutup pintu.
“Dingin Mas udara Ciater”, katanya sambil tetap telentang di tempat tidur sambil memegangi selimut yang menutupi tubuhnya.
“Aku juga kedinginan”, kataku.
Entahlah, sepertinya sudah saling membutuhkan. Ketika saya merebahkan tubuhku di sampingnya, Teh Mimin membisu saja. Akupun menarik selimutnya sehingga kami berdua berada di dalam satu selimut. Untuk menghilangkan rasa hambar kupeluk Teh Mimin. Ternyata membisu saja. Begitu juga ketika kuraba-raba payudaranya yang bahenol ternyata juga membisu saja.

Akhirnya dengan mudah saya mampu melepaskan baju, BH, rok dan celana dalamnya. Hanya dalam waktu beberapa detik saja kami berdua sudah dalam keadaan bugil tanpa sehelai benangpun. Meskipun demikian kami masih di dalam satu selimut. Begitulah, tanpa hambatan, malam itu saya dengan mudah mampu menyetubuhi Teh Mimin hingga dua kali. Tampaknya Teh Mimin mengalami orgasme hingga dua kali.
“Terima kasih Mas, Sudah lama saya nggak mencicipi yang begini-begini.., Suamiku sudah nggak sanggup lagi”, bisiknya sambil mencium bibirku.

Esok pagi subuh, Teh Mimin kembali pulang ke rumahnya. Sedangkan saya kembali ke Bandung agak sorenya. Maklum saya masih ingin menikmati pemandangan sekitar perkebunan teh di Ciater.

Sore harinya saya hingga di Bandung dan sikapku biasa-biasa saja terhadap Teh Mimin, seakan-akan tidak ada kejadian apa-apa. Lagipula saya juga pesan biar Teh Mimin tidak usah dongeng kepada siapa-siapa. nggak enak kalau hingga Tante Sonya tahu. Begitulah. Tak terasa malam telah tiba lagi dan waktu tidurpun telah menyongsong.

Pukul 24.00, Seperti biasa lampu kamar kumatikan dan kugantikan lampu tidur lima watt. Eh.., lagi-lagi saya mendengar orang bisik-bisik. Pasti di kamar Tante Sonya. Akupun dengan pelan-pelan mengambil kursi dan mulai mengintip dari lubang kecil yang kemarin kubuat. Kali itu saya agak terkejut. Ternyata kali itu bukan Mas Ary, tetapi Mas Budi. Wah, Tanteku ternyata tergolong hyperseks. Malam itu menyerupai kemarin-kemarin juga. Mas Budi kulihat menyetubuhi tanteku dengan aneka macam posisi. Bahkan sempat kulihat Tante Sonya berada di posisi atas. Gila!, lagi-lagi saya mengalami orgasme sendirian. “Creet.., creet.., cret”, celana dalamku berair lagi. Terpaksa saya harus ganti celana dalam. Dalam hati, belakang layar saya membayangkan betapa nikmatnya kalau saya mampu menyetubuhi tanteku sendiri. Memang ini merupakan penyimpangan. Tapi, ya apa salahnya, toh tanteku mau dengan Mas Ary dan Mas Budi. Tapi apa mau dengan aku? Semalaman saya tidak mampu tidur karena mencari taktik supaya saya mampu meniduri Tante Sonya.

Apa yang pernah dikatakan Teh Mimin di Ciater memang benar. Tiap hari Sabtu Mas Ary dan Mas Budi pulang ke Jakarta. Sehingga hari Sabtu itu cuma ada aku, Teh Mimin dan Tante Sonya. Aku pusing setengah mati mencari taktik untuk merayu Tante Sonya, namun belum ketemu-ketemu juga jalan keluarnya. Namun, karenanya saya punya ide.

“Tante suka nonton?, Kebetulan hari ini hari ulang tahun Ryan”, kataku di pintu kamarnya Tante Sonya. Tante waktu itu sedang merapikan rambutnya di depan kaca.
“Ah.., Tante nggak tahu kalau kau ulang tahun. Selamat Ya”, ujar Tante sambil menuju ke tempatku. Dijabatnya tanganku, “Happy Birthday, mau traktir Tante, nih..”.
“Ya, kalau Tante nggak keberatan”, ujarku penuh harap.
Ternyata pancinganku berhasil. Malam itu saya nonton bioskop yang pukul 21.00, soalnya mau nonton yang pukul 19.00 sudah ketinggalan karena jam telah menunjukkan pukul 20.00.

Pulang nonton sekitar pukul 23.00 Sampai di rumah, Tante Sonya nggak mampu masuk ke kamarnya.
“Aduh, tadi saya taruh di mana ya kunci kamarku?”, kata Tante sambil mondar-mandir.
“Waduh, nggak tahu Tante. Tadi ditaruh di mana?”, jawabku bohong. Padahal, sebelum berangkat, pada waktu Tante Sonya ke kamar mandi sebentar, kunci kamar yang digelatakkan di erat meja telepon sempat kusembunyikan di bawah kursi.
Akupun akal-akalan membantunya mencari. Sekitar setengah jam nggak ketemu, karenanya saya bilang, “Tidur aja di kamar Ryan, Tante. Biar Ryan tidur di kursi tamu saja..”.
Mungkin karena sudah capek, karenanya Tante Sonya tidak punya pilihan lain, karenanya tidur di kamarku dan saya tidur di kursi tamu. Namun sekitar setengah jam, saya masuk ke kamar.

“Di luar hambar Tante, boleh tidur di sini saja? Nggak apa-apa khan?”, tanyaku.
“Oo, silakan..”, jawab Tante.
Akupun merebahkan tubuhku di samping tubuh Tante Sonya. Jantungku berdetak keras, otakku terus mencari taktik berikut .Gimana nih cara memulainya? Susah juga!
“Aduh, Tante kalau tidur kok membelakangi saya”, kataku pelan.
“Oh ya, maaf.Kebiasaan sih..”, Tanteku membalikkan badannya, miring menghadap ke arahku.
Seolah-olah tidak sengaja, tanganku menyenggol payudara Tante.
“Maaf Tante, nggak sengaja..”.
“Ah.., nggak apa-apa”.
“Maaf Tante, payudara Tante cantik sekali”, pancingku.
Kulihat Tanteku membuka matanya dan tersenyum.
“Boleh saya memegangnya Tante?”, bisikku, “Soalnya seumur hidup saya belum pernah melihat payudara seindah ini”, rayuku.
“Ah, boleh-boleh saja..”.

Akupun dengan tangan gemetaran memegang payudara tanteku.
“Aduh, tangan saya gemetaran Tante. Maklum, belum pernah”, pancingku lagi. Makin lama saya makin berani. Tanganku menyusup ke BH-nya.
“Boleh saya buka BH-nya Tante?”, tanyaku penuh harap setengah berbisik.
Tak ada jawaban. Akupun memberanikan diri melepas kancing baju Tanteku satu persatu dan karenanya saya berhasil melepas BH Tanteku dengan mudah. Tampaklah payudara yang bahenol padat berisi. Akupun meremas-remasnya. Lama kelamaan, tampaknya tanteku mulai terangsang, nafasnya panjang-panjang. Diciumnya keningku, pipiku lantas bibirku. Kulihat Tante mulai membuka kancing bajuku satu persatu dan karenanya saya tanpa baju.

“Tante, saya belum pernah..”, bisikku pelan. Tentu saja saya berbohong.
“Nggak apa-apa, nanti Tante ajarin..”.
Begitulah, beberapa menit kemudian Tanteku melepas celanaku dan karenanya celana dalamku. Begitu juga, Tante melepas sendiri rok dan celana dalamnya. Kami berdua sudah dalam keadaan telanjang bulat.
“Tante, saya belum bisa..”, saya berbohong lagi.
“Nanti Tante ajarin..”, bisiknya.
Begitulah, karenanya keinginanku untuk menggeluti Tante Sonya telah berhasil. Malam itu saya bermain hingga mengalami orgasme dua kali. Demikian juga, Tante Sonya juga dua kali mengalami orgasme.
“Ah, Ryan!, Kamu telah membohongi Tante! Ternyata kau jagoan! Tante puas..!”, bisik Tanteku sambil menuju ke kamar mandi. Malam itu saya dan Tante tidur berdua telanjang bundar di bawah satu selimut hingga pagi hari.

Hari Minggu ini sepi. Mas Ary dan Mas Budi belum pulang. Kata tante, mereka berdua biasanya pulang ke tempat kost hari Senin pagi. Yang ada cuma Teh Mimin, sementara itu tiap Minggu pagi Tante mengikuti senam aerobik dan disambung arisan RT/RW. Katanya, Tante akan pulang agak sore. Ya, daripada nggak ada acara, karenanya saya menuju ke dapur. Kulihat Teh Mimin sedang mempersiapkan makan siang. Kulihat Teh Mimin tersenyum penuh arti. Tanpa basa-basi, kupeluk Teh Mimin dan kutarik ke kamarnya. Begitulah, tanpa halangan yang berarti, saya dan Teh Mimin hari itu bersuka cita menikmati hari Minggu yang sepi. Di kamar Teh Mimin yang ukurannya kecil itu, di tempat tidur tanpa kasur, untuk yang kedua kalinya saya menggeluti Teh Mimin. Lagi-lagi Teh Mimin mengucapkan terima kasih karena saya telah berkali-kali menawarkan kepuasan batin yang selama beberapa bulan ini tidak pernah dilakukan suaminya.

Malam harinya, Tante Sonya mendatangi kamarku dan mengajak begituan lagi. Ya, kapan lagi. Tanteku tergolong masih muda, cantik, seksi. Kami berdua benar-benar memperoleh kepuasan lahir dan batin.

Sumber: #ixzz2TXhxpRSH

Cerita Sex Dewasa | Ngeseks di Dalam Kelas

Cerita Sex Dewasa | Ngeseks di Dalam Kelas – Setelah kami berkenalan, lalu kami berbicara sebentar di kantin SMA . Setelah tidak berapa lama, tiba-tiba ia berbisik di pendengaran saya, katanya, “Kamu indah sekali deh Shinta..”, sambil matanya tertuju pada belahan dada saya. Muka saya eksklusif merah, kaget dan dadaku berdetak kencang. Tiba-tiba terdengar bunyi “Pritt…!”, tanda bahwa babak ke-2 akan dimulai, saya eksklusif mengajaknya balik ke lapangan.
Dalam perjalanan ke lapangan, kami melewati kelas-kelas kosong. Tiba-tiba ia menarik tanganku masuk ke dalam kelas 3 Fis 1, lalu ia eksklusif menutup pintu. Saya eksklusif bertanya padanya, ” Ada apa Indra…, babak ke-2 sudah mau mulai nih…, kau tidak takut dicariin pelatih kamu?”.
Dia tidak membalas pertanyaanku, melainkan eksklusif memelukku dari belakang, dan ia berbisik lagi padaku, “Badan kau bagus sekali ya Shin..”.
Saya tidak mampu berbuat apa-apa selain berbalik tubuh dan menatap matanya serta tersenyum padanya.
Dia eksklusif mencium bibirku dan saya yang belum pernah berciuman dengan cowok, tidak mampu berbuat apa-apa selain membiarkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Setelah kira-kira 5 menit bercumbu, mulai tangannya meraba dan meremas dadaku. Saya pasrah saja padanya, alasannya yaitu terus terang saya belum pernah mencicipi kenikmatan menyerupai ini. Tangannya masuk ke dalam baju cheers no.3-ku, dan mulai memainkan puting payudaraku, lalu ia menyingkapkan bajuku dan melepaskan rokku hingga saya tinggal mengenakan BH dan celana dalam saja.
Lalu ia membuka baju basket dan celananya, sehingga ia hanya mengenakan celana dalam saja. Tampak terang di depanku bahwa “penis”-nya sudah tegang di balik celana dalamnya. Ia memegang tanganku dan menuntun tanganku ke dalam celana dalamnya. Saya mencicipi “penis”-nya yang besar dan tegang itu dan ia memintaku untuk meremas-remas penisnya. Ia memaksaku untuk membuka celana dalamnya, setelah saya membuka celana dalamnya, tampak terang penisnya yang sudah ereksi. Besar juga pikirku, hampir sejengkal tanganku kira-kira panjangnya.
Baru kali ini saya melihat kemaluan pemuda secara langsung, biasanya saya hanya melihat dari film biru saja jikalau saya diajak nonton oleh teman-teman dekatku. Ketika saya masih terpana melihat penisnya, ia melepas BH dan celana dalamku, tentu saja dengan sedikit bantuanku. Setelah ia menyingkirkan pakaian dalamku, badannya yang tinggi dan atletis layaknya sebagai seorang pemain basket itu, menindih badanku di atas meja kelas dan ia mulai menjilati puting payudaraku hingga saya benar-benar menggeliat keenakan, kurasakan berair pada bibir kemaluanku, saya gres tahu bahwa inilah yang akan terjadi padaku jikalau saya benar-benar terangsang.
Lalu tangannya yang kekar itu mulai meraba bibir kemaluanku dan mulai memainkan clitorisku sambil sesekali mencubitnya. Saya yang benar-benar terangsang tidak mampu berbuat apa-apa selain mendesah dan menggeliat di atas meja. Cukup lama ia memainkan tangannya di kemaluanku, lalu ia mulai menjilati bibir episode bawah kemaluanku dengan nafsunya, tangan kanannya masih memainkan clitorisku. Tidak lama saya bertahan pada permainannya itu, kira-kira 5 menit kemudian, saya mencicipi darahku naik ke ubun-ubun dan saya mencicipi sesuatu kenikmatan yang sangat luar biasa, badanku meregang dan saya mencicipi cairan hangat mengalir dari liang kemaluanku, Indra tanpa ragu menjilati cairan yang keluar sedikit demi sedikit itu dengan nafsunya hingga hanya air liurnya saja yang membasahi kemaluanku. Badanku terasa lemas sekali, lalu Indra duduk di pinggir meja dan memandangi wajahku yang sudah berair bermandikan keringat.
Ia berkata padaku sambil tersenyum, “Kamu kelihatan capek banget ya Shin…”. Saya hanya tersenyum.
Dia mengambil baju basketnya dan mengelap cucuran keringat pada wajahku, saya benar-benar kagum padanya, “Baik banget nih cowo”, pikirku. Seperti sudah mengerti, saya jongkok di hadapannya, lalu mulai mengelus-ngelus penisnya, sambil sesekali menjilati dan menciuminya, saya juga tidak tahu bagaimana saya mampu bereaksi menyerupai itu, yang ada di pikiranku hanya membalas perbuatannya padaku, dan cara yang kulakukan ini pernah kulihat dari salah satu film yang pernah kutonton.
Indra hanya meregangkan badannya ke belakang sambil mengeluarkan suara-suara yang malah makin membuatku ingin memasukkan penisnya ke dalam mulutku, tidak berapa lama kemudian saya memegang pangkal kemaluannya itu dan mulai mengarahkannya masuk ke dalam mulutku, terasa benar ujung penisnya itu menyentuh dinding tenggorokanku ketika hampir semua episode batang kemaluannya masuk ke dalam mulutku, lalu saya mulai memainkan penisnya di dalam mulutku, terasa benar kemaluanku mulai mengeluarkan cairan berair lagi, tanda jikalau saya sudah benar-benar terangsang padanya.
Kira-kira 5 menit saya melaksanakan oral seks pada Indra, tiba-tiba tubuh Indra yang sudah berair dengan keringat itu mulai bergoyang-goyang keras sambil ia berkata, “aarghh…, Saya udah gak tahan lagi nih Shin…, Saya mau keluarr…”.
Saya yang tidak benar-benar memerhatikan omongannya itu masih saja terus memainkan penisnya, hingga kurasakan cairan hangat kental putih dan agak asin keluar dari lubang kemaluan Indra, saya eksklusif mengeluarkan penisnya itu dan menyerupai kesetanan, saya malah menelan cairan spermanya, dan malah menghisap penisnya hingga cairan spermanya benar-benar habis. Saya duduk sebentar di dingklik kelas, dan kuperhatikan Indra yang tiduran di meja sambil mencoba memelankan irama nafasnya yang terengah-engah.
Saya hanya tersenyum padanya, lalu Indra bangkit dan menghampiriku, Dia juga hanya tersenyum padaku. Cukup lama kami berpandangan dengan keadaan bugil dan berair berkeringat.
“Kamu indah dan baik banget Shin”, katanya tiba-tiba. Saya hanya tertawa kecil dan mulai mencium bibirnya. Indra membalas dengan nafsu sambil memasukkan tangannya ke dalam lubang kemaluanku. Cukup lama kami bercumbu, lalu ia berkata, “Shin…, boleh nggak Saya emm…, itumu…”.
“Itu apa Ndra?”, tanya saya.
“Itu…, masa kau gak tahu sih?”, balasnya lagi.
sebelun saya menjawab, saya mencicipi kepala batang kemaluannya sudah menyentuh bibir kemaluanku. “Crestt.., creest”, terasa ada yang robek dalam kemaluanku dan sedikit darah keluar.
Kemudian Indra berkata, “Shin kau ternyata masih perawan!”, saya hanya mampu tersenyum dan mencicipi sedikit perih di kemaluanku terasa agak serat waktu setengah kemaluannya masuk ke vaginaku. Digerak-gerakan perlahan batang kemaluannya yang besar tapi setelah agak lama entah mengapa rasa sakit itu hilang dan yang ada hanya ada rasa geli, nikmat dan nikmat ketika Indra menggoyangkan badannya maju mundur pelan-pelan saya tidak tahan lagi seraya mendesah kecil keenakan. Kemudian semakin cepat saja Indra memainkan jurusnya yang maju mundur sesekali menggoyangnya ke kiri ke kanan, dan dipuntir-puntir putingku yang pink yang semakin membuatku menggelepar-gelepar menyerupai ikan yang dilempar ke daratan.
Keringat sudah membasahi tubuh kita berdua. Saya sadari jikalau ketika itu tindakan kita berdua mampu saja dipergoki orang, tapi saya rasa kemungkinanya kecil alasannya yaitu kelas itu agak terpencil. “Ahh…, ahh…, ahh”, saya mendesah dengan bunyi kecil alasannya yaitu takut kedengaran orang lain. Kulihat wajah Indra yang menutup matanya dan terenggah-engah nafasnya.
Cukup lama juga Indra bermain denganku, memang benar kata orang jikalau atlet itu besar lengan berkuasa dalam bersenggama. “Ahh…, aww…, aww”, geli dalam lubang kemaluanku tidak tertahankan. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lain yang belum pernah kurasakan, cairan hangat kurasakan keluar dari dalam vaginaku.
Oh, itu mungkin yang kata orang orgasme pikirku. Badanku terasa rileks sekali dan mengejang. Mulutku ditutup oleh Indra mungkin ia takut jikalau saya mendesah terlalu keras. Meja kelas yang agak bau tanah itu bergoyang-goyang alasannya yaitu ulah kita berdua. Saya masih mencicipi bagaimana Indra berusaha untuk mencapai puncak orgasmenya, lalu ia duduk di dingklik dan menyuruhku untuk duduk di kemaluannya. Saya menurut saja dan pelan-pelan saya duduk di kemaluannya. Indra memegang pinggulku dan menaik-turunkan diriku. Saya belum pernah saya mencicipi kenikmatan yang menyerupai ini. Saya mendesah-desah dan Indra semakin semangat menaik-turunkan diriku. Lalu tubuh Indra mengejang dan berkata, “Shin saya mau keluarr”, sekarang malah giliranku yang semangat memacu gerakan tubuhku biar Indra mampu juga mencapai klimaksnya, tapi lama Indra mengeluarkan penisnya dan terdengar ia mendesah panjang, “Ahh Shin…, Saya keluar”. Kulihat air maninya berceceran di lantai dan sebagian ada yang di meja. Lalu kami berdua duduk lemas dengan saling berpandangan. Ia berkata, “Kamu nyesel yah Shin?”, saya menggeleng sambil berkata, “Nggak kok Ndra…, sekalian buat pengalaman bagiku.”
Saya teringat jikalau orang-orang di luar kelas sangat banyak yang menonton pertandingan, lalu saya buru-buru mengenakan pakaian dan menyuruh Indra juga untuk memasang pakaiannya. Sebelum keluar ia bertanya padaku, “Shin kapan kita mampu ‘begituan’ lagi?”, dan saya menjawab “Terserah kau Ndra”.
“Tapi nanti setelah pertandingan tamat kau tunggu Saya yah di pintu gerbang lalu nanti kita jalan jalan..”, Ia tersenyum dan mengangguk lalu kami berdua keluar kelas dan sengaja berpisah.

Cerita Sex Dewasa | Ngentot di Bioskop

Cerita Sex Dewasa | Ngentot di Bioskop – Pagi itu saya bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Akupun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku nggak mampu konsentrasi sedikitpun, yang saya pikirkan cuma Rani. Aku pulang kerumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika saya sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Rani keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk. “Dodi, kau ada program nggak? Temani saya nonton dong..” “Eh.. apa? Iya, iya saya nggak ada acara, sebentar yah saya ganti baju dulu” jawabku, dan saya buru- buru ganti baju dengan jantung berdebaran. Setelah siap, akupun segera mengajaknya berangkat. Rani menyarankan biar kami pergi dengan mobilnya. Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Rani duduk di sebelahku, saya gres sadar jikalau ia memakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku nggak mampu lepas melirik kepahanya. Sesampainya dibioskop, saya beranikan memeluk pinggangnya, dan Rani tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket saya peluk ia dari belakang. Aku tahu Rani merasa penisku sudah tegang alasannya yaitu menempel di pantatnya. Rani meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan daerah duduk paling belakang, dan ternyata yang nonton nggak begitu banyak, dan disekeliling kita tidak ditempati. Kita segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah berair dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, saya sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian saya dekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang- kadang lidahku digigitnya lembut. Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan alasannya yaitu tidak sabar, eksklusif saja saya selinapkan ke balik BH-nya, dan payudaranya yang sebelah kiri saya remas dengan gemas. Mulutku eksklusif diisap dengan besar lengan berkuasa oleh Rani. Tangankupun semakin gemas meremas payudaranyanya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Rani mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu. Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap- usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya saya singkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, saya mampu melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku hingga di selangkangannya, lisan Rani berpindah menciumi telingaku hingga saya terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah. Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Aku elus- elus, pelan-pelan, saya usap dengan penuh perasaan, kemudian saya putar-putar, makin lama makin cepat, dan makin lama makin cepat. Tiba- tiba tangannya mencengkeram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badanya tersentak- sentak beberapa saat. “Dodi.. aduuhh.., saya nggak tahan sekali.., berhenti dulu yaahh.., nanti dirumah ajaa..”, rintihnya. Akupun segera mencabut tanganku dari selangkangannya. “Dodi.., sekarang saya mainin punya kau yaahh..”, katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol. Aku bantu ia dengan saya buka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika balasannya menggenggam penisku, saya merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak. “Dodi.., ini sudah basah.., cairannya licin..”, rintihnya dikupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan. Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya. “Rani.., teruskan sayang..”, kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa penisku sudah keras sekali. Rani meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku gundah sekal i alasannya yaitu takut jikalau hingga keluar bakal muncrat kemana-mana. “Rani.., saya hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..”, kataku dengan bunyi yang nggak yakin, alasannya yaitu masih keenakan. “Waahh.., Rani belum mau berhenti.., punya kau ini bikin saya gemes..”, rengeknya “Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..?!” ajakku, dan ketika Rani mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Rani, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai. Di kendaraan beroda empat tangan Rani kembali mengusap-usap celanaku. Dan saya membisu saja ketika ia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika ia bilang, “Nanti saya boleh nyium itunya yah..”. Aku pengin segera hingga ke rumah. Dan, balasannya hingga juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Rani membuka pintu rumah, ia kupeluk dari belakang, dan saya ciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Rani saya didik ke ruang keluarga. Sambil berdiri saya ciumi bibirnya, saya lumat habis mulutnya, dan ia membalas dengan sama gemasnya. Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, saya mulai meremasi payudaranya yang masih dibalut BH. Dengan tak tabah BH- nya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga saya turunkan dan semuanya teronggok di karpet. Badannya yang telanjang saya peluk erat- erat. Ini pertama kalinya saya memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini yaitu Rani yang sering saya impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku. Kemudian tangan Rani juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Rani melakukannya sambil memeluk badanku. penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya. uuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kami yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kami saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi payudaranya dengan bergantian. Tangan Rani juga sudah menggenggam dan mengelus penisku. Badan Rani bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas. Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Rani mulai merendahkan badannya, hingga balasannya ia berlutut dan mukanya sempurna didepan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulai didekatkan kekepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku hingga terdongak ketika balasannya bibirnya mengecup kepala penisku. Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan- pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan pengecap tetap memutari kepala penisku. Aku semakin mengerang, dan alasannya yaitu nggak tahan, saya dorong penisku hingga terbenam ke mulutnya. Aku rasa ujungnya hingga ke tenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju-mundurkan di dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang kala kepalanya saya tekan- tekan biar penisku semakin terasa nikmat. Isapan lisan dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuatku merasa sudah nggak tahan. Apalagi sewaktu Rani melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat. Ketika balasannya saya merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Rani menahannya dan tetap mengisap penisku. Maka akupun nggak mampu menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan ras a nikmat yang luar biasa. Spermaku eksklusif ditelannya dan ia terus mengisapi dan menyedot penisku hingga spermaku muncrat berkali-kali. Badanku hingga tersentak-sentak mencicipi kenikmatan yang tiada taranya. Meskipun spermaku sudah habis, lisan Rani masih terus menjilat. Akupun balasannya nggak besar lengan berkuasa lagi berdiri dan balasannya dengan nafas sama-sama tersengal- sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam. “Thanks ya Ran, tadi itu nikmat sekali”, kataku berbisik “Ah.., saya juga suka kok.., makasih juga kau ngebolehin saya mainin kamu..”. Kemudian ujung hidungnya saya kecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan saya ciumi lehernya, dan saya merasa nafsu kita mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi payudaranya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri. Rani mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat lisan dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan saya mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian kebawah lagi hingga mencicipi bulu jembutnya, saya elus dan saya garuk hingga mulutnya menciumi telingaku. Pahanya mulai saya renggangkan hingga agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi payudaranya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga. Cairan kenikmatannya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan kemaluannya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris serta liang kewanitaannya, membuat Rani semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya saya putar-putar terus, juga lisan kemaluannya bergantian. “Ahh.., Dodii.., aahh.., teruss.., aahh.., sayaangg..”, mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang- goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat. Akupun segera menurunkan kepalaku kearah selangkangannya, hingga balasannya mukaku sempurna di selangkangannya. Kedua kakinya saya lipat ke atas, saya pegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga liang kewanitaan dan clitorisnya terbuka di depan mukaku. Aku tidak tahan memandangi keindahan liang kewanitaannya. Lidahku eksklusif menjulur dan mengusap clitoris dan liang kewanitaannya. Cairan surganya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi bibir kemaluannya dengan ganas, dan lidahku saya selip- selipkan ke lubangnya, saya kait-kaitkan, saya gelitiki, terus begitu, hingga pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku hingga saya terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya saya putar dengan lidah, saya isap, saya sedot, hingga Rani meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut. “Dodii.., saya nggak tahan.., aduuhh.., aahh.., enaakk sekalii..”, rintihnya berulang-ulang. Mulutku sudah berlumuran cairan kewanitaannya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian saya lepaskan mulutku dari liang kewanitaannya. Sekarang giliran penisku saya usap-usapkan ke clitoris dan bibir kemaluannya, sambil saya duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya biar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan diliang senggamanya. Rani juga mencicipi hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut ngebantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya. “Ranii.., aahh.., enakk.., aahh..” “aahh.., iya.., eennaakk sekalii..”. Kita saling merintih. Kemudian alasannya yaitu penisku semakin gatal, saya mulai menggosokkan kepala penisku ke bibir kemaluannya. Rani semakin menggelinjang. Akhirnya saya mulai mendorong pelan hingga kepala penisku masuk ke liang senggamanya. “Aduuhh.. Dodii.., saakiitt.., aadduuhh.., jaangaann..”, rintihnya “Tahan dulu sebentar.., Nanti juga ilang sakitnya..”, kataku membujuk Kemudian pelan-pelan penisku saya keluarkan, kemudian saya tekan lagi, saya keluarkan lagi, saya tekan lagi, kemudian balasannya saya tekan lebih dalam hingga masuk hampir setengahnya. Mulut Rani hingga terbuka tapi sudah nggak mampu bersuara. Punggungnya terangkat dari karp et menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan saya keluarkan lagi, saya dorong lagi, saya keluarkan lagi, terus hingga ia damai lagi. Akhirnya ketika saya mendorong lagi kali ini saya dorong hingga amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama- sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka saya ciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga saya merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding kemaluannya. Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa ketika lamanya. Mulut kita saling mengisap dengan kuat. Kami sama-sama mencicipi keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka akupun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, makin cepat, makin cepat, dan goyangan pantat Rani juga semakin cepat. “Dodii.., aduuhh.., aahh.., teruskan sayang.., saya hampir niihh..”, rintihnya. “Iya.., nihh.., tahan dulu.., saya juga hampir.., kita bareng ajaa..”, kataku sambil terus menggerakkan penis makin cepat. Tanganku juga ikut meremasi susunya. Penisku makin keras kuhujam- hujamkan ke dalam liang surganya hingga pantatnya terangkat dari karpet. Dan saya merasa liang senggamanya juga menguruti penisku di dalam. penis kutarik dan tekan semakin cepat, semakin cepat.., dan semakin cepat..”. “Raanii.., saya mau keluar niihh..”. “Iyaa.., keluarin saja.., Rani juga keluar sekarang niihh”. Akupun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Rani yang terangkat ke atas hingga ujung penisku menumbuk dinding kemaluannya dengan keras. Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Liang kewanitaannya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami liang senggamanya. “aahh.., aahh.., aahh..”, kita sama-sama mengerang, dan liang kewanitaannya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan- nekan dan memutar sehingga penisku ibarat diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya nggak akan berakhir. Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan liang senggamanya masih berdenyut meremas- remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa bersisa sedikitpun. “aahh.., aahh.., aduuhh..”, kita sudah nggak mampu bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan. Ketika sudah mulai kendur, saya ciumi Rani dengan penis masih di dalam liang senggamanya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa ketika sambil saling membelai. Aku ciumi terus hingga balasannya saya menyadari jikalau Rani sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur. Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek oleh penisku. Dan ketika penisku saya cabut dari sela-sela liang kewanitaannya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kami terus saling membelai, dan Rani masih mengisak di dadaku, hingga balasannya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.

Cerita Sex Dewasa | Kisah Janda yang Haus Seks

Cerita Sex Dewasa | Kisah Janda yang Haus Seks – saya ingin sekali menceritakan pengalaman hidup masa laluku kepada anda semua, mungkin ada di antara anda yang dapat mengobati perasaanku ini. Tetapi tolong jangan terobsesi dengan ceritaku ini. Ceritaku ini berawal ketika di usiaku yang masih terbilang muda, 19 tahun, papaku waktu itu menjodohkan saya dengan seorang cowok yang usianya 10 tahun lebih bau tanah dari saya dan katanya masih ada kekerabatan saudara dengan keluarga mamaku.

Memang usiaku ketika itu sudah cukup untuk berumah tangga dan wajahku juga tergolong lumayan, walaupun badanku terlihat agak gemuk mungkin orang menyebutku bahenol, namun kulitku putih, tidak ibarat kebanyakan teman-temanku alasannya memang saya dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang berdarah Cina-Sunda, papaku Cina dan mamaku Sunda asli dari Bandung. Sehingga kadang banyak pemuda-pemuda iseng yang mencoba merayuku. Bahkan banyak di antara mereka yang bilang bahwa payudaraku besar dan padat berisi sehingga banyak laki-laki yang selalu memperhatikan buah dadaku ini saja. Apalagi jikalau saya memakai kaos yang agak ketat, pasti dadaku akan membumbung tinggi dan mancung. Tetapi hingga saya duduk di kelas 3 SMA saya masih belum memiliki pacar dan masih belum mengenal yang namanya cinta.

Sebenarnya dalam hatiku saya menolak untuk dijodohkan secepat ini, alasannya sesungguhnya saya sendiri masih ingin melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi tinggi. Namun apa daya saya sendiri tak dapat menentang impian papa dan lagi memang kondisi ekonomi keluarga ketika itu tidak memungkinkan untuk terus melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi tinggi. Karena ke-3 orang adikku yang semua laki-laki masih memerlukan biaya yang cukup besar untuk dapat terus bersekolah. Sementara papa hanya bekerja sebagai pegawai swasta biasa. Maka dengan banyak sekali bujukkan dari keluarga terutama mamaku saya menyerah demi membahagiakan kedua orangtuaku.

Begitulah hingga hari janji nikah tiba, tidak ada hal-hal serius yang menghalangi jalannya pernikahanku ini dengan cowok yang gres saya kenal kurang dari dua bulan sebelumnya. Selama proses perkenalan kamipun tidak ada sesuatu hal yang serius yang kami bicarakan perihal masa depan alasannya semua sudah diatur sebelumnya oleh keluarga kedua belah pihak. Maka masa-masa perkenalan kami yang sangat singkat itu hanya diisi dengan kunjungan-kunjungan rutin calon suamiku setiap malam minggu. Itupun paling hanya satu atau dua jam saja dan biasanya saya ditemani papa atau mama mengobrol mengenai keadaan keluarganya. Setelah program resepsi janji nikah selesai ibarat biasanya kedua pengantin yang berbahagia memasuki kamar pengantin untuk melaksanakan kewajibannya.

Yang disebut malam pengantin atau malam pertama tidak terjadi pada malam itu, alasannya setelah berada dalam kamar saya hanya membisu dan tegang tidak tahu apa yang harus kulalukan. Maklum mungkin alasannya masih terlalu lugunya saya pada waktu itu. Suamiku pada waktu itupun rupanya belum terlalu “mahir” dengan apa yang disebut kekerabatan suami istri, sehingga malam pertama kami lewatkan hanya dengan diraba-raba oleh suami. Itupun kadang kala saya tolak alasannya pada waktu itu saya sendiri bahwasanya merasa risih diraba-raba oleh lelaki. Apalagi oleh lelaki yang “belum” saya cintai, alasannya memang saya tidak mencintai suamiku. Pernikahan kami semata-mata atas perjodohan orang bau tanah saja dan bukan atas kehendakku sendiri.

Barulah pada malam kedua suamiku mulai melancarkan serangannya, ia mulai melepas bajuku satu per satu dan mencumbu dengan menciumi kening hingga jari kaki. Mendapat serangan ibarat itu tentu saja sebagai seorang wanita yang sudah memasuki masa pubertas akupun mulai garang walaupun tidak secara pribadi saya tunjukkan ke depan suamiku. Apalagi ketika ia mulai menyentuh bagian-bagian yang paling saya jaga sebelumnya, kepalaku bagaikan tak terkendali bergerak ke kanan ke kiri menahan nikmat sejuta rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Kemaluanku mulai mengeluarkan cairan dan hingga membasahi rambut yang menutupi vaginaku. Suamiku semakin bersemangat menciumi puting susu yang berwarna merah muda kecoklatan dan tampak bundar mengeras mungkin alasannya pada ketika itu saya pun sudah mulai terangsang. Aku sudah tidak ingat lagi berapa kali ia menjilati klitorisku pada malam itu, hingga saya tak kuasa menahan nikmatnya permainan pengecap suamiku menjilati klitoris dan saya pun orgasme dengan menyemburkan cairan hangat dari dalam vaginaku ke mulutnya.

Dengan perasaan tidak sabar, kubuka dan kuangkat lebar kakiku sehingga akan terlihat terang oleh suamiku lubang vagina yang kemerahan dan berair ini. Atas undangan suami kupegang batang kemaluannya yang besar dan keras luar biasa menurutku pada waktu itu. Perlahan-lahan kutuntun kepala kemaluannya menyentuh lubang vaginaku yang sudah berair dan licin ini. Rasa nikmat yang luar biasa kurasakan ketika kepala penis suamiku menggosok-gosok bibir vaginaku ini. Dengan sedikit mendorong pantatnya suamiku berhasil menembus keperawananku, diikuti rintihanku yang tertahan.http://memanjakan.blogspot.com/

Untuk pertama kalinya vaginaku ini dimasuki oleh penis laki-laki dan anehnya tidak terasa sakit ibarat yang seringkali saya dengar dari teman-temanku yang gres menikah dan menceritakan pengalaman malam pertama mereka. Memang ada sedikit rasa sakit yang menyayat pada ketika kepala penis itu mulai menyusup perlahan masuk ke dalam vaginaku ini, tetapi mungkin alasannya pada waktu itu saya pun sangat garang sekali sehingga saya sudah tidak perduli lagi dengan rasa sakitnya. Apalagi ketika suamiku mulai menggosok-gosokkan batang penisnya itu di dalam vaginaku, mataku terpejam dan kepalaku hanya menengadah ke atas, menahan rasa geli dan nikmat yang tidak dapat saya ceritakan di sini.

Sementara kedua tanganku memegang tepian ranjang yang berada di atas kepalaku. Semakin lama goyangan pinggul suamiku semakin cepat diikuti dengan desahan nafasnya yang memburu membuat nafsuku makin menggebu. Sesekali terdengar bunyi decak air atau becek dari lubang vaginaku yang sedang digesek-gesek dengan batang penis suamiku yang besar, yang membuatku semakin cepat mencapai orgasme yang kedua. Sementara suami masih terus berpacu untuk mencapai puncak kenikmatannya, saya sudah dua kali orgasme dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sampai kesudahannya suamiku pun menahan desahannya sambil menyemburkan cairan yang hangat dan kental dari kepala penisnya di dalam lubang vaginaku ini.

Belakangan gres saya ketahui cairan itu yang disebut dengan sperma, maklum dulu saya tergolong gadis yang kurang gaul jadi untuk hal-hal atau istilah-istilah ibarat itu saya tidak pernah tahu. Cairan sperma suamiku pun mengalir keluar dari lisan vaginaku membasahi sprei dan bercampur dengan darah keperawananku. Kami berdua terkulai lemas, namun masih sempat tanganku meraba-raba bibir vagina untuk memuaskan hasrat dan gairahku yang masih tersisa. Dengan menggosok-gosok klitoris yang masih basah, licin dan lembut oleh sperma suamiku, saya pun mencapai orgasme untuk yang ketiga kalinya.

Luar biasa memang sensasi yang saya rasakan pada ketika malam pengantin itu, dan hal ibarat yang saya ceritakan di atas terus berlanjut hampir setiap malam selama beberapa bulan. Dan setiap kali kami melakukannya saya selalu merasa tidak pernah puas dengan suami yang hanya bisa melakukannya sekali. Aku membutuhkannya lebih dari sekali dan selalu menginginkannya setiap hari. Entah apa yang bahwasanya terjadi dalam diriku sehingga saya tidak pernah bisa membendung gejolak nafsuku. Padahal sebelum saya menikah tidak pernah kurasakan hal ini apalagi hingga menginginkannya terus menerus. Mungkinkah saya termasuk dalam golongan yang namanya hypersex itu?

Setelah 2 tahun kami menikah saya bercerai dengan suamiku, alasannya semakin hari suamiku semakin jarang ada di rumah, alasannya memang sehari-harinya ia bekerja sebagai manajer marketing di sebuah perusahaan swasta sehingga sering sekali ia keluar kota dengan alasan urusan kantor. Dan tidak lama terdengar isu bahwa ia memiliki istri simpanan. Yang lebih menyakitkan sehingga saya minta diceraikan ialah istri simpanannya itu ialah bekas pacarnya yang dulu, ternyata selama ini beliau pun menikah denganku alasannya dipaksa oleh orang tuanya dan bukan alasannya rasa cinta.

Tak rela membuatkan suami dengan wanita lain, kesudahannya saya resmi diceraikan suamiku. Sakit memang hati ini ibarat diiris-iris mendengar pengesahan suami perihal istri simpanannya itu, dengan terus terang beliau mengatakan bahwa beliau lebih mencintai istri simpanannya yang sebetulnya memang bekas pacarnya. Apalagi katanya istri simpanan suamiku itu selalu dapat membuat dirinya bahagia di atas ranjang, tidak ibarat diriku ini yang selalu hanya minta dipuaskan tetapi tidak bisa memuaskan impian suamiku, begitu katanya.

Lima tahun sudah saya hidup menjanda, dan kini saya tinggal sendiri dengan mengontrak sebuah rumah di pinggiran kota Jakarta. Beruntung saya mendapat pekerjaan yang agak lumayan di sebuah perusahaan swasta sehingga saya dapat menghidupi diriku sendiri. Belakangan ini setiap malam saya tidak dapat tidur dengan nyenyak, sering saya gres bisa tertidur pulas di atas jam 03.00 pagi. Mungkin dikarenakan pikiranku yang sering ngelantur belakangan ini. Sering saya termenung dan membayangkan saat-saat cantik bersama suamiku dulu.

Terkadang sering pula saya membayangkan diriku bermesraan dengan seorang sahabat kerjaku, sehingga setiap malam hanya onani saja yang dapat kulakukan. Tidak ada keberanian untuk menceritakan hal ini kepada orang lain apalagi pada teman-teman kerjaku, bisa-bisa saya diberi julukkan yang tidak baik di kantor. Hanya dengan tanganku ini kuelus-elus bibir vaginaku setiap malam sambil membayangkan bercumbu dengan seorang laki-laki, terkadang juga kumasukkan jari telunjukku biar saya dapat lebih mencicipi kenikmatan yang pernah kualami dulu.

Cerita Sex Dewasa | Kisah Sex Cowok SMA dan Cewe SMP

Cerita Sex Dewasa | Kisah Sex Cowok SMA dan Cewe SMP – Namaku Andhika, saya seorang siswa Kelas 1 di SMU yang cukup top di kota Makassar. Pada hari itu saya ingin mengambil peran kimia di rumah salah satu sahabat cewekku, sebut saja Rina. Di sana kebetulan saya ketemu sahabat Rina. Kemudian kami pun berkenalan, namanya Laura, orangnya cukup cantik, manis, putih dan bodinya sudah ibarat anak kelas 3 SMU, padahal beliau gres kelas 3 SMP. Pakaian sekolahnya yang putih dan agak kekecilan makin menambah kesan payudaranya menjadi lebih besar. Ukuran payudaranya mungkin ukuran 32B alasannya seakan akan baju seragam SMP-nya itu sudah tidak bisa membendung tekanan dari gundukan gunung kembar itu.

Kami saling diam, hanya saya sedang mengamati dadanya dan pantatnya yang begitu montok. Wah serasa di langit ke-7 kali jikalau saya bisa menikmati tubuh cewek ini, pikirku. Terkadang mata kami bertemu dan bukannya ke GR-an tapi saya rasa cewek ini juga punya perasaan terhadapku. Setelah satu jam berada di rumah Rina, saya pun berpamitan kepada Rina tetapi beliau menahanku dan memintaku mengantarkan Laura pulang alasannya rumahnya agak jauh dan sudah agak sore dan kebetulan saya sedang bawa “Kijang Rangga” milik bapakku.

Akhirnya saya menyetujuinya hitung-hitung ini kesempatan untuk mendekati Laura. Setelah beberapa lama melongo saya mengawali pembicaraan dengan menanyakan, “Apa tidak ada yang marah jikalau saya antar cuma berdua, entar pacar kau marah lagi..?” pancingku. Dia cuma tertawa kecil dan berkata, “Aku belum punya pacar kok.” Secara perlahan tangan kiriku mulai menggerayang mencoba memegang tangannya yang berada di atas paha yang dibalut rok SMP-nya. Dia memindahkan tangannya dan tinggallah tanganku dengan pahanya. Tanpa menolak tanganku mulai menjelajah, lalu tiba-tiba beliau mengangkat tanganku dari pahanya, “Awas Andhi, liat jalan dong! entar kecelakan lagi..” dengan nada sedikit aib saya hanya berkata, “Oh iya sorry, habis enak sih,” candaku, lalu beliau tersenyum kecil seakan menyetujui tindakanku tadi. Lalu saya pun membawa kendaraan beroda empat ke daerah yang gelap alasannya kebetulan sudah mulai malam, “Loh kok ke sini sih?” protes Laura. Sambil mematikan mesin kendaraan beroda empat saya hanya berkata,
“Boleh tidak saya cium bibir kamu?”
Dengan nada aib beliau menjawab,
“Ahh tidak tau ahh, saya belum pernah gituan.”
“Ah hening aja, nanti saya ajari,” seraya eksklusif melumat bibir mungilnya.

Dia pun mulai menikmatinya, setelah hampir lima menit kami melaksanakan permainan pengecap itu. Sambil memindahkan posisiku dari daerah duduk sopir ke samping sopir dengan posisi agak terbungkuk kami terus melaksanakan permainan pengecap itu, sementara itu beliau tetap dalam posisi duduk. Lalu sambil melumat bibirnya saya menyetel daerah duduk Laura sehingga posisinya berbaring dan tanganku pun mulai mempermainkan payudaranya yang sudah agak besar, beliau pun mendesah, “Ahh, pelan-pelan Andhi sakit nih..” Kelamaan beliau pun mulai menyukaiku cara mempermainkan kedua payudaranya yang masih dibungkus seragam SMP.

Mulutku pun mulai menurun mengitari lehernya yang jenjang sementara tanganku mulai membuka kancing baju seragam dan eksklusif menerkam dadanya yang masih terbungkus dengan “minishet” tipis serasa “minishet” bergambar beruang itu menambah gairahku dan eksklusif memindahkan mulutku ke dadanya.
“Lepas dulu dong ‘minishet’-nya, nanti basah?” desahnya kecil.
“Ah tidak papa kok, entar lagi,” sambil mulai membuka kancing “minishet”, dan mulai melumat puting payudara Laura yang sekarang sedang telanjang dada.Sementara tangan kananku mulai mempermainkan lubang kegadisannya yang masih terbungkus rok dan tanganku kuselipkan di dalam rok itu dan mulai mempermainkan lubangnya yang hampir membasahi CD-nya yang tipis berwarna putih dan bergambar kartun Jepang. Mulutku pun terus menurun menuju celana dalam bergambar kartun itu dan mulai membukanya, lalu menjilatinya dan menusuknya dengan lidahku. Laura hanya menutup mata dan mengulum bibirnya mencicipi kenikmatan. Sesekali jari tengahku pun kumasukkan dan kuputar-putarkan di lubang kewanitaannya yang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia hanya menggenggam rambutku dan duduk di atas jok kendaraan beroda empat menahan rasa nyeri. Setelah itu saya kecapaian dan menyuruhnya, “Gantian dong!” kataku. Dia hanya menurut dan sekarang saya berada di jok kendaraan beroda empat dan beliau di bawah. Setelah itu saya menggenggam tangannya dan menuntunnya untuk mulai membuka celana “O’neal”-ku dan melorotkannya. Lalu saya menyuruhnya memegang batang kemaluanku yang dari tadi mulai tegang.

Dengan inisiatif-nya sendiri beliau mulai mengocok batang kemaluanku.
“Kalau digini’in enak tidak Andhi?” tanyanya polos.
“Oh iya enak, enak banget, tapi kau mau nggak yang lebih enak?” tanyaku.
Tanpa berbicara lagi saya memegang kepalanya yang sejajar dengan kemaluanku dan sampailah mulutnya mencium kemaluanku. “Hisap aja! enak kok kayak banana split,” beliau menurut saja dan mulai melumat batang kemaluanku dan terkadang dihisapnya. Karena merasa maniku hampir keluar saya menyuruhnya berhenti, dan Laura pun berhenti menghisap batang kemaluanku dengan raut muka yang sedikit kecewa alasannya beliau sudah mulai menikmati “oral seks”. Lalu kami pun berganti posisi lagi sambil menenangkan kemaluanku. Dia pun kembali duduk di atas jok dan saya di bawah dengan agak jongkok. Kemudian saya membuka kedua belah pahanya dan telihat kembali liang gadis Laura yang masih sempit. Aku pun mulai bersiap untuk menerobos lubang kemaluan Laura yang sudah agak basah, lalu Laura bertanya, “Mau dimasukin tuh Andhi, mana muat memekku kecilnya segini dan punyamu segede pisang?” tanyanya polos. “Ah hening aja, pasti bisa deh,” sambil memukul kecil kemaluannya yang memerah itu dan beliau pun sendiri mulai membantu membuka pintu liang kemaluannya, mungkin beliau tidak mau ambil resiko lubang kemaluannya lecet.

Secara perlahan saya pun mulai memasukan batang kemaluanku, “Aah.. ahh.. enak Andi,” desahnya dan saya berusaha memompanya pelan-pelan lalu mulai agak cepat, “Ahh.. ahh.. ahh.. terus pompa Andi.” Setelah 20 menit memompa maniku pun sudah mau keluar tapi takut beliau hamil lalu saya mengeluarkan batang kemaluanku dan beliau agak sedikit tersentak dikala saya mengeluarkan batang kemaluanku.
“Kok dikeluarin, Andi?” tanyanya.
“Kan belum keluar?” tanyanya lagi.
“Entar kau hamilkan bahaya, udah nih ada permainan baru,” hiburku.
Lalu saya mengangkat badannya dan menyuruhnya telungkup membelakangiku.
“Ngapain sih Andi?” tanya Laura.
“Udah tunggu aja!” jawabku.
Dia kembali tersentak dan mengerang dikala tanganku menusuk pantat yang bahenol itu.
“Aahh.. ahh.. sakit Andhi.. apaan sih itu..?”
“Ah, tidak kok, entar juga enak.”
Lalu saya mengeluarkan tanganku dan memasukkan batang kemaluanku dan desahan Laura kali ini lebih besar sehingga beliau menggigit celana dalamku yang tergeletak di dekatnya.

“Sabar yah Sayang! entar juga enak!” hiburku sambil terus memompa pantatnya yang montok. Tanganku pun bergerilya di dadanya dan terus meremas dadanya dan terkadang meremas kepingan pantatnya. Laura mulai menikmati permainan dan mulai mengikuti irama genjotanku. “Ahh terus.. Andhi.. udah enak kok..” ucapnya mendesah. Setelah beberapa menit memompa pantatnya, maniku hendak keluar lagi. “Keluarin di dalam aja yah Laura?” tanyaku. Lalu beliau menjawab, “Ah tidak usah supaya saya isep aja lagi, habis enak sih,” jawabnya. Lalu saya mengeluarkan batang kemaluanku dari pantatnya dan eksklusif dilumat oleh Laura eksklusif dihisapnya dengan penuh gairah, “Crot.. crot.. crot..” maniku keluar di dalam ekspresi Laura dan beliau menelannya. Gila perasaanku ibarat sudah terbang ke langit ke-7.
“Gimana rasanya?” tanyaku.
“Ahh asin tapi enak juga sih,” sambil masih membersihkan mani di kemaluanku dengan bibirnya.

Setelah itu kami pun berpakaian kembali, alasannya jam mobilku sudah pukul 19:30. Tidak terasa kami bersetubuh selama 2 jam. Lalu saya mengantarkan Laura ke rumahnya di sekitaran Panakukang Mas. Laura tidak turun sempurna di depan alasannya takut dilihat bapaknya. Tapi sebelum beliau turun beliau terlebih dahulu eksklusif melumat bibirku dan menyelipkan tanganku ke CD-nya. Mungkin kemaluannya hendak saya belai dulu sebelum beliau turun. “Kapan-kapan main lagi yach Andhi!” ucapnya sebelum turun dari mobilku. Tapi itu bukan pertemuan terakhir kami alasannya tahun berikutnya beliau masuk SMU yang sama denganku dan kami bebas melaksanakan hal itu kapan saja, alasannya tampaknya beliau sudah ketagihan dengan permainan itu bahkan Laura pernah melaksanakan masturbasi dengan pisang di toilet sekolah. Untung saya melihat kejadian itu sehingga saya dapat memberinya “jatah” di toilet sekolah.

Cerita Dewasa Sex – Ngentot Dengan Dokter Genit

Cerita Dewasa Sex – Ngentot Dengan Dokter Genit , Dalam sebuah seminar sehari di hall Hotel Hilton International di Jakarta, tampak seorang wanita paruh baya berwajah manis sedang membacakan sebuah makalah wacana peranan wanita modern dalam kehidupan rumah tangga keluarga bekerja. Dengan damai ia membaca makalah itu sambil sesekali membuat dagelan yang tak ayal membuat para penerima seminar itu tersenyum riuh. Permasalahan yang sedang dibahas dalam seminar itu menyangkut perihal mengatasi problem perselingkuhan para suami yang selama ini memang menjadi topik hangat baik di forum resmi ataupun tidak resmi.

Beberapa penerima seminar yang terdiri dari wanita karir, ibu-ibu rumah tangga dan para pelajar wanita itu tampak serius mengikuti jalannya seminar yang diwarnai oleh perdebatan antara pakar sosiologi keluarga yang sengaja diundang untuk menjadi pembicara. Hadir juga beberapa orang wartawan yang meliput jalannya seminar sambil ikut sesekali mengajukan pertanyaan ke arah penerima dan pembicara. Suasana riuh dikala wanita pembicara itu bercerita wacana seorang temannya yang bersuamikan seorang pria mata keranjang doyan main perempuan. Berbagai pendapat keluar dalam perdebatan yang diarahkan oleh moderator.

Diakhir sesi pertama dikala para penerima mengambil waktu istirahat selama tiga puluh menit, tampak wanita pembicara itu keluar ruangan dengan langkah cepat menyerupai menahan sesuatu. Ia berjalan dengan cepat menuju toilet di samping hall tempat seminar. Namun dikala melewati lorong menuju tempat itu ia tak sadar menabrak seseorang, alhasil ia eksklusif terhenyak.
“Oh…, maaf, saya tidak melihat anda…, maaf ya?”, seru wanita itu pada orang yang ditabraknya, namun orang itu menyerupai tak mengacuhkan.
“Oke…”, sahut pria muda berdasi itu lembut dan berlalu masuk ke dalam toilet pria.

Wanita itupun bergegas ke arah toilet wanita yang pintunya berdampingan dengan pintu toilet pria. Beberapa dikala lamanya wanita itu di sana lalu tampak lelaki itu keluar dari toilet dan eksklusif menuju ke depan cermin besar dan mencuci tangannya. Kemudian wanita tadi muncul dan menuju ke tempat yang sama, keduanya sesaat saling melirik. “Hai”, tegur pria itu kini mendahului.
“Halo…, anda penerima seminar?”, tanya si wanita.
“Oh, bukan. Saya bekerja di sini, maksud saya di hotel ini”, jawab pria itu.

“Oh…, kalau begitu kebetulan, saya rasa setelah seminar ini saya akan kontak lagi dengan administrasi hotel ini untuk mengundang sejumlah pakar dari Amerika untuk seminar problem kesehatan ibu dan anak. Ini kartu namaku”, kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya pada pria itu. Lelaki itu mengambil secarik kartu dari dompetnya dan menyerahkannya pada wanita itu.

“Dokter Miranti Pujiastuti, oh ternyata Ibu ini pakar ilmu kedokteran ibu dan anak yang terkenal itu, maaf saya gres pertama kali melihat Ibu. Sebenarnya saya banyak membaca tulisan-tulisan Ibu yang kontroversial itu, saya sangat mengagumi Ibu”, mendadak pria itu menjadi sangat hormat.
“Ah kamu, jangan terlalu berlebihan memuji aku, dan kamu…, hmm…, Edo Prasetya, wakil General Manager Hilton International Jakarta. Kamu juga hebat, manajer muda”, seru wanita itu sambil menjabat tangan cowok berjulukan Edo itu kemudian.
“Kalau begitu saya akan kontak anda mengenai problem fasilitas dan kegiatan seminar yang akan datang, senang bertemu anda, Edo”, seru wanita itu sambil kemudian berlalu.
“Baik, Bu dokter”, jawab sahut pria itu dan membiarkan wanita paruh baya itu berlalu dari ruangan di mana mereka berbicara.

Sejenak kemudian cowok itu masih tampak memandangi kartu nama dokter wanita itu, ia menyerupai sedang mengamati sesuatu yang aneh.
“Bukankah dokter itu cantik sekali?”, ia berkata dalam hati.
“Oh saya benar-benar tak tahu kalau ia dokter yang sering menjadi perhatian publik, begitu tampak cantik di mataku, meski sudah separuh baya, ia masih tampak cantik”, benaknya berbicara sendiri.
“Ah kenapa itu yang saya pikirkan?”, serunya kemudian sambil berlalu dari ruangan itu.

Sementara itu di sebuah rumah daerah elit Menteng Jakarta sentra tampak sebuah kendaraan beroda empat memasuki halaman luas rumah itu. Wanita paruh baya berjulukan dokter Miranti itu turun dari sedan Mercy hitam dan eksklusif memasuki rumahnya. Wajah manis wanita paruh baya itu tampaknya menyimpan sebuah rasa kesal dalam hati. Sudah seminggu lamanya suami wanita itu belum pulang dari perjalanan urusan ekonomi keluar negeri. Sudah seminggu pula ia didera isu dari rekan sejawat suaminya wacana tingkah laku para pejabat dan pengusaha kalangan atas yang selalu memanfaatkan alasan perjalanan urusan ekonomi untuk mencari kepuasan seksual di luar rumah alias perselingkuhan.
Wanita itu menghempaskan badannya ke tempat tidur empuk dalam ruangan luas itu. Ditekannya remote TV dan melihat kegiatan info malam yang sedang dibacakan penyiar. Namun tak berselang lama setelah itu dilihatnya di TV itu seorang lelaki botak yang tak lain ialah suaminya sedang berada dalam sebuah pertemuan resmi antar pengusaha di Singapura. Namun yang membuat hati wanita itu panas ialah dikala melihat suaminya merangkul seorang delegasi dagang Singapura yang masih muda dan cantik. Sejenak ia memandang tajam ke arah televisi besar itu lalu dengan gemas ia membanting remote TV itu ke lantai setelah mematikan TV-nya.
“Ternyata apa yang digosipkan orang wacana suamiku benar terjadi, huh”, seru wanita itu dengan hati dongkol.
“Bangsaat..!”, Teriaknya kemudian sambil meraih sebuah bantal guling dan menutupi mukanya.

Tak seorangpun mendengar teriakan itu sebab rumah besar itu dilengkapi peredam bunyi pada dindingnya, sehingga empat orang pembantu di rumah itu sama sekali tidak mengetahui kalau sang nyonya mereka sedang marah dan kesal. Ia menangis sejadi-jadinya, bayang-bayang suaminya yang berkencan dengan wanita muda dan cantik itu terus menghantui pikirannya. Hatinya semakin panas hingga ia tak sanggup menahan air matanya yang kini menetes di pipi.

Tiga puluh menit ia menangis sejadi-jadinya, dipeluknya bantal guling itu dengan penuh rasa kesal hingga kemudian ia jatuh tertidur akhir kelelahan. Namun tak seberapa lama ia terkulai tiba-tiba ia terhenyak dan kembali menangis. Rupanya bayangan itu benar-benar merasuki pikirannya hingga dalam tidurnyapun ia masih membayangkan hal itu. Sejenak ia kemudian berdiri dan melangkah keluar kamar tidur itu menuju sebuah ruangan kecil di samping kamar tidurnya, ia menyalakan lampu dan eksklusif menuju tumpukan obat yang memenuhi sebagian ruangan yang menyerupai apotik keluarga. Disambarnya tas dokter yang ada di situ lalu membuka sebuah bungkusan pil penenang yang biasa diberikannya pada pasien yang panik. Ditelannya pil itu lalu meminum segelas air.

Beberapa dikala kemudian ia menjadi damai kemudian ia menuju ke ruangan kerjanya yang tampak begitu lengkap. Di sana ia membuka beberapa buku, namun bebarapa lamanya kemudian wanita itu kembali beranjak menuju kamar tidurnya. Wajahnya kini kembali cerah, seberkas senyuman terlihat dari bibirnya yang sensual. Ia duduk di depan meja rias dengan cermin besar, hatinya terus berbicara.
“Masa sih saya harus mengalah terus, kalau bedebah itu bisa berselingkuh kenapa saya tidak”, benaknya sambil menatap dirinya sendiri di cermin itu. Satu-persatu di lepasnya kancing baju kerja yang sedari tadi belum dilepasnya itu, ia tersenyum melihat keindahan tubuhnya sendiri. Bagian atas tubuhnya yang dilapisi baju dalam putih berenda itu memang tampak sangat mempesona. Meski umurnya kini sudah mencapai empat puluh tahun, namun tubuh itu terang akan membuat lelaki tergiur untuk menyentuhnya.

Kini ia mulai melepaskan baju dalam itu hingga kepingan atas tubuhnya kini terbuka dan hanya dilapisi BH. Perlahan ia berdiri dan memutar menyerupai memamerkan tubuhnya yang molek itu. Buah dadanya yang besar dan tampak menantang itu diremasnya sendiri sambil mendongak membayangkan dirinya sedang bercinta dengan seorang lelaki. Kulitnya yang putih mulus dan bersih itu tampak tak kalah mempesonakan.
“Kalau bedebah itu bisa mendapat wanita muda belia, kurasa tubuh dan wajahku lebih dari cukup untuk memikat lelaki muda”, gumamnya lagi.
“Akan kumulai sekarang juga, tapi..”, tiba-tiba pikirannya terhenti.
“Selama ini saya tak pernah mengenal dunia itu, siapakah yang akan kucari? hmm..”.

Tangannya meraih tas kerja di atas mejanyanya, dibongkarnya isi tas itu dan menemukan beberapa kartu nama, sejenak ia memperhatikannya.
“Dokter Felix, lelaki ini doyan nyeleweng tapi apa saya bisa meraih kepuasan darinya? Lelaki itu lebih bau tanah dariku”, katanya dalam hati sambil menyisihkan kartu nama rekan dokternya itu.
“Basuki Hermawan, ah…, pejabat pajak yang korup, saya jijik pada orang menyerupai ini”, ia merobek kartu nama itu.
“Oh ya…, cowok itu, yah…, cowok itu, siapakah namanya, Dodi?.., oh bukan. Doni?.., oh bukan juga, ah di mana sih saya taruh kartu namanya..”, ia sibuk mencari, sampai-sampai semua isi tak kerja itu dikeluarkannya namun belum juga ia temukan.
“Bangsat! Aku lupa di mana menaruhnya”, sejenak ia berhenti mencari dan berpikir keras untuk mencoba mengingat di mana kartu nama cowok gagah berumur dua puluh limaan itu. Ia begitu menyukai wajah cowok yang tampak polos dan cerdas itu. Ia sudah terbayang betapa bahagianya jikalau cowok itu mau diajak berselingkuh.

“Ahaa! Ketemu juga kau!”, katanya setengah berteriak dikala melihat kartu nama dengan logo Hilton International. Ia beranjak berdiri dan meraih hand phone, sejenak kemudian ia sudah tampak berbicara.
“Halo, dengan Edo…, maaf Bapak Edo?”.
“Ya benar, saya Edo tapi bukan Bapak Edo, anda siapa”, terdengar bunyi ramah di seberang.
“Ah maaf…, Edo, saya Dokter Miranti, kau masih ingat? Kita ketemu di Rest Room hotel Hilton International tadi siang”.
“Oooh, Bu dokter, tentu dong saya ingat. Masa sih saya lupa sama Bu dokter idola saya yang cantik”.
“Eh kau bisa saja, Do”.
“Gimana Bu, ada yang bisa saya bantu?”, tanya Edo beberapa dikala setelah itu.
“Aku ingin membicarakan wacana seminar ahad depan untuk mempersiapkan akomodasinya, untuk itu sepertinya kita perlu berbicara”.
“No problem, Bu. Kapan ibu ada waktu”.
“Lho kok jadi nanya aku, ya kapan kau luang aja dong”.
“Nggak apa-apa Bu, untuk orang menyerupai ibu saya selalu siap, gimana kalau besok kita makan siang bersama”.
“Hmm…, rasanya saya besok ada operasi di rumah sakit. Gimana kalau sekarang saja, kita makan malam”.
“Wah kebetulan Bu, saya memang lagi lapar. oke kalau begitu, saya jemput ibu”.
“Oohh nggak usah, agar ibu saja yang jemput kamu, kau di mana?”.
“wah jadi ngerepotin dong, tapi oke-lah. Saya tunggu saja di Resto Hilton, okay?”.
“Baik kalau begitu dalam sepuluh menit saya datang”, kata wanita itu mengakhiri percakapannya.

Lalu dengan tergesa-gesa ia mengganti pakaian yang dikenakannya dengan gaun kanal dengan belahan di tengah dada. Dengan gesit ia merias wajah dan tubuh yang masih tampak menawan itu hingga tak seberapa lama kemudian ia sudah tampak anggun.
“Mbok..!”, ia berteriak memanggil pembantu.
“Dalem…, Nyaah!”, sahut seorang yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.
“Malam ini ibu ndak makan di rumah, nanti kalau tuan nelpon bilang saja ibu ada operasi di rumah sakit”.
“Baik, Nyah..”, sahut pembantunya mengangguk.
Sang dokter itupun berlalu meninggalkan rumahnya tanpa diantar oleh sopir.

Kini sang dokter telah tampak menyantap hidangan makan malam itu bersama cowok ganteng berjulukan Edo yang berumur jauh di bawahnya. Maksud wanita itu untuk mengencani Edo tidak dikatakannya langsung. Mereka mula-mula hanya membicarakan perihal kontrak kerja antara kantor sang dokter dan hotel tempat Edo bekerja. Namun hal itu tidak berlangsung lama, dua puluh menit kemudian mereka telah mengalihkan pembicaraan ke arah pribadi.

“Maaf lho, Do. Kamu sudah punya pacar?”, tanya sang dokter.
“Dulu pernah punya tapi…”, Edo tak melanjutkan kalimatnya.
“Tapi kenapa, Do?”, sergah wanita itu.
“Dia kawin duluan, ah…, Emang bukan nasib saya deh, ia kawin sama seorang om-om senang yang cuma menyenangi tubuhnya. Namanya Rani..”.
“Maaf kalau ibu hingga membuat kau ingat sama masa lalu”.
“Nggak apa-apa kok, Bu. Toh saya sudah lupa sama dia, buat apa cari pacar atau istri yang mata duitan”.
“Sukurlah kalau begitu, trus sekarang gimana perasaan kamu”.
“Maksud ibu?”.
“Perasaan kau yang dikhianati, apa kau masih dendam?”, tanya sang dokter menyerupai merasa ingin tahu.
“Sama si Rani sih nggak marah lagi, tapi hingga sekarang saya masih dendam kesumat sama om-om atau pejabat pemerintah yang menyerupai itu”, terang Edo pada wanita itu sembari menatapnya.

Sejenak keduanya bertemu pandang, Edo merasakan sebuah perasaan absurd mendesir dadanya. Hanya beberapa detik saja keduanya saling memandang hingga Edo tersadar siapa yang sedang dihadapinya.
“Ah, ma.., ma.., maaf, Bu. Bicara saya jadi ngawur”, kata cowok itu terpatah-patah.”Oh nggak…, nggak apa-apa kok, Do. Aku juga punya problem yang serupa dengan kamu”, jawab wanita itu sambil kemudian mulai menceritakan problem pribadi dalam keluarganya. Ia yang kini sudah memiliki dua anak yang bersekolah di Amerika itu sedang mengalami problem yang cukup berat dalam rumah tangganya. Dengan penuh emosi ia menceritakan masalahnya dengan suaminya yang seorang pejabat pemerintah sekaligus pengusaha terkenal itu.
“Berkali-kali saya mendengar dongeng wacana kebejatan moralnya, ia pernah menghamili sekertarisnya di kantor, lalu wanita itu ia pecat begitu saja dan membayar seorang satpam untuk mengawini gadis itu guna menutupi aibnya. Dasar lelaki bangsat”, ceritanya pada Edo.
“Sekarang ia sudah bekerjasama lagi dengan seorang wanita pengusaha di luar negeri. Baru tadi saya melihatnya bersama dalam sebuah info di TV”, lanjut wanita itu dengan raut muka yang sedih.
“Sabar, Bu. Mungkin suatu dikala ia akan sadar. Masa sih ia nggak sadar kalau memiliki istri secantik ibu”, ujar Edo mencoba menghiburnya.
“Aku sudah bosan bersabar terus, hatiku hancur, Do. Kamu sudah tahu kan gimana rasanya dikhianati? Dibohongi?”, sengitnya sambil menatap cowok itu dengan tatapan aneh. Wanita itu menyerupai ingin mengatakan sesuatu pada Edo.

Beberapa menit keadaan menjadi vacum. Mereka saling menatap penuh misteri. Dada Edo mendesir mendapat tatapan menyerupai itu, pikirannya bertanya-tanya.
“Ada apa ini?”, gumamnya dalam hati. Namun belum sempat ia mengira apa arti tatapan itu, tangannya tiba-tiba merasakan sesuatu yang lembut menyentuh, ia terhenyak dalam hati. Desiran dadanya kini bermetamorfosis getaran keras di jantungnya. Namun belum sempat ia bereaksi atas semua itu tangan sang dokter itu telah meremas telapak tangan Edo dengan mesra. Kini ia menatap wanita itu, dokter Miranti memberinya senyuman, masih misteri.

“Edo…., kau dan saya memiliki problem yang saling berkaitan”, katanya perlahan.
“Ma…, maksud ibu?”, Edo tergagap.
“Kehidupan cinta kau dirusakkan oleh generasi seumurku, dan rumah tanggaku rusak oleh kehidupan bejat suamiku. Kita sama-sama memiliki beban ingatan yang menyakitkan dengan musuh yang sama”.
“lalu?”.
“Kenapa tak kau lampiaskan dendam itu padaku?”.
“Maksud ibu?”, Edo semakin tak mengerti.
“Aku dendam pada suamiku dan kaum mereka, dan kau punya dendam pada para pejabat yang telah mengecewakanmu. Kini kau menemukan aku, lampiaskan itu. Kalau mereka bisa menggauli generasimu mengapa kau nggak menggauli kaum mereka? Aku istri pejabat, dan saya juga dikecewakan oleh mereka”.
“Saya masih belum mengerti, Bu”.
“Maksudku, hmm…, kenapa kita tidak menjalin kekerabatan yang lebih erat lagi”, terang wanita itu.

Edo semakin penasaran, ia memberanikan dirinya bertanya, “Maksud ibu…, mm…, ki…, ki…, kita berselingkuh?”, ia berkata sambil memberanikan dirinya menatap wanita paruh baya itu.
“Yah…, kita menjalin kekerabatan cinta”, jawab dokter Miranti enteng.
“Tapi ibu wanita bersuami, ibu punya keluarga”.
“Ya…, tapi sudah hancur, tak ada impian lagi. Kalau suamiku bisa merasakan gadis muda, kenapa saya tidak bisa?”, lanjutnya semakin berani, ia bahkan merangkul pundak cowok itu. Edo hanya terpaku.
“Ta…, tapi, Bu…”.
“Seumur perkawinanku, saya hanya merasakan derita, Do. Aku ingin kejantanan sejati dari seorang pria. Dan pria itu ialah kamu, Do”, lalu ia beranjak dari tempat duduknya mendekati Edo. Dengan mesra diberinya cowok itu sebuah kecupan. Edo masih tak bereaksi, ia menyerupai tak mempercayai kejadian itu.
“Apakah saya mimpi?”, katanya konyol.
“Tidak, Do. Kamu nggak mimpi, ini aku, Dokter Miranti yang kau kagumi”.
“Tapi, Bu.., ibu sudah bersuami”.
“Tolong jangan katakan itu lagi Edo”.

Kemudian keduanya terpaku lama, sesekali saling menatap. Pikiran Edo berkecamuk keras, ia tak tahu harus berkata apa lagi. Sebenarnya ia begitu gembira, tak pernah ia bermimpi apapun. Namun ia masih merasa ragu.
“Apakah segampang ini?”, gumamnya dalam hati.
“Cantik sekali dokter ini, biarpun umurnya jauh lebih bau tanah dariku tapi oh tubuh dan wajahnya begitu menggiurkan, sudah lama saya memimpikan bercinta dengan wanita istri pejabat menyerupai dia. Tapi…”, hatinya bertanya-tanya. Sementara suasana vacum itu berlangsung begitu lama. Kini mereka duduk dalam posisi saling bersentuhan. Baru sekitar tiga puluh menit kemudian dokter Miranti tiba-tiba berdiri.

“Do, saya ingin ngobrol lebih banyak lagi, tapi nggak di sini, kau temui saya di Hotel Hyatt. Saya akan memesan kamar di situ. Selamat malam”, serunya kemudian berlalu meninggalkan Edo yang masih terpaku.
Pemuda itu masih terlihat terdiam hingga seorang pelayan restoran datang menyapanya.
“Pak Edo, bapak mau pesan lagi?”.
“Eh…, oh nggak…, nggak, aduh saya kok ngelamun”, jawabnya tergagap mengetahui dirinya hanya terduduk sendiri.
“Teman Bapak sudah tiga puluh menit yang lalu pergi dari sini”, kata pelayan itu.
“Oh ya?”, sahut Edo menyerupai orang bodoh. Pelayan itu mengangkat bahunya sambil berlalu.
“Eh…, billnya!”, panggil Edo.
“Sudah dibayar oleh sahabat Bapak”, jawab pelayan itu singkat.
Kini Edo semakin bingung, ia masih merasakan getaran di dadanya. Antara percaya dan tidak. Ia kemudian melangkah ke lift dan turun ke tempat parkir. Hanya satu kalimat dokter Miranti yang kini masih terngiang di telinganya. Hotel Grand Hyatt!
Dengan tergesa-gesa ia menuju ke arah mobilnya. Perjalanan ke hotel yang dimaksud wanita itu tak terasa olehnya, kini ia sudah hingga di depan pintu kamar yang ditanyakannya pada receptionis. Dengan gemetar ia menekan bel di pintu kamar itu, pikirannya masih berkecamuk bingung.

“Masuk, Do”, sambut dokter Miranti membuka pintu kamarnya. Edo masuk dan eksklusif menatap dokter Miranti yang kini telah mengenakan gaun tidur sutra yang tipis dan transparan. Ia masih tampak terpaku.
“Do, ini memang hari pertemuan kita yang pertama tapi apakah salahnya kalau kita sama-sama saling membutuhkan”, kata dokter Miranti membuka pembicaraan.
“Cobalah realistis, Do. Kamu juga menginginkan ini kan?”, lanjut wanita itu kemudian mendudukkan Edo di pinggir tempat tidur luas itu.
Edo masih tampak galau hingga sang dokter memberinya kecupan di bibirnya, ia merasakan menyerupai ada dorongan untuk membalasnya.
“Oh…, Bu”, desahnya sambil kemudian merangkul tubuh bongsor dokter Miranti. Dadanya masih bergetar dikala merasakan kemesraan wanita itu. Dokter Miranti kemudian memegang pundaknya dan melucuti pakaian cowok itu. Dengan perlahan Edo juga memberanikan diri melepas ikatan tali gaun tidur sutra yang dikenakan sang dokter. Begitu tampak buah dada dokter Miranti yang besar dan ranum itu, Edo terhenyak.
“Oh…, indahnya susu wanita ini”, gumamnya dalam hati sambil lalu meraba payudara besar yang masih dilapisi BH itu. Tangan kirinya berusaha melepaskan kancing BH di punggung dokter Miranti. Ia semakin terbelalak dikala melihat bentuk buah dada yang kini telah tak berlapis lagi. Tanpa menunggu lagi nafsu cowok itu bangun dan ia segera meraih buah dada itu dan eksklusif mengecupnya. Dirasakannya kelembutan susu wanita cantik paruh baya itu dengan penuh perasaan, ia kini mulai menyedot puting susu itu bergiliran.

“Ooohh…, Edo…, nikmat sayang…., mm sedot terus sayang ooohh, ibu sayang kamu, Do…, ooohh”, desah dokter Miranti yang kini mendongak merasakan sentuhan pengecap dan verbal Edo yang menggilir kedua puting susunya. Tangan wanita itupun mulai meraih batang kemaluan Edo yang sudah tegang sedari tadi, ia terhenyak merasakan besar dan panjangnya penis cowok itu.
“Ohh…, besarnya punya kamu, Do. Tangan ibu hingga nggak cukup menggenggamnya”, seru dokter Miranti kegirangan. Ia kemudian mengocok-ngocokkan penis itu dengan tangannya sambil menikmati belaian pengecap Edo di sekitar payudara dan lehernya.

Kemaluan Edo yang besar dan panjang itu kini tegak berdiri bagai roket yang siap meluncur ke angkasa. Pemuda yang sebelumnya belum pernah melaksanakan kekerabatan seks itu semakin terhenyak mendapat sentuhan lembut pada penisnya yang kini tegang. Ia asyik sekali mengecupi sekujur tubuh wanita itu, Edo merasakan sesuatu yang sangat ia dambakan selama ini. Ia tak pernah membayangkan akan dapat menikmati kekerabatan seks dengan wanita yang sangat ia kagumi ini, ia yang sebelumnya bahkan hanya menonton film biru itu kini mempraktekkan semua yang ia lihat di dalamnya. Hatinya begitu gembira, sentuhan-sentuhan lembut dari tangan halus dokter Miranti membuatnya semakin terlena.

Dengan mesra sekali wanita itu menuntun Edo untuk menikmati sekujur tubuhnya yang putih mulus itu. Dituntunnya tangan cowok itu untuk membelai lembut buah dadanya, lalu bergerak ke bawah menuju perutnya dan berakhir di permukaan kemaluan wanita itu. Edo merasakan sesuatu yang lembut dan berbulu halus dengan belahan di tengahnya. Pemuda itu membelainya lembut hingga kemudian ia merasakan cairan licin membasahi permukaan kemaluan dokter Miranti. Ia menghentikan gerakannya sejenak, lalu dengan perlahan sang dokter membaringkan tubuhnya dan membuka pahanya lebar hingga daerah kemaluan yang berair itu terlihat menyerupai menantang Edo. Pemuda itu terbelalak sejenak sebelum kemudian bergerak menciumi daerah itu, jari tangan dokter Miranti kemudian menarik bibir kemaluannya menjadi semakin terbuka hingga menampakkan semua isi dalam dinding vaginanya. Edo semakin terangsang, dijilatinya semua yang dilihat di situ, sebuah benda sebesar biji kacang di antara dinding vagina itu ia sedot masuk ke dalam mulutnya. Hal itu membuat dokter Miranti menarik nafas panjang merasakan nikmat yang begitu hebat.

“Ohh…, hmm…, Edo, sayang, ooohh”, desahnya mengiringi bunyi ciplakan bibir Edo yang bermain di permukaan vaginanya.
Dengan gemas Edo menjilati kemaluan itu, sementara dokter Miranti hanya bisa menjerit kecil menahan nikmat belaian pengecap Edo. Ia hanya bisa meremas-remas sendiri payudaranya yang besar itu sambil sesekali menarik kecil rambut Edo.
“Aduuuh sayang, ooohh nikmaat…, sayang…, oooh Edo…, ooohh pintarnya kau sayang…, ooohh nikmatnya…, ooohh sedooot teruuusss…, ooohh enaakkk…, hmm…, ooohh”, jeritnya terpatah-patah.

Puas menikmati vagina itu, Edo kembali ke atas mengarahkan bibirnya kembali ke puting susu dokter Miranti. Sang dokterpun pasrah saja, ia membiarkan dirinya menikmati permainan Edo yang semakin buas saja. Daerah sekitar puting susunya tampak sudah kemerahan akhir sedotan verbal Edo.
“ooohh, Edo sayang. Berikan penis kau sama ibu sayang, ibu ingin mencicipinya”, pinta wanita itu sambil beranjak bangun dan menggenggam kemaluan Edo. Tangannya tampak bahkan tak cukup untuk menggenggamnya, ukurannya yang super besar dan panjang membuat dokter Miranti menyerupai tak percaya pada apa yang dilihatnya. Wanita itu mulai mengulum penis Edo, mulutnya penuh sesak oleh kepala penis yang besar itu, hanya sebagian kecil saja kemaluan Edo yang bisa masuk ke mulutnya sementara sisanya ia kocok-kocokkan dengan telapak tangan yang ia lumuri air liurnya. Edo kini menikmati permainan itu.
“Auuuhh…, Bu, ooohh…, enaakk aahh Bu dokter…, oooh nikmat sekali…, mm…, oooh enaknya…, ooohh…, ssstt…, aahh”, desah cowok itu mulai menikmatinya.

Sesaat kemudian, Dokter Miranti melepaskan kemaluan yang besar itu lalu membaringkan dirinya kembali di pinggiran tempat tidur. Edo meraih kedua kaki wanita itu dan eksklusif menempatkan dirinya tepat di depan selangkangan dokter Miranti yang terbuka lebar. Dengan sangat perlahan Edo mengarahkan kemaluannya menuju liang vagina yang menganga itu dan, “Sreett.., bleeesss”.
“Aduuuhh…, aauuu Edooo…, sa.., sa.., sakiiittt…, vaginaku robeeek aahh…, sakiiit”, teriak dokter Miranti merasakan vaginanya yang ternyata terlalu kecil untuk penis Edo yang super besar, ia merasakan vaginanya robek oleh terobosan penis Edo. Lebih dahsyat dari dikala ia mengalami malam pertamanya.
“Edo sayang, punya kau besar sekali. Vaginaku rasanya robek do, main yang pelan aja ya, sayang?”, pintanya lalu pada Edo.
“Ouuuhh…, ba.., ba.., baik, Bu”, jawab Edo yang tampak sudah merasa begitu nikmat dengan masuknya penis ke dalam vagina dokter Miranti.

Kini dibelainya rambut sang dokter sambil menciumi pipinya yang halus dengan mesra. Pemuda itu mulai menggerakkan penisnya keluar masuk vagina dokter Miranti dengan perlahan sekali hingga beberapa menit kemudian rasa sakit yang ada dalam vagina wanita itu bermetamorfosis nikmat, barulah Edo mulai bergerak menggenjot tubuh wanita itu dengan agak cepat. Gerakan tubuh mereka saling membentur mempertemukan kedua kemaluan mereka. Nafsu birahi mereka tampak begitu membara dari gerakan yang semakin lama semakin menggairahkan, teriakan kecil kini telah bermetamorfosis desah keras menahan nikmatnya kekerabatan seks itu.

Keduanya tampak semakin bersemangat, saling menindih bergilir menggenjot untuk meraih tahap demi tahap kenikmatan seks itu. Edo yang gres pertama kali merasakan nikmatnya kekerabatan seks itu benar-benar menikmati keluar masuknya penis besar itu ke dalam liang vagina sang dokter yang semakin lama menjadi semakin licin akhir cairan kelamin yang muali melumasi dindingnya. Demikian pula halnya dengan dokter Miranti. Ia begitu tampak kian menikmati goyangan tubuh mereka, ukuran penis Edo yang super besar dan terasa merobek liang vaginanya itu kini menjadi sangat nikmat menggesek di dalamnya. Ia berteriak sejadi-jadinya, namun bukan lagi sebab merasa sakit tapi untuk mengimbangi dahsyatnya kenikmatan dari penis cowok itu. Tak pernah ia bayangkan akan dapat menemukan penis sebesar dan sepanjang milik Edo, penis suaminya yang bahkan ia tahu sering meminum obat untuk pembesar alat kelamin tak dapat dibandingkan dengan ukuran penis Edo. Baru pertama kali ini ia melihat ada kemaluan sebesar itu, panjang dan keras sekali.

Bunyi teriakan nyaring bercampur decakan becek dari kedua alat kelamin mereka memenuhi ruangan luas di kamar suite hotel itu. Desahan mereka menahan kenikmatan itu semakin memacu gerakan mereka menjadi kian liar.
“Ooohh…, ooohh…, ooohh…, enaak…, oooh…, enaknya bu…, ooohh nikmat sekali ooohh”, desah Edo.
“mm…, aahh…, goyang terus, Do…, ibu suka sama punya kamu, ooohh…, enaknya, sayang ooohh…, ibu sayang kau Edo…, ooohh”, balas dokter Miranti sambil terus mengimbangi genjotan tubuh cowok itu dengan menggoyang pinggulnya.

Lima belas menit lebih mereka melakukannya dengan posisi itu dimana Edo menindih tubuh sang dokter yang mengapit dengan pahanya. Kini saatnya mereka ingin mengganti gaya.
“Ouuuhh Edo sayang, ganti gaya yuuuk?”, ajak sang dokter sambil menghentikan gerakannya.
“Baik, Bu”, jawab cowok itu mengiyakan.
“Kamu di bawah ya sayang? Ibu pingin goyang di atas tubuh kamu”, katanya sambil menghentikan gerakan tubuh Edo, cowok itu mengangguk sambil perlahan melepaskan penisnya dari jepitan vagina dokter Miranti. Kemudian ia duduk sejenak mengambil nafas sambil memandangi tubuh wanita itu.
“uuuh, cantiknya wanita ini”, ia bergumam dalam hati lalu berbaring menunggu dokter Miranti yang sudah siap menungganginya.

Kini wanita itu berjongkok tepat di atas pinggang Edo, ia sejenak menggenggam kemaluan cowok itu sebelum kemudian memasukkannya kembali ke dalam liang vaginanya dengan perlahan dan santai. Kembali ia mendesah merasakan penis itu masuk menembus dinding kemaluannya dan menerobos masuk hingga dasar liang vagina yang terasa sempit oleh Edo.
“Ooouuuhh…”, desahnya memulai gerakan menurun-naikkan pinggangnya di atas tubuh cowok itu.
Edo meraih payudara montok yang bergantungan di dada sang dokter, sesekali ia meraih puting susu itu dengan mulutnya dan menyedot-nyedot nikmat.

Keduanya kembali terlibat episode yang lebih seru lagi, dengan liar dokter Miranti menggoyang tubuh sesuka hati, ia tampak menyerupai kuda betina yang benar-benar haus seks. Ia yang gres kali ini menikmati kekerabatan seks dengan lelaki selain suaminya itu benar-benar tampak bergairah, ditambah dengan ukuran kemaluan Edo yang super besar dan panjang membuatnya menjadi begitu senang. Dengan sepenuh hati ia raih kenikmatan itu detik demi detik. Tak semili meterpun ia lewatkan kenikmatan penis Edo yang menggesek dinding dalam kemaluannya. Ia semakin berteriak sejadi-jadinya.
“Aahh…, ooohh…, aahh…, ooohh…, ooohh…, enaak…, ooohh…, nikmaatt…, sekali…, Edo sayaanngg…, ooohh Edo…, Do…, enaak sayang ooohh”, teriaknya tak karuan dengan gerakan liar di atas tubuh cowok itu sembari menyebut nama Edo. Ia begitu menyukai cowok itu.
“Ooohh Bu dokter…, ooohh…, ibu juga pintar mainnya…, ooohh, Bu dokter cantik sekali”, balas Edo.
“Remas susu ibu, Do. ooohh…, sedot putingnya sayang…, ooohh pintarnya kamu, oooh…, ibu senang sama punya kamu, ooohh…, nikmatnya sayang, ooohh…, panjang sekali, ooohh…, enaak”, lanjut sang dokter dengan gerakan yang semakin liar. Edo mengimbangi gerakan itu dengan mengangkat-angkat pantatnya ke arah pangkal paha dokter Miranti yang mengapitnya itu. Ia terus menghujani daerah dada sang dokter yang tampak begitu disenanginya, puting susu itupun menjadi kemerahan akhir sedotan verbal Edo yang bertubi-tubi.

Namun beberapa dikala kemudian sang dokter tampak tak dapat lagi menahan rasa nikmat dari penis cowok itu. Ia yang selama dua puluh menit menikmati permainan itu dengan garang, kini mengalami ejakulasi yang begitu hebat. Gerakannya berubah semakin cepat dan liar, diremasnya sendiri buah dada montoknya sambil lebih keras lagi menghempaskan pangkal selangkangannya pada penis Edo hingga sekitar dua menit berlalu ia berteriak panjang sebelum kemudian menghentikan gerakannya dan memeluk tubuh cowok itu.
“Ooohh…, ooohh…, aauu, saya keluarr…, Edo…, aahh…, aah…, aku, nggak berpengaruh lagi aku…, Do…, ooohh…, enaaknya…, sayang, ooohh…, Edo sayang…, hhuuuh…, ibu nggak tahan lagi”, jeritnya panjang sambil memeluk erat tubuh Edo, cairan kelamin dalam rahimnya muncrat memenuhi liang vagina di mana penis Edo masih tegang dan keras.
“Ooohh nikmat bu…, ooohh punya ibu tambah licin dan nikmat…, ooohh…, nikmat Bu dokter, ooohh…, semakin nikmat sekali Bu dokter, ooohh…, enaak, mm…, ooohh…, uuuhh…, ooohh…, ooohh, nikmat sekali…, uuuhh…, Bu dokter cantik…, aauuuhh…, ssshh nikmat bu”, desah Edo merasakan kenikmatan dalam liang vagina sang dokter yang tengah mengalami ejakulasi, vagina itu terasa makin menjepit penisnya yang terus saja menggesek dinding vagina itu. Kepala penisnya yang berada jauh di dalam liang vagina wanita itu merasakan cairan hangat menyembur dan membuat liang vagina sang dokter terasa semakin nikmat dan licin.

Pemuda itu membalas pelukan dokter Miranti yang tampak sudah tak sanggup lagi menggoyang tubuhnya di atas tubuh Edo. Sejenak gerakan mereka terhenti meski Edo sedikit kecewa sebab dikala itu ia rasakan vagina sang dokter sangat nikmat. Ia berusaha menahan birahinya yang masih saja membara dengan memberi ciuman mesra pada wanita cantik itu.
“Oh Edo sayang, kau berpengaruh sekali mainnya sayang, saya puas sekali, ibu betul-betul merasa menyerupai berada di tempat yang paling cantik dengan sejuta kenikmatan cinta. Kamu betul-betul jago”, katanya pada Edo sambil memandang wajah cowok itu tepat di depan matanya, dipeluknya erat pinggang Edo untuk menahan goyangan penis di selangkangannya.

Sejenak Dokter Miranti beristirahat di pelukan cowok itu, ia terus memuji kekuatan dan kejantanan Edo yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan sekalipun dari suaminya. Matanya melirik ke arah jam dinding di kamar itu.
“Edo..”, sapanya memecah keheningan sesaat itu.
“Ya, bu?”, jawab Edo sambil terus memberi kecupan pada pipi dan muka sang dokter yang begitu ia senangi.
“Sudah satu jam lamanya kita bermain, kau hebat sekali, Do”, lanjutnya terheran-heran.
“Saya gres sekali ini melakukannya, Bu”, jawab Edo.
“Ah masa sih, bohong kamu, Do”, sergah dokter Miranti sambil membalas ciuman Edo di bibirnya.
“Benar kok, Bu. Sumpah saya gres kali ini yang pertama kalinya”, Edo bersikeras.
“Tapi kau mainnya kok hebat banget? Dari mana kau tahu gaya-gaya yang tadi kita lakukan”, lanjut sang dokter tak percaya.
“Saya hanya menonton film, Bu”, jawab cowok itu.
Beberapa menit mereka ngobrol diselingi canda dan cumbuan mesra yang membuat birahi sang dokter bangun untuk mengulangi permainannya. Dirasakannya dinding vagina yang tadinya merasa geli dikala mengalami ejakulasi itu mulai terangsang lagi. Edopun merasakan gejala itu dari denyutan vagina sang dokter. Edo melepaskan pelukannya, lalu menempatkan diri tepat di belakang punggung sang dokter, tangannya nenuntun penis besar itu ke arah permukaan lubang kemaluan dokter Miranti yang hanya pasrah membiarkannya mengatur gaya sesuka hati. Pemuda itu kini berada tepat di belakang menempel di punggung sang dokter, lalu perlahan sekali ia memasukkan penis besarnya ke dalam liang sang dokter dari arah belakang pantatnya.

“Ooohh, pintarnya kau Edo…, oooh ibu suka gaya ini, mm…, goyang teruuuss…, aahh, nikmat do, ooohh…, hingga pangkalnya terusss, ooohh…, enaak..tarik lagi sayang ooohh, masukin lagii ooohh, hingga pangkal nya Edo…, ooohh, sayang nikmat sekali, ooohh…, oohh Edo…, ooohh…, mm…, Edo…, sayang”, desah sang dokter begitu merasakannya, atas bawah tubuhnya merasakan kenikmatan itu dengan sangat sempurna. Tangan Edo meremas susunya sementara penis cowok itu tampak terang keluar masuk liang vaginanya. Keduanya kembali terlihat bergoyang mesra meraih detik demi detik kenikmatan dari setiap gerakan yang mereka lakukan. Demikian juga dengan Edo yang menggoyang dari arah belakang itu, ia terus meremas payudara montok sang dokter sambil memandang wajah cantik yang membuatnya semakin bergairah. Kecantikan Dokter Miranti yang sangat menawan itu benar-benar membuat gairah bercinta Edo semakin membara. Dengan sepenuh hati digoyangnya tubuh molek dan putih mulus itu sampai-sampai bunyi decakan pertemuan antara pangkal pahanya dan pantat besar sang dokter terdengar keras mengiringi desahan verbal mereka yang terus mengoceh tak karuan menikmati hebatnya rasa dari permainan itu.

Sekitar dua puluh menit berlalu tampak kedua manusia itu sudah tak dapat menahan lagi rasa nikmat dari permainan mereka hingga kini keduanya semakin berteriak keras sejadi-jadinya. Tampaknya mereka ingin segera menyelesaikan permainannya secara bersamaan.
“Huuuh…, ooohh…, ooohh…, aahh…, ooohh…, nikmat sekali Do, goyang lagi sayang, ooohh…, ibu mau keluar sebentar lagi sayang, ooohh…, goyang yang keras lagi sayang, ooohh…, enaknya penis kamu, ooohh…, ibu nggak berpengaruh lagi oooh”, jerit dokter Miranti.
“Uuuhh…, aahh…, ooohh, mm…, aah…, saya juga mau keluar Bu, ooohh…, dokter Miranti sayaang, ooohh…, mm…, enaakk sekali, ooohh…, ooohh, dokter sayang, ooohh…, dokter cantik, ooohh…, enaakk…, dokter dokter sayang, ooohh…, vagina dokter juga nikmat sekali, oooh”, teriak Edo juga.
“Ooohh enaknya sayang, ooohh…, pintar kau sanyang, ooohh…, kocok terus, oooh…, genjot yang keraass, ooohh”.
“Ooohh dokter, susunya…, ooohh…, saya mau sedot, ooohh”, Edo meraih susu sang dokter lalu menyedotnya dari arah samping.
“Oooh Edo pintarnya kau sayang, ooohh…, nikmatnya, ooohh…, ibu sebentar lagi keluar sayang, ooohh…, keluarin samaan yah, ooohh”, ajak sang dokter.
“Saya juga mau keluar Bu, yah kita samaan Bu dokter, ooohh…, vagina ibu nikmat sekali, ooohh…, mm…, enaknya, ooohh”, teriak Edo sambil mempercepat lagi gerakannya.

Namun beberapa dikala kemudian dokter Miranti berteriak panjang mengakhiri permainannya.
“Aauuuwww…, ooohh…, Edooo, ibu nggak tahan lagiii…, keluaar…, aauhh nikmatnya sayang, ooohh”, jeritnya panjang sambil membiarkan cairan kelaminnya kembali menyembur ke arah penis Edo yang masih menggenjot dalam liang kemaluannya. Edo merasakan gejala itu lalu berusaha sekuat tenaga untuk membuat dirinya keluar juga, beberapa dikala ia merasakan vagina sang dokter menjepit kemaluannya keras diiringi semburan cairan mani yang deras ke arah penisnya. Dan beberapa dikala kemudian ia akhirnya berteriak panjang meraih klimaks permainan.
“Ooohh…, aahh…, oooww…,aahh, dokter…, Miranti…, sayyaang…, oooh…, enaak sekalii…, ooohh saya juga keluaarr, ooohh”, jeritnya panjang sesaat setelah sang dokter mengakhiri teriakannya.
“Edo sayang, ooohh…, jangan di dalam sayang, ooohh…, ibu nggak pakai alat kontrasepsi, ooohh…, sini keluarin di luar Edo, sayang berikan pada ibu, oooh…, enaknya, cabut sayang. Semprotkan ke Ibu, ooohh”, pintanya sembari merasakan nikmatnya denyutan penis Edo. Ia gres sadar dirinya tak memakai alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Didorongnya tubuh Edo sambil meraih batang penis yang sedang meraih puncak kenikmatan itu.

Kemudian cowok itu mencabut penisnya dengan tergesa-gesa dari liang kemaluan sang dokter dan, “Cropp bresss…, crooottt.., crooott.., creeess”, cairan kelamin Edo menyembur ke arah wajah sang dokter. Edo berdiri mengangkang di atas tubuhnya dan menyemburkan air maninya yang sangat deras dan banyak ke arah tubuh dan muka sang dokter. Sebagian cairan itu bahkan masuk ke verbal sang dokter.
“Ohh…, sayang,terus ooohh…, berikan pada ibu, ooohh…, hmm…, nyam…, enaknya, ooohh…, semprotkan pada ibu, ooohh…, ibu ingin meminumnya Edo, ooohh…, enaakkknya sayang, oooh…, lezat sekali”, jerit wanita itu kegirangan sambil menelan habis cairan mani cowok itu ke dalam mulutnya, bahkan belum puas dengan itu ia kembali meraih batang penis Edo dan menyedot keras batang kemaluannya dan menelan habis sisa-sisa cairan itu hingga Edo merasakan semua cairannya habis.

“Ooohh Bu dokter, ooohh dokter, saya puas sekali bu”, kata Edo sembari merangkul tubuh sang dokter dan kembali berbaring di tempat tidur.
“Kamu berpengaruh sekali Edo, sanggup membuat ibu keluar hingga dua kali, kau benar-benar hebat dan pintar mainnya, ibu suka sekali sama kamu. Nggak pernah sebelumnya ibu merasakan kenikmatan menyerupai ini dengan suami ibu. Dia bahkan tak ada apa-apanya dibanding kamu”, seru sang dokter pada Edo sambil mencium dada cowok itu.
“Saya juga benar-benar puas sekali, Bu. Ibu memperlihatkan kenikmatan yang nggak pernah saya rasakan sebelumnya. Sekarang saya tahu bagaimana nikmatnya bercinta”, jawab Edo sekenanya sambil membalas ciuman dokter Miranti. Tangannya membelai halus permukaan buah dada sang dokter dan memilin-milin putingnya yang lembut.
“Tapi apakah ibu tidak merasa berdosa pada suami Ibu, kita sedang berselingkuh dan ibu punya keluarga”, sergah Edo sambil menatap wajah manis dokter Miranti.
“Apakah saya harus setia hingga mati sementara ia sekarang mungkin sedang asyik menikmati tubuh wanita-wanita lain?”.
“Benarkah?”.
“Aku pernah melihatnya sendiri, Do. Waktu itu kami sedang berlibur di Singapura bersama kedua anakku”, lanjut sang dokter memulai ceritanya pada Edo.

Edo hanya terdiam mendengar dongeng dokter Miranti. Ia menceritakan bagaimana suaminya memperkosa seorang pelayan hotel tempat mereka menginap waktu ia dan anak-anaknya sedang berenang di kolam hotel itu. Betapa terkejutnya ia dikala menemukan sang pelayan keluar dari kamarnya sambil menangis histeris dan terisak menceritakan semuanya pada manajer hotel itu dan dirinya sendiri.
“Kamu bisa bayangkan, Do. Betapa malunya ibu, sudah bertahan-tahun kami hidup bersama, dengan dua orang anak, masih saja ia berbuat menyerupai itu, dasar lelaki kurang ajar, bedebah ia itu…”, ceritanya pada Edo dengan muka sedih.
“Maaf kalau saya mengungkap sisi buruk kehidupan ibu dan membuat ibu bersedih”.
“Tak apa, Do. Ini kenyataan kok”.
Dilihatnya sang dokter meneteskan air mata, “Saya tidak bermaksud menyinggung ibu, oh..”, Edo berusaha menenangkan perasaannya, ia memeluk tubuh sang dokter dan memberinya beberapa belaian mesra. Tak disangkanya dibalik kecantikan wajah dan ketenaran sang dokter ternyata wanita itu memiliki problem keluarga yang begitu rumit.
“Tapi saya yakin dengan tubuh dan wajah ibu yang cantik ini ibu bisa dapatkan semua yang ibu inginkan, apalagi dengan permaian ibu yang begitu nikmat menyerupai yang gres saja saya rasakan, bu”, Kata Edo menghibur sang dokter.
“Ah kau bisa aja, Do. Ibu kan sudah nggak muda lagi, umur ibu sekarang sudah empat puluh tiga tahun, lho?”.
“Tapi, Bu terus terang saja saya lebih senang bercinta dengan wanita cukup umur menyerupai ibu. Saya suka sekali bentuk tubuh ibu yang bongsor ini”, lanjut cowok itu sambil memperlihatkan ciuman di pipi sang dokter, ia mempererat pelukannya.
“Kamu mau pacaran sama ibu?”.
“Kenurut ibu apa yang kita lakukan sekarang ini bukannya selingkuh?”, tanya Edo.
“Kamu benar suka sama ibu?”.
“Benar, Bu. Sumpah saya suka sama Ibu”, Edo mengecup bibir wanita itu.
“Oh Edo sayang, ibu juga suka sekali sama kamu. Jangan bosan yah, sayang?”.
“Nggak akan, bu. Ibu begitu cantik dan molek, masa sih saya mau bosan. Saya sama sekali tidak tertarik pada gadis remaja atau yang seumur. Ibu benar-benar sesuai menyerupai yang saya idam-idamkan selama ini. Saya selalu ingin bermain cinta dengan ibu-ibu istri pejabat. Tubuh dan goyang Bu dokter sudah membuat saya benar-benar puas”.
“Mulai sekarang kau boleh minta ini kapan saja kau mau, Do. Ibu akan berikan padamu”, jawab sang dokter sambil meraba kemaluan Edo yang sudah tampak tertidur.
“Terima kasih, Bu. Ibu juga boleh pakai saya kapan saja ibu suka”.
“Ibu sayang kamu, Do”.
“Saya juga, Bu. oooh dokter Miranti…”, desah cowok itu kemudian merasakan penisnya teremas tangan sang dokter.
“Oooh Edo, sayang..”, balas dokter Miranti menyebut namanya mesra.

Kembali mereka saling berangkulan mesra, tangan mereka meraih kemaluan masing-masing dan berusaha membangkitkan nafsu untuk kembali bercinta. Edo meraih pantat sang dokter dengan tangan kirinya, mulutnya menyedot bibir merah sang dokter. “Oooh dokter Miranti, sayang…, ooohh”, desah Edo merasakan penisnya yang mulai bangun lagi merasakan remasan dan belaian lembut tangan sang dokter. Sementara tangan cowok itu sendiri kini meraba permukaan kemaluan dokter Miranti yang mulai terasa berair lagi.
“ooohh…, uuuhh Edo sayang…, nikmat.sayang, ooohh Edo…, Ibu pingin lagi, Do, ooohh…, kita main lagi sayang, ooohh”, desah manja dan menggairahkan terdengar dari verbal dokter Miranti.
“Uuuhh…, saya juga kepingin lagi Bu dokter, ooohh…, Ibu cantik sekali, oooh…, dokter Miranti sayang, ooohh…, remas terus penis saya Bu, ooohh”.
“Ibu suka penis kau Do, bentuknya panjang dan besar sekali. ooouuuhh…, gres pertama ini ibu merasakan penis menyerupai ini”, bunyi desah dokter miranti memuji kemaluan Edo.

Begitu mereka tampak tak tahan lagi setelah melaksanakan pemanasan selama lima belas menit, lalu kembali keduanya terlibat permainan seks yang hebat hingga kira-kira pukul empat dini hari. Tak terasa oleh mereka waktu berlalu begitu cepat hingga membuat tenaga mereka terkuras habis. Dokter Miranti berhasil meraih kepuasan sebanyak empat kali sebelum kemudian Edo mengakhiri permainannya yang selalu lama dan membuat sang dokter kewalahan menghadapinya. Kejantanan cowok itu memang tiada duanya. Ia bisa bertahan selama itu, tubuh sang dokter yang begitu membuatnya bernafsu itu digoyangnya dengan segala macam gaya yang ia pernah lihat dalam film porno. Semua di praktikkan Edo, dari ‘doggie style’ hingga 69 ia lakukan dengan penuh nafsu. Mereka benar-benar mengumbar nafsu birahi itu dengan bebas. Tak satupun tempat di ruangan itu yang terlewat, dari tempat tidur, kamar mandi, bathtub, meja kerja, toilet hingga meja makan dan sofa di ruangan itu menjadi tempat pelampiasan nafsu seks mereka yang membara.

Akhirnya setelah melewati ronde demi ronde permainan itu mereka terkulai lemas saling mendekap setelah Edo mengalami ejakulasi bersamaan dengan orgasme dokter Miranti yang sudah empat kali itu. Dengan saling berpelukan mesra dan kemaluan Edo yang masih berada dalam liang vagina sang dokter, mereka tertidur pulas.

Malam itu benar-benar menjadi malam yang sangat cantik bagi keduanya. Edo yang gres pertama kali merasakan kehangatan tubuh wanita itu benar-benar merasa puas. Dokter Miranti telah memberinya sebuah kenikmatan yang selama ini sangat ia dambakan. Bertahun-tahun lamanya ia bermimpi untuk dapat meniduri istri pejabat menyerupai wanita ini, kini dokter Miranti datang dengan sejuta kenikmatan yang ia berikan. Semalam suntuk penuh ia lampiaskan nafsu birahinya yang telah terpendam sedemikian lama itu di tubuh sang dokter, ia lupa segalanya. Edo tak dapat mengingat sudah berapa kali ia buat sang dokter meronta merasakan klimaks dari kekerabatan seks itu. Cairan maninya terasa habis ia tumpahkan, sebagian di verbal sang dokter dan sebagian lagi disiramkan di sekujur tubuh wanita itu.

Begitupun dengan dokter Miranti, baginya malam yang cantik itu ialah malam pertama ia merasakan kenikmatan seksual yang sesungguhnya. Ia yang tak pernah sekalipun mengalami orgasme dikala bermain dengan suaminya, kini merasakan sesuatu yang sangat hebat dan nikmat. Kemaluan Edo dengan ukuran super besar itu telah memberinya kenikmatan maha dahsyat yang takkan pernah ia lupakan. Belasan kali sudah Edo membuatnya meraih puncak kenikmatan senggama, tubuhnya menyerupai rontok menghadapi keperkasaan anak muda itu. Umur Edo yang separuh umurnya itu membuat suasana hatinya sangat bergairah. Bagaimana tidak, seorang cowok ganteng dan perkasa yang berumur jauh di bawahnya memberinya kenikmatan seks bagai seorang ksatria gagah perkasa. Ia sungguh-sungguh puas lahir batin sampai-sampai ia rasakan tubuhnya terkapar lemas dan tak bisa bergerak lagi, cairan kelaminnya yang terus mengucur tiada henti dikala permainan cinta itu berlangsung membuat vaginanya terasa kering. Namun sekali lagi, ia merasa puas, sepuas-puasnya.

Sejak dikala itu, dokter Miranti menjalin kekerabatan gelap dengan dengan Edo. Kehidupan mereka kini penuh dengan kebahagiaan cinta yang mereka raih dari kencan-kencan diam-diam yang selalu dilakukan kedua orang itu dikala suami dokter Miranti tidak di rumah. Di hotel, di apartement Edo atau bahkan di rumah sang dokter mereka lakukan perselingkuhan yang selalu diwarnai oleh kekerabatan seks yang seru tak pernah mereka lewatkan.

Terlampiaskan sudah nafsu seks dan dendam pada diri mereka masing-masing. Dokter Miranti tak lagi mempermasalahkan suaminya yang doyan perempuan itu. Ia bahkan tak pernah lagi mau melayani nafsu birahi suaminya dengan serius. Setiap kali lelaki itu memintanya untuk bercinta ia hanya melayaninya setengah hati. Tak ia hiraukan lagi apakah suaminya puas dengan permainan itu, ia hanya memperlihatkan pelayanan sekedarnya hingga lelaki botak dan berperut besar itu mengeluarkan cairan kelaminnya dalam waktu singkat kurang dari tiga menit. Ingin rasanya dokter Miranti meludahi muka suaminya, lelaki tak tahu malu yang hanya mengandalkan uang dan kekuasaan. Yang dengan diktatorial membeli kewanitaan orang dengan uangnya. Lelaki itu tak pernah menyangka bahwa istrinya telah jatuh ke tangan seorang cowok perkasa yang jauh melebihi dirinya. Ia benar-benar tertipu.

Cerita Dewasa Sex – Nimatnya Ngesex Dengan Cheerleaders

Cerita Dewasa Sex – Nimatnya Ngesex Dengan CheerleadersCerita seks terbaru edisi ini akan menceritakan kembali dongeng itu serpihan panas yang terjadi di salah satu ABG masih duduk di SMA, alasannya ialah kebiasaan yang sering membuatnya gairah, risikonya perjaka ini tidak berpengaruh juga. ia memilih daerah yang relatif rentan, gedung sekolah daerah ia belajar.





Sebut saja Nama saya Rey. Hari ini dongeng sudah usang persis setahun yang lalu, ketika saya kelas 2 SMA (sekarang kelas 3). Pada awalnya saya pikir itu biasanya dapat mengurangi rasa tinggi ML, dengan tujuan film bokep.Tapi untuk bias ketika ini sulit alasannya ialah saya melihat adikku yang mengenakan handuk dari kamarnya ke ruang mandi.Dalam perihal seks, saya mengenal diri saya sebagai nafsu besar dan agak sembrono untuk kepuasan seks sendiri.Memegang penis saya beberapa kali membuat saya tidak takut untuk pergi-mana bangun batang, dan sensasi luar biasa bagi saya.

Aku digunakan untuk mengintip gadis-gadis sekolah saya ialah seksi masturbasi, nafsuin, dan sebagainya dari banyak sekali daerah sepulang sekolah. Misalnya, mengintip gadis-gadis pemandu sorak ketika ia melatih dari jendela kelas di kedua. Udah Juga sangat ingin bersembunyi di toilet cewek (untungnya saja daerah yang bersih) dan mengintip paha atau anak perempuan pakaian dari bawah pintu berpakaian olahraga, hingga kencing, dan lainnya. Bahkan tidak hanya siswi yang menjadi seks Rebound ‘korban’, guru perempuan yang nafsuin, cantik, seksi dan begitu juga.

Seperti dibilang sebelumnya, ketika kelas 2, kelas saya ada seorang gadis cantik berjulukan Mulan. Tapi tidak ibarat biasanya, nafsu tidak bergejolak, hanya biasa-biasa saja. Bahkan, ada saya hanya jatuh cinta padanya. Dan saya pikir beliau tidak juga. Tidak hanya itu, bawah umur seringkali menarik hati atau mencomblangkan saya bersamanya.

Pada awalnya ketika saya melihat perilaku dan ekspresi di wajahnya, saya menilai beliau sebagai seorang gadis yang bukan nafsu makan besar. Mulan tidak seksi, tubuh-kandungan tidak berisi benar-benar. Pantatnya tidak seksi. Dadanya juga mungkin sedikit kurang dari 34. Tapi kulit putihnya, paha dan leher sering muncul agak seragam sehingga longgar membuat jiwa gejolak lama saya. Rambutnya seperti. Curl, split tengah ke samping, dan kebiruan hitam / biru hitam. Tapi, pikiran saya ditutup oleh Ja-Im (jaga image) di depan dia, dan berpikir kemudian ketika ia menemukan arah gres dapat melaksanakan apapun.

Suatu hari, saya nekatku niat untuk berjalan ibarat biasa. Pertama saya bersembunyi di kamar mandi anak perempuan toilet. Aku tahu hari itu akan menghibur latihan anak perempuan berpakaian, sehingga semua harus memakai seragam sedikit kompetisi terbuka (telah ditambahkan sehingga gadis-gadis yang seksi-seksi lagi). Saya melihat itu ialah model pakaian dalam waktu yang berbeda yang terpeleset di beberapa bab bokong, mulai dari titik putih polos, polka, biru, dan lainnya.

Barang bawah segera berdiri, dan saya mencoba untuk membuka ritsleting dengan perlahan. Setelah beberapa ketika saya mulai masturbasi, tiba-tiba ada cewek yang pergi ke toilet, kemudian mengobrol dengan gadis-gadis ceria itu. Dan ketika saya melihat sepatunya, ialah Mulan. Dia kemudian dikoreksi rok sedikit abu-abu, kemudian angkat kedua kaki secara bergantian ke tembok untuk memperbaiki tali sepatu. Saat itu saya melihat dengan terang bahwa murni paha mulus putih. Bagaimana kekerasan hal saya waktu itu. Tapi sebelum saya dapat melepaskan spermaku, gadis-gadis telah pergi semua. Akhirnya saya mengambil daerah lainnya dari kelas. Aku mengintip dan melanjutkan onani sambil duduk di bangku bersahabat jendela. Fuuhhh .., cheers setelah seksi-seksi.

Tak lama kemudian, tiba-tiba ada seseorang yang lewat di depan kelas saya yang tampaknya menjadi seorang gadis. Tiba-tiba lagi, saya tidak punya waktu untuk memperbaiki celana, gadis itu memasuki ruang kelas saya. Itu Mulan itu ..! Kagetku tidak mampu digambarkan dengan kata atau menulis dalam bahasa apapun. Maluku juga mengalami nasib yang sama. Cat merah mungkin masih kurang dari merah wajahku.

Mulan kemudian setengah berteriak, “Yaampuuunnn .., yang Iaaaan .. kamuuu lakukan ..?” (Mulan gunakan ketika berbicara dengan saya-Anda).
Mulan melihat saya dengan malu-malu setengah tersenyum. Tersenyum bibir beliau menutupi dengan tangan ibarat menyembah manusia.
Aku tergagap berbicara, “Eehh .., Lan .., ini …”
Dia segera memotong pembicaraan gagap saya, kembali ke ekspresi senyum, “hahaa .., dasar .. sini dong! Bantuin nyariin buku LKS LKS gaya …”
Untuk sesaat saya hanya bingung. Mulan telah melihat Aku, bab bawah telanjang benar-benar biasa-biasa saja, dan bahkan meminta pertolongan untuk menemukan buku itu lagi ..? Saya pikir, ya .. apalagi, mari kita berharap beliau tidak ’ember’ (cerita dari orang lain). Dengan berpura-pura tidak ada sesuatu, saya eksklusif pergi dan membuka dan mencari di lemari kelas. Mulan bangun di atasku dengan busur. Ketika saya sedang mencari buku, saya menyadari bahwa saya melihat Mulan.
Ketika kulihati dia, dan saya bertanya, “Kenapa, Lan ..?”, Dia hanya menjawab, “Ehem .., .. Ooh, enggaaak …” dengan nada manja.

Lalu saya melihat sekilas seragamnya agak leher ke bawah, sehingga bra-berpakaian payudara terlihat. Tentu, tidak besar dan tidak kecil, tetapi dapat membuat jiwa saya. Kemudian lagi saya terus mencari buku-bukunya. Tahu-tahu, Mulan mendekatkan wajahnya ke pipi kanan saya, dan menciumnya dengan lembut. Akibatnya, rambut leher saya jadi dingin. Apalagi ditambah sebuah ciuman Mulan naik ke telinga.

Saya setengah berbisik, “Lan ..,” ia malah pergi untuk mencium bibirku.
Tanpa pikir panjang, saya mendapatkan dan membayar menciumnya. Tidak mau kalah. Mulan kemudian melingkari lengannya di leher saya. Aku memeluk pinggang tubuhnya pantat kuelus sekali-sekali. Mulan mulai berciuman lidahnya. Dibersihkan lagi, kutabrak-tabrakkan pengecap di verbal saya dengan pengecap saya. Ternyata belakang layar Mulan nafsuan juga. Aku mencoba menyelinap satu tangan di bawah baju seragamnya sudah keluar. Punggungnya benar-benar baik membelai.

Berciuman cukup panjang. Mulan-ngulum tampaknya menikmati mengisap pengecap saya. Lalu, Mulan membuka baju sendiri dan kemeja juga. Untungnya kali ini saya kebetulan tidak memakai kaos dalam, sehingga tidak terlalu memperhatikan. Mulan kemudian melepas bra-nya, model tidak memakai tali. Ketika saya melihat sekilas, payudaranya terlihat lebih kencang dan, sedikit lebih besar mungkin gadis ereksi. Terutama ketika kuraba menebak, apa yang pernah payudara kekerasan Mulan. Coklat gelap puting.

Masih berdiri, saya menundukkan kepala saya dan kuelus payudara indahnya dengan pengecap saya. Kubasahi dan kujilati kembali sekitar. Mulan menikmati lidahku menjilati payudaranya. Dia menjawab dengan, “Aahhh .., uughhh ..,” dan dengan sedikit jambakan rambut. Tidak lama setelah menghisap ‘pepaya bangkok’, Mulan membawa saya untuk duduk di kursi, dan beliau melucuti celana abu-abu dan pakaian dalam. Mulan ingin ‘spongky-spongky’ (seks oral).

Sebelum memulai, goyang-ngocok Mulan ialah napas kecil, “Aghh .., ahh ..,”
Sekarang saya tahu bagaimana rasanya apa yang dikatakan orang sebanyak terkena getaran atau sengatan. Stuff ereksi lurus keras. Mulan mulai perlahan menempatkan barang-barang saya ke dalam mulutnya, malu-malu sedikit.

Ketika bibirnya di ujung barang saya, saya refleks mendongak, kedua tangan mencengkeram pinggir meja dan bangku dengan keras. Namun, setelah perjalanan panjang ke bawah hal Mulan menghisapi, itu mulai normal. Ternyata lezat. Mulan juga sesekali menjilat di sekitar barang-barang saya, dan kemudian terus menghisap. Saat itu mungkin itulah ereksi terbesar dan terkerasku sejauh ini, dan juga mungkin terpanjang.

Mulan memegang pangkal batang dengan kedewasaan keras. Mulan kadang membelai testisku bulu dan menjilat saya sangat geli tapi tidak senang untuk tertawa, tapi kesenangan geli. Saat berafiliasi seks, saya tidak menghabiskan apa-apa dialog dan Mulan tetapi hanya mendesah, “Aghg .. ehhh …” desahan-desahan dan lainnya.

Tidak lama kemudian, Mulan mendudukiku tidak, tapi beliau benar-benar berjongkok dan mulai melaksanakan masturbasi saya keluar. Untuk sesaat saya pikir mungkin beliau tidak mau perawannya hilang. Namun, pada risikonya saya tidak peduli. Saya mendapatkan bahwa kocokannya kocokanku lebih baik daripada sendiri. Selain itu, ketika tangan dipukuli di dasar kepala penisku, wuiihhh .., mungkin ratusan listrik volt. Mungkin alasannya ialah jiwaku sangat besar, lebih sedikit dari orgasme saya tercapai.

Cerita Dewasa Sex – Ngentot Demi Jawaban Ujian

Cerita Dewasa Sex – Ngentot Demi Jawaban Ujian  , “Neng Luisa……” sebuah bunyi memanggil seorang gadis yang gres saja keluar dari sebuah kelas di salah satu SMU swasta terkenal di ibukota.

Saat itu acara mencar ilmu mengajar di sekolah gres saja selesai, dan semua siswa-siswi berkemas-kemas untuk pulang. Gadis yang dipanggil itu berhenti sejenak lalu memutar tubuhnya ke belakang sambil menatap seorang lelaki setengah baya yang tergopoh-gopoh lari ke arahnya. Melihat siapa yang datang, gadis itu eksklusif memisahkan diri dengan teman-temannya, lalu mengajak lelaki tadi masuk kembali ke dalam sebuah kelas kosong untuk berbicara 4 mata saja. Nampaknya ada hal yang sangat serius yang mereka obrolin. Sekitar 10 menit mereka mengobrol, kemudian gadis itu keluar dari kelas itu dengan tersenyum penuh arti. Demikian juga lelaki setengah baya itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Akhirnya gadis itu kembali menyusul teman-temannya, bersiap-bersiap untuk pulang. Nama gadis itu yakni Luisa. Usianya gres 17 tahun. Ia sekolah di kelas 2 sebuah SMU swasta terkenal di ibukota ini. Luisa merupakan salah satu cewek terpopuler di sekolahnya. Gadis belia itu sangat cantik, dengan hidung mungil yang lucu. Dia memiliki kulit putih bersih yang mulus, mata lingkaran dengan bulu mata yang lentik dan panjang hitam lurus sepunggung. Gadis manis itu memiliki tubuh mungil khas remaja, dengan dada yang tidak begitu besar namun semok dan menantang serta dihiasi seragam SMU yang ketat, rok yang beberapa centi di atas lutut, dan kaus kaki putih panjang yang menutupi keindahan betisnya. Ya, kecantikan wajah dan tubuhnya, nyaris sempurna, sangat sesuai dengan selera om-om hidung belang. Ditunjang bibirnya tipis menggoda, dan selalu dihiasi senyum pembangkang remaja, membuatnya sebagai magnet bagi kaum lelaki, termasuk lelaki yang gres saja diajaknya ngobrol di kelas tadi. Lelaki setengah baya yang gres saja berbicara dengan Luisa yakni Mang Hamad. Dia yakni pesuruh sekolah ini yang bertugas antara lain sebagai tukang sapu sekaligus tukang kebun sekolah. Umurnya sudah 52 tahun. Dia bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam. Rambutnya yang putih tipis nyaris botak sedangkan kumis dan janggutnya tumbuh liar tak teratur. Tetapi yang paling tidak mengenakan untuk di lihat yakni tampanganya sangat jelek. Tahun ini ia sudah bekerja selama 12 tahun dan ia dipertahankan kepala sekolah alasannya yakni sangat baik dan rajin. Murid-murid sekolah itupun sangat senang bergaul dengannya yang sangat ramah.

Di sebuah kompleks perumahan

Pukul 16.00

Dengan sepeda bututnya, Mang Hamad menyusuri jalan di sebuah perumahan menengah atas. Sepeda itu berhenti di sebuah rumah bertingkat dua dengan taman garasi kendaraan beroda empat di sampingnya. Mang Hamad menjulurkan tangannya ke dalam pagar untuk mencari knop bel. Tak lama kemudian dari dalam sana keluar seorang gadis belia dengan senyuman khasnya yang nakal. Gadis itu yakni Luisa. Tubuhnya yang cantik itu terbungkus hotpants ketat berwarna putih dan baju berkancing tanpa lengan yang berwarna sama dengan bawahannya. Penampilan sangat seksi dan menarik hati sore itu.

“Sore mang, yuk masuk!” ajak gadis itu.

Maka Hamad pun kesudahannya memasukkan juga sepedanya ke dalam setelah Luisa membukakan pagar untuknya. Mang Hamat mengikutinya dari belakang, sesekali matanya menatap pantat gadis itu yang bergoyang kesana-kemari dengan indahnya. Begitu lingkaran dan padat tepat bokong itu hingga Mang Hamad gemas ingin meremasnya. Luisa menyuruh Mang Hamad memasukkan sepedanya ke garasi yang kebetulan hari itu kosong, yang mengambarkan ada yang memakai kendaraan beroda empat keluarganya. Kemudian ia mengikuti si empunya rumah memasuki rumah itu setelah melepas bantalan kaki dan menaruhnya di depan pintu.

“Mang Hamad bawa kan barangnya?” tanya Luisa dengan wajah penuh harap.

“Bawa neng. Tapi harus cepat-cepat dikembalikan. Takut kepala sekolah tahu”

“Tenang aja, cuman bentar kok” jawab Luisa dengan tersenyum puas.

“Tapi duit perjanjiannya sudah ada kan neng?”

“Santai saja mang. Tapi saya lihat dulu dong apa yang Mang Hamad bawa apa”

“Boleh” jawab Mang Hamad seraya mengeluarkan sesuatu dari balik punggunya.

“Eh mang, kita lihat di kamar Luisa aja. Ga ada orang kok” kata Luisa lalu mengajak Mang Hamad ke dalam kamarnya.

Di dalam kamar, gadis itu lalu duduk di atas ranjangnya yang diikuti Mang Hamad.

“Mana mang?”

“Ini neng, menyerupai yang neng minta” kata Mang Hamad tersenyum sambil menyerahkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas.

Luisa melihat semua isi map itu dan ikut juga tersenyum bahagia.

“Benar kan ini yang neng Luisa mau?”

“Benar mang. Pintar juga nih si mamang” puji gadis itu

“Siapa dulu dong….Hamad bin Abdul Aziz” kelakar pesuruh sekolah renta itu sambil membusungkan dadanya.

“Tapi ga ada yang tahu kan?”

“Sumpah ga ada neng. Tenang aja. Sekarang mana duit yang neng janjikan”

Luisa terdiam sejenak. Dia memang menjanjkan sejumlah uang kepada pesuruh sekolahnya ini untuk “jasa’ yang telah dilakukan Mang Hamad. Tapi terus terang ia tidak menyangka Mang Hamad akan berhasil. Luisa gotong royong orang yang berada. Uang jajannya terbilang banyak. Orangtuanya selalu menunjukkan uang jajan setiap bulan (bukan perhari menyerupai siswa lain), dengan jumlah yang cukup banyak untuk ukuran anak SMA. Hal itu dimaksud biar Luisa jadi disiplin dan mampu me-manage duit sendiri. Tapi sayang, gaya hidup Luisa sangat glamor, suka hura-hura. Dia memang dikenal cukup gaul, modis alasannya yakni badannya memang bagus dan wajahnyapun cantik. Butuh biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkan semua itu, maka maka tak heran gres pertengahan bulan menyerupai ini ia sudah kehabisan uang. Kalau sudah begitu maka jangan harap ortunya yang disiplin dalam hal keuangan itu akan menunjukkan uang jajan tambahan.

“Mana duitnya neng? Mau mabok-mabokan dulu nih. Hehehe…” pinta Mang Hamad.

“eh..gini mang…anu…..” kata Luisa terbata-bata.

“Apa? Jangan bilang ga ada duit?”

“Bukan begitu. Makara gini. Duit Luisa lagi ga ada sekarang. Habis kepake. Gimana kalo saya bayar bulan depan?”

“Ya elah neng. Tahu gitu ga mau deh mamang ambil resiko kayak gini”

“Maaf deh mang…Bulan depan ya…beneran ini uang jajan saya sudah habis nih” kata Luisa memelas.

“Masa utang. Kalo gitu ga jadi deh. Cape-cape saya nyolong ini” kata Mang Hamad sambil berdiri dan siap-siap keluar dari kamar.

Luisa lalu memutar otak dengan cepat. Dia ga boleh membiarkan Mang Hamad pergi membawa “barang” itu. Karena itu sangat penting baginya. Menyangkut masa depannya. Maka ia bertekad akan melaksanakan apapun asal ia mendapatkannya. Agaknya terpaksa ia harus memakai cara terakhir, maka ia lalu berdiri dan memanggil Mang Hamad yang sudah di pintu kamarnya.

“Mang…..” panggil Luisa pelan, suaranya dibuat sesexy mungkin.

Mang Hamad menoleh ke belakang.

———-

“Apa lagi? Pokoknya ada uang ada barang.” katanya.

“Jangan gitu dong mang. Lagi ga ada uang. Gimana kalo barang diganti barang?”

“emang pasar loak mampu barang diganti barang”

“Aku yakin barang yang ini mamang suka deh” kata Luisa menggoda.

“Barang apaan?”

“Mamang duduk dulu deh di ranjang ini” kata Luisa, ia lalu berjalan ke pintu kamar.

“Hei.. neng mau kemana?”

Luisa membisu saja, pintu kamarnya itu dikuncinya lalu kembali ke arah Mang Hamad yang duduk melongo tak mengerti. Luisa sekarang berhadapan dengan Hamad. Perlahan-lahan dibukanya kaos tanpa lengennya di hadapan pria renta itu sehingga sehingga BH-nya yang warna pink dan perutnya yang mulus dan putih telah terlihat oleh Mang Hamad. Kontan Mang Hamad melotot dan kaget dengan perlakuan gadis itu. Matanya makin melotot ketika Luisa juga melepaskan BH-nya, sehingga kini kedua payudaranyas terbuka lebar-lebar dan pria itu mampu melihatnya dengan bebasnya.

“Barang yang ini loh yang saya maksud” kata Luisa dengan genit memamerkan dadanya.

Memang payudara Luisa betul-betul cantik menggoda. Keduanya begitu menantang untuk diraba-raba dan diremas-remas. Sementara kedua putingnya berwarna kemerahan nampak segar menantang untuk dikulum. Mang Hamad masih melongo tak tahu berbuat apa atas perlakukan nekat Luisa.

“Mang, bagaimana kalo duit yang saya janjikan diganti dengan tubuh saya? Mang Hamad boleh menikmati tubuh saya hingga mamang puas. Tapi mamang serahkan barang itu” bujuk Luisa.

Lalu tangannya menggapai tangan Mang Hamad yang berotot. Tangan Mang Hamad yang masih terbengong lalu ditempelkannya di payudaranya. Tangan kekar dan bergairah itu tepat memenuhi payudara Luisa. Tangan Mang Hamad agak lembap berkeringat. Tapi tiba-tiba tangan itu meremas payudara Luisa dengan lembut.

“Aaahh…gitu…terus… Mang..” desah Luisa manja.

“Luisa… tetek kau cantik sekali.. bening banget… kenyal lagi…”.

“Asal mamang mau kasih barang itu, mamang boleh kok menikmtinya hingga puas”

“Benar nih??” tanya penjaga sekolah itu seperti tak percaya.

“Benar Mang” kata Luisa dengan mengarahkan kepala Mang Hamad ke payudaranya. A

Mang Hamad yang sudah terangsang mulai mencium payudara Luisa, dicium, dijilat, dikenyot, dihisap dan digigit putingnya yang berwarna kemerahan.

“Mang.. aaahhh.. aahhh en… enak.. Mang..”

“Iya… neng… pentilnya… manis nih”

“Ayo mang nikmatin sepuasmu…ahhhh……” desah Luisa.

Sementara payudara Luisa sedang dilahap oleh ekspresi Mang Hamad, tangannya mulai merambah ke paha gadis itu, dirabanya sebentar paha mulus itu lalu diturunkannya hotpants Luisa ke lantai. Kini Luisa berdiri di kamar itu dengan setengah telanjang di hadapan penjaga sekolah itu dengan hanya memakai celana dalam saja. Sungguh pemandangan yang menggairahkan. Dibantu oleh Luisa, Mang Hamad kemudian meraih celana dalam Luisa dan ditarik ke bawah hingga kaki, otomatis vaginanya yang ranum terpampang terperinci dan menyerbakan aroma harum di kamar itu.

“Neng Luisa…bau apa ini…wangi sekali…”

“Bau ini Mang…kan Luisa gres mandi.” jawab Luisa menunjuk ke kelaminnya

“Waaaww… pasti rasanya.. enak.. juga.. ya..”

“Kalau Mang Hamad mau… mencoba.. boleh.. kok.. sodok aja sama kontol Mang Hamad.. yang mulai gede…” Luisa melihat batang kemaluan Mang Hamad sudah mulai mendesak dari balik celana yang dikenakannya.

Tubuh Luisa lalu dibaringkan di daerah tidur. Mang Hamad melotot melihat tubuhnya yang sudah telanjang bulat, matanya terus menatap ke arah vagina Luisa. Nafasnya bermetamorfosis semakin liar. Saat itu benar-benar Luisa tambah begitu sexy dan merangsang mata laki-laki ygmemandangnya. Tubuhnya yang mulus, putih dan kencang itu terpampang di atas ranjang hingga membuat darah menggelegak.

“Neng Luisa, ka.. kamu… hgeehh… memek….bagus….sekali…. ka.. kamu… mau.. ya…”

“Iya… Mang. selesaikan aja sekarang. Habis itu berikan barangnya ya”.

Benar-benar Luisa telah menyerahkan seluruh tubuhnya kepada Hamad demi barang yang belum tahu apa. Lalu Mang Hamad berlutut di depan gadis itu, kepalanya diarahkan ke vaginaanya. Luisa menahan nafas menantikan perlakuan penjaga sekolahnya.

“Ooooh. OOHHHHH. Aduuhh. Enaak!!!”

Mang Hamad menyapukan lidahnya pada bibir kemaluannya. Lidahnya semakin liar saja, kini pengecap itu memasuki liang vaginanya dan bertemu dengan klitorisnya. Badan Luisa bergetar menyerupai tersengat listrik dengan mata merem-melek. Gadis yang sudah terangsang berat itu mengelus-elus kepala Mang Hamad seraya membuka pahanya lebih lebar, kepalanya menengadah menatap langit-langit kamar. Mang Hamad nampaknya sudah pengalaman menaklukan wanita, dengan jarinya ia buka vagina Luisa sehingga lidahnya dapat menelusuri lebih ke dalam. Selain dengan lidah, Hamad juga mengerjai liang vagina gadis itu dengan jari-jarinya, jadi sambil menjilat jarinya juga aktif mengorek-ngorek liang itu sehingga area itu semakin berlendir.

“Oohhh…enak banget. Hebat banget sih jilat-jilatnya….ohhh…ohhhh….” desah Luisa.

Luisa, anak kelas 2 SMU yang cakep dan populer itu, yang jadi idaman seluruh perjaka di sekolah itu, kini dibuat jadi tak berkutik dan mendesah-desah makin tak keruan oleh pesuruh sekolahan itu. Apalagi sekarang kedua tangan Mang Hamad meraih ke atas menggenggam dan meremas-remas masing-masing satu payudara Luisa.

“Oooh. AAAHHHHHH. AAAAHHHHHHHH. AAAAAHHHHHHHHH.”

Jilatan Mang Hamad itu benar-benar ampuh. Sampai-sampai membuat Luisa, cewek bermata cantik itu, sekarang jadi lembap kuyup vaginanya dibuatnya. Wajah Mang Hamad pun jadi ikutan lembap pula kena tetesan cairan dari vaginanya. Namun dengan liar ia terus menjilati vagina lembap Luisa sehingga jadi makin kuyup aja. Mang Hamad semakin memegang kendali permainan hingga kesudahannya kini Luisa benar-benar pasrah dan mengikuti saja seluruh permainan Mang Hamad. Hal ini menunjukkan bahwa Mang Hamad jauh lebih berpengalaman dibanding Luisa. Kini Mang Hamad mengeluarkan kepalanya dari himpitan paha Luisa. Hal itu membuat Luisa merasa tanggung dan mau marah. Tapi ia sadar jutru ia harus mampu memuaskan lawan mainnya ini demi “perjanjian” tadi.

“Ayuk, sekarang neng duduk ya,” kata Mang Hamad sambil menyuruh Luisa duduk setengah tiduran di ranjang. Sementara ia melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Nampaknya Mang Hamad ingin Luisa melihat penisnya yang akan dikeluarkan.

“Neng Luisa pasti belum pernah lihat ****** orang kampung kayak punya mamang. Sekarang mamang kasih lihat. Gratis. Hehehe..”

Kemudian Mang Hamad membuka resulting celananya dan menurunkan celana dalamnya sekaligus sehingga menyembullah penis yang sudah mengeras itu di depan wajah Luisa. Penis itu besar dan panjang dengan batang yang hitam dan ujungnya yang bersunat berbentuk helm tentara, membuat Luisa terkesiap alasannya yakni panjangnya. Ini merupakan penis terbesar yang pernah dilihat langusng olehnya. Beda dengan punya pacarnya. Walau merasa ngeri ketika membayangkan penis itu bakal mengoyak vaginanya, tapi Luisa tak mampu menyembunyikan kekagumannya. Maka tanpa diminta diapun mulai mendekati penis itu lalu mengelusnya. Tubuh Mang Hamad bergetar ketika Luisa mulai meraih penis itu dan mengocoknya pelan.

“Tangannya halus..enak…” desah Mang Hamad.

Pelan-pelan, Luisa memajukan wajahnya, ia melanjutkan kocokannya sambil menyapukan lidahnya pada kepala penis itu, sehingga Mang Hamad mendesah mencicipi belaian pengecap Luisa pada penisnya serta kehangatan yang diberikan oleh ludah dan mulutnya.

Setelah belasan tahun yang lalu lamanya menduda Mang Hamad kembali menikmati kehangatan tubuh wanita. Wanita muda dan cantik lagi. Dia sungguh sangat terangsang. Luisa sendiri walaupun merasa jijik dan kotor, tanpa disadari mulai terangsang dan mulai mengulum benda itu dalam mulutnya.

“enaknya!!!” lenguh Mang Hamad

Luisa terus memaju-mundurkan kepalanya sambil mengulum penis itu, tangannya juga ikut bekerja mengocok batangnya atau memijat buah pelirnya. Pria setengah baya itu merasa semakin keenakan sehingga tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisnya menyodoki ekspresi Luisa seolah menyetubuhinya. Kini Luisa berhenti memaju-mundurkan kepalanya dan hanya pasrah membiarkan mulutnya disenggamai penjaga sekolah itu itu, kepalanya dipegangi sehingga tidak mampu melepaskan diri.

“Uuhhh…gitu , enak…mmmm !” gumamnya sambil memegangi kepala Luisa dan memaju-mundurkan pinggulnya.

Luisa mencicipi wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Mang Hamad yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya.

“Ohhh…Neng Luisa, terus…terus!” desahnya sambil membelai rambut gadis itu.

Saking enaknya, pertahanan Mang Hamad eksklusif jebol dalam waktu kurang dari 5 menit. Wajahnya menegang dan cengkeramannya pada bahu gadis itu makin mengeras. Luisa yang menyadari lawan mainnya akan segera keluar mempergencar serangannya, kepalanya maju mundur makin cepat dan cret…cret…sperma Mang Hamad menyemprot dalam mulutnya. Dengan lihainya Luisa menelan dan menyedot cairan kental itu tanpa ada yang menetes dari mulutnya. Sungguh kenikmatan oral terdahsyat yang dialami Mang Hamad sehingga membuatnya melenguh tak karuan.

“Uoohh…sedot terus neng…ajibb…jibb…jibbh!!”

Luisa melaksanakan cleaning servicenya dengan sempurna, seluruh batang itu ia bersihkan dari sisa-sisa sperma. Setelah mulutnya lepas tak terlihat sedikitpun cairan putih itu menetes dari mulutnya. Sungguh teknik yang sempurna, demikian pikir Mang Hamad.

Luisa kemudia tersenyum genit kearah Penjaga sekolahnya itu.

“Neng memang gadis pembangkang ya, Luisa”. katanya

“Asal Mamang mau bantu Luisa, apapaun saya lakukan buat Mang Hamad”. Sahut Luisa dengan masih terseyum menggoda.

Mang Hamad lalu memanggil Luisa untuk duduk di pangkuannnya. Posisi mereka sekarang saling menghadap dimana Mang Hamad masih duduk di ranjang dan Luisa diatasnya. Tanpa malu-malu Luisa menuruti impian penjaga sekolahnya itu. Bahkan tanpa sungkan ia mencium bibir Mang Hamad. Sambil berciuman tangan Mang Hamad kembali meremas bagian-bagian sensitif tubuh gadis mungil itu. Sekarang penjaga sekolah bejat itu menyusu dari payudaranya. Pipi pria itu hingga kempot menyedot puting Luisa, sepertinya ia sangat gemas dengan payudara Luisa yang putih semok dengan puting kemerahan itu. Luisa senang-senang saja payudaranya dikenyot. Dia sendiri nampak mendesah nikmat dengan kepala menengadah dan mata terpejam. Dengan pembangkang ia ikut meremas-remas batang Mang Hamad yang masih lemas. Perlahan-lahan nafsu gadis itu mulai naik lagi. Begitu juga dengan Mang Hamad. Dalam tempo singkat penisnya sudah kembali bangun.

“Masukin ya pak. Luisa sudah ga tahan nih’. kata Luisa yang diiyakan Mang Hamad. Luisa lalu mengakat pantatnya dan mengarahkan vaginanya ke penis yang sudah menegang maksimal itu. inilah kali pertama Luisa akan mencicipi penis terbesar yang akan memasuki lubang vaginanya yang sempit. Walau sedikit ngeri, tapi nafsunya mengalahkan semuanya. Beberapa kali kepala penis itu terpeleset dan gagal masuk ke celah vagina luisa.

“Susah banget sih mang. Punya mamang gede sih”

“Sini mamang bantu”

Mang Hamad lalu membantu dengan mengarahkan penisnya ke vagina gadis itu. Luisa mengigit bibirnya mencicipi sedikit perih ketika ujung kepala penis Penjaga sekolahnya itu masuk. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam miliknya.

“Pelan-pelan mang. Sakit….”

“Iya neng. Memeknya kesempitan sih”

Luisa merintih menahan nyeri ketika penis besar itu menyeruak perlahan ke dalam kemaluannya yang sempit, demikian juga Mang Hamad meringis menahan nikmat mencicipi penisnya tergesek dinding vagina gadis itu. Dengan beberapa kali gerakan tarik dorong yang keras maupun lembut, penis itu kesudahannya terbenam setengahnya ke dalam vagina Luisa. Itupun Luisa sudah merasa penuh sekali. Penis itu terasa sangat sesak di liang vaginanya, ini memang bukan pertama kalinya bagi Luisa, namun penis mantan pacarnya Johan tidaklah sebesar milik Mang Hamad. Dan ketika dengan bergairah Mang Hamad tiba-tiba menekankan batangnya seluruhnya hingga amblas. Luisa tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur pedih menguasai dirinya, hingga badannya mengejang beberapa detik.

“ahh……….mang……ohhhhhhh…….sakit……..” Luisa melolong dengan panjang.

“Oohh…enak banget Neng, sempit, legit, padahal udah gak perawan…!” katanya sambil menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat. Luisa sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap ia menggerakkan tubuhnya, goresan demi goresan di dinding dalam liang vaginanya sungguh membuatnya menyerupai terbang tinggi. Mereka bersetubuh dengan gaya woman on top.

“Oh, Luisa…… memekmu…bener-bener masih seret, ohh..ohhh !” puji Mang Hamad ditengah genjotannya. Luisa hanya hanya memejamkan mata sambil mendesah. Dia sudah mulai mampu menikmati penis Mang Hamad di liangnya. Bahkan ia sekarang mulai ikut menggoyang-goyangkan pantatnya di atas penis hitam itu.

“Oh, mang….ohhhh…ohhhhhh…..e..nak……” desah Luisa.

Dia memacu dan menggoyangkan pinggulnya pada pangkuan Mang Hamad dengan penuh semangat. Ketika memandang ke depan, dilihatnya wajah orang renta itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum kenikmatan dikarenakan telah berhasil menikmati gadis terpopuler di sekolah ini.

“Kamu benar-benar cantik neng. teteknya juga bagus”. ujarnya.

Dengan posisi demikian, Mang Hamad dapat mengenyot payudara Luisa sambil menikmati goyangan pinggulnya.

Kedua tangannya meraih sepasang gunung kembar itu, mulutnya lalu mencium dan mengisap putingnya secara bergantian. Remasan dan gigitannya yang terkadang bergairah menjadikan Luisa makin melayang, ia makin lama makin cepat mengoyangkan pinggulnya diatas tubuh Mang Hamad. Di ambang klimaks, tanpa sadar Luisa memeluk Mang Hamad dan dibalas dengan pagutan di mulutnya. Mereka berpagutan hingga Luisa mendesis panjang dengan tubuh mengejang.

‘Oh..mang….Luisa ….mau ke….lu….ar….rrrrr” Jerit Luisa.

Sekitar 2 menit kemudian, tubuh Luisa meliung keras, menjerit menahan desah, ketika berhasil mencapai orgasme, matanya membeliak dan tubuhnya berkelejotan. Mang Hamad masih erus mengenjot hingga orgasmena makin panjang. Vagina Luisa berdenyut kencang seolah menghisap penis Mang Hamad dan mencengkeram penis itu keras sekali. Meski begitu, entah apa yang menjadi doping Mang Hamad, penis penjaga sekolah itu tetap saja berdiri tegak menyerupai tongkat baja yang tidak mampu lemas. Penis itu terus menyodok vagina Luisa meski gadis cantik itu sudah kepayahan. Mang Hamad lalu mendekap tubuh telanjang Luisa, lalu masih dengan kemaluan yang menyatu, mereka lalu berlutut di lantai. Mang Hamad kemudian menunggingkan pantat Luisa, memaksa gadis cantik itu berposisi merangkak dengan bertumpu pada lutut dan siku. Dengan posisi pantat Luisa yang menungging lebih tinggi dari kepala, Mang Hamad makin leluasa menggagahi wanita cantik itu. Dia melebarkan kedua kaki Luisa, membuat vagina wanita itu kembali membuka. Segera saja penis Mang Hamad kembali menggenjot vagina gadis seksi itu secara brutal.

“Ahhkh… aahh… oohh…” Luisa merintih-rintih lirih mencicipi vaginanya kembali digenjot oleh penis Mang Hamad.

Tubuhnya kian lemas mengalami percintaan yang begitu lama. Lenguhan dan erangan Luisa kesudahannya lenyap sama sekali dan hanya menyisakan rintihan-rintihan tak berdaya. Tubuh mulusnya yang telanjang lingkaran tersentak maju mundur dengan pasrah mengikuti sodokan penis Mang Hamad pada vaginanya. Tubuhnya benar-benar terasa letih dan lemas. Meski begitu gelombang orgasme terus-menerus menghajar tubuhnya, membuat Luisa hanya mampu menggeliat lemah dan menggigit bibir mencicipi kenikmatan yang sekaligus sangat menyakitkan.

“enak sekali memek neng Luisa…beruntung sekali mamang…ha…ha….” Jerit Mang Hamad bagai kesetanan.

Penis Mang Hamad dengan bergairah menyodok-nyodok vaginanya berulang-ulang. Cairan vagina Luisa yang membludak seolah berbuih melicinkan goresan penis Mang Hamad pada dinding vaginanya. Sebagian cairan vagina itu mengalir membasahi paha Luisa sebelah dalam.

Mang Hamad kian ganas mengenjot Luisa. dengan tangan terus-menerus meremas-remas pantat Luisa, penis Mang Hamad menyodok vagina anak 17 tahun yang cantik itu dengan gerakan tidak teratur, kadang cepat kadang pelan, membuat Luisa kian tersiksa oleh kenikmatan yang kembali mendera tubuhnya. Kadang-kadang saking terangsangnya, Luisa menggoyangkan pantatnya sendiri maju mundur untuk mempercepat sodokan penis Mang Hamad pada vaginanya. Mang Hamad tertawa senang di tengah dengus kenikmatannya menyaksikan Luisa yang menggoyangkan pantatnya sendiri.

“He he he.. Oke juga nih neng..” Mang Hamad tertawa. “Ayo, goyang terus… Ayo.. terus…” Mang Hamad menyemangati.

Dia lalu menghentikan sodokan penisnya sama sekali, untuk mengetahui reaksi Luisa. Secara reflek Luisa eksklusif menggerakkan pantatnya lebih berpengaruh dan lebih cepat. Orgasme berkali-kali telah membuat Luisa kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. yang ia inginkan sekarang hanyalah bagaimana meraih kenikmatan seksual sebanyak mungkin. Karena itulah Luisa terus menerus menggoyangkan pantatnya membuat vaginanya tetap terpompa oleh penis Mang Hamad. Sementara itu Mang Hamad juga mengimbangi gerakan pantat Luisa yang kian liar. Mang Hamad memegangi pinggul Luisa lalu menarik pinggul yang lingkaran itu maju mundur mempercepat goyangan pantat Luisa.

“Ayo.. terus.. goyang terus..” Mang Hamad menyemangati Luisa yang makin liar, sementara tangannya terus meremasi pantat Luisa yang semok dengan penuh kegemasan. Luisa kian tak tahan mendapatkan sodokan penis Mang Hamad. Perlakuan Mang Hamad yang brutal ternyata justru membuat orgasme Luisa lebih cepat meninggi. Luisa mencicipi gelombang orgasme kembali meregangkan syaraf seksualnya mencoba menembus pertahanannya.

“Udah dulu mang, cape…”

“Tapi Mamang belum cape neng…kalau mau udahan silakan tapi perjanjian kita batal” ancamnya.

“Ok..ok lanjutin ajah mang” Kat Luisa tak punya pilihan,

Merasa belum terpuaskan dengan posisi doggy style yang dipraktekkannya, Mang Hamad memaksa Luisa kembali menelentang di lantai, lalu direntangkannya kedua tangan Luisa ke samping dan dipeganginya pergelangan tangan wanita itu erat-erat. Kemudian kembali penis Mang Hamad menyodok-nyodok vagina Luisa. Luisa tidak mampu bergerak dengan posisi menyerupai itu. Tubuh Mang Hamad yang besar menindih tubuh putih mulus Luisa dengan ketat. Sodokan penis Mang Hamad menggenjot vagina Luisa dengan begitu bergairah membuat pantat Luisa hingga terbanting-banting keras di lantai marmer yang dingin. Luisa yang sudah tidak punya tenaga lagi hanya mampu pasrah dan berharap ini cepat berakhir. Meski begitu Luisa harus menunggu cukup lama untuk itu. Selang sepuluh menitan Mang Hamad menggenjotkan penisnya, tubuh Luisa kembali menggeliat dan mengejang, hanya kali ini terlalu lemah.

“Ohh… aahh…” Luisa mengerang lirih dengan tubuh mengejang dan gemetar. Dari vaginanya yang kembali berdenyut keras, Mang Hamad segera tahu kalau gadis cantik yang sedang digagahinya itu kembali mengalami orgasme. Vagina Luisa mencengkeram penis Mang Hamad dengan berpengaruh seolah hendak membetot penis itu hingga lepas.

“Udah dulu mang….aduh capek…istirahat dulu….” Desah Luisa.

Kali inin Mang Hamad menurut saja. Dia juga mau mengistirahtkan penisnya yang dari tadi `bekerja keras`. Dia lalu membopong Luisa. Direbahkannya gadis itu di atas ranjang. Luisa telentang dengan lemasnya. Entah sudah berapa kali ia orgame. Tapi ia tahu ini belum selesai. Luisa mendapatkan minuman yang diberikan Mang Hamad. Kerongkongannya yang tadinya kering kembali terisi. Mang Hamad juga membantu Luisa mengurangi lemasnya dengan memijat-mijat gadis itu.

Pukul 17.40

“Terima kasih neng. Ini gres bayaran yang sepadan”

“Ya udah. Sekarang mana “barang” nya. Saya butuh banget” sahut Luisa

“Tuh ambil!” Mang Hamad mengeluarkan lembaran itu dari saku celananya pada Luisa.

Luisa tersenyum lalu ia buru-buru menyalin semua yang dalam kertas pada sebuah catatan kecil.

Lima belas menit kemudian Mang Hamad pun meninggalkan rumah Luisa dengan penuh kepuasan

************************

Keesokan harinya

Pukul 13.40

Sekolah sudah lenggang setelah bubaran jam 13.15 tadi, tidak ada acara ekskul alasannya yakni ini yakni ahad ujian. Di sebuah toilet di tingkat 3 yang jarang dilewati orang terdengar sayup-sayup bunyi desahan dari dalam.

“Aaah…iyahhh Mang, lebih keras dikit…ahhh….aahhhh!!!” erang Luisa yang bersandar pada tembok dan mendapatkan hujaman penis Mang Hamad pada vaginanya.

Seluruh kancing seragam gadis itu telah terbuka dan cup bra nya telah terangkat ke atas, demikian juga celana dalamnya telah tergeletak di lantai dan roknya terangkat hingga pinggang. Crettt….crettt…beberapa kali semprotan sperma Bang Hamad mendarat di buah pantatnya yang sekal. Kedua manusia itu gres saja mencapai puncak kenikmatan bersama di toilet itu.

“hihihi…untung ada Mang Hamad jadi tadi ujiannya lancar!” kata Luisa agak lemas sambil mulai mengancingkan kembali kemejanya.

“Pokoknya kalau Neng butuh tunjangan sih cari aja Hamad bin Abdul Aziz, dijamin tokcer…asal imbalannya juga asyik punya dong hehhee!” kelakarnya genit sambil membelai pantat Luisa.

Ya…lembaran yang semenjak kemarin sangat diinginkan Luisa itu tak lain yakni kunci balasan pilihan ganda untuk UTS IPA hari ini. Luisa memang terbilang agak kurang dalam bidang studi satu ini, terutama kimia yang membuatnya sangat frustasi. Dengan kunci balasan hasil curian Bang Hamad kemarin ia dapat mengerjakan ujian tadi dengan lancar, tentunya tidak semuanya dijawab sama persis menyerupai di kunci demi menghindari kecurigaan para guru. Sebagai harganya ia harus merelakan tubuhnya dinikmati oleh si penjaga sekolah renta itu.

“Udah ya Mang, saya pulang dulu…inget di luar jangan macem-macem loh, gak enak kalau diliat orang!” Luisa mewanti-wanti pria itu setelah membenahi diri dan hendak keluar dari toilet itu.

“Tenang neng…tenang, Mamang juga mampu dipecat atuh kalau tertangkap tangan gitu hehehe” jawab Mang Hamad terkekeh-kekeh.

Sampai di daerah parkir, Luisa tampak galau mencari-cari sesuatu di saku bajunya hingga tasnya.

“Ininya ketinggalan Neng?” tanya sebuah bunyi dari belakang yang mengejutkannya.

“Duh Mang, ngagetin aja, makasih ya, kayanya jatuh di atas tadi” Luisa pun mendapatkan kunci mobilnya dari tangan Mang Hamad lalu menekan remotenya hingga pintu tidak terkunci. Luisa masuk ke jok kemudi, tapi sebelum ia sempat menutup pintu mobil, tiba-tiba Mang Hamad menahannya dan merangsek ke dalam menindih tubuh gadis itu.

“Mang…apa-apaan ini…aahhh…jangan! Aahhh!!” erang Luisa terkejut.

Selanjutnya pintu kendaraan beroda empat tertutup dan kendaraan beroda empat itu sedikit bergoyang-goyang, Mang Hamad nampaknya tidak puas-puasnya menikmati kehangatan tubuh si bunga sekolah itu.

Cerita Sex Dewasa | Bercinta Dengan Tiga Wanita Sekaligus

Cerita Sex Dewasa | Bercinta Dengan Tiga Wanita Sekaligus – Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) saya buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet, tiba-tiba terdengar bunyi bel. Setengah kesal saya hampiri juga pintu rumahku, dan setelah saya mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf eksklusif saya terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),Bisa saya bantu? kataku kepada mereka.Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Gamha dan sudah satu jam lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami eksklusif saja datang.Yang berwajah Jepang nyerocos menyerupai kereta express di negerinya.Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu sambungan saja telepon saya, jawabku.Memangnya kalian tidak tahu bila si Gamha sedang pulang kampung dua hari yang lalu? lanjutku lagi.
Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab, Kurang bimbing si Gamha, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua tersinggung nih, yang berwajah Jepang protes.Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Gamha, sekarang bule bermata biru nyeletus.Dengan setengah galau alasannya yaitu tidak mengerti persoalannya, kupersilakan mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, balasannya mereka masuk juga. Iya deh, sekalian numpang minum, kata bule yang berambut panjang masih kedengaran kesalnya.
Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.Nama saya Jacky, kataku.Khira, kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).Yang berambut panjang menyusul, Emily, (Campuran Italia dengan Inggris).Saya Eve, gadis bermata biru ini asal Jerman.Jacky, kau berasal dari mana? lanjutnya.Jakarta, Indonesia, jawabku sambil menuju ke lemari es untuk mengambilkan minuman sesuai undangan mereka.Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Khira dan Eve sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.Aduh, panas sekali nich?! si Emily ngedumel sambil membuka kemeja luarnya.
Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya. Aku tertegun sejenak, alasannya yaitu bersamaan dengan saya meletakkan minuman di atas meja, Emily sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan terang dapat kulihat bab atas bukit putih bersih menyembul, walaupun masih terhalangi kaos bab bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan ludah. Tiba-tiba saya dikejutkan dengan bunyi si Eve,Jacky, boleh kami main internetnya?Silakan, jawabku.Aku tidak keberatan alasannya yaitu saya membayar untuk yang tidak terbatas penggunaannya.Mau nge-chat yah? tanyaku sambil tersenyum pada si Emily.Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan, lanjut Emily lagi.Eh, kaliankan masih di bawah umur? kataku mencoba untuk protes.Paling umur kalian 17 tahun kan? sambungku lagi.
Khira menyambut, Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa bulan saja. Aku tidak mampu bilang apa-apa lagi. Baru saja saya ngobrol dengan si Emily, si Eve datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya gambar gituan yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si Khira duduk di bangku meja komputer, maka dapat kulihat dengan terang ke bawah bukitnya si Khira yang lebih putih dari punyanya si Emily. Barangku terasa berdenyut. Setengah kencang. Setelah gambar keluar, yang terpampang yaitu seorang negro sedang mencoba memasuki barang besarnya ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan lisan gadis itu sudah penuh dengan barang laki-laki putih yang tak kalah besar barangnya dengan barang si negro itu. Terasa barangku kini benar-benar kencang alasannya yaitu nafsu dengan keadaan. Si Emily menghampiri kami berada, alasannya yaitu si Eve dan Khira tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Khira tersentuh barangku yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah saya menghindar dari situ, kudengar bunyi tawa mereka bertambah kencang, eksklusif saya menoleh dan bertanya, Ada apa? Eve menjawab, Khira bilang, sikutnya terbentur barangmu, katanya.
Aku benar-benar aib dibuatnya. Tapi dengan tersenyum saya menjawab, Memangnya kenapa, kan wajar bila saya merasa terangsang dengan gambar itu. Itu berarti saya normal. Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak barangku. Si Eve bertanya padaku sambil tersipu,Jacky, boleh nggak bila kami lihat barangmu?Aku tersentak dengan pertanyaan itu.Kalian ini gila yah, nanti saya mampu masuk penjara alasannya yaitu dikira memperkosa anak di bawah umur.(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada siapa-siapa, sungguh kami janji, si Emily mewakili mereka.Please Jacky! sambungnya.Oke, tapi jangan diketawain yah! ancamku sambil tersenyum nafsu.
Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak barangku mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera terdengar bunyi terpekik pendek hampir berbarengan.Gila gede banget! kata mereka hampir berbarengan lagi.Nah! Sekarang apa lagi? tanyaku.Tanpa menjawab Khira dan Emily menghampiriku, sedangkan Eve masih berdiri tertegun memandang barangku sambil tangan kanannya menutup mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya. Boleh kupegang Jack? tanya Khira sambil jari telunjuknya menyentuh kepala barangku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya mampu menjawab, Uuuh alasannya yaitu geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang Eve masih saja mematung, hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di selangkangannya. Lain dengan Emily yang sedang mencoba menggenggam barangku, dan saya merasa sedikit sakit alasannya yaitu Emily memaksakan jari tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Emily, hentikan kegiatannya dan bertanya padaku, Kamu punya film biru Jack? Sambil terbata-bata kusuruh Eve untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta Eve lagi untuk masukan saja eksklusif ke video.
Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di pertengahan. Yang tampak yaitu seorang laki-laki 60 tahun sedang dihisap barangnya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si Eve menghisap jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup lisan sedangkan jari tangan kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda lembut menyapu kepala barangku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku. Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata pengecap Khira di bab kepala dan pengecap Emily di bab bijiku.Uuh ssshh uuuhh ssshhh saya merasa nikmat.Kupanggil Eve ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan BH-nya. Tanpa tabah kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas Eve memburu.Jacky ooohh Jacky terusss ooohhh nikmat Eve terdengar.Kemudian terasa setengah barangku memasuki lubang hangat, ternyata lisan Khira sudah melaksanakan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi dipaksakan olehnya.Slep slep chk chkItulah yang terdengar paduan bunyi antara barangku dan lisan Khira. Emily masih saja menjilat-jilat bijiku.
Dengan kasar Eve menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan nikmat tak ketulungan. Kuraih pundak Emily untuk bangkit dan menyuruhnya untuk berbaring di kawasan duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang kemaluannya eksklusif kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di selangkangannya.Aaahhh Jacky aaahhh enak Jacky teruskan aaahhh terussss Jacky! jerit Emily.Ternyata Eve sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke arah barangnya. Aku tahu maksudnya, maka eksklusif saja kumainkan jari tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya. Terasa lembap barang Eve, terasa menggigil barang Eve.Aaaahhh Eve hingga puncaknya.
Aku pun mulai merasa menggigil dan barangku terasa semakin kencang di lisan Khira, sedangkan mulutku belepotan di depan barang Emily, alasannya yaitu Emily tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan lagi, saya tak tahan lagi, Aahhh Sambil meninggalkan barang Emily, kutarik kepala Khira dan menekannya ke arah barangku. Terdengar, Heeerrkk Rupanya Khira ketelak oleh barangku dan mencoba untuk melepaskan barangku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah barangku. Akhirnya gelengannya melemah Khira malah memaju mundurkan kepalanya terhadap barangku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali, Sudah sudah saya ngiluuu sudah pintaku. Tapi Khira masih saja melakukannya. Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Khira, kutatap wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Khira menatapku sendu, sendu sekali dan kudengar bunyi lembut dari bibirnya, I Love you, Jacky! saya tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan berkata, Thank you Khira!
Rasa nikmatku hilang seketika, saya tak berangasan lagi walaupun kulihat Eve sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Emily yang ternganga memandang ke arahku dan Khira. Mungkin Emily mendengar apa yang telah diucapkan oleh Khira. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus berlangsung antara kami. Kadang hanya saya dengan salah satu dari mereka, kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Khira. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Khira lebih sering meneleponku di rumah maupun di kawasan kerjaku. Hanya untuk mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan saya dengar Eve dan Emily sudah jarang bergaul dengan Khira.

Cerita Sex Dewasa | Seks Bersama Ibu Guru Cantik

Cerita Sex Dewasa | Seks Bersama Ibu Guru Cantik – Rina ialah seorang guru sejarah di smu. Umurnya 30 tahun, cerai tanpa anak. Kata orang beliau menyerupai Demi Moore di film Striptease. Tinggi 170, 50 kg, dan 36B. Semua murid-muridnya, terutama yang laki-laki pengin banget melihat badan polosnya.
Suatu hari Rina terpaksa harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya, untuk ulangan susulan. Si Anto harus mengulang sebab ia kedapatan menyontek di kelas. Anto juga terkenal sebab kekekaran tubuhnya, maklum beliau sudah semenjak SD bergulat dengan olah raga beladiri, karenanya ia harus menjaga kebugaran tubuhnya.
Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Ia juga belakang layar naksir dengan anak itu. Karenanya ia bermaksud memberi anak itu ‘pelajaran’ pelengkap di Minggu siang ini.”Sudah selesai Anto?”, Rina masuk kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang diberikannya.”Hampir bu””Kalau sudah nanti masuk ke ruang tengah ya saya tinggal ke belakang..””Iya..””Bu Rina, Saya sudah selesai”, Anto masuk ke ruang tengah sambil membawapekerjaannya.”Ibu dimana?””Ada di kamar.., Anto sebentar ya”, Rina berusaha membetulkan t-shirtnya. Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang muridnya itu. Di balik kaus longgarnya itu bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul.
Begitu ia keluar, mata Anto nyaris copot sebab melotot, melihat badan gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak menyerupai biasanya dikala ia tampil di muka murid-muridnya.”Kenapa ayo duduk dulu, Ibu periksa..”Muka Anto merah sebab malu, sebab Rina tersenyum dikala pandangannya terarah ke buah dadanya.”Bagus bagus…, Kamu mampu gitu kok pakai menyontek segala..?””Maaf Bu, hari itu saya lupa untuk belajar..””oo…, begitu to?””Anto kau mau menolong saya?”, Rina merapatkan duduknya di karpet ke badan muridnya.”Apa Ibu?”, badan Anto bergetar ketika tangan gurunya itu merangkul dirinya, sementara tangan Rina yang satu mengusap-uasap tempat ‘vital’ nya.”Tolong Ibu ya…, dan kesepakatan jangan bocorkan pada siapa–siapa”.”Tapi tapi…, Saya”.”Kenapa?, oo…, kau masih perawan ya?”.Muka Anto pribadi saja merah mendengar perkataan Rina”Iya””Nggak apa-apa”, Ibu bimbing ya.
Rina kemudian duduk di pangkuan Anto. Bibir keduanya kemudian saling berpagutan, Rina yang garang sebab haus akan kehangatan dan Anto yang menurut saja ketika badan hangat gurunya menekan ke dadanya. Ia mampu mencicipi puting susu Rina yang mengeras. Lidah Rina menjelajahi lisan Anto, mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan bagai ular.
Setelah puas, Rina kemudian berdiri di depan muridnya yang masih melongo. Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos seakan akan menantang untuk diberi kehangatan oleh perjaka yang juga muridnya ini.”Lepaskan pakaiannmu Anto”, Rina berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya.”Ahh cepat Anto”, Rina mendesah tidak sabar.
Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pengetahuannya wacana seks hanya di dapatnya dari buku dan video saja.”Anto…, letakkan tanganmu di dada Ibu”,Dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina yang turun naik. Tangannya kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Rina yang semok itu.”Oohh…, enakk…, begitu caranya…, remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang..” Dengan semangat Anto melaksanakan apa yang gurunya katakan.”Ibu…, Boleh saya hisap susu Ibu?”.Rina tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, yang berkata sambil menunduk, “Boleh…, lakukan apa yang kau suka”.
Tubuh Rina menegang ketika mencicipi jilatan dan hisapan lisan cowok itu di susunya. Perasaan yang ia pernah rasakan 3 tahun lalu dikala ia masih bersama suaminya.”Oohh…, jilat terus sayang…, ohh”, Tangan Rina mendekap erat kepala Anto ke payudaranya.
Anto semakin buas menjilati puting susu gurunya tersebut, mulutnya tanpa ia sadari menjadikan bunyi yang nyaring. Hisapan Anto makin keras, bahkan tanpa ia sadari ia gigit-gigit ringan puting gurunya tersebut.”mm…, pembangkang kamu”, Rina tersenyum mencicipi tingkah muridnya itu.”Sekarang coba kau lihat tempat bawah pusar Ibu”.Anto menurut saja. Duduk diantara kaki Rina yang membuka lebar. Rina kemudian menyandarkan punggungya pada dinding di belakangnya.”Coba kau rasakan”, ia membimbing telunjuk Anto memasuki vaginanya.”Hangat Bu..”Bisa kau rasakan ada semacam pentil…?””Iya..””Itu yang dinamakan kelentit, itu ialah titik peka cewek juga. Coba kau gosok-gosok”Pelan-pelan jari Anto mengusap-usap clitoris yang mulai menyembul itu.”Terus…, oohh…, ya…, gosok…, gosok”, Rina mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya digosok-gosok oleh Anto.”Kalo diginiin nikmat ya Bu?”, Anto tersenyum sambil terus menggosok-gosok jarinya.”Oohh…, Antoo…, mm”, badan Rini telah berair oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.
Tangan Anto semakin berani mempermainkan clitoris gurunya yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu membuktikan pertahanan gurunya akan segera jebol.”Ooaahh…, Anntoo”, Tangan Rina mencengkeram bahu muridnya, sementara tubuhnya menegang dan otot-otot kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang telah lama tidak dirasakannya.”Hmm…, kau lihai Anto…, Sekarang…, coba kau berbaring”.Anto menurut saja. Penisnya segera menegang ketika mencicipi tangan lembut gurunya.”Wah…, wahh.., besar sekali”, tangan Rina segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut.
Segera saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke lisan Rina. Ia segera menjilati penis muridnya itu dengan penuh semangat. Kepala penis muridnya itu dihisapnya keras-keras, sehingga Anto merintih keenakan.”Ahh…, enakk…,enakk”, Anto tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya untuk semakin menekan penisnya makin ke dalam kuluman Rina. Gerakannya makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Rina.”oohh Ibu…, Ibbuu”Muncratlah cairan mani Anto di dalam lisan Rina, yang segera menjilati cairan itu hingga tuntas.”Hmm…, manis rasanya Anto”, Rina masih tetap menjilati penis muridnya yang masih tegak.”Sebentar ya saya mau minum dulu”.
Ketika Rina sedang membelakangi muridnya sambil menenggak es teh dari kulkas. Tiba-tiba ia mencicipi seseorang mendekapnya dari belakang.”Anto…, biar Ibu minum dulu”.”Tidak…, nikmati saja ini”, Anto yang masih tegang berat mendorong Rina ke kulkas.Gelas yang dipegang rina jatuh, untungnya tidak pecah. Tangan Rina kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas.”Ibu…, sekarang!””Ahhkk”, Rina berteriak, dikala Anto menyodokkan penisnya dengan keras ke liang vaginanya dari belakang. Dalam hatinya ia sangat menikmati hal ini, cowok yang tadinya pasif bermetamorfosis liar.”Antoo…, enakk…, ohh…, ohh”. Tubuh Rina bagai tanpa tenaga menikmati kenikmatan yang tiada taranya. Tangan Anto satu menyangga tubuhnya, sementara yang lain meremas payudaranya. Dan penisnya yang keras melumat liang vaginanya.”Ibu menikmati ini khan”, bisik Anto di telinganya”Ahh…, hh”, Rina hanya merintih, setiap mencicipi sodokan keras dari belakang.”Jawab…, Ibu”, dengan keras Anto mengulangi sodokannya.”Ahh…,iyaa””Anto…, Anto jangann…, di dal.. La” belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Rina telah mencicipi cairan hangat di liang vaginanya menyemprot keras. Kepalang berair ia kemudian menyodokkan keras pinggulnya.”Uuhgghh”, penis Anto yang berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Rina.”Ahh”.
Kedua manusia itupun tergolek lemas menikmati apa yang gres saja mereka rasakan.
Setelah kejadian dengan Anto, Rina masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan mereka. Namun yang mengganjal hati Rina ialah bila Anto kemudian membocorkan hal ini ke teman-temannya.
Ketika Rina berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah beliau Reza. Ia berbeda dengan Anto, anaknya agak pembuat onar bila di kelas, kekar dan nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini.”Bu Rina salam dari Anto”, Reza melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya.”Terima kasih, boleh saya masuk”, Ia harus berkata begitu sebab sepeda motor Reza menghalangi pintu mobilnya.”Boleh…, boleh Bu saya juga ingin pelajaran pelengkap menyerupai Anto.”Langkah Rina terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskupun sempat kaget.”Kamu kan nilainya bagus, nggak ada problem kan..”, sambil duduk di balik kemudi.”Ada sedikit sih kalau Ibu nggak mampu mungkin kepala guru mampu membantu saya, sekaligus melaporkan pelajaran Anto”, Reza tersenyum penuh kemenangan.”Apa hubungannya?”, Keringat mulai menetes di dahi Rina.”Sudahlah kita sama-sama tahu Bu. Saya jamin pasti puas”.
Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Rina pribadi menjalankan mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan.Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton TV di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk pintu depan diketuk oleh seseorang. Rina segera menuju pintu itu, ia mengira Anto yang datang. Ternyata ketika dibuka”Reza! Kenapa kau ngikuutin saya!”, Rina agak jengkel dengan muridnya ini.”Boleh saya masuk?”.”Tidak!”.”Apa guru-guru perlu tahu rahasiamu?”.”!!”dengan geram ia mempersilakan Reza masuk.”Enak ya rumahnya, Bu”, dengan santainya ia duduk di bersahabat TV. “Pantas aja Anto senang di sini”.”Apa hubunganmu dengan Anto?, Itu urusan kami berdua”, dengan ketus Rina bertanya.”Dia sahabat bersahabat saya. Tidak ada rahasia diantara kami berdua”.”Jadi artinya”, Kali ini Rina benar-benar kehabisan akal. Tidak tahu harus berbuat apa.”Bu, kalo saya mau melayani Ibu lebih baik dari Anto, mau?”, Reza bangun dari duduknya dan berdiri di depan Rina.Rina masih belum mampu menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin.
Rina masih belum mampu menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin. Belum sempat ia menjawab, Reza telah membuka ritsluiting celananya. Dan setelah beberapa dikala penisnya meyembul dan telah berada di hadapannya.”Bagaimana Bu, lebih besar dari Anto khan?”.Reza ternyata lebih garang dari Anto, dengan satu gerakan meraih kepala Rina dan memasukkan penisnya ke lisan Rina.”Mmpfpphh”.”Ahh yaa…, memang Ibu pintar dalam hal ini. Nikmati saja Bu…, nikmat kok”Rupanya nafsu menguasai diri Rina, menikmati penis yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya bagai permen. Dijilatinya kepala penis cowok itu dengan semangat. Kontan saja Reza merintih keenakan.”Aduhh…, nikmat sekali Bu oohh”, Reza menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam lisan Rina, sementara tangannya meremas-remas rambut ibu gurunya itu. Rina mencicipi penis yang diisapnya berdenyut-denyut. Rupanya Reza sudah hendak keluar.”oohh…, Ibu enakk…, enakk…, aahh”.Cairan mani Reza muncrat di lisan Rina, yang segera menelannya. Dijilatinya penis yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri.”Sudahh…, sudah selesai kau mampu pulang”, Namun Rina tidak mampu memungkiri perasaannya. Ia menikmati mani Reza yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya bila penis yang besar itu masuk ke vaginanya.”Bu, ini belum selesai. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya.””Apa! beraninya kau memerintah!”, Namun dalam hatinya ia mau. Karenanya tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja.
Setelah ia di dalam, Rina tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar bunyi pakaian jatuh, dugaannya pasti Reza sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera mengikuti jejak Reza. Namun ketika ia hendak melepaskan kancing dasternya.”Sini saya teruskan”, ia mendengar Reza berbisik ke telinganya. Tangan Reza segera membuka kancing dasternya yang terletak di potongan depan. Kemudian setelah dasternya jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Rina juga mencicipi penis cowok itu diantara belahan pantatnya.”Gilaa…, besar amat”, pikirnya. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos. Penis Reza digosok-gosokkan di antara pantatnya, sementara tangan cowok itu meremasi payudaranya. Ketika jemari Reza meremas puting susu Rina, erangan kenikmatan pun keluar.”mm oohh”.Reza tetap melaksanakan aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya melaksanakan operasi ke vagina Rina.”Reza…, aahh…, aahh”, Tubuh Rina menegang dikala pentil clitorisnya ditekan-tekan oleh Reza.”Enak Bu?”, Reza kembali berbisik di indera pendengaran gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu.
Rina hanya mampu menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan pekerjaan tangan Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya. Tiba-tiba Reza mendorong badan Rina biar membungkuk. Kakinya di lebarkan.”Kata Anto ini posisi yang disukai Ibu””Ahhkk…, hmm…, hmmpp”, Rina menjerit, dikala Reza dengan keras menghunjamkan penisnya ke liang vaginanya dari belakang.””Ugghh…, innii…, innii”, Reza medengus penuh gairah dengan tiap hunjaman penisnya ke liang Rina. Rinapun berteriak-teriak kenikmatan, dikala liang vaginanya yang sempit itu dilebarkan secara cepat.”Adduuhh…, teruss.., teruss Rezaa…, oohh”, Kepala ibu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan Reza. Tangan Reza mencengkeram bahu Rina, seakan-akan mengarahkan badan gurunya itu biar semakin cepat saja menelan penisnya.”Oohh Rina…, Rinnaa”.Rina segera mencicipi cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya dengan deras. Matanya terpejam menikmati perasaan yang tidak mampu ia bayangkan.
Rina masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya, dadanya yang rupawan naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu vaginanya sangat becek, berlepotan mani Reza dan maninya sendiri. Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi tempat tidur mengamati badan gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba liang vagina Rina, kemudian dipermainkannya pentil kelentit gurunya itu.”mm capek…, mm”, bibir Rina mendesah dikala pentilnya dipermainkan. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memperlihatkan fasilitas bagi Reza untuk memainkan clitorisnya.”Rezz aahh”, Tubuh Rina bergetar, menggelinjang-gelinjang dikala Reza mempercepat permainan tangannya.”Bu…, balik…, Reza pengin nih””Nakal kau ahh”, dengan tersenyum nakal, Rina bangun dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan penis Reza. Reza meraih payudara Rina dari belakang dan mencengkeramya dengan keras dikala ia menyodokkan penisnya yang sudah tegang”Adduuhh…, owwmm”, Rina mengaduh kemudian menggigit bibirnya, dikala lubang vaginannya yang telah licin melebar sebab desakan penis Reza.”Bu Rina nikmat lho vagina Ibu…, ketat”, Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.”mm…, aahh…, ahh…, ahhkk”, Rina tidak mampu bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih seiring gerakan Reza. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Reza. Kenikmatan ia peroleh juga dari remasan muridnya itu.”Ayoo…, aahh.., ahh… Mm.., buat Ibu keluuaa.. Rr lagi…”. Gerakan Rina makin cepat mendapatkan sodokan Reza.
Tangan Reza beralih memegangi badan Rina, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi “doggy style”, melainkan kini Rina menduduki penisnya dengan membelakangi dirinya. Reza kini telentang di tempat tidur yang berantakan dan penuh oleh mani yang mengering.”Ooww..”, Teriakan Rina terdengar keras dikala ia tidak mampu lagi menahan orgasmenya. Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan penisnya ke vagina Rina yang makin becek.”Ayoo…, makin dalam dalamm”.”Ahh.., aahh…, aahh..”, Rezapun mulai berteriak-teriak.”Mau kelluuaarr”Rina sekali lagi memejamkan matanya, dikala mani Reza menyemprot dalam liang vaginanya. Rina kemudian ambruk menindih badan Reza yang berair oleh keringat. Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka.”Bu Rina…, sungguh luar biasa, Coba kalau Anto ada disini sekarang”.”mm memangnya kau mau apa”, Rina kemudian merebahkan dirinya di samping Reza. Tangannya mengusap-usap puting Reza.”Kita mampu main bertiga, pasti lebih nikmat..”Rina tidak mampu menjawab komentar Reza, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.
Akhirnya hari kelulusan murid klas 3 hingga juga. Dengan demikian Rina harus berpisah dengan kedua murid yang disayanginya, terlebih lagi ketika ia harus pindah ke kota lain untuk menempati pos gres di Kanwil. Karenanya ia memanggil Anto untuk datang ke rumahnya untuk memberitahukan perihal kepindahannya.Ketika seputar Indonesia mulai ditayangkan, Anto muncul. Ia pribadi dipersilakan duduk.”Bu, Anto kangen lho”.”Iya deh…, nanti. Gini, Ibu bulan depan pindah ke kota B, soalnya akan dinaikkan pangkatnya. Jadi…, jadi…, Ibu ingin malam ini malam terakhir kita”, mata Rina berkaca-kaca ketika mengucapkan itu.”…………..”, Anto tidak mampu menjawab. Ia kaget mendengar isu itu. Baginya Rina merupakan segalanya, terlebih lagi ia telah mendapatkan pelajaran berharga dari gurunya itu.”Tapi Anto masih boleh berkirim surat kan?”.Rina mampu sedikit tersenyum melihat muridnya tabah, “Iya…, boleh…, boleh”.”Minum dulu Nto, ada es teh di meja makan. Kalau sudah nonton VCD di kamar yaa”, Rina mengerling pembangkang ke muridnya sambil beranjak ke kamar. Di kamar ia mengganti pakaiannya dengan kimono kegemarannya, melepas BH, menghidupkan AC dan tentu saja menyetel VCD ‘Kamasutra-nya Penthouse”. Lalu ia tengkurap di tempat tidur sambil menonton TV.
Diluar Anto meminum es teh yang disediakan Rina dan membiarkan pintu depan tidak terkunci. Ia mempunyai rencana yang telah disusun rapi.Lalu Anto menyusul Rina ke kamar tidur. Begitu pintu dibuka ia melihat gurunya tengkurap menonton VCD dengan dibalut kimono merah tipis, lekuk tubuhnya terang terlihat. Rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya bagai gadis iklan shampo Pantene.”Ganti pakaian itu Nto..”, Rina menunjuk celana pendek dan kaos tipis yang terlipat rapi di meja riasnya.
Ketika Anto sedang mencopot celananya Rina sempat melihat penis cowok itu menyembul di balik CD GT Man-nya. Setelah selesai Anto juga tengkurap di samping Rina.”Sudah liat film ini belum? Bagus lho untuk info posisi-posisi ngesex”.”Belum tuh…”, Mata Anto tertuju pada posisi dimana si wanita berdiri memegang pohon sementara si pria memasukkan penisnya dari belakang, sambil meremas-remas payudara partnernya.”mm…, itu posisi fave saya. Kalau kau suka nanti CD itu mampu kau ambil”.”Thanx..”, Anto kemudian mengecup pipi gurunya.
Adegan demi potongan terus bergulir, suasana pun menjadi semakin panas. Rina kini tengkurap dengan tidak lagi mengenakan selembar benangpun. Demikian pula Anto. Anto kemudian duduk di sebelah gurunya itu, dibelainya rambut Rina dengan lembut, kemudian disibakkannya ke sebelah kiri. Bibir Anto kemudian menciumi tengkuk Rina, dijilatinya rambut-rambut halus yang tumbuh lebat.”aahh…”Setelah puas, Anto kemudian memberi arahan pada Rina biar duduk di pangkuannya.”Bu, biar Anto yang puasin ibu malam ini…”, Bisik Anto di indera pendengaran Rina. Rina yang telah duduk di pangkuan Anto pasrah saja dikala kedua tangan muridnya meremas-remas payudaranya yang liat. Kemudian ia menjerit lirih dikala puting susunya mendapat remasan.”Akhh…”, Rina memejamkan matanya.”Anto…, jilatin vagina ibu…”
Anto kemudian merebahkan Rina, dibukanya kaki gurunya itu lebar-lebar, kemudian dengan perlahan ia mulai menjilati vagina gurunya. Bau khas dari vagina yang telah berair oleh gairah itu membuat Anto kian bernafsu.”oohh…, teruss…, teruuss…”, Rina bergetar mencicipi kenikmatan itu. Tangannya membimbing tangan Anto dalam meremasi susunya. Memberikan kenikmatan ganda.”Jilatin…, pentil itu…, oohohh”, Bagai dikomando Anto menjilati pentil clitoris Rina, dengan penuh semangat.”Aduuhh….. Oohh…oohh…hh.. Hh…..””Anto…, massuukk”.
Kaki Rina kemudian disampirkannya ke pundak, dan dengan cepat disodokkannya penisnya ke vagina Rina yang becek.”mm…”, Rina menggigit bibirnya. Meskipun lubang vaginanya telah licin, namun penis yang besar itu tetap saja agak kesulitan menerobos masuk.”Uuhh…, masih susah juga ya Bu…”, Anto sambil meringis memaju mundurkan penisnya. Ia mencicipi penisnya bagai diremas-remas oleh tangan yang sangat halus dikala di dalam. Tangan Rina mempermainkan puting Anto. Dengan gemas dicubitnya hingga Anto berteriak.”Uhh…, nakal, Ini balasannya!”, sodokan Anto makin keras, lebih keras dari dikala ia memasukkan penisnya.”aa…”.
Tiba-tiba pintu kamar tebuka! Spontan Rina terkejut, tapi tidak bagi Anto. Reza sudah berdiri di muka pintu, senjatanya telah tegak berdiri.”mm…, hot juga permainan Ibu dengan Dia, boleh saya bergabung?”, Reza kemudian berjalan mendekati mereka. Rina yang hendak berdiri ditahan oleh Anto, yang tetap menjaga penisnya di dalam vagina rina.”Nikmati saja…”Reza kemudian mengangkangi Rina, penisnya berada sempurna di mukanya.”Isap… Ayoo”, sambil memasukkan penisnya. Saat itu pula Anto menghentakkan gerakannya. Saat Rina berteriak, dikala itu pula penis Reza masuk.”Ahh…, nikmat..”, Rina merem-melek menghisap-hisap penis muridnya, sementara Anto dengan puas menggarap vaginanya.”uufff…, jilatin…, jilatt”, tangan Reza memegangi kepala Rina, biar semakin dalam saja mengisap penisnya.
Posisi itu tetap bertahan hingga hasilnya Anto keluar duluan. Maninya menyemprot dengan leluasa di lubang vagina gurunya yang cantik. Sementara Reza tetap mengerang-erang sambil medorong-dorong kepala Rina.Setelah Anto mengeluarkan penisnya dari vagina Rina, “Berdiri menghadap tembok Bu!”Rina masih kelelahan. Ia telah orgasme pula dikala Anto keluar, namun ia tidak mampu teriak sebab ada penis di mulutnya. Saat ia berdiri dengan tangan di tembok menahan tubuhnya, mani anto menetes ke lantai.”mm…, Nto…, liat tuh punya kamu..”, seru Reza sambil tertawa. Ia kemudian menempelkan tubuhnya ke Rina. Penisnya sempurna berada di antara kedua pantat Rina.”Nih Bu rasakan punya Reza juga ya”.
Anto dengan kalem menyaksikan temannya menggarap gurunya dari belakang. Tangan Reza memegangi pinggang Rina dikala ia menyodok-nyodokkan penisnya keluar masuk dengan cepat. Saat Rina merintih-rintih menikmati permainan mereka, Anto mencicipi penisnya tegang lagi. Ia tidak tahan melihat pemandangan yang sangat erotik sekali.Kedua manusia itu saling mengaduh, mendesah, dan berteriak lirih seiring kenikmatan yang mereka berikan dan rasakan.”ooww…”, Tubuh Rina yang disangga Reza menegang, kemudian lemas. Anto mengira mereka berdua telah hingga di puncak kenikmatan. Timbul isengnya, ia kemudian mendekati mereka dan menyusup diantara Rina dan tembok. Dipindahkannya tangan Rina ke pundaknya, dan penisnya menggantikan posisi milik Reza.”Anto…”, Lagi-lagi Rina mendesah dikala penis Anto masuk dan pinggulnya didorong oleh Reza dari belakang.”Ahh.. Ahh…. Dorongg…dorongg………….””aa.. Aa… Aa”.”oohhkk…, kk…, kk..”, Rina berteriak keras sekali, dikala dorongan Reza sangat keras menekan pinggulnya. penis Anto amblas hingga mencapai pangkalnya masuk ke vagina Rina. Saat itu pula ia mencicipi penis yang berdenyut-denyut itu melepaskan muatannya untuk kedua kali.
Ingin unduh Film sex terbaru, film hot, film 18+ terbaru pribadi saja KLIK DISINI